Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Menyelamatkan Aleris


__ADS_3

Agil berhenti dan meletakan tubuh Jay ke tanah yang tidak kasar dengan hati-hati, Tea duduk seraya meraih kakinya yang masih sakit, Agil mendekat seraya membawa perban.


Mereka telah sampai disebuah perkebunan buah, dan berhenyi sisebuah halaman yang sedikit luas, dikelilingi oleh semak-semak. Bahkan mereka masih mendengar teriakan warga dan suara mengerikan dari sang monster.


Agil mengangkat kaki Tea, dan memperbannya, namun Tea menepis.


"Aku bisa sendiri" ujar Tea.


"Toh ini lukas gores saja, masih bisa jalan..." ucap Tea.


Jay menatap kakinya, berusaha menggerak-gerakan, namun betapa kagetnya saat kakinya tidak terasa apa-apa bahkan gerakan kaki yang Jay buat tidak membuat kakinya bergerak. Ia kaget dan segera memukul kakinya, dan benar tidak terasa sama sekali.


Agil mendekat, "Ada apa?"


Jay menunduk seraya mengeluarkan air matanya.


"Kaki ku tidak terasa sama sekali...."


"Keram kah?" sahut Tea.


Namun Jay menggeleng tidak. Agil memeggang kaki Jay dengan erat, namun kembali lagi dengan menangis Jay menjawab.


"Masih tidak terasa....."


Agil menatap Tea, Tea mendekat ia menyentuh kaki Jay.


"Tidak, tidak terasa sama sekali...." gumam Jay seraya menangis.


Agil tiba-tiba memeluk Jay yang masih terisak, ia kemudia tidak bisa menahan lagi saat Agil memelik tubuhnya, ia terisak didalam pelukan Agil.


"Tidak Jay, ini hanya sementara Jay, habis ini, bisa kerasa lagi...." ucap Agil.


Lalu Agil mencium rambut kepala Jay.


"Gil....." sahut Tea.


Agil melepaskan pelukannya, lalu duduk disamping Jay.


"Ada apa?"


"Siapa tadi?" tanya Tea.


Agil tersadar kembali, saat ia teringat Vin.


"Ah!" pekiknya.


"Teman baru Randi, katanya ia bertemu dengan Randi disini..."


"Tidak, kenapa dia bisa berubah menjadi monster? apakah dia seperti mereka? salah satunya?" sahut Tea.


"Kalau dia salah satunya, mengapa menyelamatkan mu?" ucap Agil.


"Jujur, aku juga kaget saat dia berubah menjadi monster!" lanjut Agil.


Tea tersungkur, ia memejamkan matanya.


"Apa yang sedang terjadi sih?" gumamnya.


Agil berdiri dan melangkah kearah depan, Jay dan Tea bisa melihat punggung besar didepan wajah mereka.


"Ini adalah masalah dengan kerajaan Majestic...sepertinya"


"Saat aku melihat kelelawar paling besar terbang menuju kekerajaan.." lanjutnya.


***


Arvand tak henti-hentinya mengumpat tentang masalah yang baru saja ia lakukan, bukankah ini sangat benar kenapa ia harus menerima pukulan keras dari sang ayah.


Fay memberikan obat alkohol untuk meneteskan kepada luka Arvand, agar cepat mengering, lalu ia memberikan perban potongan untuk menutup luka dibibir Arvand, namun Fay melakukan dengan buru-buru, membuat Arvand kebingungan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Arvand melihat Fay mengobati lukanya diwajah dengan buru-buru.


"Ayo, kembali keruangan itu, selamatkan Aleris...."


Saat Arvand ingin menjawab, matanya melihat lurus kesebuah jendela, Arvand kaget ketika ia melihat sesuatu yang besar terbang diudara. Fay terheran dengan Arvand.


"Ada apa?" tanya Fay.


Arvand berdiri dan mendekat kearah jendela, Fay itu mengikutinya. Mereka kaget saat melihat monster kelelawar besar yang terbang dilangit kota Majestic.


Arvand melangkah mundur, "Vand, sepertinya kita butuh Aleris...." gumam Fay.


Arvand masihh terdiam.


Apakah ini sudah saatnya?


Arvand kembali tersadar, saat pukulan Fay mendarat kepunggungnya.


"Sepertinya memang kita butuh Aleris...." gumam Arvand.


"Aku tidak tahu siapa monster itu, tapi bukankah Aleris harus tahu ini?" sahut Fay.


Tanpa menjawab pertanyaan Fay, Arvand seraya menggadeng tangan Fay beranjak pergi menuju ruangan sel itu.


Aleris masih tak sadarkan diri, wajahnya yang penuh memar dan darah yang kering, kedua tanganya diikat dengan rantai, dan tenaganya yang sudah habis tak tersisa.


Ia tersentak saat mendengar suara bom, yang sangat keras, ia tersadar dan mencoba melepaskan kedua tangannya yang terikat rantai. Aleris tahu akan sangat mustahil untuk melepaskannya, Bahkan sampai suaranya habis untuk berteriak.


"Lang...." rintihnya pelan.


Karena kejadian Arvand ingin menyelamatkan dirinya, Arvand jadi kena imbasnya, ia juga menerima banyak pukulan dari ayahnya, hingga pada akhirnya Gilang kembali dikurung, begitu pun dengan Aleris.


Aleris mendengar suara langkah kaki yang berlari kearahnya.


"Ris!" sahut Fay.


