Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Aleris bertemu Randi


__ADS_3

Arvand dan Fay terkejut, ia mendekati Aleris duduk didepannya.


"Sungguh? iblis itu datang istanamu?"


Aleris hanya bisa mengangguk.


Arvand spontan berdiri dan beranjak dari tempat duduknya, namun Aleris menahannya.


"Kenapa?" tanya Arvand.


"Sepertinya kita harus menyembunyikan tentang ini, biarlah kita bertiga saja yang tahu..."


Arvand menepis tangan Aleris yang masih menggengam tangannya.


"Apa!? ini adalah masalah bersama, ini juga ada kaitannya dengan kita semua kan kenapa kau sembunyikan?" pekik Arvand.


Fay berdiri dan menyentuh kedua pundak Arvand.


"Ada baiknya..." sahut Fay.


"Ada baiknya apa!?!"


Aleris menyahut, "Aku belum selesai berbicara, kalian bisa mendengarkan aku?"


"Aku baru mengingat kembali, dan didalam memori itu ia mengatakan jika kita harus menunggu kedatangannya, karena percuma kita mencari, memecahkan teka-teki ini semua tidak hubungan, mereka hanya ingin menujukan kepada kita, bahwa mereka ada. Jadi selama ini kita percuma melakukan pencarian, memecahkan teka-teki, mencari tahu atau yang lainnya karena mereka semua tidak bisa kita taklukan untuk saat ini, mereka hilang, dan mereka akan datang diwaktu yang tepat, iblis itu menyuruh kita menyiapkan diri, entah bagaimana pun itu kita harus siap-siap..."


Fay memeggangi dagunya, seraya mencerna kata demi kata yang Aleris lontarkan.


"Jadi selama ini kita sia-sia?" sahut Fay.


Aleris mengangguk. Namun Arvand tidak setuju.


"Opinimu atau yang kau jelaskan itu tidak bisa aku cerna dengan logika, lihat anak bayi itu? dia menghancurkan ratu dan kita harus tetap menunggu?" sahut Arvand.


"Lalu rencana apa yang akan kau lakukan"


Arvand menghelan nafasnya.


"Kita bantai habis-habisan teluk alaska!"


"Lalu, setelah kita hancurkan teluk alaska? apa yang akan kita lakukan?"


"Ya katanya sarang iblis disana? kita bisa menghancurkannya kan"


"Tidak!" sahut Aleris.


Aleris beranjak, ia melangkah ke balkon memandangi pemandagan kota Majestic. Diikuti Fay dan Arvand dibelakangnya.


"Kau seorang pangeran, kau tidak diajari tentang berpikir logis dan teliti?" ucap Aleris.


Membuat Arvand sedikit merasa sakit hati dengan ucapan Aleris. Aleris menoleh kearah Arvand dan Fay yang ada dibelakang tubuhnya, ia melingkarkan kedua tangannya didada.


"Bukan begini caranya, aku juga ingin menghancurkan semua sarang iblis dimuka bumi ini, tapi yang aku pikirkan adalah keselamatan semua orang..."


"Baiklah kau boleh berbicara seperti itu, tapi kau tidak tahu rasanya melihat secara langsung apa yang terjadi kepada ibumu? ibuku Ris!!! dia lumpuh!!! karena bayi iblis itu!!!" Pekik Arvand seraya melangkah mendekati Aleris dan menarik kerah baju Aleris dengan geram.


Fay mencoba mendekati dan melerai aksi Arvand namun, Arvand menepis Fay untuk diam ditempat karena ini urusannya dengan Aleris. Aleris diam terus menatap santai kearah Arvand.


Wajah mereka berdua sangat dekat, Arvand melotot menatap Aleris.


"Aku tidak ingin adikku lahir seperti itu! kau pikir aku menerimanya? kau enak tidak disituasi semacam itu, tapi dengar!! ibuku Ris! kau lihat dengan kedua matamu kan? dia seperti itu ya karena iblis itu kaparat!!!" Arvand melepaskan kerah baju Aleris dengan kasar.


Aleris tersenyum, membuat Arvand semakin terlihat kesal, lalu ia spontan memukul wajah Aleris dengan tangannya, membuat Aleris melangkah mundur dengan sendirinya. Aleris memeggangi pipi merah karena pukulan itu, Fay berteriak dan menghalangi dengan tubuhnya dihadapan Arvand.


"Apakah ini solusi yang tepat? kenapa kau menjadi seperti ini?" sahut Fay.


"Sudah aku katakan! kau tidak ada urusannya dengan ini!" ucap Arvand.


"Ada!" teriak Fay memenuhi ruangan itu.


"Kau pikir aku orang asing disini?!!!"


