
Aku berteriak memukul pundak dokter itu, dan mendorongnya aku berlari menuju ruangan itu, aku melihat tubuh ibu tergeletak kaku disana, aku memeluknya aku menangis sejadi-jadinya, aku berteriak.
"Bu kenapa? bangun bu kenapa tidur, bu? kenapa ibu menyusul ayah katanya mau jaga agil sampai agil sukses, bu kenapa akhirnya ibu menyusul ayah? sebegitu rindunya ya dengan ayah? lalu agil disini sendiri bu"
Aku masih menangis, perasaanku hancur berkeping-keping, aku memukul dada dan kepalaku berharap ini hanya mimpi, namun ini nyata, aku masih tidak bisa menerima ini, aku kembali menghampiri dokter dan menyuruh dokter untuk memeriksa ibu kembali, tapi aku malah ditahan, aku mengamuk berusaha melepaskan genggaman orang-orang itu yang menahanku, aku seperti diirasuki setan aku benar-benar kehilangan kewarasanku saat itu, yang aku pikiran kenapa ibu secepat ini meninggalkan aku, apakah ibu sangat rindu ayah? sampai harus menyusulnya seperti ini?
Beberapa hari setelah pemakaman ibu, aku masih terdiam merenung, masih merasakan hancur yang luar biasa dihatiku, aku selalu menangis setiap hari tidak pernah berhenti, bagaimana tidak? setelah kepergian ayah sekarang kepergian ibu? apakah itu membuatku terlihat baik-baik saja? aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri, kenapa aku selama ini egois? kenapa? disaat orang tua yang aku butuhkan selama ini meninggalkan kamu, bahkan orang tua belum melihatmu sukses, aku selalu mikir kenapa ya tuhan itu tidak adil, kenapa ya aku selalu tidak beruntung? disaat keadaanku yang berantakan ini, om burhan dan refa yang menenangkanku karena beberapa hari ini aku tidak makan aku hanya menangis dikamar.
Aku turun dari kamar, "Kalau bukan gara-gara kau ibu tidak mati!!!!"
"Tenang gil tenang"
"Kenapa kau menikah dengannya ha? kau pikir kau melakukan itu membuat ibu terlihat bahagia?"
"Kenapa kau malah menyalahkan ayah, seharusnya kau intropeksi diri, kau bahkan belum bisa membahagiankan ibumu!!" tiba-ttiba refa menyaut.
"Apa?"
"Benarkan? ini semua salahmu kenapa, kenapa kau tidak bisa berpura-pura saja lah untuk terlihat menyukai ayah, aku lihat-lihat setelah pindah rumah disini, ayah yang selalu baik kepadamu malah dibalas buruk olehmu"
"Refa tidakkk, pergi kemar!!" ucap om burhan.
"Kenapa ayah masih mau tinggal dengan dia disini? dia bukan anak ayah, ia anak ibu retno, ibu retno!! bukan siapa-siapa ayah!!"
"Refa!!!!" teriak om burhan, baru pertama kalinya aku melihat om burhan telah habis kesabaranya.
"Masuk kamar!!!!"
Refa beranjak pergi, sedangkan aku masih mematung didepan om burhan, di menepuk pundakku.
"Kamu boleh menyalahkan om, memang ini salah om, tapi ingat kejadian yang menimpa ibumu adalah takdir gil, sebelumnya om ninta maaf membuat agil seperti ini, tapi ingat takdir tidak bisa diubah dan dibuat-buat, om merasakan seperti yang dirasakan agil, tapi tolong jangan seperti ini ya..." ucapnya lirih, lalu ia beranjak melewatiku, namun ia tiba-tiba berhenti, dan membalikan badan.
"Oh iya, kamu bisa memanggil om dengan sebutan ayah gil..." lalu is beranjak pergi.
Aku tahu, ia sangat baik, aku tahu itu, tapi kenapa? kenapa aku merasa bahwa sebaik-baik, seramah-ramahnya dia, dia seperti tidak bisa memggantikan posisi ayah.