Fay datang dengan Arvand, kedua tangan Fay memeggang sel itu.


Dengan suara yang habis Aleris menjawab, "Bagaimana caranya? tidak!kalian akan terkena imbasnya"


Tiba-tiba Arvand mendubrak sel itu, hingga suaranya memenuhi ruangan bergema tersebut.


"Diam bodoh!" pekik Arvand.


"Karena kuncinya dibawa oleh sang raja, maka akan aku buka paksa dengan palu!" sahut Arvand.


"Hentikan!" teriak Aleris.


Membuat Arvand dan Fay tersentak kaget.


"Apa kalian tidak lihat? bagaimana mereka memperlakukanku? kalian akan sangat menderita setelah ini....." sahut Aleris.


Fay menundukan kepalanya.


"Sepertinya, aku harus memberitahumu sekarang...." sahut Fay.


Aleris terdiam menatap Fay.


"Ada monster yang datang ke kota...."


Aleris terbelalak, walaupun memar dimatanya lebih besar dari matanya yang terbelalak. Ia melotot dan kembali teringat kenangan masa lalu, dan suatu yang membuat pikiranya menjadi gila selama ini, kerena memikirkan teror iblis yang datang tiba-tiba, tentu tentang iblis yang selalu menganggu semua orang kerajaan disini.


Sungguh? mereka yang datang? apakah ini sudah waktunya? apa yang mereka lakukan?


"Aku pikir, kau sangat tahu tentang ini, jadi saat kau lepas mungkin tidak masalah, aku juga akan melepaskan teman-temanmu itu....." sahut Arvand.


Aleris mencoba berdiri namun, rantai yang mengikat kedua tanganya dilantai menahannya.


"Lepaskan aku saja dulu, mereka nanti......" sahut Aleris.

__ADS_1


Dengan keras, palu itu mendarat ke gembok pintu dengan mulus, hingga butuh beberapa pukulan saja, gembok itu terbuka. Fay berlari begitu saja mendekat kearah Aleris.


"Rantainya juga ini..." sahut Fay.


Arvand melihat rantai yang mengikat ke kedua tangan Aleris. Ia menggeleng.


"Kenapa?" tanya Fay.


"Rantainya sangat besar, apakah bisa dengan palu?" ucapnya.


Aleris menghelan nafas.


"Kau punya kekuatan kan?" rintih Aleris.


Arvand membuang muka, nyengir.


"Kau meledekku?" ucap Arvand bercanda.


Aleris tersadar, jika Arvand tidak mempunyai kekuatan sendiri didalam silsilah keluarganya.


"Sepertinya aku tidak akan marah lagi jika kau berkata seperti itu, kau lebih menderita dibanding aku...." sahut Arvand.


Fay memejamkan mata seraya menghelan nafas pasrah.


"Kau mau kita ketawan? cepat bodoh..."


"Ris apa bisa pakai ini?" tanya Arvand seraya menunjuk palu yang ia pegang.


Aleris hanya mengangguk, tapi kemudian ia menjawab.


"Coba saja dulu......" rintih Aleris.


Fay berdiri, lalu dengan pukulan pertama palu itu mendarat dengan keras ke rantai, namun tidak ada perubahan, suara pukulan itu bahkan sangat keras membuat suaranya bergema diruangan itu.


"Jika kalian ketahuan? apa yang akan kalian lakukan?" ujar Aleris.


Fay menatap Arvand, lalu menyenggol lengan Arvand. Arvand dengan ragu-ragu berkata.


"Aku bisa menyelesaikannya dengan baik..." ucap Arvand.


"Apa? kau mengumpat dan merintih kesakitan terus tadi? apa aku bisa mempercayaimu?" sahut Fay.


"Bagaimana lagi? kau bisa menyelesaikannya?"


Fay membuang muka dengan raut wajah kesal.


"Coba, coba saja dulu.."


Tiba-tiba langkah seseorang datang, mereka terdiam sejenak, dan menunggu seseorang itu memperlihatkan dirinya. Fay bersembunyi dibalik tubuh Arvand yang besar. Dan, benar, seorang Varegar ia datang dan berhenti didepan sel, dan menatap mereka dengan nyengir.


"Pangeran lagi?" ujarnya.


Arvand lalu mendekat kearah Varegar, "Kau tidak menghormatiku?" ujar Arvand.


Dengan tatapan yang mengerikan, Varegar menundukan kepalanya.


"Ada apa pangeran? kau ingin menyelamatkan Aleris lagi?"


Arvand membuang muka, Varegar mendekat.


"Tidak kapok dengan luka diwajahmu? mau lagi?" bisik Varegar.


Arvand masih terdiam, ia kembali menoleh kebelakang menatap Aleris dan Fay yang masih menundukan kepala mereka.


"Masalah Aleris biarlah menjadi masalahnya sendiri jangan ikut campur..." ucap Varegar.


Tiba-tiba, datang dari balik pikiran Arvand. Ia mengangkat palu yang ada ditangannya, dan melempar kearah Varegar saat Varegar masih asyik berbicara, palu itu tepat mendarat kearah kepala Varegar dan mengenainya dengan keras, hingga membuat Varegar tersungkur jatuh tak sadarkan diri.


Arvand melotot, dan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Gila, gila, gila, makannya jangan banyak omong!" ujar Arvand.


Lalu ia mendekat, dan mengambil kunci dari saku baju Varegar, dan segera melepaskan ikatan rantai dari kedua tangan Aleris.


__ADS_2