
"Kau dari mana saja?" ucap raja Gevar.
Arvand hanya duduk dikursinya, mambaca buku tanpa menoleh sedikit pun kearah ayahnya itu. Raja Gevar menghelan nafasnya.
"Sekali lagi, kau dari mana saja?"
Arvand yang muak mendemgarkan ocehan ayahnya, lalu ia menkawab dengan malas.
"Aku hanya jalan-jalan, karena salju pertama.." jawabnya.
"Kenapa? ada yang ingin disampaikan?" lanjut Arvand.
"Tidak, hanya saja, kau sekarang harus berlatih lagi..." gumam raja.
Arvand tersenyum sinis.
"Dengar, aku sudah tidak respect lagi dengan ayah gara-gara, masalah aku dengan anak kecil itu, jadi berhentilah mengkhawatirkan aku..." pekik Arvand.
"Siapa bilang ayah mengkhawatirkanmu?"
Ucapan yang keluar dari mulut raja Gevar membuat Arvand terdiam tiba-tiba. Raja Gevar lalu berdiri.
"Ayah hanya ingin kau melanjutkan latihanmu itu saja..."
Setelah menahan emosinya, Arvand berdiri seraya mendubrak meja didepannya.
"Setelah kejadian itu! kejadian dimana ayah menyuruhku untuk membunuh Bravogar! aku tidak pernah berhenti merasa bersalah!"
"Tapi kau melakukan itu dengan benar! kau tidak salah, Bravogar yang salah karena menghianati warga kerajaan bukan!!!! berhentilah merengek seperti anak kecil!"
Arvand terkejut, ia tersenyum.
"Berhentilah merengek seperti anak kecil?"
"Sepertinya aku bukan anak yang disayang oleh ayah dan bunda! karena aku tidak sama sekali mewarisi kekuatan kalian semua yang aku punya hanya kekuatan bela diri saja!!!" pekik Arvand.
Raja Gevar hanya menghelan nafasnya panjang.
"Sudahlah...." Arvand merintih.
Ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Lalu tiba-tiba raja mendekat dan memeluk anaknya tersebut.
"Kau pikir ayah seperti ini tidak menyayangimu? jangam beranggapan bodoh seperti itu, ayah memang diam tapi diamnya ayah adalah untuk terus berpikir yang terbaik.."
Arvand menangis dipelukan ayahnya.
Malam itu raja Gevar tidak tidur, ia sedang memikirkan tentang rencana yang sudah ia tulis dan simpan diotaknya, ia duduk diruangannya seraya menyeruput teh hangat.
"Kau tidak tidur tuan?" tiba-tiba Varegar membuka pintu dan masuk.
Ia menundukan kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku tahu kau sedang banyak pikiran..."
"Memang!" pekik Raja.
"Gara-gara kau, tidak becus mencari orang yang bisa menemukan buku itu!"
Varegar memutar bola matanya.
"Apa pentingnya? mungkin bukunya sudah hanyut dan terkubur didalam tanah..."
Raja Gevar terkejut dengan ucapan Varegar, ia berdiri.
"Apa pentingnya, semua yang aku lakukan ditulis oleh Bravogar disana..."
"Tuan, tapi sampai saat ini juga tidak ada masalah kan tentang identitasmu didalam buku itu, nah sekarang yang harus kita pikirkan adalah iblis yang sedang menghantui kita..." ucap Varegar seraya berjalan dan duduk dikursi kayu.
Raja Gevar duduk seraya meremas rambut kepalanya, ia rasanya sangat muak.
"lihat...apakah ada kejanggalan lagi yang menghantui kota Majestic?" sahut Varegar.
"Setelah raja Jesper memberitahu tentang iblis itu, dan hasil akhir yang kita peroleh adalah? mereka hanya ingin kita waspada dan ingin agar kita tahu kalau mereka ada, itu saja!" lanjut Varegar.
"Memang setelah potongan samurai itu, aku tidak pernah menemukan sesuatu kejanggalan yang tiba-tiba muncul, tapi dengar!" raja Gevar memukul gagang kursi seraya berdiri.
"Anakku!! anakku!!! setengah jiwanya iblis!"
"Aku tidak bisa menyangkal tuan, memang iblis itu ada didalan jiwa bayimu, tapi aku memiliki cara untuk mengeluarkannya!"
"Apa katamu!! bahkan dukun hebat yang aku penjarakan dibawah sana angkat tangan! aku tidak akan mempercayaimu lagi!!" pekik raja.
