Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Ramuan


__ADS_3

Raja Gevarnest terdiam dibalkon istana menatap luas hamparan kota Majestic didepan matanya, ia sedang banyak pikiran, dimana satu persatu masalah datang, ia bisa tenang jika berdiri menatap kota Majestic yang indah.


Akhirnya usahanya tercapaikan, ia bisa mendirikan kota Majestic yang sejahtera, tidak pernah dipikirkan usahanya bisa sampai dititik kesuksesanya, namun disaat ia bahagia menikmatinya, sesuatu datang menimpa Majestic.


Bukankah raja adalah seseorang yang kuat dan menyejahterakan rakyatnya? karena masalah ini ia ragu memikirkannya, padahal ini puncak kesuksesan yang ditunggu-tunggu.


Ratu Carlota menatap raja Gevar yang terdiam dibalkon, hal itu tidak membuat ratu merasa tenang, disatu sisi ia harus istirahat karena ia sudah melihat tanda-tanda diperutnya, namun ia ingin menemani sang suaminya.


"Kenapa?" ucap lirih ratu Carlota memeluk punggung raja.


Namun karena perutnya yang besar, ratu Carlota susah untuk memeluk raja, raja lalu menoleh dan tertawa.


"Tidak apa-apa..." ucap raja seraya menggadeng kedua tangan ratu.


Ratu Carlota tersenyum, lalu ia menunduk menatap perutnya. Raja Gevar lalu duduk dan mencium perut ratu yang sudah sangat besar.


"Kau ingin wanita atau laki-laki?"


"Aku ingin wanita, tapi aku juga ingin laki-laki.." gumamnya, lalu ia berdiri mencium kening istrinya.


"Yang memiliki badan adalah kamu sayang, jadi kamu yang berhak menentukan"


"Aku ingin wanita...." ucapnya.


"Jika yang keluar laki-laki?" tanya raja.


Ratu Carlota tersenyum, "Maka, tidak masalah, jika Arvand tidak bisa diandalkan makan andalkan anakmu yang kedua..."


Lalu mereka berpelukan, menikmati angin sore dibalkon istana.


Arvand masih melakukan latihan fisiknya, busur panah dan bela dirinya disebuah ruangan khusus untuk latihan, ia hanya sendiri, batinnya siapa lagi yang akan menemaninya, bahkan Aleris datang waktu itu sama sekali tidak menjenguknya.


Tidak dipermasalahkan memang, namun ia sangat muak jika harus melakukan hal dengan sendiri disini, bahkan menurutnya rumahnya ini sudah seperti neraka.


Arvand sedang banyak pikiran, memikirkan suatu rencana memikirkan kejahatan ayahnya, karena rencana itu ia harus mengumpulkan kekuatan, ia harus lebih sering latihan menjaga stamina dan agar rencana berjalan dengan matang.


"Aku pikir pangeran tidak akan sering latihan disini..." pekik Mahagaskar yang tiba-tiba datang.


Arvand berhenti, nafasnya terengah-engah, tubuhnya sudah dipenuhi keringat.


Karena sangat lelah, ia hanya mengangguk saja, lalu ia duduk seraya mengambil sebotol air.


Mahagaskar mendekat, ia menepuk pundak Arvand yang masih tergeletak kelelahan.


"Kemarin-kemarin kau dan Leon juga sering datang kesini kan?" ucap Arvand.


"Ya, karena sebenarnya aku melatih Leon.." jawab Mahagaskar.


"Kau sendiri?"


Mahagaskar menggeleng.


"Kenapa?" tanya Arvand.


"Tidak..."


"Paman, selama ini kau sangat kuat, kenapa kau justru begitu"


Lalu ia menatap Arvand, "Ya, akan aku lakukan pangeran, tapi sepertinya aku butuh waktu.."


Kemudian Arvand melajutkan latihannya.


