Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Nyamar


__ADS_3

Mahagaskar mengajak Agil dan yang lainnya untuk bersembunyi, dikala para monster kelelawar berterbangan diatas mereka, sempat Agil melirik keatas melihat Randi yang terdiam seraya menatap sekitar yang sudah penuh monster, Agil menyahut saat drakula dengan wujud Randi itu melarikan diri kembali kekerajaan.


Mereka masuk kedalam sebuah rumah.


"Kemana perginya?" tanya Leon.


"Kembali ke kerajaan.." jawab Agil.


Mahagaskar mendekat ke jendela, ia bisa melihat ada banyak sekali monster kelelawar disini.


"Semakin mengila" gumamnya.


"Lalu bagaimana?" sahut Jangsal.


Sejak awal sebenarnya Arvand sedikit tidak cocok dengan keberadaan Agil, sejak pertama kali ia datang dengan dua wanita ini, Arvand rasanya sangat berbeda dengan pertama kali ia jumpa dengan Agil. Sempat merasa aneh namun sebisa mungkin ia sembunyikan dan berpikir positif.


"Aleris dimana memangnya?" ucap Jangsal.


Beberapa kali Jangsal selalu menanyakan keberadaan Aleris, namu lagi-lagi Leon menyahut.


"Sudah beberapa kali aku katakan, ia ada dikerajaan, aku tahu rencana Aleris.."


"Iya benar, ia tidak mungkin membiarkan kita seperti ini, pasti ada rencana lain.." sahut Mahagaskar.


Tea mendekat kearah Agil, "Sungguh? sungguh kau melarikan diri dari Aleris dan yang lain?"


Agil mengangguk, "Saat mereka naik tangga, aku memtuskan untuk kembali dan menyusul kalian..."


"Kenapa kau tidak mengikuti mereka sampai akhir, biar disini tugas kita.." sambung Timandra.


Agil tidak menjawab ia hanya menundukan kepalanya. Tiba-tiba Timandra menyentil lengan Tea.


"Sungguh itu Agil?" ucap Timandra.


Tea tertawa, "Kau kenapa hei? jelas-jelas dia Agil, dia sudah menjelaskannya tadi bukan? dia kabur dan memilih bergabung dengan kita disini.."


Timandra sempat meragukannya, biasanya Agil akan mendapatkan informasi yang lebih detail lagi dan menjelaskan secara terperinci, namun saat Agil menyusul mereka, rasanya Timandra ragu itu adalah Agil, tapi dengan cepat ia tepis, ini adalah akal-akalannya saja.


Leon mengintip dijendela, memang benar keberadaan Randi hilang dan kembali kekerajaan saat para kawanan monster kelelawar datang, hingga ia melihat para raksasa yang tidak normal kembali meneruskan perjalananya menuju kerajaan, dengan langkah lambat dan suara teriakannya. Sedangkan raksasa normal itu dia hanya berdiri seraya seperti biasa mengamuk.


"Raksasa itu memang normal, aku yakin dia paham dengan kita, dilihat dengan gerak geriknya, aku berharap dia bisa berkerja sama dengan kita karena tujuan kita adalah menyelematkan semuannya.." ucap Arvand.


Leon menggangguk setuju, tapi raut wajah Mahagaskar berubah.


"Aku masih tidak percaya ini ulah Gevarnest, bagaimana bisa kita secepat ini menyerang mereka?"

__ADS_1


Arvand menghelan nafas, "Hal-hal seperti itu sudah tidak penting lagi paman!"


Agil menyahut, "Tidak! kalian juga akan menyerang randi bukan! aku menolak untuk kerja sama dengan para raksasa itu juga!"


Tea dan Timandra kaget, tidak seperti biasanya Agil dengan pemikiran yang pendek seperti itu, Tea mendekat dan menyentuh pundak Agil.


"Dengarkan aku sialan!" ucap Tea.


Namun tiba-tiba Agil menepis tangan Tea, dengan keras membuat Tea terlempar hingga tubuhnya menabrak lemari didalam rumah tersebut. Tentu semua orang terkejut dengan aksi Agil tiba-tiba.


Arvand mendekat, "Sudah aku duga, kau bukan Agil sialan!!!"


Karena ucapan itu, raut wajah Agil berubah. Leon mendekat.


"Apa-apaan Pangeran? dia memangnya siapa?" tanya Leon.


Secara mengejutkan, Agil berubah wujudnya semakin tinggi sampai menyentuh atap rumah, dan tiba-tiba wujud itu langsung berubah wujud menjadi seekor drakula, seperti Randi, namun bedanya Randi tidak memiliki gigi runcing seperti ini.


Mahagaskar dan yang lain, lalu dengan sigap, siap untuk melawannya.


"Siapa kau!" sahut Mahagaskar.


Makhluk itu justru tertawa dengan pertanyaan Mahagaskar, lalu ia menjawab.