Varegar tersenyum dan mendekat.
"Lalu apa gunanya Matrix mu itu, apakah kau akan gunakan hanya untuk keperluan senjataan saja dan keperluan kesejahteraan kerajaanmu saja?" Varegar berbisik.
Jelas hal itu membuat raja Gevar terdiam, dan berusaha menetralisir ucapan Varegar.
"Maksudku, tujuanmu membuat Matrix itu adalah untuk senjatan kerajaan, dan sumber daya matahari, berkat Matrix itu, kota kita semakin maju, banyak sumber pangan dan bisnis yang terus ter explor masuk dengan bagus dan baik, bahkan kau bisa mengambil sumber daya yang bagus diberbagai daerah karena Matrix mu yang terhubung langsung dengan matahari? jadi aku pikir, apakah cara kerja Matrix hanya sampai disitu?"
"Jadi menurutmu? kau bisa gunakan Matrix itu untuk mengeluarkan anakku dari iblis itu?"
"Varegar mengangguk.
"Apa gunanya pria yang kau undang itu? ia berkerja sama denganku, dan sampai saat ini kau masih menyembunyikannya"
__ADS_1
"Aku tidak menyembunyikannya! dia hanya sedang membuat senjata!"
Varegar tertawa, "Lalu apa perjanjian yang aku tidak tahu itu? ah! apakah kau membuat perjanjian dengan pria itu tentang bagaimana ia akan mengambil sumber daya alam negeri kita dan kau akan mengambil senjata itu bukan?"
Raja Gevar tiba-tiba memukul wajah Varegar, tanpa aba-aba, wajahnya geram menatap Varegar, Varegar hanya menyengir.
"Kurang kencang suaramu kaparat!"
"Sudah ke intinya saja, kau setuju?"
Raja Gevar menunduk, awalnya ia sempat ragu, tapi ia segera menepis dan mempercayainya dengan cepat, ia mengangguk.
Mata Aleris terpejam, tapi otaknya terus berpikir, hal itu yang membuatnya tidak tenang dalam tidurnya. Karena gelisah dan keringat dingin Aleris membuka bajunya, lalu ia membuka jedelanya agar udara dingin masuk kekamarnya.
Ia bahkan sangat berani telajang dada saat udara masih diselimuti salju. Ia kembali ketempat tidur, ia merebahkan tubuhnya, namun matanya terbuka menatap atap-atap kamar tersebut.
"Sialan!" umpatnya.
Diotaknya, banyak sekali pikiran. Setelah ia sampai sakit kepala memikirkan tentang teka-teki yang diberikan oleh iblis gila itu.
"Bisa-bisanya, ia datang hanya untuk itu? bagaimana bisa setelah iblis itu membuat semua warga ketakutan dan ada banyak korban, bisa-bisanya ia hanya mengatakan 'jangan cari identitas kami' apa maksudnya itu!"
Aleris sangat emosi dengan hal ini.
"Setelah ingatan aku pulih! jadi aku berpikir semua ini tidak ada gunanya, sudah aku pertaruhkan semua jiwa dan raga, tapi yang hanya diinginkan iblis itu adalah agar kita waspada? dan mengetahui bahwa iblis itu ada? dan yang menjadi permasalahanya adalah! kenapa iblis itu hanya datang ke kota ini saja? tapi memang seperti dugaanku, siapa lagi kalau bukan suku itu? yang memiliki hubungan tidak baik selama berabad-berabad hanya kota Majestic dan suku itu.."
Aleris lalu berteriak, dan memutuskan untuk menepis pikiran gila yang tiba-tiba datang, ia lalu beranjak dan mendekat kearah laci buku. Ia baru saja mengingat tentang buku yang ia temui dikedai kopi, buku yang dimiliki Randi.
Ia membuka buku itu, membuka lembar per lembar kertas didalamnya.
"Apa yang ada dibuku ini?" gumamnya.
Tiba-tiba angin besar datang kearah jendela, membuat jendela tersebut bergerak dengan keras, Aleris menoleh ia juga merasakan sesuatu yang aneh.
Ia mencoba mendekat, karena sepertinya ada sesuatu yang telah menyentuh jendela dengan keras sehingga membuat jendela itu bergerak-gerak. Saat melangkah tiba-tiba tubuhnya sangat panas.
"Apakah akan ada monster yang datang?" gumam Aleris.
