
Leon masih menundukan kepalanya seraya menangis tersedu-sedu, ia bahkan tidak memperdulikan Aleris yang masih berkelahi disana. ia tetap menangis didepan tubuh Mahagaskar yang tergeletak.
Bahkan tidak ada hal istimewa selama ia hidup berdampingan dengan Mahagaskar, namun saat kehilangan rasanya sangat sakit untuknya.
Aleris terlempar jauh dan menabrak reruntuhan rumah warga, mulutnya sudah penuh dengan darah dan luka diwajah yang sangat banyak, begitupun dengan Auvamor, bahkan dengan hantaman Aleris, wajah Auvamor sudah babak belur ditambah ia juga kehilangan beberapa giginya, tenaga Auvamor terkuras sangat banyak ia sama-sama tergeletak dengan luka fisik yang banyak.
Situasi dikota sudah semakin memburuk, para monster bahkan sudah semakin mendekati kerajaan, Auvamor berlari menuju raksasa itu berada namun lagi-lagi ia melihat bahkan para raksasa anak buahnya sudah tak bernyawa dan mati.
"Sialan kau memiliki tubuh besar sialan! kenapa kau sudah mati!" pekik Auvamor.
Saat Auvamor menoleh untuk mendekat kearah Aleris, Randi dengan wujud drakula tiba-tiba datang dihadapan Auvamor seraya memangsanya, drakula itu meraih tubuh Auvamor dengan gigi runcingnya, membawa terbang keatas.
Auvamor berusaha melepaskan diri, ia akhirnya mengeluarkan bola api kekuataanya hingga bola api itu masuk kedalam tenggorokan Randi, dengan spontan ia melepaskan Auvamor, hingga Auvamor terjatuh. Randi mengamuk dan berteriak hingga bola api itu keluar dari mulutnya.
Agil dan yang lainnya masih berdiri didepan gerbang, mereka masih berdebat dengan Levaron disana, Argus menyuruh para prajurit yang menjaga kerajaan untuk meledakan senjatanya kearah para raksasa tersebut, tapi ditolak oleh Levaron.
"Dengar tuan, raksasa itu tidak memiliki kelebihan kekuataan apa-apa mereka hanya berjalan sangat lemban dengan lemparan saja, sekali dilempar dengan peledak bisa mati!" sahut Argus.
Levaron mendekat dan menentengkan kedua tangannya.
"Lalu kenapa kalian datang kesini?" ucap Levaron.
Agil dengan menahan emosinya lalu mendekat, "Sialan! tidak bisakan kita masuk? ada hal penting dari ini!"
Malucia spontan memeggang kedua pundak Agil, untuk menenangkannya. Vin yang masih gelisah karena melihat kawanan monster kelelawar yang tidak ada habisnya. Vin mendekat kearah Kai.
"Kemana perginya para Zero itu? kenapa kawanan monster ini masih saja terbang keudara?"
Kai yang juga menyadari itu melihat kearah atas, tapi masih ada beberapa para Zero yang menyerang. Tiba-tiba sebuah pesawat muncul dari balik kerajaan, dengan senjata peledak dan menghancurkan segerombolan para raksasa hingga mati.
Ada beberapa pesawat yang datang dan terbang keudara, salah satu diantara pesawat tersebut ada Rine dan Varegar yang mengendarai. Senjata dari balik pesawat meluncurkan senjata peledak dan mengenai para raksasa yang lemah tersebut hingga hancur tak berbentuk.
__ADS_1
Agil dan yang lainnya terkejut saat melihat pesawat itu datang seraya meluncurkan senjata peledak yang sangat kuat.
"Siapa dia, Gil siapa?" tanya Gilang berteriak.
Agil menatap Gilang lalu ia kembali menatap para pesawat itu yang datang, betapa takjupnya mereka saat pesawat itu datang dengan sangat menawan dan perkasa.
Levaron yang panik ia berlari masuk kedalam, Agil yang melihat Levaron masuk kedalam kerajaan ia mencoba mengikutinya namun lagi-lagi para prajurit yang menahanya.
"Apa yang kalian lakukan!!!!!!! serang para kawanan kelelawar itu sialan!!!" teriak Silas.
Padahal senhata peledak yang sudah siap melucur untuk membasmi para monster yang sudah berada didepan mata namun para prajurit tak kunjung menembak-nembak, dengan rasa emosi yang luar biasa. Silas menatap Ace dan Ned, mereka lalu berlari menggantikan posisi prajurit itu dengan cepat mereka menembaki para kawanan monster kelelawar yang mulai mendekat.
"Rasakan ini!!!!!!!!!"
Agil dan Gilang masuk kedalam kerajaan diikuti yang lainnya, namun lagi dan lagi, mereka ditahan oleh para prajurit. Silas menoleh apa yang terjadi.
