
Aleris lalu berlari dengan menggunakan kekuatan teleportasinya, ia mengelilingi hutan itu namun tetap saja ia tidak menemukan seseorang, dimana lidra sudah melacak dengan kekuataannya.
Aleris kembali ke tempat lidra berada, ia menyuruh lidra untuk benar-benar fokus untuk melacak.
"Kenapa tidak ada seseorang dihutan ini? coba kau fokus" gumam aleris.
Dengan tenaga yang extra lidra memejamkan matanya, ia lalu menyetuh tanah itu dan lagi-lagi ia melihat jejak seseorang yang sama dimana arah jejak itu mengarah kedepan mereka, namun aleris tidak datang menemukannya.
"Ada apa ini?"
"Aku yakin ini bukan jejak hewan tuan, aku melihat sendiri ada jejak seseorang disini...." pekik lidra.
Namun kembalo lagi aleris mencari keberadaan seseorang itu namun ia tidak melihat adanya sosok manusia yang berada dihutan itu.
"Tapi aku merasakan hawa panas disini? apakah ada monster? mereka bersembunyi?"
Dengan gerakan yang cepat lidra mengeluarkan belati miliknya, dan aleris siap untuk menyerang, dimana tiba-tiba mereka merasakan hawa panas yang berjalan melewati tubuh mereka.
"Bruk!!!"
Tubuh aleris terpental jauh hingga menabrak bangunan istananya, membuat pondasi itu hancur, aleris terjatuh hingga mulutnya mengeluarkan darah.
Malucia keluar, ia bertanya apa yang sedang terjadi hingga ia tersentak ketika melihat tubuh aleris yang menabrak bangunan istana hingga pondasinya runtuh.
"Aleris!!!"
Dengan menahan sakit seraya memeggang perutnya ia berkata, "Jangan....ada monster dihutan, kau sebaikanya kembali..."
"Tuan!!!" teriak lidra, ia langsung mencari keberadaan seseorang yang tiba-tiba menyerang aleris.
Ia mengeluarkan belatinya.
Dari dalam hutan yang gelap datanglah seseorang sosok berjubah seraya asap hitam yang muncul dari dalam tubuhnya, seraya wanita cantik yang melangkah mengikuti sosok berjubah itu.
Lidra dengan sigap memasang tumpuan untuk menjaga-jaga bila mana sosok itu menyerangnya, ia hanya bisa menatap mulut sosok yang datang itu, dimana ia tersenyum.
Sore itu sinar matahari menyinari sedikit dihutan itu, hingga sinar matahari menyinari sosok berjubah itu membuat lidra mencoba untuk melihat detail wajah itu, namun tetap saja jubah itu panjang hingga menutupi wajahnya.
Tiba-tiba aleris datang dengan kekuatan teleportasinya dan mencekik sosok berjubah itu, namun dengan cepat sosok itu menepis ia mencekik balik. Lidra dengan cepat melempar belatinya kearah sosok berjubah itu namun wanita dibelakangnya menghalangi, ia menangkap belati itu dan balik melempar kearah lidra, dimana belati itu mengenai lengannya hingga tertusuk.
Lidra merintih kesakitan, aleris masih tercekik karena tangan sosok itu masih mencekik dengan keras, aleris berusaha untuk melepaskan. Lalu tiba-tiba malucia dan tiga pasukan para peri datang, mereka mengeluarkan kekuatan anginnya, hingga membuat semua benda-benda seperti daun berguguran melayang menghantam mereka.
Sosok berjubah itu melepaskan cengkramannya membuat aleris terjatuh dan berusaha mengembalikan nafasnya dengan normal.
Sosok berjubah tertawa, "Kalian membawa pasukan?" gerutunya.
"Siapa kau!!!!" teriak malucia seraya mendekat dan mengisyaratkan pasukannya untuk menyerang sosok didepannya, namun aleris menahan mereka untuk diam saja.
Sosok berjubah itu terdiam, ia menghentikan langkah wanita disampingnya karena ingin menyerang malucia.
"Sebenarnya aku datang kesini hanya melihat-lihat...." gumam sosok itu.
"Kau iblis!!! kau iblis" pekik aleris berdiri.
Malucia lalu mendekat kearah lidra, dimana lidra masih kesakitan karena belati itu, ia harus menahan sakit ketika ia berusaha melepaskan dengan sendiri belati itu.
Sosok itu tertawa, "Sudah kuduga kau tahu itu...." jawabnya.
"Kenapa kau kemari bodoh!!!!!!!!!" teriak aleris.
