Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Kisah cinta Pangeran Arvand 2


__ADS_3

Ratu carlota duduk disebuah balkon kerajaan, ditemani secangkir kopi dan sebuah roti lapis, ia menatap indahnya lautan didepan sana, seraya menikmati cahaya hangat yang diberikan oleh matahari pagi, ia memejamkan mata karena cahaya hangat itu, ia harus lebih sering menjemur tubuhnya untuk kesehatannya.


"Namun ditemani kopi tentu tidak akan menjadi sehat" ucap seseorang yang tiba-tiba datang.


"Ah tuan edward....." ratu carlota berdiri dan memberi hormat.


Raja edward melangkah kedepan dan memandangi lautan luas.


"Kemarin aku melihat putri meliana dan pangeran arvand sudah akbar ratuuu.... apa kau tidak ingin kita menjadi besan?" raja edward tertawa.


Namun ratu carlota hanya mengangguk saja, ia sebenarnya tidak ingin memaksa anaknya itu, biarlah kisah cintanya berjalan dengan sesuka hatinya.


"Apakah mereka cocok...?" raja gevarnest datang dan merangkul pundak istrinya itu.


"Aku pikir mereka cocok-cocok saja gevar...kau meragukannya?"


"Arvand bukanlah anak yang mudah didekati...." ucap raja gevarnest.


"Kita juga tidak memaksakan perasaan arvand, biarlah arvand yang memilih calon istrinya sendiri.." sahut ratu carlota.


Raja edward menatap raja gevarnest dan ratu carlota bergantian, lalu ia tertawa.


"Hei ayolah aku hanya bercanda kenapa kalian terlihat serius......apakah rapat bisnis kemarin membuat kalian masih terbawa suasana..."


Raja edward melanjutkan, "Lagi pula putriku juga anak yang pemilih mungkin saja arvand bukanlah laki-laki yang cocok untuknya.


"Aku pikir kita akan lebih sering kesini....." ucap raja gevarnest.


"Tentu....tentu saja tanpa aku suruh, sering-seringlah datang kesini.."


Arvand menatap atap-atap kerajaan, ia masih tergeletak diatas kasur, rasa malas membuatnya tidak ingin beranjak kemana pun, rasanya ia harus beristirahat yang banyak dikamar ini, yang lebih parahnya lagi hari ini sangat panas, membuatnya hanya menggunakan celana saja, ia melepaskan bajunya dan memperlihatkan dada bidangnya.


Sudah beberapa hari ini arvand tidak bisa merasakan tidur yang nyenyak karena tingkah gila wanita bernama meliana, ia benar-benar gila selama tinggal di kerjaan victoria, apa lagi kejadian kemarin, soal ia mendapatkan mimpi yang sangat buruk.


"Gila!!!" gerutunya.


Tiba-tiba pintu di buka, dengan kaget arvand beranjak dan melihat siapa yang datang, ternyata putri meliana yang datang membawakan nampan berisi makanan dan minuman, ia berhenti sejenak menatap tubuh arvand yang masih telanjang.


Arvand menatap tubuhnya dan dengan kilap menutupinya dengan kain.


"Kenapa kau tidak mengetuk terlebih dahulu?"


Putri meliana salah tingkah, "Maafkan aku, aku pikir kau masih tidur..."


Arvand lalu duduk sisebuah tempat duduk kamar, putri meliana meletakan nampan itu.


"Ini....." meliana menyodorkan nampan itu.


Tiba-tiba arvand kembali mengingat kejadian yang menimpanya, bermimpi aneh dengan putri meliana, ia melotot menatap piring berisi makanan, mematung, putri meliana mengerutkan dahinya, ia merasa arvand aneh hari ini, apa yang terjadi? apakah masakan itu ada yang aneh?


"Kau tidak menyukai makanan itu?" sahut meliana.


Arvand masih melongo lalu mengangkat kepalanya, "Aku hanya.....ah sudah lama aku tidak memakan makanan ini.." lalu arvand membuka mulutnya dan memakan dengan lahap.


"Kau masih menolakku?...padahal aku benar-benar menyukaimu"


Tiba-tiba makanan yang masih dikunyah arvand keluar, ia tersedak dan batuk setelah mendengarkan ucapan yang keluar baru saja dari mulut meliana.


"Aku sudah melakukan yang terbaik saat kau disini apakah kau masih tidak bisa menerimaku?" ucapnya tanpa merasa malu sedikit pun.


"Kau masih tidak menyerah? sudah aku katakan aku tidak terlalu memikirkan hal semacam itu..."


