Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Zero datang


__ADS_3

Beberapa Zero datang seraya dengan kekuatan sihirnya, mereka terbang dengan para ekor elang hitamnya, seraya menyerang para kawanan monster kelelawar diudara. Kekuatan sihir mereka yaitu menyenggel dengan batu hitam milik mereka. Argus memerintahkan yang lainnya untuk berhenti menyerang dan turun dari atap. Mereka lalu berjalan menuju dalam rumah, dimana Silas dan Kai berada.


"Bukankah mereka kesatria? biarkan mereka yang menyerang, kita hanya diam saja sudah..." sahut Silas saat melihat Argus dan yang lainnya masuk.


"Dengar, sepertinya kekuatan para kelelawar ini tidak hanya menyemburkan api saja, setelah beberapa jam aku menyerang aku tahu, kelebihannya..." sahut Argus berjalan mendekat kearah jendela seraya melihat situasi.


Malucia dan Lidra masih berada diambang pintu, memastikan mereka sudah aman.


"Bukankah seharusnya kita harus membantu Aleris? dimana dia!" pekik Malucia.


Silas menghelan nafasnya, "Yang ada dipikiranmu, Aleris saja kah?"


Kai memutar bola matanya, ia mendekat kearah Argus dan mengalihkan pembicaraan.


"Paman, apa kelebihannya..."


Argus seperti sedang berpikir, lalu ia berkata.


"Mereka juga memiliki sebuah kekuatan sihir, dimana salag satu dari mereka pasti tidak bisa mati karena segel tersebut, bahkan mereka tentu bisa membuat mati seseorang dengan sihirnya itu..."


"Apa sihirnya?" sahut Lidra.


"Tubuh kalian bisa masuk kedalam rongga-rongga kelelawar tersebut, dan jiwa kalian akan dirasuki, aku tahu ada segel botol para Zero, mereka memiliknnya..."


"Dan..." Argus berhenti berbicara.


Ia menghelan nafasnya.


"Atasan para Zero adalah tuan Jasper..."


Kai terbelalak, "Sungguh?"


Argus mengangguk, Malucia mendekat.


"Maaf, Jasper bukankah? saudara raja?"


Argus mengangguk, "Aku berharap kita segera menemukan jasadnya...."


"Lihat itu!" sahut Ace.


Saat ia melihat segel yang dibuat para Zero tiba-tiba pecah dan keluarlah monster kelelawar tersebut tanpa mati.


"Bukankah? seharusnya mereka hancur bersamaan dengan batu itu?" sahut Ace.


Semuanya menatap kearah atas, mereka menatap dengan ketakutan.

__ADS_1


***


Mahagaskar dan Leon berlari menuju ketempat kerajaan, saat mereka melihat lemparan para raksasa sudah mulai menghancurkan pondasi kerajaan, seraya berlari dan terus menghindar adanya serangan, namun tiba-tiba yang membuat Leon tersentak kaget, saat Mahagaskar yang berlari didepannya, tiba-tiba dimangsa oleh monster kelelawar. Monster itu memakan tubuh Mahagaskar hingga tak tersisa.


Leon yang terbelalak masih terdiam mematung, sampai tatapan monster kelelawar itu menatapnya, namun anehnya Leon fokus dengan mata merah monster tersebut saat ia tersadar didalam mata monster tersebut ia melihat Mahagaskar.


Leon kembali menatap kearah atas, saat para monster kelawar sudah hancur dengan segelnya.


"Bagaimana bisa ia bangkit lagi?" gumam Leon.


Ia terheran saat monster didepannya tidak tersegel, monster itu mengaum mendekat dengan berjalan pelan.


"Leon, basmi semua kota, jangan sampai tak tersisa, jika bisa, hancur ratakan..."


Monster itu tiba-tiba mendekat dengan cepat, menuju kearah Leon, Leon masih terdiam mematung dan seperti otaknya dipenuhi dengan kalimat monster itu kepadannya. Namun Aleris datang dengan cepat, ia mendorong tubuh Leon agar menghindar dari seragan, hingga mereka terjatuh secara bersamaan.


Aleris dengan cepat, mengeluarkan kekuatan angin dengan betuk tajam dan mengarahkan ketubuh monster itu.


"Hentikan, didalamnya ada paman!" sahut Leon.


Aleris yang mendengarkan berhenti.


"Apa maksudmu bodoh!" ucap Aleris, namun ia tersentak saat teringat kejadian waktu ia berjumpa dengan sosok seperti ini juga kala itu.


