
Pagi itu argus, agil, jay, dan tea bersiap-siap mengemasi barang untuk kembali kerumah mereka, akhirnya ia bisa mempelajari berbagai macam pedang disana, ia tidak bisa membayangkan jika waktu itu ia tidak ikut argus untuk membeli senjata disana, apakah perjalanan ini akan sia-sia.
Karena hal itu membuat agil tidak membuang waktu banyak disini, sebenarnya malam itu argus mengatakan yang sebenarnya, alasan argus memilih jalan yang sangat mengerikan itu adalah untuk latihan agil, jay, dan tea sebenarnya. Agil sempat memanas ketika argus mengatakan yang sebenarnya.
Namun argus mengatakan jika hal ini, agil semakin kesini semakin memiliki kemajuan yang drastis, argus berharap jika saat kembali kerumah, ia tidak akan berhenti untuk latihan.
Bukankah waktunya tidak banyak? dia akan semakin kuat dan dia akan menyelamatkan randi dan gilang segera.
Argus berpamitan kepada raja jesper, ia datang subuh-subuh untuk berpamitan langsung ke kerajaan.
"Sangat disayangkan kau harus kembali sekarang...." ucap raja jesper.
Didepan gerbang istana yang tinggi, mereka berempat berjajar menundukan kepala mereka. Raja jesper tersenyum menatap agil yang masih menunduk.
"Aku tidak menyangka anak buahmu sangat hebat sepertimu..." ucap raja jesper membuat agil mengangkat kepalanya menatap raja jesper.
Argus tersenyum, "Tidak, memang ia sejak dulu sudah sangat hebat.." ucap argus tersenyum.
Agil hanya melongo kebingungan sebenarnya siapa yang sedang mereka bahas.
"Baiklah..ambil ini..." ucap raja jesper menyerahkan sebuah botol berisi mutiara.
"Apa ini?" tanya argus.
"Ini mutiara untuk menyenggel monster jika kalian bertemu monster ingat, segel ini hanya untuk monster kelelawar..." ucap raja jesper.
Lalu tanpa basa-basi mereka menundukan kepalanya pamit, raja jesper juga menyuruh mereka menggunakan elang miliknya untuk perjalanan pulang, sempat argus menolaknya namun segera agil mengatakan jika mereka sangatlah butuh.
Agil menaiki elang itu dengan jay, sedangkan argus bersama tea. Dalam perjalanan memang tidak banyak berbicara, kecuali agil yang terus bertanya tentang para monster yang kian hari kian banyak yang mereka jumpai.
Argus hanya menimpali jika ia juga tidak tahu apa yang terjadi, ia bukan seorang raja yang tahu menahu, ia juga menyahut bahwa terkadang raja saja tidak tahu apa yang terjadi.
"Jay! kenapa kita membawa orang-orang tersesat seperti kita itu!! aku benar-benar lupa!"
"Tidak gil, tidak untuk saat ini..."
Kali ini perkataan jay memang ada benarnya, ia tidak bisa egois. Ada banyak yang harus agil lakukan tidak mungkin ia harus membawa banyak pasukan dalam situasi seperti ini, agil juga masih banyak kekurangan.
Setelah agil kuat, ia berjanji menyelamatkan mereka, ia akan menyelamatkan orang-orang yang tersesat didalam negeri ini.
Didalam perjalanan agil bisa melihat begitu banyak keindahan dibawah sana, tapi apakah keindahan itu terus terlihat indah? keindahan itu akan pudar jika tempat itu menjadi tempat para monster.
Ada kecanggungan tiba-tiba saat agik tersadar dalam pikirannya yang sempat memikirkan banyak hal, sudah lama ia berdiam diri bersama jay dalam perjalanan.
"Jay.." ucap agil memanggil jay.
"Aku berjanji jay, jika suatu saat aku bisa menemukan kedua sahabatku.. kau adalah orang pertama yang akan ku kenalkan kepada mereka"
Jay tersenyum.
Agil salah tingkah apakah, ini waktu yang tepat untuk mengatakan cinta?
"Kau tahu selama ini aku sering menatapmu diam-diam?" ucap agil , ia tidak menoleh karena posisinya didepan jay.
"Aku tahu...." jawabnya singkat.
"Dan kau tahu artinya apa?"
"Aku....sepertinya jatuh cinta..." lanjut agil, jantungnya berdebaran.