Hari itu yang dilakukan putri meliana hanyalah membuat arvand menyukainya, cara meliana yang ampuh adalah menemani kemana pun arvand pergi, itu adalah salah satu ciri khas putri meliana ketika mendekati seseorang, tidak membuat hati arvand meleleh, namun membuat arvand sangat terganggu.


Setelah mandi, ia berharap meliana itu tidak akan menunggunya dikamarnya, setelah melakukan aktifitas olahraga, arvand selalu ditemani dengan meliana, arvand meminta meliana untuk pergi karena ia harus mandi, dan semoga setelah ini ia tidak akan mendapati wanita itu lagi.


Arvand membuka pintu kamarnya, ia hanya menggunakan handuk dibawah tubuhnya, menutupi tubuh bagian bawah, tubuh bagian atasnya ia biarkan telanjang, arvand masih mengacak-acak rambutnya mengeringkan rambutnya dengan kain kecil, ia meletakan kain kecil itu dikasur, ia mengambil sebuah baju dilemari, dan siap melepaskan kain handuk yang ada ditubuhnya, namun sesuatu terjadi...


"Kau tidak melihatku?....." ucap putri meliana yang duduk dibelakang pintu.


Arvand kaget berteriak, "Apa yang kau lakukan!!!!!!!"


Benar-benar tidak sesuai dengan harapan arvand wanita itu menunggunya dikamarnya, sedangkan arvand masih dalam posisi telanjang bukankah ini keterlaluan?


"Ini sudah keterlaluan mel...."

__ADS_1


Meliana mendekat kearah arvand, arvand salah tingkah, tubuhnya tiba-tiba mematung, jari telunjuk cantik meliana menyentuh dada arvand, ia memejamkan matanya, arvand menampar pipinya berharap ini hanya mimpi namun, ini nyata karena terasa sakit.


"Kau menolakku pangeran... tapi cobalah bermain sebentar denganku"


Arvand melotot, "Kau keterlaluan...."


Tangan meliana menyentuh bibir arvand membuatnya berhenti berbicara, "Aku sampai bingung bagaimana bisa membuatmu menyukaiku.."


Entahlah tubuh yang kekar, dan jiwa seperti raja, namun untuk hal seperti ini membuatnya tidak ada energi sama sekali, ia hanya terdiam, dengan jantung yang berdetak.


"Kau lemah kalau soal seperti ini ya.." wajah meliana semakin mendekati wajah arvard, matanya menatap bibir seksi arvand, beberapa kali menyentuh dengan tanganya yang cantik, gerakanya seperti menggoda.


Arvand hanya diam, dia bahkan tidak memiliki energi untuk melakukan hal itu, tidak menunggu lama bibir meliana mendekat dan mencum bibir arvand, meliana memejamkan matanya.


tiba-tiba ada yang aneh dari hatinya, kenapa saat ini ia ingin merasakan ciuman? kenapa ia ingin sekali membalas ciuman ini? rasanya ia ternggelam dalam ciumannya, arvand lalu memejamkan matanya membalas ciuman meliana, tangan meliana melingkar kepundak arvand, sudah seperti ciri khas karena kenikmatan duniawi, kedua tangan arvand melingkar kepinggal kecil meliana, ciuman panas mereka adalah ciuman yang menjadi hal baru bagi arvand, namun arvand seperti diracun ia lancar melakukannya.


Tangan meliana selalu terlihat usil, ia meraba dan ingin melepaskan handuk itu, namun arvand langsung tersadar, ia melepaskan ciuman itu, dan mundur kebelakang.


"Silahkan keluar aku ingin mengganti pakaian" ucapnya membuang muka.


Meliana tersenyum, lalu ia beranjak pergi.


Arvand duduk dengan mematung, apa yang ia lakukan barusan? ino adalah tidak kesengajaan, kenapa ia sangat lincah menggoda laki-laki? ia benar-benar tidak habis pikir, ia seharusnya tidak melakukan itu, ia sudah kelewatan batas, sudah mencium arvand dua kali.


Arvand menemui ratu carlota yang masih berbincang-bincang dengan banyak orang disebuah ruangan kerajaan, ia menarik tangan ratu carlota mengajaknya ketempat yang tidak ramai orang.


"Bunda kapan kita akan pulang?"


"Besok sepertinya...ada apa?" tanya ratu carlota.


Pipi arvand tiba-tiba memerah, matanya menatap berbagai penjuru ruangan itu, ia ingin mengatakanya, namun tidak hal seprrti ini tidak pantas ia bicarakan dengan ibunya.


"Aku hanya bosan" ucapnya berbohong.