Ia terus melangkah kedepan jendela, hingga seketika monster kelelawar datang dan berdiri di tembok balkon jendel, hal itu membuat Aleris kaget, sampai ia tersungkur jatuh kelantai.
Tapi dengan cepat monster itu berubah menjadi sosok wanita yang Aleris kenal, yaitu Vin.
"Tenang, tenang....." sahut Vin seraya turun dari balkon.
Tubuhnya sudah seratus persen manusia, ia melangkah mendekat kearah Aleris yang masih tersungkur dilantai, telanjang bulat.
"Maaf mengagetkanmu..." ucap Vin seraya menyodorkan tangannya, untuk membantu Aleris bangun.
Namun Aleris tidak menerimanya ia bisa berdiri dengan sendirinya.
"Aku tidak ingin menyerang atau apa kok, aku tidak sejahat seperti teman-temanku..."
Aleris menatap heran kearah Vin.
"Lalu kenapa kau tiba-tiba datang kesini?" tanya Aleris.
"Ini sudah malam, pakaianmu bahkan kain transparan seperti ini, dan aku yang telanjang dada begini, kalau ketahuan aku pasti jadi gosip se kerajaan"
"Kenapa kau berpikiran seperti itu? aku juga datang diam-diam agar tidak diketahui orang-orang!"
Aleris tersenyum sinis, namun hal tak terduga datang. Dimana Aleris dan Vin mendengar langkah menuju kearah kamar Aleris.
"Pergi! pergi!" bisik Aleris ia mendorong Vin kearah jendela agar ia segera pergi.
"Tapi aku ingin mengatakan suatu hal..." ucap Vin menahan.
"Kapan-kapan saja" ucap Aleris terus mendorong tubuh Vin.
Tetapi tiba-tiba kain gorden yang tergerai sampai labtai membuat kaki Aleris tergelincir kain tersebut, membuat Aleris dan Vin terjatuh dimana tubuh Aleris menindih tubuh kecil Vin dilantai.
Mereka saling tatap canggung, segera Aleris beranjak karena mendengar suara langkah yang semakin dekat.
"Hei! cepat! kalau kau tidak ingin pergi maka sembunyilah"
Tidak lama-lama, Vin berlari menuju jendela dan loncat, sempat Aleris syok karena tiba-tiba Vin loncat dari balkon, namun kembali lagi, Vin adalah sosok monster kelelawar.
Aleris segera duduk kearah tempat tidur hingga seseorang membuka pintu kamar Aleris.
"Fay?" Aleris menoleh.
"Dikamar aku, aku mendengar suara riuh dikamarmu, ada apa?"
Aleris mencoba terlihat tenang.
"Suara riuh? aku bahkan sedang santai-santai melihat salju turundari jendela"
"Tapi aku mendengar, apakah tidak ada apa-apa kau yakin?" Fay mendekat kearah jendela.
Ia menatap keseluruh ruangan namun tidak ada yang janggal. Fay menghirup aroma wangi yang tercium tak biasa didalam kamar Aleris.
"Ris, kenapa aroma kamarmu asing sekali? tidak seperti biasanya?"
Aleris berdiri dan menyentuh kedua pundak Fay.
"Kau kenapa sih? aku membeli parfum kemarin sore, dan satu lagi tidak ada keriuhan disini, kau bisa kembali tidur..."
Fay mengangguk, "Iya aku percaya kok..."
__ADS_1
Lalu Fay berlalu begitu saja.
Dengan cepat, Aleris melangkah mendekati balkon, tapi ia tidak melihat tanda-tanda Vin datang lagi, ia lalu menutup jendela.
"Tunggu!" suara itu muncul diarah balik bawah balkon.
Aleris melihat dibawah balkon, memang benar Vin bersembunyi dibawah balkon, Aleris menyodorkan tangannya untuk menolong Vin, Vin menerimanya lalu seraya merangkak ketembok Vin berhasil menginjakkan kaki dilantai kamar Aleris.
Aleris lalu mengambil kain untuk menutup dadanya yang telanjang.
"Kau ingin mengatakan apa?"
Vin duduk dilantai, seraya menjelaskan, ia mendongak menatap Aleris yang duduk ditempat tidur diatasnya.
"Dengar, aku tidak jahat, bahkan aku ingin menghentikan monster yang ada ditubuhku.."
Aleris menyipitkan matanya, tandanya ada satu hal yang mungkin ingim Vin katakan dengan penting.