Jay terbelalak, ia tidak salah dengar bukan?
"Aku membutuhkan waktu yang sangat banyak untuk memikirkan ini...."
Bukankah ini pertama kalinya agil sangat bersikap menjadi seorang pria seutuhnya? selama ini tidak pernah melakukan hal yang sangat memalukan seperti ini.
"Aku tahu.....aku sangat bodoh mengatakan ini..tap...." ucapan agil terpotong, karena tiba-tiba tubuh jay memeluk punggung agil dari belakang.
"Berjanji kepadaku...agar kau tetap hidup" jawab jay.
Agil sempat terdiam mematung, ia benar-benar terkejut karena apa yang dilakukan jay, namun ia menyentuh tangan jay yang melingkar diperutnya.
"Aku berjanji aku akan tetap hidup untuk mencari tahu kebenaranya...."
Didalam perjalanan ada banyak pembicaraan agil dan jay yang mengalir begitu saja tanpa ada cela. Tea menoleh kebelakang, kenapa pembahasan mereka begitu lancar jaya.
"Paman, mereka sedang membicarakan apa?" tanya tea.
Argus masih sibuk menatap kedepan, lalu ia menjawab tanpa menoleh.
"Bukankah kau tahu agil menyukai jay?"
Tea hanya memutar bola matanya.
"Kau cemburu?"
Tea melotot seraya membuka mulutnya penuh, "Aku menyukai agil? cuih.." jawabnya.
Argus tertawa, "Tidak kaget jika banyak yang menyukai agil, dia memang sangat tampan memang, jika ia sebih sering berolahraga maka tubuhnya akan sangat bagus dan aku yakin banyak yang menyukainya"
Tea mengikuti perkataan argus dengan nada bicara yang meledek.
__ADS_1
"Hei paman, aku menganggap agil itu adikku tidak lebih..." jawab tea.
Perjalanan mereka membutuhkan waktu satu hari lamanya, mereka sempat berhenti ditempat aman untuk sekadar istirahat, namun akhirnya mereka telah sampai setelah satu hari lamanya perjalanan diudara.
Elang itu mendaratkan mereka ketempat padang rumput dimana tempat mereka sering latihan fisik mereka, lalu elang itu tanpa pamitan pergi begitu saja.
"Akhirnya kita sampai!!!" pekik agil.
Namun saat pertama kali langkah argus mendaratkan ketanah itu, entahlah rasanya seperti sedang terjadi sesuatu, kemudian argus diikuti agil, jay, dan tea bergegas menuju ketempat mereka.
Betapa kagetnya mereka, jika tidak ada satupun orang-orang yang tersisa disana, mereka hanya melihat tenda yang berantakan dan semua barang yang berjatuhan kemana-mana.
"Tidak!" teriak argus.
Argus menyuruh agil, jay, dan tea untuk mencari orang-orang disekitar tempat ini.
Argus sangat terkejut dengan apa yang ia lihat, ia berusaha menyadarkan dirinya berharap ini hanya mimpi namun ini nyata. Ia beberapa kali berteriak namun tidak ada jawaban.
Ia berusaha menahan air matanya, tidak saatnya untuk menangis ia harus mencari keberadaan mereka, namun seseorang tiba-tiba datang dari dalam hutan dengan postur tubuhnya yang lemas tak berdaya.
"Timandra!!" panggil argus ia langsung berlari kearah timandra, dimana timandra langsung terjatuh tak berdaya namun argus bisa menangkapnya dengan cepat.
"Timandra!!! ada apa, ada apaaa, apa yang terjadi?" ucap argus.
Dengan nada bicara yang sudah lemas, timandra menjawab.
"Semuanya musnah.....monster itu..."
Sempat terlintas jika hancurnya tempat ini karena monster, ia lalu membawa tubuh timandra, dan meletakannya sebuah kain, argus tetap berusaha tenang, semoga ada banyak orang-orang yang selamat.
Namun agil, jay, dan tea datang mereka membawa tubuh seseorang, dan argus yakin itu adalah leo, agil menggedong di punggungnya, leo sudah tak berdaya ia memejamkan matanya, darah terus mengalir dikedua tangannya.
"Tiamndra!!!" teriak tea, berlari menuju tubuh timandra yang tergeletak.
"Kalian? kalian menemukan leo dimana?" tanya argus.
"Tubuhnya tergeletak disemak-semak, syukur ia masih hidup paman.." ucap agil.
