
Agil mendubrak pintu dengan keras, entah rasanya ia ingin cepat-cepat masuk kedalam memastikan jika ada Gilang atau Randi yang berada diruangan itu. Tentu pikiranya terbelah menjadi beberapa bagian, rasa sedihnya belum hilang saat Jay meninggal.
Kai membuka pintu, "Gil, masuk...." ucapnya.
Agil menerobos masuk begitu saja, diikuti Argus. Mata Agil menatap tubuh Jay yang tergeletak, ia menundukan kepalanya, ia memejamkan matanya.
"Gil, itu kah kau?" suara lirih itu membuat Agil mendongak dan menatap sekitar.
Ia melihat Gilang yang tergeletak, dipojok ruangan seraya dengan wajahnya yang penuh luka kering, Agil masih terdiam disana, ia berusaha menetralisir apa yang terjadi.
Selama ini, ia sering masuk keluar didalam ilusi yang ia buat sendiri sampai ia tidak bisa membedakannya, ia mencubit kukit tangannya, sampai ia tak sadar, cubitan itu mengeluarkan darah.
Argua yang menyadari itu, menghentikannya.
"Kau tidak mimpi lagi, ini benar-benar nyata, kau bertemu dengan temanmu yang selama ini kau cari, dia masih hidup..."gumam Argus.
Tanpa basa-basi, Agil berlari dan langsung memeluk tubuh Gilang, ia tak perduli dengan tempat yang kotor atau berbahaya, ia memeluk Gilang dengan erat, Agil tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan tentunya sedih ia menangis dipelukan Gilang.
"Aku mencarimu Lang, aku berusaha hidup Lang, aku berusaha bagaimana pun caranya untuk datang ke ibu kota Lang, aku dengan pikiran positifku berusaha memikirkan bahwa kau dan Randi hidup, dan dibawa di ibu kota, aku pikir saat aku datang kesini ada banyak jawaban disini, namunnn saat aku datang banyak orang justru yang bertanya kepadaku....."
Gilang menangis, ia tidak menyangka bisa bertemu Agil pada akhirnya.
"Kau tahu? aku sampai dianggap gila oleh orang-orang karena memikirkan hal ini, aku masih tidak menyangka kau memelukku seperti ini Gil, ini benar kau kan? benar kata hatiku kau tidak bisa mati semudah itu, kau pasti bertahan hidup..."
Agil melepaskan pelukannya, "Ayo pulang, bertahanlah sebentar, lalu kita akan pulang, dan kembali kerumah...."
Gilang mengangguk, "Aku ingin pulang Gil..."
"Iya Lang, kita akan pulang kerumah"
Bahkan orang-orang yang melihat pertemuan mereka ikut merasakan kesedihan, apa lagi Argus dan Tea, dimana setiap harinya Agil selalu bercerita tentang kesedihannya untuk mencari para sahabatnya, dengan mereka berdua, membuat mereka tak bisa menahan tangis.
Tea mendekat, ia menepuk pundak Agil dan duduk disamping Agil.
"Hei Lang, aku Tea, temen Agil kita juga sama-sama dari dunia kita, aku juga tersesat, pada akhirnya aku beruntung bertemu dengan Agil, dia yang menguatkan aku untuk tetap berdiri, berjalan sampai didetik ini..."
__ADS_1
Gilang menundukan kepalanya lagi, ia menangis.
"Aku beruntung sekali, kau juga memiliki teman yang baik hati juga Gil, setidaknya mengurangi rasa sedihmu, aku juga memiliki teman baik, Silas, Ace, Ned, dan yang lainnya.."
Silas, Ace, Ned, dan yang lainnya menundukan kepalanya salam, mereka tersenyum.
"Mereka anak buah Aleris, kau tahu dia kan? pasti tahu, kau bukan kaleng-kaleng soalnya, dan Lidra, dan Malucia Gil...."
Agil menatap Gilang, saat Gilang mengucap nama Malucia entah rasanya sangat tidak nyaman untuk Agil. Agil lalu menggadeng tangan Gilang, berdiri dan mengajak Gilang duduk didepan jasad Jay. Namun Gilang masih berdiri.
"Aku hampir melupakanmu, karena kebahagian yang aku terima hari ini sesuai janjiku, aku akan menceritakan kisah romantis kepada temanku..."
