
Aleris memunculkan elang raksasa putihnya, lalu tanpa pamitan ia beranjak terbang pergi dari kerajaan, aleris berharap jika masalah ini cepat terselesaikan, memang ia sudah berjanji jika ia tidak akan mengunjungi kerajaan mejestic lagi, tapi kali ini ia mengingkarinya, memang ini ada kaitannya dengan aleris tentunya, namun rasanya ia belum siap untuk menggores luka lama lagi.
Leon duduk melamun dikuris taman belakang kerajaan, ia beberapa kalo tersenyum, ia membayangkan jika saat ini ia masih bisa bersama dengan kedua orang tuanya, ia bisa duduk disini dengan kedua orang tuanya dan aleris.
Bahkan leon sudah sangat sehat, bukankah masalah ini juga ada kaitannya dengan leon? Leon sadar dirinya memang mempunyai penyakit tapi ia bisa menjaga dirinya dengan baik?
"Aku kira aleris akan mengizinkan aku pergi setelah aku berpamitan dengannya, tapi jika tahu akan seperti ini aku tidak akan berpamitan dengannya" gumamnya.
Memang penyakit mental leon, sudah tidak kambuh lagi, tapi aleris selalu merasa lebih kuat darinya, membuatnya jadi terlihat lemah, aleris memang keras kepala sejak dulu membuat leon sering memukul-mukul kepalanya jika aleris sering keras kepala.
Tanpa sadar leon memukul kepalanya, hingga mahagaskar datang dan menghentikan gerakan memukul leon, ia memeluk leon dari belakang.
"Paman?" Ucapnya.
"Jangan....jangan ulangi lagi bukankah kau sudah sembuh" tutur mahagaskar.
Leon hanya tersenyum.
Mahagaskar lalu mulai sesi pembicaraanya, dimana ia juga mengalami trauma berat.
"Kau dan aku sama, makanya kita sering bertengkar dan sering baikan diam-diam..."
Mahagaskar menceritakan jika dia mengalami masa sulit saat perang, dimana saat itu ia masih remaja, setelah terjadinya perang, mahagaskar harus tinggal dipenjara, disaat itu ia sering mengutuk dirinya sendiri, selain memiliki kekuataan melihat jejak mahagaskar memiliki kekuatan sama seperti aleris yaitu elemen tanah, yang masih ia gunakan elemen tanah, tapi untuk kekuatan melihat jejak ia sudah menguburnya dalam-dalam.
Dimana saat perang, ia adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan itu, saat orang-orang tak bersalah berlari dan sembunyi, mereka akhirnya tertangkap gara-gara kekuatan mahagaskar, hal itu membuatnya merenung banyak dipenjara.
Mungkin itu bukan kemauan mahagaskar, tapi seperti perintah semuanya ia lakukan, leon menatap mahagaskar dengan raut wajah datar.
Ia menepuk pundak mahagaskar.
"Kita memang sama paman...."
Leon menyodorkan tanganya, jari tanganya mengepal, ia ingin melakukan gerakan tos kepada mahagaskar, lalu mahagaskar menerimanya.
"Lalu jika saat itu aku mati aku tidak akan bisa melihat kau dan aleris sampai sekuat ini" mahagaskar tersenyum.
"Mungkin aku sedih diatas langit melihat kalian sengsara tanpa aku" lanjutnya.
Mereka menatap padang rumput didepan mereka, melihat perbukitan yang saling menonjol sampai mereka tidak melihat ujungnya, matahari mulai tenggelam separuh tubuhnya membuat matahari itu duduk ditengah-tengah perbukitan seaakan ia ingin melihat mahagaskar dan leon yang tidak henti-hentinya bercerita.
"Aku juga sudah sembuh kok paman, tapi terkadang seseorang tidak mempercayaiku..."
"Bukan!" Sahut mahagaskar.
Leon menoleh, "Lalu?"
"Aku ingin kau pergi, namun kali ini bukan saatnya, karena aleris juga masih ada hubungannya dengan masalah ini, kau tahu kan makhluk aneh itu?"
"Aku tahu kau cerdas aku selalu mengandalkanmu kan? Aleris juga selalu mengandalkanmu tapi untuk pergi sendiri aku tidak mengizinkanmu untuk saat ini" lanjut mahagaskar.
Leon tertawa.
"Iya paman, jika aku saat ini pergi dan mati, tidak akan ada saingan lagi untuk varegar..."
Mahagaskar menatap iba kearah leon.
