
Aleris, Fay, Agil, dan Gilang berhenti saat tiba-tiba sesuatu menghancurkan atap kerajaan, diikuti suara teriakan mengerikan, beberapa bangunan runtuh berjatuhan kearah bawah, dimana ada mereka berempat. Sebisa mungkin mereka menghindar dan menyelamatkan diri.
Agil menatap atap kerajaan, dimana reruntuhan itu masih berjatuhan dihadapan Agil, ekor matanya mengeluarkan air mata sedikit demi sedikit.
Apakah itu kau? apakah aku terlambat datang Ran?
Gilang menggengam erat tangan Agil, seraya menatap dengan ketakutan. Aleris berdiri ia melihat sesosok yang melayang diatas menara kerajaan.
"Randi?" sahutnya.
Agil dan Gilang langsung melotot saat ia mendengar ucapan Aleris, Agil berdiri dan mendekat.
"Sungguh? sungguh Randi?" Agil lalu menatap kearah atap yang sudah hancur tersebut memang tidak kelihatan dengan jelas karena kerusakan atap tersebut.
Tanpa basa-basi dan aba-aba, Agil berlari begitu saja menuju tangga, ia akan datang menemui sang raja, Aleris yang kaget dengan aksi Agil, hanya menatap Agil, Gilang berdiri dan mencoba untuk mengikuti Agil, namun Fay berhasil menahannya.
"Lang... biar aku saja.."ucap Aleris.
"Aku tidak tahu, ini akan berjalan dengan cepat.." ucap Aleris.
Gilang menatap Fay, Fay hanya nengangguk. Tak lama Aleris berlari menyusil Agil.
Bahkan sekarang yang lebih egois dan membahayakan diri sendiri adalah dirinya, entahlah kenapa ia seperti anak kecil? tapi hatinya sakit saat semua orang mengaku jika itu adalah Randi.
Seperti ingin berusaha menyelamatkan Randi, apapun yang menjadi bahaya didepan ingin rasanya ia terjang. Agil melihat pintu kamar yang terbuka, ia masuk kedalam dan betapa syoknya saat siapa yang ada didepan matanya, mereka kaget karena Agil tiba-tiba muncul.
Varegar menoleh, ia mendekat kearah Agil, langsung menarik kerah baju Agil.
"Berani-beraninya kau kemari!!!" ucap Varegar.
Agil masih terdiam, ia menatap tajam kearah sang raja, ia menghiraukan ucapan Varegar, hingga Varegar melempar tubuh Agil, dan jatuh kelantai.
Raja Gevarnest hanya menyengir melihat siapa yang datang.
"Dia yang pernah sok berani itu bukan? sekarang masih sok berani juga?" ucap sang raja.
Ratu Carlota, hanya berusaha menyembunyikan bayinya didalam pelukannya. Agil berdiri dengan tatapan tajam ia mendekat kearah sang raja.
"Kembalikan wujud asli temanku..." ucap Agil.
Namun Varegar mendekat, dan ia tiba-tiba mengangkat tangannya kearah wajah Agil, untuk berusaha memukulnya, namun sesuatu menahannya, Varegar menoleh dan ternyata Aleris, Aleris menahan tangannya.
"Sudah cukup!" ucap Aleris seraya melepaskannya dengan kasar.
__ADS_1
"Kau sudah tahu kan? bagimana bisa kau ingin menghentikan kita?" ucap raja Gevarnest.
"Kau akan menyerang kita? seperti ini?" ucap raja Gevarnest seraya mengeluarkan sebuah cahaya dari tangannya.
Dimana cahaya itu bisa membuat seseorang terpental hanya sekali serangan, raja mengarah keatah Agil hingga Agil terpental dan menabrak tembok kamar hingga hancur.
Aleris tersentak, awalnya ia ingin menyelamatkan Agil, namun sang raja menyerangnnya, cahaya itu mengarah kearah Aleris, namun Aleris berhasil menepis dengan gumpalan angin yang ciptakan untuk penghalang.
Varegar tertawa dengan terbahak-bahak karena aksi Aleris yang berusaha menyelamatkan diri.
"Oh ini? yang katanya ingin menghentikan kita?" ucap Varegar, ia lalu mengeluarkan jurus angin untuk menahan dari serangan Aleris.
Sang raja lalu membawa istrinya dengan kedua anaknya pergi dari tempat itu, setelah Varegar kembali menyerang Aleris, tak lama Varegar menambahkan kekuatan yang sangat dasyat untuk menyerang Aleris, Aleris berusaha menahannya walaupun ini sangat berat untuknya.