"Sialan!" teriak Silas
Vin masih mencari keberadaan pangeran Arvand dan Tea, ia menoleh ke belakang beberapa kali, ia tidak melihat keduanya datang kekerajaan.
Gilang masih terdiam, ia lalu menghantam dengan satu gepalan tangannya kearah wajah prajurit itu, karena sudah terlalu lama emosi yang Gilang pendam.
Agil dan Argus, saling menatap. Tapi prajurit itu masih bisa berdiri dan kembali menyerang Gilang.
Vin menatap kearah atas dimana para pesawat itu masih melayang meledakan peledak ditengah-tengah gempuran para monster, Vin berlari menuju ketempat awal pertama ia bertemu dengan Arvand dan Tea.
***
Tea membawa beberapa tubuh para Zero yang sudah tak bernyawa ditempat aman, ia membawa kesebuah gubuk, dan Tea bisa melihat berbagai luka yang sangat mengerikan ditubuh mereka.
"Padahal mereka sangat sakti bagaimana bisa?" gumam Tea.
__ADS_1
Tea menatap Arvand dan kedua para Zero yang masih berusaha menyerang monster kelelawar, Tea meraih saku celananya dan melihat ada tiga botol disana. Tea masih terheran-heran jika monster kelelawar ini tidak bisa mati melainnkan hanya bisa disegel didalam botol.
Para Zero itu menyerang dengan kekuatan seperti cahaya flas yang dimana cahaya itu bisa mengikat kedalam botol, tapi tidak semudah yang dibayangkan. Arvand masih sibuk dengan busur panahnya, beberapa kali tembakannya tidak pernah meleset, hal itu adalah salah satu cara agar tenaga para monster semakin memburuk.
Tea berdiri dan melihat para raksasa yang masih banyak digerbang kota Majestic, ia mengucapkan syukur beberapa kali saat melihat pesawat datang dan menyerang dengan peledak membuat segerombolan raksasa itu mati.
Saat Tea kembali duduk, seraya mengobati luka dikedua tangannya tiba-tiba salah satu Zero menyentuh tangan Tea membuat Tea tersentak. Tea menoleh.
Zero tersebut masih bisa tersadar walau luka sayatan dileher dan darah yang dimana-mana, ia mengambil sebuah kertas dari sakunya dan menyodorkannya kepada Tea.
"Ada apa ini?"ucap Tea.
"To...long.. sam...paikan kepada...istriku...yang masih...mengandung, diaa..tinggal dikota Majestic, nama istriku Meta, sampaikan surat ini...." ucapnya seraya menahan sakit, dan setelah ia berucap, ia meninggal dunia.
Tea menundukan kepalanya, betapa sangat diagungkan seorang Zero di negeri ini, bukankah selama hidup dan separuh hidupnya hanyalah seorang yang mengabdi pada negeri dan membasmi semua hal jahat, mereka semua mati untuk negeri.
Tea langsung menaruh surat itu kesaku celananya, ia berdiri dan kembali menolong Arvand dan para Zero, Tea mengambil busur panahnya dan mulai menyerang, ia langsung berhasil menembak dengan mulus, dimana busur itu menancap dimata kelelawar tersebut hingga terjatuh.
Zero yang melihat langsung berlari mendekat dan melakukan mantra hingga monster tersebut berbentuk asap dan masuk kedalam botol.
"Pangeran!! anda bisa pergi sekarang" ucap Zero tersebut.
Arvand menggeleng cepat, "Aku ingin membantu kalian sebisa mungkin..."
Namun saat Zero itu berjalan mendekat kearah Arvand, tiba-tiba monster kelelawar tersebut mendarat dan memangsa Zero itu dengan cepat. Arvand dan Tea tersentak kaget begitu pun para Zero yang masih berada didekat merreka berdua, saat para Zero itu akan menyerang kembali namun ditahan oleh Arvand.
"Tolongg bawa ini!" pekik Zero tersebut seraya melempar botol, Arvand berhasil meraihnya.
Zero tersebut berhasil masuk kedalam rongga tenggorokan sang monster kelelawar tersebut, Arvand kemudian langsung menyodorkan busur panahnya namun saat ia ingin menembak sesuatu menyalip tubuhnya dan terbang memangsa kelelawar yang memakan Zero tersebut.
"Vin!!!!!" sahut Tea.
__ADS_1
Arvand terbelalak, Vin dengan wujud monster kelelawar itu memangsa para kawanan, menyemburkan api hingga mereka jatuh kebawah, para Zero yang melihat langsung mendekat dan membaca mantra mereka berhasil memasukan monster didalam botol.
Vin terus menyemburkan api disegerombolan monster tersebut hingga tak tersisa, dan Zero itu juga beberapa kali berhasil memasukan monster kelelawar ini didalam segel, sampai mereka tersadar mereka sudah menyenggel banyak, dan masih ada satu yang tersisa diatas.