"Sudah aku katakan ya waktu itu, Auvamor...."


"Dengar! aku tidak ingin berkerja sama dengan siapa pun sialan!" teriak Auvamor tersebut.


Timandra gemetar, ia sangat ketakutan. Tea bangun dan beranjak, ia mendekat kearah Timandra dan mengambil pedang darinya.


"Jangan apa yang kau lakukan?" tanya Timandra menahan tangan Tea yang melangkah mendekat kearah monster tersebut, seraya membawa pedang.


Tea menoleh, "Dengar, ini sudah saatnya membunuh ketua monster ini!" bisiknya.


Tanpa aba-aba, Tea langsung menusuk kebagian punggung monster itu, melihat aksi Tea tiba-tiba, Mahagaskar dan yang lain tersentak. Monster itu merintih kesakitan, Tea mengambil pedang itu lalu mundur. Monster tersebut menoleh dan mencoba untuk menyerang Tea dengan cakaraanya, semua orang mencoba menghentikannya.


Namun kejadian yang tidak bisa Tea lupakan adalah, saat cakaran itu mendekat kearah Tea, Timandra berlari untuk menyelamatkan Tea, ia rela berkorban demi keselamatan Tea, ia rela dicakar dihadapan Tea, menghalangi Tea yang sudah ketakutan, hingga tubuhnya tertusuk cakaran dari monster tersebut.


Tea masih terkejut, Leon maju kedepan dan mengeluarkan kekuatan tanahnya, dimana tanah itu muncul dari bawah, hingga menusuk tubuh monster itu, karena kekuatan tanah yang keluar dari kekuatan Leon adalah tanah yang tajam. Monster itu seketika berteriak dan tak lama tak sadarkan diri.


Jangsal dengan belati apinya, menyerang leher monster itu, memastikan jika monster itu sudah mati, dan berharap memang benar sudah mati. Mahagaskar berlari kearah Tea, dan membantunya berdiri.


Namun, Tea masih terdiam membeku melihat Timandra yang masih tertusuk cakaran tersebut, Leon melepaskan tubuh Timandra dari cakar tersebut dan meletakannya dilantai. Hingga Tea mulai berteriak dan menangis sejadi-jadinya.


"Tidak!!!!! tidak!!!!!!!" teriaknya.

__ADS_1


Tubuh Timndra yang penuh darah, hingga lantai rumah tersebut sudah penuh dengan darah. Mata Timandra masih terbuka hingga Arvand menutupnya dan berdoa.


"Aku melihatnya..." sahut Jangsal seraya melihat kedua tangannya yang bergetar hebat.


"Cakaran itu menusuk ketubuhnya.." sambungnya.


"Sudah aku duga, ini bukan Agil yang asli.." sahut Arvand, seraya menatap monster itu yang sudah mati.


Mahagaskar yang masih menenagkan Tea, menyahut.


"Aku takut, dia akan hidup kembali..."


"Aku juga berpikir seperti itu..." sahut Leon.


"Aku baru saja kehilangan adikku, dan sekarang aku melihat didepan mataku sendiri kematian sahabatku? apakah aku bisa hidup sekarang?" Tea menangis.


Arvand menatap tubuh Timandra sebentar, lalu menatap Tea.


"Aku mohon, untuk mengikhlaskannya sekarang..."


Tea berteriak, "Apa katamu! ikhlas?"


"Bukan hanya kau yang kehilangan, ada banyak yang kehilangan keluarga, teman, atau pasangan mereka!" ucap Arvand mendekat.


Tea meremas rambutnya, dengan keras lalu Arvand yang menyadari itu, berusaha untuk melepaskan remasan rambut Tea yang terlalu keras.


"Jangan, jangan seperti ini..." bisik Arvand.


Mahagaskar mendekat ketubuh monster tersebut, lalu menyentuh bagian tubuh tersebut.


"Paman! apakah benar ia akan hidup kembali?" ucap Jangsal.


"Aku yakin itu, dia iblis!"


"Lalu bagaimana kita bisa tenang-tenang saja disini, ayo pergi!" ucap Jangsal.


"Leon, Pangeran!" panggil Mahagaskar.


"Ayo!" sambungnya.


Arvand menarik tangan Tea, "Ayo!"


Tea menepis, "Lepaskan, tinggal saja aku disini!" Tea masih menangis.


Bagaimana bisa? belum satu minggu hari ini berjalan tapi ia sudah kehilangan dua orang yang berharga didepan matanya, bahkan Tea rela tertusuk cakar hanya karena menyelamatkannya. Bukankah ini akan menjadi rasa penyesalan seumur hidup?

__ADS_1


Tea tidak tahu harus bagaimana, ia baru saja memulai hal yang sangat ceroboh, ia tidak mendengarkan ucapan Timandra, ia sangat menyesal dan merasa bersalah.


__ADS_2