"Apakah ratu sudah memunculkan tanda-tanda kelahirannya?" tanya Mahagaskar.


Arvand berhenti, "Kenapa kau tanya aku?"


"Aku tidak salah dengar?" gumam Mahagaskar.


"Aku sudah beberapa waktu ini tidak berbicara kepada bunda, aku berbicara yang sekiranya penting saja.."


"Ada apa pangeran?" tanya Mahagaskar mendekat.


"Tidak ada...."


Arvand tidak ingin membalas hal itu lagi, terlalu malas untuk membahas hal yang tidak ia sukai. Hari itu Arvand cukup berlatih bersama Mahagaskar, sudah sangat lama tidak berlatih dengan siapa-siapa, bahkan bisa dihitung berapa kali Arvand berlatih bersama orang-orang dikerajaan.


"Paman, tentang iblis itu apakah masalah sudah selesai?"


Mahagaskar tersenyum tipis.


"Belum pangeran, kita tunggu saja.."


"Menunggu apa? mereka? tidak salah dengar?"


"Karena jika dipikir, kenapa mereka meninggalkan tanda di kota Majestic, makhluk aneh, potongan samurai? bahkan potongan samurai yang bukan benar-benar samurai?.."


Arvand memutar bola matanya.


"Kita datang saja ketempat mereka, sudah kan? selesai?" sahut Arvand.


"Pangeran, tidak semudah itu...."


Arvand kembali kekamarnya, ia meletakan busur panahnya, seraya melepaskan pakaian yang sudah basah karena keringatnya, ia melangkah kearah balkon kamarnya, ia ingin segera menghilangkan keringatnya agar cepat mandi, setelah itu ia lalu masuk kedalam kamar mandi, menyalakan lilin.


Ia membasuh tubuhnya dengan air hangat, ia memejamkan matanya.


"Huufftt" Arvand menghelan nafasnya.


Sudah sangat lama Arvand tidak memberontak melawan seperti ini, sudah terlalu lama ia patuh kepada orang tuanya.


"Benar-benar gila, kenapa aku diam saja selama ini?!?!" pekiknya.


Ratu Carlota melangkah kearah dapur, ia menyuruh para selir untuk pergi dari dapurnya, entah suasana hatinya sedang sangat baik, karena hal itu ratu ingin membuat jus buatanya sendiri.


Ia menyiapkan berbagai bahan, tentunya ia akan menyiapkan tomat karena bahan utamanya adalah tomat.


"Ratu, berapa usia kandunganmu?" ucap selir yang mendampingi ratu Carlota didapur.


Ratu Carlota tersenyum, "Karena kesibukan kalian, aku belum sempat bercerita ya?"


"Sudah sembilan bulan, tinggal menunggu hari" gumamnya.

__ADS_1


Akhirnya jus tomat buatanya selesai, ia tinggal menyiapkan gelas untuk dituangkan.


"Sepertinya aku harus kekamar mandi, bisakah kau bawa jus ini dan roti kekamarku?"


Selir itu mengangguk, sebelumnya ia kembali lagi untuk memotong berbagai sayuran untuk menyiapkan makan malam, namun tiba-tiba angin kencang datang, meniup gorden dapur hingga melayang-layang.


Selir itu tersentak ketika jendela itu terbuka lebar karena angin yang kencang, ia lalu menutup jendela itu, ia melihat-lihat tidak ada sesuatu yang terjadi, ia sangat lega, karena hanya angin saja yang lewat.


Ia mengambil nampan, dan menaruh gelas berisi jus tomat dan roti, lalu ia beranjak naik keatas kekamar sang ratu.


"Ini ratu, silahkan dinikmati.."


Ratu Carlota tersenyum, ia lebih dekat dengan selir ini, dibanding selir yang lainnya, bahkan sang ratu bisa sangat hafal kemana pergi dan sedang selir ini lakukan.


"Masih tidak ada kabar kah?" tanya raja.