"Aku hanya ingin memperkenalkan diri, aku auvamor....." ucapnya.
"Dengar, kenapa kau datang dan menghancurkan semua orang yang tidak bersalah, jika kau punya keperluan denganku hadapi aku!!!!!" teriak aleris.
Auvamor mendekat tepat didepan wajah aleris, "Tidak semudah itu..." bisiknya.
"Soal anak buahku...kau mengambilnya?" lanjutnya.
"Dari mana kau berasal sialan!!!!!" pekik aleris.
"Kau tak perlu tahu aku...aku datang kesini hanya untuk mengingatkan saja sebenarnya hahahahahah" ucap auvamor.
"Semua ulahku, tentang makhluk aneh yang muncul, potongan samurai, semua orang yang mati, semua monster yang berkeliaran itu ulahku....." lanjutnya.
Malucia dan lidra melotot kaget.
"Tujuanku adalah.....ini lah saatnya yang ditunggu-tunggu, aku ingin mengingatkan saja...." gumamnya.
"Sialan kau!!!" teriak aleris seraya mengeluarkan kekuatan tanahnya, dimana ia mengeluarkan gundukan tanah tepat dibawah auvamor, hingga ia tersentak menghindar.
"Aku tidak akan memberitahu dimana aku bersalah, dimana tempat tinggalku, jangan cari keberadaanku, atau aku akan mengambil salah satu peri cantik ini......"
"Jelaskan kepadaku, kenapa kau melakukan ini!" ucap aleris.
Auvamor mendekat kearah aleris.
"Akhirnya aku menjelaskan kepadamu hari ini, padahal aku sedang ingin mengembangkan kekuatanku, seperti mengirim petunjuk yamg tidak masuk diakal, aku senang membuat teka-teki untuk kalian dan kalian pecahkan, karena sebelumnya kau pernah melakukan itu kepada saudaraku bukan?" gumamnya.
__ADS_1
Aleris menatap tajam, ia tidak tahu maksudnya, apa yang dikatakan auvamor membuatnya terlihat kebingungan.
Auvamor tertawa, "Tidak perlu bingung dan mencari tahu tentang ucapanku tadi aku hanya bercanda, aku hanya lega saja akhirnya masalah ini terpecahkan juga ya? kau tidak akan mencari tahu lagi bukan? karena pada akhirnya aku sudah memberitahu langsung kepadamu? kau jadi tidak susah-susah memecahkan teka-teki lagi"
Lalu ia semakin mendekat kearah wajah aleris, auvamor berbisik.
"Tunggu saja, siapa yang akan datang, dan kau akan tahu jawabanya kenapa aku melakukan ini, jangan cari keberadaan orang-orang sepertiku, karena aku akan terus melakukan ini mengirim para monster untuk menjadi mata-mata, tunggu saja, suruh gevar untuk menyiapkan amunisinya!" gumamnya.
Auvamor langsung lenyap begitu saja diikuti wanita dibelakangnya, ia meninggalkan asap hitam yang membuat aleris, malucia, lidra, dan pasukan lainnya merasa sangat mual dan pusing hingga batuk. Mereka langsung tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan.
Randi dan gilang yang mengintip disemak-semak melihat ketiga tubuh yang berjatuhan langsung beranjak mendekat, mereka sudah lama mengintip disemak-semak, tapi terlihat samar-samar karena didalam hutan yang gelap, pencahayaan pun semakin berkurang karena hari sudah semakin gelap.
"Ran...rannn mereka kenapa?" bisik gilang masih mengikuti randi berlari dibelakangnya.
Tanpa menoleh randi menjawab, "Kau lihat aku dan kau mengitip disana bukan? kita sama-sama tidak tahu bodoh...." gerutu randi.
Randi segera mengangkat kepala lidra yang masih pingsan kelututnya.
"Dra lidraaaa" ia menyadarkan seray menepuk-nepuk pipi lidra.
Gilang menggerakan tubuh malucia namun tidak kunjung sadar, ia melakukan hal yang sama kepada, aleris dan tiga pasukannya. Ace, Ned, dan Lin. Dua pria peri dan satu peri cantik seperti lidra.
Selama gilang tinggal diistana itu, gilang menjadi lebih kenal dekat dengan para peri pasukan aleris, ia sering mengobrol dan bermain dengan mereka.
Tiba-tiba semua pasukan datang, mereka lalu dengan segera membawa aleris, malucia, lidra, dan tiga pasukan peri kembali ke istana mereka.
"Kalian kemana saja, hingga tidak tahu ada kejadian mengerikan disana?" pekik randi.