Kemudian Aleris menyuruh Fay untuk melangkah kesamping, Aleris beranjak mendekati Arvand, ia berbisik.


"Lalu bagaimana nasib ayah dan ibuku? apakah ayahmu sangat bahagia? setelah membunuh kedua orang tuaku?" bisik Aleris lalu ia beranjak meninggalkan Arvand dan Fay yang masih terdiam ditempat.


Arvand masih kaku ditempatnya, ia kaget mendengarkan ucapan Aleris baru saja. Ia tidak percaya kematian kedua orang tua Aleris pada saat itu menggemparkan kota Majestic, dan yang membunuh kedua orang tua Aleris adalah ayahnya sendiri?


Arvand meremas rambut kepalanya, seraya ia geram dan berteriak memenuhi ruangan. Fay melewati Arvand begitu saja lalu pergi meninggalkan Arvand.


Yang selama ini Arvand tahu tentang kematian kedua orang tua Aleris adalah bunuh diri. Dimana saat itu banyak isu tentang bunuh diri yang dilakukan oleh kedua orang tua Aleris.


"Jadi? dia tahu selama ini?"


"Kenapa dia diam saja?"


Aleris menuruni tangga seraya matanya berkaca-kaca, ia sampai tidak perduli dengan orang-orang yang berpapasan dengannya, beberapa orang menyapanya namun Aleris tidak bergeming ia hanya berjalan dengan suasana hati yang buruk.


Ia membuka gerbang kerajaan, namun yang ia lihat saat gerbang itu dibuka adalah Leon dan Mahagaskar yang berdiri didepan gerbang. Mereka kaget saat Aleris membuka gerbang dengan kasar.


"Aleris?" sahut Mahagaskar.


Aleris menyembunyikan wajahnya, Aleris menundukan kepalanya.


"Kau kenapa?" tanya Leon.


"Kau menangis?" lanjut Leon seraya tertawa.


Aleris menghelan nafasnya.


"Kenapa kalau aku menangis? aku menggangumu?"


"Simpan air matamu, raja Gevarnest dan pasukannya akan kembali beberapa menit lagi!"


Aleris menatap jalanan, dimana belum ada sama sekali jejak orang-orang yang datang.

__ADS_1


"Jadi kalian menunggu mereka datang? mereka sedang apa dipusat kota? mengarang berita?" sahut Aleris.


Leon dan Mahagaskar menatap aneh kearah Aleris.


"Kau kenapa sih?" sahut Leon.


"Mau mengarang atau tidak yang terpenting untuk saat ini adalah keselamatan warga, kau tidak tahu tanggung jawab raja ris..." ucap Mahagaskar.


Aleris menepis dengan tertawa yang meledek.


"Paman? sejak kapan kau mendukung raja gila itu? dan kau Leon? kau masih menjadi mata-mata kan?"


"Diam Aleris!!" pekik Mahagaskar.


Aleris seperti tahu kalimat apa yang akan Mahagaskar lontarkan, penjelasan Mahagaskar. Aleris sangat muak ia lalu beranjak pergi begitu saja meninggalkan Mahagaskar dan Leon.


"Lihat adikmu!" ucap Mahagaskar.


Leon menghelan nafasnya, ia hanya membalas dengan menganggukan kepalanya.


"Dia memang tidak harus ada disini..." sahut Mahagaskar.


Karena didalam kerajaan membuatnya sangat muak dan emosi yang berlebihan, ia memutuskan untuk mencari angin, jalan-jalan ke rumah penduduk di sekitar, ada banyak yang menyapanya, sedikit membuat hatinya tenang, karena masih ada banyak orang-orang sayang kepadanya.


"Kau tuan Aleris?" ucap tiba-tiba seorang ibu hamil.


Ia memberanikan diri, dengan cepat ia menghadang Aleris yang berjalan. Aleris membalas dengan senyuman dan menganggukan kepalanya.


Ibu tersebut sangat senang bisa bertemu dengan Aleris setelah beberapa tahun tidak bertemu.


"Saya sudah lama ingin melihat tuan, terakhir saya lihat tuan saat kerajaan mengadakan perlombaan lukis itu"


Aleris tersentak, dimana itu adalah kejadian yang sangat lama. Aleris menyuruh ibu tersebut duduk disebuah kursi kayu yang tersedia dipinggir jalan. Tentu saja banyak orang-orang girang melihat Aleris datang di tempat mereka.


"Pasti tuan Aleris sangat lelah karena mendapatkan iu yang tidak benar, raja sudah menjelaskannya dipusat kota, jadi jangan khawatir tuan..."


Aleris sangat muak membahas hal itu, jadi dia hanya tersenyum saja.


"Ibu sedang hamil?"