Varegar yang duduk lalu berdiri, menundukan kepalanya.


"Sampai saat ini raja Jesper masih belum memberi kabar"


"Apakah Aleris berbohong?"


"Setahuku, ia tidak pernah bohong, tapi kalau melawan dengan yang tua itu memang dia.." gumam Varegar.


Sejak saat Aleris kembali ke kota Lander, sampai detik ini, raja Jesper belum sama sekali memberikan kabar.


"Kita pergi saja ke kota Lander" gumam Varegar.


"Tidak, ini bukan tugasku"


"Tapi jika sudah seperti ini siapa lagi kalau bukan kita yang maju tuan?"


Raja Gevar mendekat, "KIta tunggu saja!"


"Toh, aku sedang mendampingi istriku, dia sudah dihari-hari kelahirannya"


"Wah, pangeran akan segera melihat adiknya, jadi.... kau akan memberikan tahtamu kepada siapa?" leder Varegar.


Raja Gevar menampar pipi Varegar.


"Bukankah lebih sopan lagi, jika kau bertanya 'Kau lebih suka wanita atau laki-laki?' ketimbang kau meledekku seperti itu? kau mau ku masukan kepenjara bawah tanah?"


Dengan cepat Varegar menundukan kepalanya dan meminta maaf.


"Tuan aku akan melakukan pertarungan dengan Leon hari ini kau akan melihatku?"


"Tidak!" tepis raja Gevar dengan cepat.


Lalu ia beranjak pergi, Varegar memutar bola matanya.


Hari ini, Varegar ingin latihan fisik dengan Leon, memang awalnya Mahagaskar tidak mengizinkan karena bukankah Leon Dan Varegar misuh bebuyutan? tapi Leon kali ini tidak akan terpancing oleh mulut Varegar yang busuk itu, tujuan Varegar mengajak Leon kali ini bukan untuk beradu nasib seperti waktu itu.


Karena sesungguhnya latihan akan semakin konsentrasi jika, yang dilawan adalah seorang yang dibenci.


"Namun ada batasannya!" teriak Mahagaskar.


Varegar juga, ia tidak akan melakukan hal gila atau membunuh Leon, sepertinya ia akan fokus pada latihannya saja.


Leon siap untuk menerima pukulan dari Varegar, Varegar berlari dan menonjok wajah Leon, namun Leon berhasil menepis dengan menarik tangan Varegar.


Ia membanting tubuh Varegar ketanah, lalu ia menonjok wajahnya, Leon sebenarnya emosi saat itu, namun lagi-lagi Mahagaskar meneriakinya.


Varegar lalu mengangkat lututnya dan menghantam pantat Leon, leon tersungkur, lalu Varegar mengangkat tubuh Leon dan melemparnya hingga ke pondasi bangunan.


Leon mengeluarkan darah dimulutnya.


"Jangan terpancing, ingat janji kalian, ini hanya latihan!!!!"


"Sialan, kenapa kau keras kepala?" batin Mahagaskar, saat teringat ucapan Leon jika ingin latihan bertarung dengan Varegar.


Dengan tubuh yang sempoyongan varegar berucap, "Tenang paman, ini hanya latihan aku janji tidak akan melakukan hal gila!!"


"Entahlah dengan si Leon!" lanjutnya.


Leon bangkit lalu ia berlari kearah Varegar, menonjok beberapa kali wajah Varegar, Varegar lalu membalas dengan menendang perut Leon, hingga leon tersungkur.


Mahagaskar menatap wajah Leon, ia sangat khawatir jika mereka melakukan hal seperti waktu itu, seharusnya ia menolak ajakan Varegar, bukankah terlalu berbahaya jika mereka disatukan lagi?


"Sudah!! sudah!!!" teriak Mahagaskar mengakhiri latihan ini.


Varegar dan leon menatap Mahagaskar dengan bingung.