Salah satu peri itu menjawab, "Kenapa kalian tidak memberitahu kami? bukankah kalian ada dilokasi kejadian?"
Benar juga, batin randi.
"Sudah lupakan, kami akan mengurus ini, dan kami perlu mendapatkan hukuman..." ucap salah satu peri itu, lalu diberhentikan oleh gilang.
"Tunggu, ini salah kami, kami tidak tahu akan terjadi seperti ini..."
Mereka menghiraukan ucapan gilang, mereka lalu beranjak pergi menuju istana.
"Iya juga lang, ini salah kita."
Aleris membuka matanya, ia merasakan kepalanya sangat berat dan matanya sakit, ia membenarkan posisi duduknya.
"Sepertinya aku sedang tertidur seharian penuh...." gumamnya.
Randi lalu menyahut, "Hei!!! kau baru saja melawan seseorang dihutan!" sahutnya.
Aleris tersentak ternyata randi sudah berada didalam kamarnya.
Randi memutar bola matanya, "Kau tidak ingat atau pura-pura tidak tahu karena kau takut?" ledek randi.
"Apa? apa yang aku lakukan memangnya?"
Randi tercengang.
"Hello tidak salah dengar?"
Aleris mendesah, ia masih terasa lemas, ia butuh air minum.
"Ambilkan aku air minum..."
Dengan geram randi menuangkan air kegelas dan menyodorkannya.
Didalam hati randi, ada sesuatu yang tidak beres terjadi, ada sesuatu yang membuat aleris tidak mengingat apa yang baru saja terjadi.
"Beritahu aku, kau memiliki pasukan yang tuli?" ucap randi mengalihkan pembicaraan.
"Ha?" gumam aleris seraya meletakan gelasnya.
"Jawab saja..."
Aleris mencoba mengitung berapa anak buahnya.
"Ada banyak, tapi mereka banyak yang berkhianat denganku, mereka memutuskan untuk bekerja ke kerajaan majestic, aku memperintahkan leon untuk membunuh mereka karena mereka berkhianat.." gumamnya.
Randi menghelan nafas panjangnya, ia kaget karena jawaban aleris tidak sesuai dengan pertanyaannya, baru pertama kali ini randi mendengar aleris terlihat sangat bodoh.
"Oh aku sekarang hanya memiliki beberapa, kau bahkan bisa menghitungnya"
Gilang mengetuk pintu kamar aleris lalu ia masuk kedalam, ia menundukan kepalanya, ia mengisyaratkan randi untuk keluar sebentar.
"Malucia, lidra, dan yang lain sudah sadar, tapi anehnya mereka tidak ingat apapun..."
Randi tersentak, "Sama dengan aleris!!"
"Apa?" ucap gilang terbengong.
"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan mereka aku yakin"
__ADS_1
"Lalu bagaimana?" tanya gilang.
Randi hanya menggelengkan kepalanya.
Randi dan gilang masuk kedalam ruangan, dimana disana sudah ada beberapa para peri yang masih mempertanyakan ada apa dengan malucia, lidra, dan yang lainnya.
"Kalian benar-benar tidak ingat?" ucap salah satu peri itu.
"Tunggu" pekik randi.
Randi berbisik kepada salah satu peri itu yang bernama silas, dimana ia yang terus cerewet menanyakan hal ini.
"Sepertinya terjadi sesuatu dengan mereka.."
Silas tertawa, "Kau tahu apa?" ledeknya.
Mata randi sudah terbelalak karena jawaban sombong dari silas, ia ingin menyerangnya namun gilang menahannya.
"Salahkan ruangan kami yang kedap suara ini, kami benar-benar tidak mendengarkan suara kerusuhan disana, lalu salahkan mereka berdua" silas menunjuk kearah randi dan gilang.
Randi tidak bisa menahan emosinya, ia melepaskan genggaman gilang dan dengan genggaman tangan randi yang kuat, ia menghantam tepat diwajah silas.
Semua orang yang menyaksikan, hal itu tercengang.
"Siapa kau? berani denganku? kau pikir kau sudah jago?" pekik silas.
Silas adalah peri yang sombong diantara banyaknya peri diistana itu, ia sering tidak patuh dengan perintah aleris, dan sering mabuk karena alkohol, sikapnya terlalu arogan dan angkuh.
Postur tubuhnya tidak beda jauh dengan randi, dimana tinggi dan besar, memiliki sosok mengerikan, karena ia sangat mencintai dirinya sendiri ia beberapa kali menggunakan kekuatan anginnya untuk segala hal yang tidak penting, bahkan semua para peri sering patuh dengan suruhannya.