"Ayah dan bunda sedang apa ya paman?" Tanya leon tiba-tiba.
Mahagaskar terdiam, ia menunggu kalimat berikutnya yang kelaur dari mulut leon.
"Aku bangga diriku bisa hidup sampai saat ini....."
Leon beranjak di berdiri didepan mahagaskar membuat mata mahagaskar menatal gelap wajah leon.
"Aku ingin kau melatih kekuatan melihat jejak lagi..." gumam leon.
Mahagasakar berdiri, "Apa maksudmu?"
"Tidak aku hanya ingin kau bisa melakukan itu lagi...."
"Tidak!!" Sahut mahagaskar.
Leon tersenyum, "Kau sudah mencobanya?" Mahagaskar mengangguk.
"Aku sudah tidak bisa mengendalikannya leon..." rintih mahagaskar.
"Seandainya masih bisa, kita bisa memecahkan masalah ini lagi paman...." ucap leon beranjak pergi.
__ADS_1
Mahagaskar masih melamun disana, memang benar jika satu persatu masalah muncul mungkin mahagaskar bisa mendeteksi jejak, tapi ia tidak ingin menghidupkan kekuatan itu lagi, benar-benar rasanya ia ingin mengubur dalam-dalam.
Raja gevarnest duduk diruangan varegar, menatap makhluk aneh yang ia letakkan diaquarium besar, jari tangannya tak henti-henti ia gerakan, disaat otak sedang berpikir fokus terkadang ada sesuatu yang mengikutinya seperti jari-jari raja yang tanpa sadar bergerak.
Ia sedang berpikir, jika memang benar suku itu kembali untuk membalas dendam, berarti ada seseorang yang masih tersisa saat itu, dan apakah ini memang ada kaitanya dengan iblis yang dimaksud? dan apa hubungannya dengan teluk alaska? sudah hampir dua jam raja terdiam dikursinya memikirkan hal ini.
Raja tahu sebegitu mengerikannya teluk alaska, tapi seperti yang dikatakan dukun itu, ia tidak bisa melihat asal usul iblis itu, semuanya seakan lenyap dimata dukun itu.
"Apakah aku pantas kawatir seperti ini, sedangkan aku memiliki anak hebat itu..."
"Jika memang benar suku itu akan datang, bukankah akan sangat mengerikan jika benar ia ada sangkut pautnya dengan iblis?" lanjut raja.
Ia tersenyum kecut, lalu ia beranjak dan mengambil disaku celananya, sebuah liontin bulan, ia memandangi liontin itu.
"Entahlah kau memiliki banyak liontin tapi aku bersyukur bisa mengambil liontin bulan milikmu....berharap tidak ada seseorang tahu kejahatanku, yang tahu tentang kejahatanku hanya beberapa orang, dan aku sudah membunuh satu persatu" gumama raja seraya tersenyum, matanya masih menatap tajam liontin bulan milik bravogar.
Varegar datang ia mengetuk pintu, lalu raja menyembunyikan liontin itu ia masukan lagi ke kantong celananya, varegar menundukan kepalanya.
"Aku masih mencari orang yang pintar mencari buku itu tuan.....tapi bukan hari ini aku bisa menemukannya" ucap lirih varegar.
"Dukun itu...panggil dukun itu..."
Varegar menghela nafas panjang, raut wajahnya seperti merasa kawatir, ia mengigit bibir bawahnya, raja bertanya karena ia tahu varegar seperti sedang menyimpan sesuatu.
"Ada apa?" tanya raja.
"Dukun itu pergi tuan.....katanya ia sudah tidak akan tinggal dikota majestic lagi!!!"
"Cari dia!!!!!!" pekik raja.
Namun varegar langsung menundukkan kepalanya.
"Tuan sepertinya kita tidak berhak untuk memanggilnya lagi, karena mungkin dia kurang nyaman karena kita, aku takut ia akan tahu tentang asal-usul kerajaan ini, dan kita akan...." ucapan varegar terpotong oleh teriakan raja.
"Sialan!!!!!!" raja mengumpat.
"Kalau kau sabar menungguku, aku akan mencari lagi seseorang..."
"Kau bisa carikan seseorang yang hanya memiliki kekuatan pencarian, aku tidak membutuhkan seseorang dukun yang selain memiliki kekuatan pencarian ia juga tahu asal-usul tempat ini" gumam raja.