Pada akhirnya, Aleris tak kuat, ia harus terdorong dan terlempar hingga tubuhnya tergeletak dilantai.
Tubuhku sangat melemah, aku sangat lemas.
Agil pingsan tak sadarkan diri, Varegar mendekat dan menarik baju Aleris hingga Aleris terangkat keatas.
"Seperti ini? ini menjadi seorang raja?" gumam Varegar.
Membuat Aleris, semakin emosi. Ia lalu mengangkat kedua kakinya menendang perut Varegar hingga Varegar tersungkur. Tanpa menunggu Varegar bangkit, Aleris menghantam wajah Varegar beberapa kali, dengan pukulan emosi, Aleris tanpa henti terus memukul wajah Varegar, hingga Varegar tergeletak dengan luka berdarah diwajahnya.
Varegar hanya tersenyum miring, tiba-tiba Varegar masih bisa bangkit, ia mengangkat kakinya, dan mengait kaki Aleris, namun Aleris berhasil menghindar, ia lalu mendaratkan kakinya tepat diwajah Varegar, namun Aleris menahannya saat kakinya tepat berada didepan wajah Varegar.
"Kenapa berhenti?" ucap Varegar nyengir.
Aleris berhenti, "Sudah hentikan ini, kenapa kau tega melakukan ini?" ucap Aleris.
Varegar menyengir, "Karena kau tidak tahu aslinya, dan tidak tahu prosesnya, maka kau ingin terus menghentikan ini..."
"Bukankah, ada banyak keluargamu disini juga? kau tidak memikirkan mereka?"
"Siapa? siapa keluargaku! aku hanya memiliki seorang adik yang durhaka kepadaku!"
Aleris memejamkan matanya, "Lalu? setelah semuanya terjadi? dengan seluk beluk dan olahan tanganmu dan raja, apa yang akan terjadi setelah itu?"
Varegar berdiri, seraya menyeka darah yang keluar dari hidungnya.
"Kau sama sekali tidak tahu tanggungan menjadi seorang raja, maka sudah sejak dulu, mereka tidak memilihmu karena sifatmu.."
"Tidak!" Aleris menyahut.
__ADS_1
Ia melanjutkan, "Aku masih kecil saat itu, apakah menjadi seorang raja perlu saat itu? mereka akan lebih memilih yang ada, ketimbang menunggu seseorang beranjak dewasa, aku bahkan tidak ingin menjadii seorang raja kenapa kau terus membahas itu?" ucap Aleris.
Varegar menyengir, "Tahta, jabatan, dan semua yang dipegang oleh raja tidak pernah mudah, aku tahu itu karena aku sangat dekat dengan raja, sebelum menyerang lebih baik kau tanyakan lebih dulu..."
Aleris menundukan kepalanya, seraya menyengir, ucapan yang dikatakan Varegar sangatlah tidak nyambung.
"Aku tidak ingin membahas masa lalu atau apapun itu, aku datang kemari hanya ingin menghentikan aksi tak masuk akal ini.."
Tiba-tiba Agil memanggil Aleris, ia berdiri seraya menyentuh perutnya seraya kesakitan.
"Ris...."
Aleris menoleh, namun saat Aleris menoleh Varegar tiba-tiba menghilang, entah tiba-tiba hanya ada asap hitam disekelilingnya, Aleris hanya menatap tajam asap hitam itu.
"Sialan!" umpatnya.
"Maafkan aku..." ucap Agil mendekat kearah Aleris.
"Tidak, tidak Gil, kau tidak salah..."
Tak sadar, Agil mengeluarkan air matanya.
"Apa yang harus aku lakukan? apakah aku bisa menyelamatkan Randi?"
Aleris menyahut, "Tentu! tentu bisa! bisa Gil!"
"Bagaimana caranya?"
"Perlahan, aku akan selalu membantumu Gil, ini juga demi keselamatan warga Majestic.."
Agil berjalan mendekat kearah balkon, ia bisa melihat pemandangan kota Majestic dari jendela, ia bisa melihat Randi yang menyerang raksasa itu, diujung sana, bahkan ia bisa melihat raksasa itu sanhat kecil jauh disana.
Jika aku bisa, aku ingin meremas tubuh raksasa itu dan mengembalikan Randi, jika yang aku lihat terjadi, sangat kecil seperti yang aku lihat sekarang.
"Lalu bagaimana?" Agil menoleh.
Aleris masih terdiam, lalu ia mendekat.
"Sepertinya, kita harus menyerang secara perlahan Gil.."
"Menyerang sang raja kan? bukan melawan Randi?"
Aleris menatap Agil, "Randi Gil.."
__ADS_1