Randi masih terlihat sangat geram, hingga silas mengeluarkan kekuatan anginnya, mengangkat tubuh randi keatas dengan gumpalan angin yang ia buat, dimana angin itu melingkari tubuh randi.
Silas tertawa, gilang berteriak dan memohon agar ia menghentikan aksinya itu.
Bahkan malucia, lidra, ace, ned, dan lin masih terdiam lemas seperti sedang mengumpukannya nyawa mereka, mereka masih terlihat linglung.
Berbeda dengan pasukan yang lainnya yang hanya tercengang kawatir melihat aksi silas, mereka sangat takut untuk menghentikan aksi silas, karena yang berani menghentikan tingkah konyol silas hanya malucia dan lidra.
Namun saat ini mereka sedang melamun, dan masih terlihat linglung.
"Hei kalian hentikan temanmu ini!!!!" teriak gilang kepada pasukan yang masih sadar dan ketakutan itu.
"Kenapa? kau meminta mereka menghentikanku? tidak bisa"
Silas semakin memperat lingkaran angin yang melingkari tubuh randi. Tiba-tiba datanglah angin yang muncul, membuat silas tersungkur dan kekuatan itu menghilang.
Randi terjatuh dari atas, gilang segera menyelamatkan randi. Malucia melangkah kearah silas yang masih tersungkur.
"Kau kira aku tidak sadar karena efek pingsan itu?" gumam malucia.
Silas tidak bisa menatap malucia.
"Hei kalian! gunanya memiliki kekuatan adalah untuk menyerang hama!" teriak malucia.
Randi masih menahan sakitnya, ia tidak bisa berkata-kata lagi, entah untuk berapa kalinya malucia menyelamatkan nyawanya.
Malucia mendekat kearah randi dan gilang, "Lidra dan yang lainnya sepertinya masih terlihat lemas, kalian bisa kembali kekamar kalian, aku yang akan mengurus ini.."
"Cia..." bisik gilang.
"Kau benar-benar tidak ingat apa yang terjadi?"
Malucia masih menggelengkan kepalanya, ia masih tidak ingat apa yang terjadi.
Randi mengambil gelas dimejanya, ia menuangkan air lalu meminumnya dengan kasar, nafasnya masih terengah-engah karena kekuatan angin itu yang melingkari tubuhnya.
"Gila, angin saja bisa menali tubuhku..." gumam randi.
Gilang menjatuhkan tubuhnya, "Aku sangat kawatir, wajah kau sangat merah ran, menahan nafas seperti itu.." jawab gilang.
Randi duduk dikursi seraya berkata, "Semakin kesini semakin kenal dekat siapa mereka, bahkan mereka sangat cupu, denganku saja bisa aku kalahkan..."
"Sebenarnya siapa silas? kenapa dia sok berkuasa?" tanya gilang.
Randi mendesah, seperti malas membahas seseorang bernama silas.
"Padahal waktu itu pernah olahraga pagi-pagi bareng, kelihatan sombong memang waktu itu tapi aku tidak menggubrisnya..." gumam randi.
"Dia seperti ketua geng di grub mereka deh, lihat anak buah silas saat aku sedang sekarat gara-gara dia, mereka hanya diam menatapku.." ledek randi.
Dikamar mereka, mereka membahas sifat arogan yang silas miliki, beralih dari itu, terlintas dibenak randi tentang apa yang dilihatnya sore itu.
Sayangnya, randi dan gilang tidak berani untuk mendekat, yang mereka lihat hanya samar-samar seperti bayangan, bahkan mereka hanya melihat tubuh besar aleris saja yang berdiri dan sedsng berbincang dengan seseorang.
Ketika mencoba mendekat, namun tetap saja mereka tidak melihat apapun, mereka hanya melihat tubuh-tubuh yang dikenalnya berdiri menghalangi seseorang yang berbicara dengan aleris.
Randi dan gilang merasakan jika ada sesuatu yang terjadi karena saat mereka tersadar, mereka sama sekali tidak mengingat kejadian yang dialami mereka, bahkan randi sudah menceritakan detail jika mereka waktu itu menemui seseorang namun yang dikatakan aleris hanyalah.
__ADS_1
"Tidak aku hanya tidur seharian"
Kalimat itu yang membuat randi sangat kesal, ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi, randi pikir ini hanyalah ulah gila aleris, namun ia sangat melihat saat tubuh agil terlempar dan menghantam bangunan istana ini, ada sesuatu yang melemparnya, randi berpikir jika apa yang ditemui mereka adalah monster.