Hari ini, ia akan melakukan latihan bela diri, ia melatih dirinya diruangan itu tanpa berhenti, hingga tubuhnya sudah dipenuhi keringat, varegar tiba-tiba datang dan menepuk kedua tangannya, karena melihat leon yang sedang melakukan latihan bela diri, melihat aksi varegar yang cari perhatian leon tidak menggubrisnya ia hanya fokus dengan latihanya.
"Sudah lama aku tidak melihat kau bela diri" gerutu varegar.
Tentu leon tidak menggubrisnya.
"Kau sudah bukan anak kecil lagi ya...yang menangis karena tidak bisa pergi.."
Leon menghentikan latihanya, ia lalu mendekat kearah varegar diambang pintu ruangan.
"Ada yang harus aku lakukan? hingga kau dengan tidak ada kerjaanya datang kesini? kau ingin mengangguku?"
Varegar tertawa, ia berjalan melewati leon seraya melipatkan kedua tanganya diatas perut.
"Malu lah dengan sikapmu tadi....merengek didepan raja meminta untuk kau saja yang melakukan tugas ini..."
"Jika tidak ada urusan yang penting silahkan pergi dari ruangan latihan, karena aku tidak ada waktu menanggapi kata konyolmu..."
Varegar menoleh, "Hei hei...ini penting...."
"Menggangumu....." lanjutnya.
Karena leon tidak tertarik dengan pembicaraan varegar ia tidak menggubrisnya, ia melanjutkan latihannya.
"Aku kira kau sibuk baca buku....tapi kau ternyata sering ya latihan seperti ini...."
Celoteh varegar yang keluar dari mulutnya sebagian besar tidak leon tanggapi, ia hanya fokus kepada latihanya, karena ia tahu perkataan varegar hanya menyinggungnya dan memancing emosi leon.
"Lihat ini!!" pekik varegar.
Varegar mengeluarkan api yang ada ditangan kanannya, ia santai mengeluarkan kekuatan apinya, seraya tangan kirinya ia masukan kekantong celananya.
"Jika aku bayangkan apakah kekuatanku dan kekuatan anginku akan menyatu dengan baik jika digabungkan?" ucap varegar.
Leon tersentak kaget saat api itu dikeluarkan, memang sudah lama leon tidak melihat varegar mengeluarkan api ditanganya, karena ruang latihanya saja berbeda.
"Maaf ya membuatmu kaget, kau mungkin sudah lama tidak melihatku mengeluarkan jurus api ini, terakhir kau lihat aku mengeluarkan api ini saat kematian orang tuamu bukan?"
__ADS_1
"Sekarang karena aku sering melatih kekuataan apiku, aku jadi lebih merasan kuat dan memiliki chakra yang banyak....karena guruku adalah raja gevarnest"
Ucapan demi ucapan sombong varegar ia keluarkan, leon memang sudah sangat hafal dengan kesombongam varegar, ia tahu jika ia datang kesini hanya karena ingin mempamerkan diri atau menyombongkan dirinya.
"Kekuatan anginku masih sama seperti dulu" ucap malas leon.
"Kau tidak mengasah kekuatanmu lagi?" ucap varegar seraya mematikan api ditangan kirinya.
Leon hanya menggeleng.
"Saat diteluk alaska kau menggunakn kekuataanmu?" tanya varegar.
"Ya tapi disana monster bukan sembarang monster" jawab leon.
"Yah aku ingin kesana untuk mengetahui lebih detail lagi tentang teluk alaska....emm maukan kau ikut denganku?" ucap varegar.
Leon menatap varegar dengan cepat ia menyahut, "Tidak, aku tidak akan kembali ke teluk alaska lagi...."
Varegar hanya diam, lalu ia mengingat sesuatu, ia tersenyum seraya berkata.
"Kau bukan penghianat kan? seperti kedua orang tuamu?" ucap varegar, nada bicaranya seperti menyinggung leon, namun leon hanya menatap wajah brengsek varegar.
"Jasad pengianat seharusnya dibuang diteluk alaska agar dimakan oleh monster-monster itu..." ucap varegar, leon masih terdiam.
"Bukannya malas dikubur seperti layaknya orang-orang pada umumnya....."
"Untung raja merasa iba jadi ia mengubur jasad orang tuamu, seperti pada umunya, sayang sekali.....seorang penghianat harus mati seperti itu, bukankah harus dibakar hidup-hidup? lalu dipenggal, habis dipenggal digantung, dan dicacah seluruh tubuhnya...? bukankah hal itu sudah sebanding dengan perlakuan mereka"
Leon yang mendengarkan ucapan keterlaluan varegar tidak bisa menahan emosinya lagi, ia sudah menahanya, ia sudah menghiraukanya, tapi kali ini rasanya seorang gila seperti varegar harus dikasih pelajaran, semakin kesini semakin sangat menyinggung leon.