Disaat Leon dan Mahagaskar sibuk berdebat. Vin datang seraya dengan bentuk monster kelelawar. Ia tiba-tiba mengigit leher monster kelawar yang memangsa Mahagaskar hingga tembus dan mati.


"Monster ini tidak bisa mati, seperti yang laiinya..." sahut Vin.


Dan Aleris menyahut, "Benar, ini harus disegel..."


Tiba-tiba salah satu Zero mendekat, ia menundukan kepalanya saat melihat Aleris dihadapannya.


"Tuan, kita bertemu lagi..." ucap Zero tersebut.


Aleris mendekat, ia menepuk pundak Zero tersebut.


"Kalian sangat telat..." gumam Aleris.


Zero itu tersenyum, lalu ia mengeluarkan botolnya, tanpa disuruh Vin menyembur api kearah monster kelelawar itu berbentuk bara api.


"Kalian bisa lihat jika tubuhnya hancur lebur seperti ini seperti bara api, tapi jika kalian melihat dia pasti akan merubah wujudnya lagi seperti semula..." ucap Vin.


Zero itu mendekat, dan mengarahkan botol kearah monster kelelawar itu, tak lama bara api itu masuk kedalam botol. Leon membawa tubuh Mahagaskar kepinggir.


"Para raksasa itu sepertinya memang tidak bisa menyerang kerajaan tuan.." sahut Zero.

__ADS_1


"Memang, disana diberi portal..."


"Dan juga, raksasa yang normal itu, ia memiliki titik kelemahan ditelapak kakinya, dan tenaganya, itu dia titik kelemahannya, dimana ia tidak bisa terus berlari dengan banyak serangan dikanan kirinya, menyebabkan tenanganya cepat terkuras, selebihnya aku tidak tahu..."


"Dan ini, siapa monster ini!" sahut Leon.


"Monster ini memang salah satu kawanan mereka juga, tapi ini adalah kelelawar sihir dimana tidak bisa mati, mereka akan menyedot jiwa kita, agar kita bisa menjadi salah satunya..."


"Lalu? bagaimana untuk paman?"


Aleris mendekat, dan duduk disamping Leon.


"Sepertinya, bisa diselamatkan...." sahut Leon.


***


Randi masih dengan wujud drakulanya, ia terbang melayang tepat dimenara kerajaan, ia menatap kawanan monster kelelawar yang susah satu persatu terbunuh, ia melirik kearah para raksasa yang sudah mulai mendekat kearah kerajaan, langkah para raksasa itu sangatlah lamban, ia juga melihat raksasa normal itu hanya berdiri ditengah-tengah raksasa abnormal, seraya menyerang dengan lemparan reruntuhan tembok.


Sang raja masuk kedalam kamarnya, ia memejamkan matanya seraya dengan kedua tangan berbentuk salam, ia berusaha untuk membuat portal kambali, bahkan sebelumnya ia sudah membuat portal untuk selama mungkin, ini bahkan hanya dua hari dua malam, portal buatannya hancur.


"Rine, Varegar, awas saja kau...." ucap raja Gevarnest.


"Bagaimana bisa sialan! sialan!!!! rencanakuuuuu!!!! hancur seketika karena Auvamor keparat ituuu!!!!!!!" pekik sang raja.


Setelah portal itu kembali muncul mengelilingi kerajaan, sang raja berjalan mendekat kearah jendela, ia menatap pemandangan yang berubah menjadi mengerikan didepannya. Ia tersenyum pasrah.


"Bagaimana bisa, Majesti hancur seperti ini...?"


"Dulu kota yang sudah aku bangun dengan usaha yang mati-matinya menajadi kota yang mengerikan seperti ini? bagaimana bisa?"


"Apakah aku bisa mengambil alih matahari jika aku sudah payah seperti ini?"


"Apakah aku diambang kematian sekarang?"


"Tidak!"


"Tidak!"


Dalam hatinya terus berkata tidak namun otaknya terus berkata jika mati sudah ada didepan matanya, Ia memejamkan matanya.


"Sialan...."


"Selama ini aku sudah melakukan hal yang sesuai rencana, tapi ketika aku sudah ada diujung rencana kenapa sialan itu datang..."


"Sepertinya akuuuuu benar sudah ada diambang kematian!"

__ADS_1


"Tidak tuan...." sahut seseorang yang datang dibelakangnya.


Gevarnest menoleh, "Randi?"


__ADS_2