"Aku tidak bohong, sumpah! aku melarikan diri dan datang ke kota Majestic aku memiliki liontin bulan untuk membuat semua orang tidak curiga denganku, aku sudah kesini beberapa bulan yang lalu, dan jujur aku yang membawa monster duyung itu ke sungai Gon..."
Mata Aleris terbelalak menatap Vin, ia tidak menyangka apa yang dikatakan Vin.
"Sungguh?"
Vin mengangguk.
"Aku berkhianat, karena aku sebenarnya tidak ingin ini terjadi.."
"Lalu apa yang kau tahu?" sahut Aleris.
"Aku hanya ingin mengatakan intinya saja..."
"Mereka memang sengaja memunculkan teka-teki ini untuk dikerjakan oleh warga kerajaan kota Majetic, mereka ingin kalian semua tahu bahwa mereka masih hidup akan akan terus meneror kota Majestic, aku tidak tahu detail rencananya, tapi terakhir aku mendengar, kalian tinggal menunggu saja, karena tidak tahu kapan mereka akan tiba-tiba menyerang, sejak saat itu aku memutuskan untuk pergi.."
"Tunggu, dimana tempat mereka, dan apa hubungan dengan teluk alaska.."
"Oke baiklah..." Vin menghelan nafasnya.
"Memang benar, teluk alaska adalah tempat para monster, dan sekarang teluk itu sudah dipenuhi oleh kekuatan sihir oleh para iblis itu, disaat kau melangkahkan kaki disana kau bisa langsung mati, toh pas tidak ada sihir pun kau bisa mati kan, apa lagi sudah disi kekuatan sihir. Kalau tentang tempat tinggal, ada sebuah goa diseberang teluk alaska, kau bahkan tidak bisa melihat kalau kau tidak memakai liontin bulan..."
"Lalu apa, apa yang harus kami lakukan" ucap Aleris.
Vin menunduk, "Kalian tinggal menunggu mereka datang, karena memang ini yang bisa kalian lakukan..."
"Jadi? apa yang mereka kirim kepada kota Majestic ini sia-sia? mereka hanya ingin menujukan bahwa mereka hidup dan ada!?"
Vin mengangguk, Aleris tersenyum miring.
"Akan aku tunggu, dan buktikan!"
"Dan satu lagi...."
Aleris menoleh, "Apa?"
Vin menghelan nafas, ia mulai gugup.
"Aku mencari Randi, tapi aku tidak menemukannya, kau tahu dimana dia?"
"Dia sedang butuh sendiri, dia memang berada dikota ini, tapi kan kota ini luas aku tidak tahu dimana dia..."
"Kenapa? kau menyukainya?" tanya Aleris.
Vin terbelalak, pipinya sangat merah.
"Haisss kenapa ada banyak wanita yang terpesona dengannya.." gumam Aleris.
"Aku tahu kok, Lidra, Lidra itu adalah wanitanya, aku hanya bisa mencintainya dalam diam..."
Aleris tertawa, "Sungguh?"
"Lalu jika bukan?"
"Dia hanya anak buahku, ya aku tidak bisa membuktikannya kepadamu ya jika memang dia adalah wanitanya Randi, karena aku sudah tahu, Lidra adalah sosok yang bagaimana..."
Vin mengangguk beberapa kali, "Kalau boleh, aku bisa memanggilmu dengan namamu saja? tanpa tuan?"
Aleris terdiam, ia cukup lama menatap Vin.
"Karena aku pikir, umur kita sama, kau pernah membantuku membuat lukisan waktu kecil, disaat kau merayakan perlombaan lukisan...."
Aleris melotot, mulutnya terbuka lebar saat ia teringat dengan jelas.
"Jelaskan padaku! itu sungguh kau?" Aleris menyentuh kedua pundak Vin.
Vin mengigit bibirnya, "Aku warga sini, warga Majestic, ada sesuatu yang membuatku harus menjadi seperti ini..."
Aleris masih tidak menyangka, ia meremas rambut kepalanya.
"Kau membantuku, memgambil kain lukis lagi setelah beberapa anak-anak mencoret kain lukisanku dengan tanah, kau datang dan mengambil kain lukis..."
Aleris memotong percapakan Vin.
"Lalu aku mengambar garis dikainmu, agar kau bisa membuat gambar lebih mudah, aku memberimu pewarna lukisan..." gumam Aleris.
Vin mengangguk, dan tersenyum.
"Lalu apa yang membuatmu jadi seperti ini?" tanya Aleris.
__ADS_1