Tapi setiap malam aku selalu memikirkan tentang hal ini, diumurku yang sedewasa ini kenapa aku tidak bisa bersikap dewasa, aku tidak menyalahkan om burhan, aku tahu ini takdir tapi apakah kalian juga akan merasakan seperti yang aku rasakan? sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Aku duduk dikursi taman malam itu, suasana ramai kota yang aroma hangat jagung bakar disampingku menemani kesendirianku, lampu kota yang terlihat menyinari jalanan, sorot warna kuning yang membuat suasana semakin menjadi haru, jalanan kota sedikit sepi karena hari sudah menjelang malam, pohon entahlah apa itu, berguguran diatasku, daun kuningnya berjatuhan diwajahku, ah wajah yang kusam dan banyak jerawat batinku.
Aku mengusap-usap wajahku dengan syalku, kulitku gampang berminyak disituasi seperti ini, namun setelah mengusap, tangan yang sedikit kekar menyodorkan tisu tepat didepan wajahku.
"Kotor gil, masak pakai syal sih" ucap randi.
Benar kedua sahabatku datang, tanpa diundang mereka seperti tahu seperti mendapatkan sinyal dariku, randi dan gilang duduk, dan menirukan gayaku, menghembuskan nafas panjang dan memejamkan mata, ya! itu kebiasaanku.
"Wajahmu jelek ya sekarang" ucap gilang, aku hanya tertawa.
"Lakukanlah dengan lapang dada!!!" randi memukul kepalu pelan.
Sudah dua bulan kepergian ibu, aku sudah bisa sedikit-sedikit menerima dan ikhlas atas kepergianya, justru hal ini lah yang membuatku harus semakin kuat.
"Lama ya gil kita gak ketemu kau"
"Kalian sibuk pastinya" ucapku.
"Sesibuk-sibuknya kita, kita gak akan pernah lupa punya teman yang kuat kayak kamu" ucap randi.
Malam itu ditemani jagung bakar dan kopi kami bercanda dan bercerita semasa sekolah SD dulu, tentang sama kecil, sebenarnya itu hal yang tidak wajar seorang gerombolan laki-laki bercerita tentang masa kecil, yang seharusnya dibicarakan adalah tentang wanita.
Ya, randi mula-mulanya ia tidak lama ini sedang menjalin hubungan dengan wanita yang berkerja di pramugari kereta, katanya mereka berkenalan di aplikasi pencari jodoh, saat itu mereka melakukan jaanji untuk bertemu, setelah mereka bertemu, sepertinya memang ada yang tidak cocok, karena pekerjaan randi dibengkel, membuat wanita itu memutuskan untuk berpisah.
Tidak habis berpikir, apakah ada seorang wanita yang melihat pasangan dari pekerjaannya?
Sekitar jam dua belas malam, kami bertiga masih berada disuatu tempat, benar. Ancol. Tempat kesukaan ayah dan ibu.
"Bu perkataan ibu waktu itu kenapa benar terjadi? aku, randi, dan gilang hanya kami bertiga yang datang kesini"
Randi dan gilang mengajakku untuk bermain wahana disana, tapi aku sedikit tidak ada mood, aku hanya bisa menunggu mereka saja, rasanya aneh kesini tanpa ibu.
Walaupun bisa bangkit lagi dan ikhlas, aku berterima kasih karena aku masih hidup sampai saat ini, dan untuk ayah terima kasih sudah menemani ibu disana, dan untuk ayah burhan dan refa, terima kasih sudah menjaga ku sampai detik ini.
__ADS_1
Aku meletakan sepatu ku di rak depan rumah, aku duduk sebentar dikursi, dan membuka handphone ku, ada pesan disana.
"Gil ayah dan refa pergi dulu, harus mengantarkan refa pagi-pagi sekali untuk cek kesehatan, hari ini refa ada kursus jadi harus ada data kesehatan, ini sudah jam tiga pagi, ayah sudah menyiapkan nasi goreng di meja makan, selamat makan, dan jangan lupa untuk tidur ya!"
Setelah membaca aku menutup handphone dan masuk kerumah, benar ada nasi goreng, dan ada mie juga disana, aku sedikit tidak ***** makan, tapi aku akan membawa nasi goreng dan mie nya ke atas, ke kamarku.
*Klunting!!
Suara handphone ku berbunyi.
