
Tea duduk dipojok ruangan, ia duduk di padi kering dan menyenderkan kepalanya disebuah kayu bangunan tempat itu, ia masih terdiam dan tidak henti-hentinya menangis, seraya dengan tatapan kosongnya.
Kai yang melihat Tea dengan tatapan iba dan tidak tega, ia mendekat.
"Te..."
Masih tidak ada jawaban dari Tea, ia hanya terdiam dengan tatapan kosong. Kai duduk disamping Tea.
"Sekarang? kita kubur jasad Jay?"
Tea tersadar dan menatap Kai.
"Kau pikir aku masih bisa ikhlas ditinggal Jay seperti ini?" ucap Tea.
Kai tidak bisa menjawab, Tea melanjutkan.
"Aku merindukan Jay..."
Kai sangat khawatir dengan kondisi Tea, ia merangkul pundak Tea dan mempersilahkan kepala Tea mendarat dipundaknya.
"Dengar Te, Jay tidak akan bahagia dan tenang disana jika kita biarkan begitu saja, aku ingin kau ikhlas, maka dia akan bahagia..."
"Iya Kai, sedang ku usahakan, tapi....ku mohon tunggu Agil datang kesini"
Tak sadar tangan Kai mengusap pundak Tea, menenagkannya. Kai tersadar lalu ia melepaskan pelukannya dari Tea, namun Tea menahannya.
"Biarlah, sebentar saja, biarlah seperti ini.." ucap Tea.
Kai sangat canggung, namun ia tepis, ini adalah keadaan yang sangat sulit untuk Tea, maka dari itu ia harus bisa menenangkannya.
Tiba-tiba bapak-bapak dengan perut buncit mendekat.
"Hei kalian! buanglah mayat ini, bau!" pekiknya.
"Te..sebentar" ucap Kai melepaskan pelukan mereka dengan halus.
Kai berdiri menatap bapak tersebut.
"Apakah sopan mengatakan itu didepan orang yang sedang berduka?"
"Aku hanya menyuruh kalian untuk membuang mayat ini!"
"Buang?" Kai menatap tajam, sampai bapak tersebut ketakutan ia menunduk.
"Lalu apa lagi? dikubur? diluar sana pasti kalian akan dimangsa oleh monster, maka yang lebih mudah buang saja diluar!"
Karena perkataan yang sangat tidak pantas yang diucap, emosi Kai keluar ia menonjok wajah bapak tersebut dengan keras hingga ia tersungkur dan mengeluarkan darah dihidungnya.
Semua orang-orang yang menyaksikan ramai berbisik.
__ADS_1
"Kalian? kalian masih mau tinggal disini dengan orang gila ini?" pekik Kai.
Orang-orang hanya terdiam menatap ketakutan kearah Kai. Kai lalu menarik baju bapak tersebut dengan keras, mengangkat tubuhnya.
"Kau bisa mati jika tidak dijaga lagi ucapanmu!" pekik Kai ia melepaskan genggamannya dengan kasar.
Karena ketakutan, dan menahan sakit bapak buncit itu segera berlari menjauh dari Kai. Kai menatap Tea yang masih menatapnya.
"Te?" panggil Kai.
Tea hanya tersenyum hambar, Kai bisa melihat wajah Tea yang lelah, dan matanya sayu karena menangisi terlalu lama Jay, Kai mendekat kearah jasad Jay, ia duduk dan menatap wajah Jay dekat.
"Aku tidak menyangka pada akhirnya kau harus pergi terlebih dahulu dari kami, semua yang telah dilalui olehmu hingga dititik ini adalah sebuah kehormatan, dengan adanya dirimu dunia ini berjalan dengan baik, beristirahatlah dengan damai" ucap Kai memejamkan matanya.
Ia kembali mendekat kearah Tea dan duduk disamping Tea.
"Kau pasti sudah tahu, Jay sangat menyukai Agil?" ucap Tea.
Kai tersentak, ia baru saja tahu dari Tea, jika Jay menyukai Agil, selama ini yang ia lihat hanyalah gerakan kasih sayang sesama teman saja.
"Sungguh?" tanya Kai.
Tea mengangguk.
"Jay pernah bercerita kepadaku disuatu malam..."
***
Tea tersentak dan langsung bangun.
"Aisss sialannn siapa kau!" ucap Tea.
"Aku...." gumam Jay.