"Karena acaranya memang digelar sangat lama, kau sudah sering kali ikut acara ini, tapi kau masih bosan saja? bermainlah dengan putri meliana"


Awalnya wajah arvand menunduk, tapi ketika mendengar perkataan 'bermainlah dengan putri meliana' membuatnya melotot menatap ibunya, entahlah perkataan itu mengingatnya kepada meliana yang juga mengucapkan hal yang sama.


"Ada apa kau?" tanya ratu carlota.


"Ya... kau juga sudah sering bermain dengannya bukan?"


Arvand tertawa terbahak-bahak, seperti orang gila arvand melakukan hal yang diluar sifatnya membuat ratu carlota terlihat sangat kebingungan.


Ia lalu meninggalkan ratu carlota tiba-tiba, ratu carlota melotot kaget karena reaksi yang arvand lakukan saat itu, meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Arvand mengistirahatkan tubuhnya, ia tidak akan memejamkan matanya karena ia takut wanita itu akan menerobos masuk tanpa izin dan melakukan hal yang tidak wajar nantinya, seseorang mengetuk pindan dan membukanya, awalnya arvand kawatir jika itu adalah meliana namun ternyata yang datang adalah raja gevarnest ayahnya.


"Kenapa kau terlihat bosan?" ucap raja gevarnest tiba-tiba.


Arvand memutar bola matanya, ternyata ibunya mengadu kepada suaminya, batin arvand.


"Kenapa kau tanya ayah? jelas aku bosan selain menghadiri rapat aku juga tidak ada kegiatan lain..."


"Kau bermain dengan meliana bukan?" ucap gevarnest seraya duduk dikursi.


Masih dengan posisi dikasurnya arvand menjawab, "Iya" ucapnya singkat.


"Kau menyukainya?"


Mata arvand melotot perkataan apa yang diucapkan ayahnya itu? seaakan semuanya terdengar menjijirkan di telinga arvand.


"Ayah masih tanya? jelas aku tidak menyukainya.


"Baiklah" ucapnya singkat lalu beranjak pergi begitu saja seraya menutup pintu dengan keras.


Siang ini arvand mencari angin disebuah bukti bersama dengan meliana, hal yang sangat berat harus bertemu dengannya lagi, namun raja edward yang memutuskan melakukan ini, dan yang pasti meliana sangat menyukainya, sebenarnya arvand ingin melakukan perjalan naik bukit sendiri, tapi seperti biasa wanita bernama meliana yang dengan senantiasa ingin ikut serta.


"Kenapa kau meninggalkanku...."


Arvand menghelan nafas malas, ia lalu berhenti menunggu, meliana terjatuh karena rasa lelah setelah perjalanan tiga puluh menit mendaki, awalnya ingin rasanya arvand membiarkan dia terjatuh dan terus melanjutkan perjalananya, namun lagi-lagi ia merasa kasihan.


Meliana merengek kesakitan, kakinya memang benar terlihat memar dibetisnya, namun sepertinya hal itu bisa menbuatnya berjalan, apakah hal itu yang membuat arvand harus menggendongnya? apakah putri meliana pura-pura terjatuh agar arvand menggendongnya?


Seperti tahu pikiran arvand meliana berucap, "Tidak, aku memang benar-benar terjatuh karena batu itu...."

__ADS_1


Tanpa disuruh dan tanpa ekpresi arvand menggendong tubuh meliana, menyuruh meliana untuk terbaring dipundak besar arvand, tanpa lelah arvand menggendong meliana sampai dipuncak bukit yang menjadi tujuan mereka.


Arvand menurunkan meliana, "Terima kasih" ucap singkat meliana.


Sebuah bukit yang hijau, dan ada beberapa pohon maple diatasnya yang sedang berguguran dimana membuat arvand dan melianat bisa berteduh, mereka bisa melihat dari atas bukit sebuah lautan biru yang luas, tidak lupa matahari yang akan tenggelam, seperti biasa sinar jingga dan orange bersatu menjadi satu membuat sebuah cerpikan cahaya yang indah diwajah mereka.


"Kau tidak pernah kesini?" arvand bertanya karena ia melihat begitu bahagianya meliana diatas bukit itu


"Aku tidak pernah kesini.....aku pertama kalinya datang kesini"


"Padahal tempat ini adalah tempatmu, kau bisa melakukan sesukamu disini"


"Kau bisa melihat berapa tingginya bukit ini kan? aku saja terjatuh tadi"


Tiba-tiba keheningan datang, hanya ada suara ombak dan suara angin laut, daun maple orange yang berguguran diatas mereka, bukit itu terlihat sangat luas dan sangat indah seperti padang rumbut.