Gilang yang sudah siuman tersebut, masih berdiri dan bengong hingga Agil menarik tangan Gilang untuk duduk didekatnya.
"Jay, ini Gilang, aku tahu masih belum komplit disini karena aku belum menemukan Randi, tapi sebelum aku kehilangan kamu sepenuhnya, aku akan bercerita didepan jasadmu..."
Gilang menatap Agil, dengan tatapan iba.
"Lang, saat aku jatuh aku ditolong oleh dua wanita, Tea dan Jay, namun aku masuk kedalam perangkap Jay, aku jatuh cinta dengannya pada pandangan pertama, hari-hari kita laluin bersama, membuatku terus nyaman, bahkan dia yang membuatku lupa akan kesedihan yang aku alami, hingga pada akhirnya aku mengatakan cinta, aku mengatakan jika aku jatuh cinta dengannya, aku ingin saat bisa kembali pulang, aku ingin bersamanya.."
Tea menatap Argus, ia tak kuasa menahan tangisnya, bahkan Fay pun ikut banjir air mata. Kai dan Timandra hanya duduk menatap dan mendengarkan cerita dari Agil.
Agil tersenyum, "Sudah ku duga kau akan mengatakan itu Lang, kau paham kan aku memang sangat susah soal percintaan..."
"Tapi kau sudah tahu kan? ada dua wanita yang mati hanya karena aku mencintainya? apakah aku tidak boleh mencintai mereka Lang? apa aku bisa sekuat baja hatinya? bahkan kehilangan dua sahabat rasanya aku ingin mati Lang, kenapa kematian terus bertambah dan hadir didalam hidupku?"
***
"Ayo!" ucap Aleris berusaha membuka pintu, namun Malucia masih terdiam didepan pintu, bahkan sudah sangat lama mereka berempat sampai ditempat sembunyi itu.
"Cia? kau kenapa?" ucap Aleris.
Malucia menundukan kepalanya, "Kau tidak dengar, suara curhatan seseorang dari dalam ruangan itu?"
Aleris lalu mengintip dijendela rumah tersebut ia melihat Agil dan Gilang yang sedang duduk bersama.
__ADS_1
"Ah mereka?"
"Kau senang kan? mereka bertemu!!" ucap Aleris, namun seperti biasa Aleris tahu segalanya.
Lidra hanya menatap Malucia, yang masih terdiam membisu, bahkan sudah cukup lama mereka berdiri disana. Vin hanya bisa terdiam, ia tak banyak bicara saat ia tahu wnaita bernama Malucia ini adalah kekasih Aleris.
"Apakah aku bisa masuk?"
Aleris menatap Lidra, Lidra mengisyaratkan Aleris untuk segera membuka pintu saja. Aleris menggandeng Malucia lalu membuka pintu.
Banyak warga yang melihat Aleris masuk, mereka menundukan kepala mereka memberi hormat, lalu Aleris berhenti didepan Agil dan Gilang, seraya menggandeng Malucia.
Agil masih menundukan kepalanya, walaupun ia sudah tahu siapa yang datang.
"Gil?" ucap Aleris.
Agil masih tidak memberikan jawaban. Ia justru menangis, dan kemudia menatap Aleris.
"Kau tidak lihat? aku sedang apa?"
Aleris kaget dengan jawaban Agil.
*Aku senang Gil, pada akhirnya kau bertemu Gilang, maafkan aku ini semua salahku, dimana aku? saat kau menemukan Gilang?
Dan....soal Malucia, seperti tebakanmu, dia sudah menjadi kekasihku, dan satu lagi...aku turut berduka cita*.
"Tuan? dimana Randi?" sahut Gilang dengan cepat, berdiri.
Aleris menatap Gilang, lalu ia menoleh melihat anak buahnya yang yang masih tersisa sedikit.
"Lang, aku juga sedang berusaha..."
Gilang memejamkan matanya, "Sampai kapan?" gumannya.
Malucia menatap Agil, ia menangis seraya menundukan kepalanya.
__ADS_1
*Ini sungguh kau Gil? aku sangat bersyukur kau masih bertahan hidup sampai sekarang, aku ingin memelukmu! kenapa kau tak menyapaku? kau lupa denganku?
Dan, wanita itu? kau benar mencintainya? sungguh? aku tentu sangat sedih karena dia pergi terlalu cepat, aku sangat menyesal, aku tahu letak kesalahku Gil, ini semua memang salahku Gil*....