"Kenapa sih Jay? kau tidak lihat aku engap gara-gara cipratan air darinu itu?" sahut Tea.
Jay hanya tersenyum sinis, "Lagian kenapa tidak bangun-bangun?"
"Yaelahhhh aku juga baru tidur" ucap pasrah Tea.
Jay membenarkan posisi duduknya.
"Te, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu sebelum mati..."
Tea terkejut dengan ucapan Jay, ia menyahut.
"Jay! apa-apaan kau ini!"
"Aku menyukai Agil" ucap Jay tiba-tiba.
__ADS_1
Tentu ucapan tiba-tiba tanpa aba-aba membuat Tea terkejut sekaligus bengong dengan mulut yang terbuka lebar, ia menampar pipi Jsy dengan sedikit keras lalu ia juga menampar pipinya.
"Aww!!" pekik Jay.
"Sungguh aku tidak mimpi?Jay kau?" ucap Tea.
Jay hanya mengangguk pelan.
"Aku harap jangan biarkan seseorang mengetahui ini, kau dan aku yang hanya tahu ini, janji!"
***
Tea kembali menangis, dengan cepat Tea mengusap air mata yang sudah berjatuhan dipipinya.
"Jay adalah seorang wanita kuat dan pendiam, dia tidak akan mengatakan hal semacam ini diteman dekat ataupun yang lain, Jay sosok yang memendam perasaannya sendiri, seperti penyakit aneh yang ia derita saat ini, ia hanya mengatakan kakinya sakit dan tidak bisa digerakan, apakah penyakit itu bisa membuat seseorsng meregang nyawa? pasti dia memiliki penyakit yang lain..." ucap Tea.
"Te, aku tidam terlalu dekat dengan Jay kau tahu, bahkan bisa dihitung berapa kali aku berbicara dengan Jay, awalnya aku tidak suka dengan Jay karena sifatnya yang pendiam, aku malah lebih cocok denganmu, tapi setelah Jay datang dan sering bercerita kepadaku, ternyata aku salah, dia sangat menyenangkan membuatku bahagia dan nyaman didekatnya, ia selalu membawa pengaruh baik..."
Tea memejamkan matanya, ia mengingat momen-momen bersama dengan Jay, dulu dia sangat berhati-hati dalam tugasnya, bahkan Tea sudah menganggap Jay adalah adik kadung sendiri.
"Jadi? apakah aku bisa kembali pulang Kai? aku sudah tidak kuat disini dan tidak mau kehilangan seseorang lagi...." ucap Tea.
Kai menyentuh tangan Tea, dan menggengam tangan Tea dengan erat.
"Kau harus bertahan hingga pada akhirnya ada jalan yang bisa membuatmu pulang.."
"Kapan?" ucap Tea pasrah, senyuman yang ia keluarkan dengan malas.
Kai menatap Tea.
"Aku sudah menunggu terlalu lama, hingga aku kehilangan Jay, padahal ia berjanji kepadaku akan kembali pulang bersama...."
Kai berdiri, lalu ia duduk dibawah hadapan Tea, ia tidak melepas genggamanya.
"Aku hanya ingin kau bertahan sebentar lagi, cari sama-sama, bunuh sama-sama, serang sama-sama, aku juga kehilangan Jay, banyak yang kehilangan Jay, tapi satu hal yang perlu kau ingat, Jay akan bahagia disana ketika melihatmu mulai bangkit kembali...."
Tatapan Kai sangat tulus, bahkan sampai tulusnya ia tidak bisa berpaling dari tatapan Tea. Tea menunduk ia menerima gengaman dari Kai, mereka menatap gengaman erat mereka.
"Kau akan melepaskanku?" tanya Tea.
Kai bingung, ia tidak paham dengan perkataan Tea.
"Aku tidak minta lebih, tapi kau bisa kan? jadi pengganti Jay?" tanya Tea.
"Maksudmu? ak....ku?" ucap Kai gagap.
"Kau hanya perlu menjagaku saja, karena aku sering bergelut dengan emosiku, dan jika aku selalu seperti itu, Jay yang menahannya.." ucap Tea.
Kai menyahut dengan cepat, "Tanpa kau menyuruhku, aku akan melakukannya Te, jangan khawatir! aku akan menjagamu, walaupun kau tidak menyuruhku aku akan tetap menjagamu!"
__ADS_1