"Kau tidak ingin menjadi suamiku kah? kau masih menolakku?" ucap meliana tiba-tiba.


"Berapa umurmu?" tanya arvand.


"Dua lima tahun..."


Arvand menghelan nafas, "Aku masih sembilan belas tahun.."


Meliana sontak kaget, ia melotot karena ia pikir arvand berumur dua lima tahun sepertinya, tapi ia tidak heran karena tubuhnya yang besar membuatnya terlihag dewasa.


"Aku seharusnya memanggilmu kakak"


"Aku tidak suka dipanggil seperti itu, aku lebih senang dipanggil namaku..."


"Aku belum saatnya memikirkan hal ini....jadi tolong ya mel"


Meliana menundukkan kepalanya, rasanya hancur ketika tahun umur arvand yang sebenarnya.


"Aku senang aku bisa mengajari cara ciuman kepadamu.."


Arvand menatap meliana, ia merasakan malu karena ia mengingat kejadian tadi.


"Kau sudah lincah.." meliana tersenyum.


Sebenarnya itu adalah kenikmatan duniawi, ia akan berjalan dengan semestinya, tidak ada kata yang menggambarkan untuk melatih ciuman, karena ciuman dibentuk oleh dua insan yanh saling mencintai tapi tidak untuk arvand sepertinya memang meliana ahli dalam melakukan itu dan membuatnya tenggelam.


"Terima kasih ya, aku sudah senang bisa mengenalmu, dan sedih karena aku ditolak olehmu beberapa kali, aku tidak akan memaksamu untuk menyukaiku, memang benar aku menyukaimu karena pandangan pertama" meliana mendekat dan duduk disamping arvand.


"Kau tahu? kau mungkin akan diincar banyak wanita disana, tapi aku sudah merebut ciuman pertamamu..."


Mata meliana terlihat indah karena pantulan oleh cahaya matahari yang tenggelam, sebenarnya tidak ada alasan untuk menolaknya, ia memang cantik dan baik memang, tapi arvand terganggu karena ambisinya untuk terus mengejar arvand.


"Kau terlihat cantik..." ucapan itu tiba-tiba keluar dari mulut arvand tanpa arvand sadari, ka kemudia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Meliana tertawa, "Banyak yang bilang aku cantik....tapi memang begitu kah?"


Arvand menggigit mulutnya, "Iya aku jujur..."


"Kau ingin tahu kenapa aku mencintaimu?"


Arvand menoleh menatap wajah mungil meliana.


"Karena kau sangat dingin, entahlah hal yang sulit itu yang membuatku penasaraan denganmu" meliana menatap wajah arvand.


Keheningan datang, mereka masih menatap satu sama lain, wajah meliana mendekat kewajah arvand, arvand memejamkan mata, bibir meliana menyentuh bibir arvand, ada sebuah kenikmatan lagi yang arvand rasakan, benturan lembut yang dirasakan ketika memejamkan mata, ia membalas ciuman itu, ciuman itu berjalan dengan panas, mereka mendengarkan suara ciuman itu.


Tangan arvand menyetuh kepala belakang meliana, membuat meliana menidurkan tubuhnya dirumput, masih dengan posisi berciuman tanpa lepas, arvand masih merasakan benturan bibir yang membuatnya ketagihan, arvand melepaskan ciumannya, masih dengan posisi tubuh arvand diatas meliana, arvand menatap mata indah itu, tangan meliana mendorong kepala arvand untuk melanjutkan adegan berciuman lagi.


Dua insan yang berciuman disebuah bukti ditemank dengan suasana langit sore, matahari yang terlihat bulat dengan jelas, lautan biru dengan ombak yang berlari dengan keras, pohon yang berguguran, bukankah itu cocok untuk diabadikan menjadi seorang pasangan?


Arvand melepaskannya, ia membenarkan posisi duduknya, ia menggigit mulutnya, nafasnya berengah-engah, meliana lalu beranjak bangun dan tertawa.


"Walaupun kau menciumku kau masih tetap akan menolakku kan?"


Arvand menatap meliana, lalu ia mengangguk.


"Hahahaha kau sangat lincah pangeran"


Benar-benar ia lakukan tanpa sadar, apakah itu yang dinamakan mengalir dalam kenikmatan? arvand memang menikmatinya tapi ia tidak bisa menyukai meliana, rasanya untuk mencintai wanita itu bukanlah hal yang penting bagi arvand

__ADS_1


__ADS_2