"Apakah anda yang mendaftar akun game ini? selamat anda mendapatkan kupon senilai 100rb, ambil dan jangan lewatkan kesempatanya!!"
"Hais" agil membanting pelan handphone itu ke arah kasur.
"Tidak, tidak percaya! sudah banyak pesan seperti itu disana, tapi tetap aku ditipu-tipu lagi"
Sudah hampir dua jam, agil masih bolak-balik mengatur posisi tubuhnya, beberapa kali berusaha memejamkan mata namun kembali lagi ia tidak bisa tidur, sampai matahari muncul, sinarnya menabrak masuk begitu saja dijendela kamarnya.
Akhirnya setelah usahanya itu, agil terlelap, namun ketika masih tertidur dengan lelap, ia bermimpi ia melihat secara langsung tragedi kecelakaann itu, hal itu membuat agil terbangun dengan kaget.
Nafasnya terengah-engah keringat bercucuran dimana-mana, tidak habis pikir ia bermimpi seperti itu, kembali lagi ia teringat tentang mendiang ibunya, disaat hatinya ikhlas kenapa hal seperti ini menghantuinya.
Ditersungkur dikasurnya, masih diam tak bergerak, mimpi seperti itu membuatnya muak, agil bangkit dari kasur dan beranjak untuk mandi.
Didalam bar, randi masih sibuk dengan minumannya dan mabuk, sedangkan gilang sibuk bermain game dengan handphonenya, pikirnya mereka memiliki dunianya masing-masing.
Agil membuka handphonenya dan mendapat pesan texs dari inbox aplikasi gamenya.
"Kebetulan kau ada dibar ya!" tulis pesan itu.
Agil tidak menggubris karena hal semacam itu sudah wajar didunia pergame-an.
"Kenapa kau tidak membalasnya" lanjut pesan itu.
Agil yang muak lalu membalasnya, "Kenapa?"
"Akhirnya aku bertemu dengan lordgil, apakah namamu benar lordgil? nama game mu unik"
"Kau dimana memangnya?"
Agil mengangkat kepalanya dan mencari keberadaanya, ah benar ada disana, dan itu seorang wanita, ia lalu beranjak mendekat.
Wanita itu memakai hoddie dan jeans biasa, tidak seperti wanita nakal ketika bermain dibar, rambutnya panjang berwarna coklat dan ia biarkan terurai.
"Senang bertemu denganmu!" ucap wanita itu seraya menyodorkan tanganya untuk berjabat tangan, agil menerimanya.
"Akhirnya aku bisa bertemu dengan pemain yang handal, lordgil" wanita itu duduk didepan agil, agil hanya merasa canggung dan kikuk.
"Aku noze!!"
"Aku agil"
"Sudah beberapa kali bermain dengan kamu tapi aku tidak pernah lihat wajahmu"
"Terus kau kenapa tahu aku ini lordgil?"
"Aku melacak lokasi mu, maaf sebelumnya karena aku pensaran denganmu" wanita bernama noze itu tertawa.
Agil hanya mendengarkan cerita dari wanita itu, wanita itu memang sudah beberapa kali bermain game online dengan agil, tapi karena hanya sebatar main bareng itu tidak membuat mereka bertemu atau kenal sebagai teman online, karena agil sendiri malas untuk menanggapi pesan dari orang-orang yang diajak main bareng, tapi kali ini ia bisa bertemu wanita yang bernama noze itu yang sempat beberapa kali bermain bersama agil akhir-akhir ini.
"Kau sebegitu penasaraannya ya ahhaha" tanya agil.
"Iya karena kau selalu menang dan aku kalah"
Randi dengan postur tubuh yang sudah berantakan karena mabuk mendekati wanita itu.
"Siapa dia gil??? pacarmu ya! wah kenapa kau tidak memberitahuku selama ini"
"Kau tidak usah ikut campur bodoh, pergi dan urusi minumanmu itu!" ucap agil.
"Kebetulan aku juga tinggal disekitar sini"
__ADS_1
"Oh ya?"
"Kapan-kapan bisa bertemu lagi?" ucap wanita itu, tanpa basa-basi agil mengiyakannya, wanita itu pamit pergi, dan beranjak pergi begitu saja.