Dengan raut wajah yang emosi, leon berteriak, "Hentikan omong kosongmu kaparat!!!!!" tangan leon mengeluarkan jurus anginnya, mengarah ketubuh varegar, hingga tubuh varegar terpental ditembok hingga ia terjantuh dan mulutnya mengeluarkan setetes darah.
Varegar tertawa, "Ini yang aku mau darimu......."
Masih dengan raut wajah yang emosi, mata leon tidak bisa berpaling dari varegar, varegar berdiri dan berjalan mendekat seraya dengan jalan yang sempoyongan.
"Lihat kau bisa membuatku mengeluarkan darah dari mulut, setelah ini sepertiinya aku akan mati!!" pekik varegar.
Tanpa menjawab sedikitpun leon masih menatap geram kearah varegar, varegar menggeleng seraya mengeledek.
"Jangan...jangan menatapku dengan geram.... matamu akan keluar karena melotot seperti itu!!!"
Leon berlari menyerang varegar, ia menonjok wajah varegar namun berhasil varegar tepis, varegar lalu menendang perut leon dengan lututnya hingga leon tersungkur mundur.
"Ayo lagi" pekik varegar.
Tidak sampai disitu, mereka akhirnya berkelahi, mereka mendapatkan luka memar diwajah dan mengeluarkan darah dihidung dan mulut mereka, perkelahian itu membuat leon kerap tersungkur jatuh, dan kehabisan tenanganya, kerena ia memang sadar jika bela dirinya lemah dari varegar.
Leon terjatuh seraya merintih kesakitan wajahnya sudah penuh darah dan luka lebam, sama seperti varegar, tapi ia masih bsia berdiri untuk membunuh leon.
"Ternyata masih kuat aku dengan kau ya?!" ucap varegar.
Ia mendekat kearah leon, ia mengeluarkan api ditanganya siap untuk menyerang leon, bukankah ini sudah waktunya? ia membunuh leon dan tidak akan ada saingan varegar lagi, ini adalah waktu yang tepat karena leon sudah tergeletak lemas.
Api yang dikeluarkan varegar siap mengenai tubuh leon, namun mahagaskar datang tanpa terlambat, ia berteriak membuat varegar berhenti.
"Hentikan!!!!!!"pekik mahagaskar.
Tanpa mengiraukan siapa yang datang, varegar tanpa basa-basi melempar apinya agar mengenai tubuh leon yang sudah tergeletak lemas, namun dengan cepat mahagaskar tepis dengan kekuatan tanahnya, tanah yang tiba-tiba muncul dari bawah menghalangi varegar untuk mengenai tubuh leon, api itu mati karena terhalang oleh tanah, mahagaskar lalu berlari mendekat.
Ia menonjok wajah varegar dengan tanganya hingga varegar tersungkur dan pingsan, mahagaskar menyelamatkan leon.
"Apa yang kalian lakukan!!!"
"Prajurit bawa varegar keruanganku!!!!!!" teriak mahagaskar.
lalu ia menggendong tubuh leon yang sudah lemas, dan para prajurit yang membawa tubuh varegar keruangan mahagaskar.
Apakah mereka sedang melatih kekuatan mereka? tapi bukankah ini keterlaluan? wajah mereka berantakan penuh luka dan darah, apakah mereka sedang adu mekanik? batin mahagaskar.
Tidak seperti biasanya tubuh leon berkeringat seperti ini, apakah ia sedang berlarih bela diri? mahagaskar paham, yang melakukan perkelahian ini pasti varegar dahulu, mana mungkin leon alan mengajak gelut jika tidak ada yang memancingnya.
Mahagaskar menutar bola matanya, "Sejak dulu mereka selalu saling saing" mahagaskar menghela nafas.
Setelah tubuh varegar diletakan dikasur mahagaskar, ia menampar pipi varegad beberapa kali, seraya mengumpat-umpat, betapa kaparatnya orang ini, tidak pernah kapok.
Memang mahagaskar lebih tinggi jabatanya dengan varegar dan sering kali, varegar merasa sangat menghormati mahagaskar jika varegar sedang sendiri, lalu ia akan berubah sikap kepada mahagaskar ketika varegar bersama raja, ia akan sombong dan lupa siapa dirinya kepada mahagaskar.
__ADS_1