Dengan spontan ibu tersebut memeggang perutnya, dan mengangguk dengan cepat.


"Apakah saya boleh menyuruh tuan memeggang perut saya? saya hanya ingin mendapatkan anak setampan anda dan sepintar anda"


Dengan penuh senang hati, Aleris mengiyakan, ia menyentuh perut besar tersebut, betapa kagetnya saat setuhan seperkian detik, perut tersebut bergerak, Aleris tersentak.


"Tenang tuan, bayi saya berati sangat senang disentuh oleh anda"


Aleris tertawa, dan menyentuh kembali untuk kedua kalinya.


"Ini anak pertama ibu?"


"Tidak tuan, saya memiliki dua anak, yang pertama masih kecil berumur tujuh tahun.."


"Dimana dia?"


Aleris mengingat ada sebuah gelang yang terbuat dari berlian miliknya, ia mengambil disaku celananya dan menyodorkan kehadapan ibu tersebut.


"Saya hanya memiliki gelang ini, bisa berikan kepada anak pertamamu?"


"Ah tuan! tidak usah repot-repot"


Aleris terus menyodorkan gelang tersebut, sampai ibu itu menerimannya. Aleris berajak pergi setelah ia berbincang-bincang dengan ibu yang ia temui di jalanan. Ia menikmati suasana perdesaan yang asri, memang ada banyak warga yang ramai berdatangan melihat dengan heran bahwa seorang Aleris yang berjalan ditempat mereka.


Namun hal itu tidak membuat Aleris terganggu justru hal itu membuatnya semakin bisa mengenali orang-orang. Semua orang berbondong-bondong mendekati Aleris dan mencoba untuk saling berbincang dengannya. Hingga ekor mata Aleris melihat seorang pria yang ia kenal sedang berpelukan mesra diujung jalan.


Ia menyipitkan mata mencoba melihat dengan teliti siapa pria itu.


"Tuan? ada apa?" ucap bapak-bapak yang berdiri disamping Aleris.


"Ah maafkan tempat ini sangat ramai ya tuan? karena kami baru saja selesai menghadiri rapat dipusat kota, karena raja datang" sahut ibu setengah tua seraya menggendong bayinya.


"Acaranya sudah selesai bukan?" tanya Aleris.


Semua orang yang datang memjawab dengan serentak, "Iya tuan!"


Aleris melotot saat wanita yang memeluk pria itu pergi meninggalkannya, mata Aleris sangat terlihat buram karena pria asing berdiri tersebut sangat jauh dengan tempatnya. Aleris terbelalak saat pria asing itu mulai berjalan pergi.


"Ah maafkan saya, saya harus pergi menemui seseorang"


Semua orang lalu mempersilahkan Aleris pergi. Aleris berlari mendekati pria itu, saat keberadaan pria it!u sudah dekat dengan Aleris. Aleris membuka matanya lebar, kaget.


"Randi!?!"


Walaupun suara Aleris sangat kecil menurutnya, namun bisikan itu pasti sampai ditelinga Randi karena mereka sudah sangat dekat. Randi dengan kaget menoleh.


"Aleris!!!"


Aleris menyentuh keningnya, lelah. Ia sangat tidak yakin Randi ada dikota Majestic.


"Kau, kau Randi kan? kenapa kau kesini yaampun!!!" pekik Aleris.


Randi mengiring Aleris untuk melangkah kesebuah samping rumah yang sepi agar tidak banyak warga melihat.


"Akan aku jelaskan"


Aleria tidak henti-hentinya menghelan nafas, setelah keheningan beberapa saat, Aleris tersentak karena ia menduga isu yang beredar karena Randi.


"Jangan-jangan isu itu?"


"Suuuutttt" Randi memejamkan matanya seraya menyentuh bibir Aleris.


"Berani-bera...."


Dengan cepat Randi menutup mulut Aleris.

__ADS_1


"Kau bisa diam tidak?"


"Baiklah jelaskan kepadaku, kenapa kau datang kesini? kenapa kau bisa tahu? lalu kenapa kau menyebar isu itu? lalu kenapa kau bisa tahu semuanya?" ucap Aleris dengan nada ngerap.


"Aku datang saat seseorang menjemputmu, aku bersyukur kuda milik kalian hilang jadi kalian berjalan aku bisa mengikuti kalian, aku tahu karena selama ini aku mencari tahu lah, aku menyebar isu itu? karena bukankah memang benar kan isu tersebut?"


"Sepertinya aku sudah tidak bisa menyembunyikan rahasia lagi kepadamu" Ucap Aleris pasrah.


"Simpan dulu ini, aku ingin bertanya" lanjut Aleris dengan nampang muka yang masih terlihat kesal.