Agil meletakan tubuh leo kesebuah kain, bersampingan dengan timandra.
"Kalian tidak menemukan yang lain? pasti ada mereka...."
"Maaf paman tapi kita hanya menemukan leo...."
Argus berteriak, ia meremas rambut kepalanya. Lalu ia mengambil sebuah botol kecil berisi air yang masih utuh ditenda yang roboh itu.
"Keselamatan kalian juga penting...." ucap argus.
"Sebenarnya ini apa?" bisiknya.
Lalu jay menjelaskan, "Hutan ini kadar oksigennya sangat lemah, jadi kita yang manusia biasa harus minum ramuan ini untuk bisa bernafas dengan normal..." ucap jay.
"Aku akan mencari mereka...." ucap argus tiba-tiba
"Tidak! aku ikut!" teriak tea, tea sangat kawatir dengan argus ia tidak ingin kehilangan orang-orang serafina lagi.
"Maka aku akan ikut!!!" pekik agil.
"Aku saja..." jawab tea.
"Kau harus menjaga timandra dan leo dengan jay, aku yang seharusnya pergi dengan paman"
"Tidak, aku harus ikut!!!"
"Dengar!!!" teriak argus membuat debatan agil dan tea berhenti.
"Bukan saatnya untuk berdebat disituasi ini...." ucap argus.
Ia lalu melempar sebuah botol berisi mutiara pemberian raja jesper.
"Segel monster yang tiba-tiba datang kesini" ucapnya seraya beranjak pergi.
"Te temani aku disini" ucap jay.
Lalu agil berlari menyusul argus.
Agil sangat kawatir, dalam pencarian ketempat-tempat argus sama sekali memasang muka datar, seperti ia menahan tangis, agil sangat paham bagaimana rasanya.
Agil berusaha menghentikan argus yang sibuk mencari disemak-semak dengan emosional, ia sangat kawatir.
"Hentikan paman..."
"Kau pikir aku bisa tenang?"
Matahari mulai tenggelam, namun mereka sama sekali tidak menemukan adanya orang-orang yang tergeletak disepanjang tempat.
Argus melangkah kesebuah bukit, ia sangat lemas tak berdaya, agil mengikutinya.
"Aku hanya sangat terpukul gil..." ucap argus duduk disebuah tebing diikuti agil duduk disampingnya.
Tempat yang sangat indah, dimana mereka bisa melihat hamparan pemandangan didepan mereka, dan sebuah matahari yang akan tenggelam, wajah mereka disinari oleh warna jingga matahati tenggelam membuat agil bisa menatap jelas jika wajah argus sangatlah ketakutan agil bisa melihat itu, air matanya yang sedang ia bendung agar tidak jatuh.
__ADS_1
"Aku pernah kehilangan istriku dan anakku yang sedang dikandungnya" ucap argus menunduk.
"Padahal saat itu aku sangat bahagia karena setelah lima tahun menunggu, akhirnya istriku mengandung" ucap argus, kali ini air matanya keluar dari ekor matanya.
"Aku berharap setelah kejadian itu aku berusaha melindungi warga-wargaku....tapi"
Air mata argus pecah ia menangis sejadi-jadinya.
"Apakah perjalanan ini sangat lama? membuat kita datang dengan telat?"
Tidak ada kata-kata yang bisa menjawab dari mulut agil, ia hanya ingin paman bisa mengeluarkan isi hatinya saat ini.
"Aku berusaha sekuat tenaga untuk membangun mereka agar mereka melupakan kejadian mengerikan itu, tapi lada kenyataanya..."
"Kenapa aku begitu bodoh?"
"Tidak!" sahut agil.
"Paman tidak bodoh, aku tahu aku paham perasaan paman, aku juga sangat kehilangan mereka, secara aku baru saja mengenali mereka, selama itu aku benar-benar merasa sangat terkesan, dimana mereka selalu ramah, baik kepadaku membuatku nyaman dan menganggap mereka keluarga kedua ku"
Argus tersenyum.
"Paman....aku tidak bisa mengatakan apapun, karena aku sama denganmu, tapi berjuanglah..." ucap agil menatap argus.
Saat itu agil bisa melihat wajah yang sangat sedih yang argus keluarkan, itu adalah raut wajah argus yang pertama kali agil lihat, wajah yang penuh amarah, kesedihan, dan kekecewaan.