"Ayolah paman, kita baru saja mulai!!" teriak Varegar.


"Sudah hentikan, aku sudah lelah..." sahut Leon.


Lalu Varegar menatap bingung Leon, ia mendekat.


"Kau takut?" ucapnya.


"Tidak, luka waktu itu belum sembuh.." ucap Leon beranjak pergi.


"Latihan apa ini?!!" pekik Varegar


"Kau bisa latihan sendiri atau dengan yang lainnya bodoh" gumam Mahagaskar.


Varegar memutar bola matanya, "Baiklah, panggil Aleris..." gerutunya.


Leon melotot, selain keras kepala seperti dirinya, Aleris juga mudah terpancing seperti Leon.


Karena muak Mahagaskar mendekat, "Kau kenapa sih? kenapa harus orang-orang yang berhubungan dengan kita? Tidak Leon tidak Aleris, coba bicara denganku?"


Varegar tersenyum miring, lalu ia memalingkan wajahnya.


"Karena aku memiliki nafsu membunuh mereka..." ledeknya.


Mahagaskar terbelalak ia menarik baju Varegar, "Jaga ucapanmu bodoh!"


Varegar melepaskan genggaman Mahagaskar.


"Maaf sebelumnya aku terlihat sangat lancang, tapi aku punya hasrat itu, hei Leon, aku menyuruhmu untuk pergi ke kota Lander karena aku ingin kau mati.." seperti tidak ada beban Varegar mengatakannya.

__ADS_1


Leon menunduk, ia tidak bisa menatap Varegar, ia tidak ingin terpancing dengan hal gila Varegar.


"Lawan aku!" pekik Varegar.


Mahagaskar geram, lalu ia menonjok wajah Varegar.


"Hahahahahah!" Varegar tertawa.


"Bahkan tonjokanmu sangat tidak mempan untukku paman, sudah lama kau pendam kekuatanmu itu hingga tonjokan saja tidak terasa!!"


"Apakah aku harus mengikuti gayamu? kau hanyalah ular yang licik, berusaha mendekati raja, agar kau mendapatkan apa yang kau mau!!"


Varegar menatap geram Mahagaskar, "Aku tidak salah dengar kau mengatakan itu?"


"Tidak, kau pasti mendengarkannya..."


"Tidak, paman aku tidak begitu..." ucap Varegar tiba-tiba bersujud kekaki Mahagaskar.


Lalu ia tersenyum, "Aku mendekatiraja karena tujuanku satu, aku ingin membunuh seseorang" mata Varegar menatap Leon.


Varegar berdiri, "Sesuai perkataanmu, latihan ini berhenti" gumamnya seraya beranjak pergi.


Mahagaskar mendekat kearah Leon, "Sudah aku katakan, jangan menerima ajakan gila Varegar!"


Leon menghelan nafas, "Karena aku pikir aku harus berdamai"


"Tidak, bukan begitu caranya...."


Ratu Carlota meletakan gelas berisi jus tomat itu kemeja, ia sangat merasakan pusing yang luar biasa, lalu ia memutuskan untuk menidurkan tubuhnya, namun saat matanya terpejam.


Ia melihat sesosok iblis hitam didalam gelap, lalu ia membuka matanya.


"Apa itu?!" teriaknya.


Ia tidak begitu menggubrisnya, ia kembali memejamkan matanya, namun saat memejamkan matanya ia melihat sosok iblis hitam lagi.


Kali ini ratu Carlota berteriak, membuat raja Gevarnest berlari dan masuk kedalam kamar.


"Sayang, ada apa sayang?" ucap raja gevar, ia memeggang tangan istrinya.


"Aku...saat aku memejamkan mataku aku melihattt sosok hitam, seperti berada diotakku..." teriak ratu.


"Tidak, tidak ada!!" lalu raja Gevarnest memeluk ratu.


Ratu melepaskan pelukan raja, ia mendorong raja hingga tubuhnya terlempar dan menghantam lemari.