"Lalu siapa wanita yang kau peluk?"


Randi membuka matanya lebar karena kaget, ternyata Aleris melihat saat Vin memeluk dirinya.


"Kau melihatnya?" Randi tertawa.


"Kenapa kau cemburu?"


"Ce...cemburu? kau gila?"


"Dia teman baruku disini, dia yang menyelamatkan hidupku. Oh ya Lidra juga menyusul dia ada disini..."


"Dimana dia?"


Seperti melakukan sidang, Randi dan Lidra duduk seraya menundukan kepalanya, saat Aleris terdiam menatap mereka berdua seraya melingkarkan kedua tangannya didada, ia berdiri tepat dihadapan mereka dengan raut wajah kesal.


Bahkan Aleris beberapa kali menghelan nafasnya, ia belum siap mengeluarkan kalimat memarahi kedua orang dihadapannya.


"Sudah berapa kali melakukan hubungan?"


Randi dan Lidra kaget karena yang dikeluarkan pertama kali oleh Aleris adalah kalimat yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang menimpa Randi dan Lidra.


Dengam bercanda Randi menjawab, "Baru satu kali!" seraya mengangkat satu tanganya, seperti anak tk yang ingin menjawab kuis dari guru.


Lidra yang sangat malu, memukul dengan keras punggung Randi.


"Kau sudah gila?" bisik Lidra.


Aleris lalu mendekat, "Lidra? bukankah aku memberikan tugas ini denganmu?"


Dengan cepat Lidra bersujud memohon ampun.


"Maafkan aku tuan, Randi memang sangat susah diatur"


"Berdiri, kau tidak perlu bersujud seperti itu, karena aku juga setuju denganmu" ucap Aleris seraya menatap Randi.


Randi berdiri, "Aku tidak usah membuatku malu dipenginapan ini, ada banyak orang disini?"


"Bukakah ini tempat umum?" sahut Aleris seraya menatap ruangan tengah.


Sengaja ia mengatakan itu, padahal banyak orang lalu lalang disana.


"Kau sengaja mengatakan itu kan? orang-orang bakal berpikiran kau seperti orang tua yang menggebrek anaknya dipenginapan karena ketahuan berhubungan suami istri!" pekik Randi yang tanpa sadar ternyata suaranya sangat keras.


Membuat beberapa orang menahan tawa.


Aleris menghelan nafas seraya tersenyum lelah.


"Kenapa kau tidak memberitahu aku?" sahut Aleris kepada Lidra.


"Aku baru saja ingin memberitahumu, saat Randi tidak ada, tapi ternyata Randi dan tuan datang kepenginapan ini..."


"Kau tidak tahu? isu yang beredar? itu adalah perbuatan Randi!" bisik Aleris.


"Kenapa kau membahas itu terus, aku sudah menyembuyikan identitasku saat menyebarkan itu! jadi kalian tidak usah khawatir!" sahut Randi.


Dengan serentak Aleris dan Lidra membalas ucapan Randi dengan bersamaan.


"Tidak usah khawatir?!?!!!" ucap Aleris dan Lidra bersamaan.


Lidra dan Aleris saling bertatapan.


"Sudah, aku juga akan kembali keistana, kalian pulang bersamaku!"


"Tidak!" sahut Randi melangkah mendekati Aleris.


Aleris mengisyaratkan Randi agar ia bisa mengecilkan suaranya, agar tidak terdengar oleh orang-orang dipenginapan itu.


"Kau bisa pergi sendiri kalau perlu, bawa Lidra!"


"Lalu kau ingin apa? melanjutkan rencanamu?"


Randi mengangguk.


"Kau tidak tahu siapa yang akan kau lawan?" ucap Aleris.


"Aku tidak perduli, aku hanya butuh keadilan, aku hanya butuh pulang kembali kedunia ku, itu saja."


Aleris memutar bola matanya, "Kau ingin tahu? tentang bagaimana orang-orang tersesat itu bukan kerajaan itu yang melakukannya!"


"Kau yakin?" tepis Randi, seraya menatap Aleris dengan tajam.


Membuat Aleris kaget melihat tatapan yang pertama kali ia lihat diraut wajah Randi.


"Kau bisa terbunuh, sebelum kau tahu jawabanya"


Randi tertawa meledek.


"Apakah kalimat itu bisa diganti menjadi 'Aku akan membantumu memecahkan masalah ini' sepertinya kalimat yang ini lebih enak didengar"


Aleris mengigit bibirnya.


"Masalahnya aku juga tidak bisa apa-apa kau bisa lihat sendiri kan?"


"Kau hanya perlu membawa raja kepadaku!" pekik Randi.

__ADS_1


__ADS_2