Gilang mendekat, "Dari tadi aku nunggu wanita itu pergi karena gak sabar mau tanya gil, dia pacar mu kah?"
Agil memutar bola matanya, "Kenapa setiap ada wanita yang berteman denganku selalu dikaitkan dengan pacar"
"Ya siapa tahu"
"Dia teman online ku, kenal karena pernah main bareng"
"Cantik jugaaa!!"
Memang benar agil mengakuinya, wajahnya kecil memang tapi sekilas seperti pevita pearce, tapi ini lebih menonjol dan terlihat lebih garang dari pevita pearce, puft.
Dia tidak begitu hebat memang dalam bermain, selama sesi bermainnya agil selalu skip jika lawanya sudah tidak bisa diajak adu lagi, biasanya memang banyak wanita yang bermain dan kalah begitu saja walaupun permainan itu baru saja dimulai, tapi entahlah setiap agil bermain dan bertemu dengan unsername ozeklan, ia ingin membantu dan mengajarinya, dan tidak terduga bahwa itu adalah wanita bernama noze, mereka akhirnya bertemu!
Diperjalanan sudut kota, dijalan tikus, jalan setapak yang kotor dan lembab, mareka berjalan dengan sempoyongan, membantu randi berjalan randi yang sudah sempoyongan tidak aturan merangkul pundak agil dan gilang yang sudah terlihat kelelahan.
"Sialan" gerutu gilang.
"Istirahat dulu deh" ucap agil.
"Gil...." suara serak bergema memenuhi tempat itu, tempat sempit yang diempit oleh gedung-gedung berjajar tinggi.
"Wanita itu..... wanita ituuu siapaa gil.... kenapa cantik" ucap randi dengan suara khas orang mabuk.
"Sudah aku katakan, itu bukan urusanmu kenapa kau masih bertanya?"
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kauu sudaah memiliki pacarr gil"
Agil dan gilang hanya memutar bola mata, ngiggau orang mabuk adalah hal yang sudah tidak asing mereka dengar, apalagi seorang randi.
"Brengsek!!" tiba-tiba randi mengumpat.
"Kenapa wanita ****** itu menolak ku hee? sialan apa kau itu cantik? tidak sama sekali"
"Sebenarnya secantik apa wanita itu?" tanya agil kepada gilang.
"Lumayan gil, kau bisa membayangkan pramugari kereta seperti apa"
Agil tersenyum.
"Dia takut sama kau, karena tubuh besar dan kekar mu, apalagi wajah tampan dan berwibawa mu itu!!"
"Bullshit!!"
"Lhoh!? kau berwajah besar dan tampan ran, siapa yang gak bakal kepincut"
Gilang menyaut, "Sebenarnya wanita itu suka dengan postur tubuh randi dan wajahnya yang tampan tapi karena pekerjaan randi ia jadi menolaknya"
"Benar-benar wanita ******!!"
Bagi agil dan teman dekat randi, randi memang dikenal memiliki tubuh yang besar dan kekar, hal itu yang membuat semua orang salah paham sering kali banyak orang yang mengira bahwa randi seorang tentara, tapi ya aslinya begitu lah.
Banyak wanita yang menyukainya, tapi randi adalah seorang pemilih.
"Susah jadi randi" ucap agil.
"Tau sendiri lah ya gil, pemilih bagaimana lagi?"
Selain sibuk bekerja, randi memang gemar berolahraga memang, sering kali melakukan kegiatan work out dirumah, dan tentunya agil juga melakukan hal itu walaupun sering-sering berbeda dengan gilang yang lebih memilih makan dan sibuk bermain game.
"Kau juga banyak wanita yang menyukaimu"
"Tapi tidak aku pedulikan hei, urusanku saja aku sudah muak apa lagi mengurusi hal cinta semacam ini"
"Salah besar kau gil, hambar ketika tidak ada bumbu-bumbu cinta di sela-sela hidup mu yang pahit"
"Dengat ya lang, ketika masalahmu yang begitu rumit dan datanglah serpihan cinta, apakah cinta itu 100% selalu terlihat indah?"
__ADS_1
Gilang hanya memutar bola mata.
"Santai lang, akan ku carikan untukmu, karena untuk diriku adalah tidak"