Raja Gevarnest terkejut dengan istrinya, ia bingung apa yang sedang terjadi kepada ratu Carlota.


"Sayang apa yang kau lakukan!!!" pekik raja.


Ratu Carlota, meremas rambutnya ia merintih dan berteriak karena kepalanya yang sakit.


"Sayang, kepalaku.....kepalaku ingin meledak..."


Raja Gevarnest sangat khawatir, ia ketakutan lalu ia berteriak memanggil prajurit.


"Tolong carikan bidan yang pintar dengan masalah seperti ini, dukun bayi!!!!!!" teriaknya.


Varegar yang mendengarkan sesuatu yang berisik lalu mendekat, namun ditahan oleh prajurit.


"Apa!!!" Varegar menepis.


"Ratu akan melahirkan tuan, raja menyuruh anda dan beberapa orang kerajaan untuk mencari dukun bayi!!!"


Varegar menghelan nafasnya.


"Aku tidak peduli" Varegar memalingkan wajahnya.


"Dia yang akan melahirkan kepada aku yang repot?" ucap Varegar beranjak.


Sudah tidak kaget jika Varegar menolaknya, dia memang tidak begitu menyukai ratu Carlota sama seperti ia juga membenci pangeran Arvand.


Para selir berdatangan membawakan sebuah minuman untuk menenangkan ratu, ratu meminum air putih itu, ia sedikit lebih tenang dan kepalanya sudah sedikit membaik karena air putih yang dibawakan oleh para selir.


Raja Gevar yang merasakan Kekhawatiran lalu memeluk ratu, namun tiba-tiba selir yang dikenal ratu, ia bersujud.


Raja Gevar dan ratu Carlota terlihat kebingungan, "Ada apa?" ucap raja.


"Maaf tuan sebelumnya, saya hanya takut terjadi sesuai dengan ratu, tapi saya benar-benar melakukan apa yang disuruh ratu..."


Raja Gevarnest kebingungan, ia menatap ratu Carlota, ratu menghelan nafasnya karena ia merasa lega sakit kepalanya akhirnya menghilang, ia membenarkan posisi duduknya.


"Aku menyuruhnya untuk membawakan jus tomat buatanku..." ucap ratu kepada raja.


"Tidak, kau tidak salah, kenapa harus bersujud seperti itu berdiri, toh aku sudah siuman..." ucapnya.


Raja Gevarnest lalu turun kebawah, ia melihat Varegar yang sedang duduk dibawah seraya membaca buku, dengan cepat tangan raja menyenggol buku itu hingga jatuh, ia menarik baju Varegar.


"Kenapa kau tidak pergi?"


"Aaaku....sudah menyuruh Leon untuk mencari dengan para prajurit..."


Raja melepaskam cengkramanya, "Suruh Fay datang kesini" ucap raja Gevarnest beranjak pergi.


Varegar memejamkan matanya, lalu ia beranjak menemui Mahagaskar.


"Paman, pinjam gagak milik leon, sepertinya Fay harus datang kesini" ucap Varegar yang tiba-tiba datang.


Mahagaskar membuka keranjang burung, lalu ia menyodorkan kepada Varegar, ia menuliskan pesan lalu ia letakan kekaki gagak itu, lalu ia terbang.


"Kau yakin dia akan cepat sampai?" ucapnya.


"Desa yang ditempati Fay tidak terlalu jauh, pasti akan segera sampai..."


"Ratu menyuruhku untuk mendampinginya saat proses kelahiran, apakah aku harus datang?"


Varega tersentak, "Ratu menyuruhmu? kenapa aku tidak?"


Mahagaskar menggeleng, "Bagaimana keadaan ratu?"


"Dia sudah membaik kok, akan aku kabari jika sudah saatnya melahirkan.."ucap Varegar beranjak pergi.

__ADS_1


__ADS_2