"Dikta...." ucap argus tiba-tiba membuat agil bingung.
"Nama anakku..." lanjut argus.
"Aku sudah menyiapkan nama itu selama lima tahun, bukankah itu cocok untuk laki-laki dan wanita? kenapa tuhan begitu membenciku membuatku harus menderita selama ini"
"Gil, setelah kau tahu jawabanya kau bisa bunuh aku..." jawab argus spontan membuat agil tersentak, tapi argus malah tertawa.
"Tidak aku hanya bercanda...."
"Aku kehilangan semua orang sekarang, jadi berjanjii kepadaku gil, kau, jay, tea tidak akan mati, aku tidak ingin melihat orang-orang terdekatku mati lagi.."
Sore itu agil bisa merasakan hawa kehampaan dari sosok argus, ia tidak bisa melihat argus terlalut dalam kesedihanya. Sempat terlintas dipikiran agil kenapa monster ini menyerang orang-orang yang tidak bersalah? bukankah ini adalah tempat yang aman untuk melindungi diri, tapi kenapa masih saja monster itu memangsang mereka.
Agil bisa membayangkan saat monster itu datang pasti mereka sangat ketakutan, mereka berusaha melindungi diri. Agil paham orang-orang yang kuat seperti leo, timandra, dan paman saja masih bisa terluka dan mati, apa lagi yang tidak ada gunanya seperti agil, bisa-bisanya ia ingin menyelamatkan randi dan gilang dalam situsi seperti ini.
Agil menepuk pundak argus, "Menangislah paman, keluarkan semuanya..."
Argus tersenyum, "Apa yang kau lakukan saat orang terdekatmu mati?"
Agil memutar bola matanya berpikir.
"Aku? menangis dan berteriak, aku menyalahkan diriku sendiri"
"Benar, saat itu kau berharap jika mereka bisa hidup kembali bukan? namun semuanya tidak akan bisa" ucap argus.
Agil menunduk, benar, memang benar, semuanya sia-sia menangis, mengamuk, berteriak tidak membuat semuanya kembali kesemula. Bahkan agil terheran disituasi seperti ini argus masih bisa tersenyum.
"Tapi bukankah hal itu membuat kita jadi terlihat lega?"
Agil menatap argus.
Argus banyak menceritakan tentang dirinya dan istrinya, ia bahkan bercerita jika sampai saat ini pun ia tidak bisa melupakan sosok istrinya. Memang tidak ada rasa balas dendam dan mempertayakan tentang kesalahan istrinya, bukankah tidak ada kesalahan tapi kenapa ia harus mati.
Selama hidupnya, ia hanya ingin hidup bahagia bersama istri dan anaknya, namun semesta telah mengambil semuanya dari argus, argus tidak pernah menyangka jika semuanya hilang begitu saja dihidupnya.
Setelah kematian istrinya, argus berjanji tidak akan ada lagi kejadian yang seperti ini, namun kali ini ia mengalami lagi.
"Aku berharap kau segera pergi dari negeri ini..." ucap argus.
"Negeri ini tidak ada indah-indahnya.." lanjutnya.
"Akan aku cari jawabanya paman, kalau aku bisa akan aku bawa kalian ke duniaku..."
Argus menatap agil.
"Apakah bisa?" tanyanya.
"Pasti bisa, aku saja bisa berada didepanmu sekarang?"
"Kalau nanti kau bisa datang ke duniaku, kau akan melihat ada banyak hal-hal yang baru disana, dan tentunya sangat membuatmu merasa aneh seperti aku pertama datang kesini..."
"Apakah ada banyak monster?" ucap argus.
Agil memutar bola matanya seraya tersenyum.
"Banyak" ledek agil tertawa.
Argus tertawa, "Baiklah aku akan mengunjungi tempatmu, dan gantian kau yang mengajakku mengelilingi dunia mu.."
Agil merangkul pundak argus.
"Jangan sedih lagi paman, kita bangun lagi kebahagian dengan sedikit demi sedikit...." ucap agil.
Argus memejamkan matanya ia menyentuh dadanya, rasanya ada rasa sakit yang tidak bisa ia jelaskan didadanya, rasa sakit bukan diluar namun didalam dadanya.
__ADS_1
Ia berharap segera pulih lagi, ia tidak ingin merasakan sakit lagi didadanya, hal itu sangat ia benci sampai saat ini.