
Vin bergegas menyelamatkan Tea, ia berlari dan langsung merubah wujudnya menjadi monster kelelawar, Arvand yang mencoba menghindar terkejut saat meihat wujud Vin yang berubah menjadi monster. Tea yang mencoba menghindar namun beruntung Vin yang cepat datang dan menyerang monster kelelawar yang mencoba memangsa Tea. Vin memangsa sengan cara melahap hidup-hidup kepala monster itu hingga putus dan akhirnya mati, Vin lalu mendarat ketanah dan memuntahkan kepala monster yang terpotong itu.
Tea yang masih syok yang awalnya menutup matanya, lalu ia membuka matanya, ia melihat Vin didepannya yang sudah kembali wujudnya menjadi seorang manusia, Tea melirik Arvand yang masih tergeletak ditanah dan terdiam menatap ngeri kearah Vin.
Vin tersenyum menatap Tea, ia berdiri mendekat kearah Vin. Tea lalu menyobek kain bajunya, dan membersihkan sisa darah dari mulut Vin karena darah monster kelelawar tersebut.
"Terima kasih ya..." sahutnya.
Vin mengangguk, dengan tersenyum. Tea lalu menghampiri Arvand yang masih bengong.
"Kau baru pertama kali lihat dia berubah ya?" Tea membantu Arvand berdiri.
Dengan gagap Arvand menjawab, "Sungguh? dia? apakah dia jahat?"
"Tidak, dia ada dipihak kita..." ujar Tea.
Vin kemudia menatap para raksasa itu yang sudah mulai berjalan mendekat, bahkan setelah Randi pergi dari bertarung dengan raksasa itu, raksasa tersebut masih meneruskan serangannya yaitu, melempar beberapa bongkahan batu dan melemparnya ke seluruh kota Majestic.
"Raksasa normal itu masih mengamuk dan berteriak melempar bebatuan kearah kota, bisa saja kita terkenal batu tersebut.."
"Tunggu, kenapa raksasa itu tidak langsung datang menyerang kerajaan?" sahut Tea.
"Sepertinya, ada portal pertahanan dikerajaan.." sahut Vin.
"Kau sunggu manusia kelelawar?" Arvand masih ketakutan seraya ia mendekat kearah Vin.
"Iya.." gumam Vin.
Vin lalu tidak sengaja melihat kedua tubuh yang tergeletak ditanah, ia mendekat.
"Ha? dia?" ucap Vin.
Tea dan Arvand mendekat. Tea mengangguk.
"Dia mati karena ulahku..."
Ucapan Tea, ditepis oleh Arvand, ia memeggang tangan Tea.
"Bukan, bukankah kematian itu sudah takdir?" ucap Arvand.
__ADS_1
Arvand lalu teringat, bahwa sekarang Leon dan Mahagaskar sedang menyerang iblis tersebut.
"Hei kau! saudara-saudaraku sedang melawan iblis diujung sana kau bisa membantu?" sambung Arvand.
Tea menyahut, "Tidak! aku tidak ingin kehilangan teman lagi!"
Vin berdiri dan menatap Tea.
"Aku bukan orang yang lemah.."
"Dimana?" lanjutnya.
Arvand lalu menujukan kesebuah gang kecil dimana gang itu jalur menuju ketempat Leon dan Mahagaskar. Tak perlu basa-basi Vin berlari begitu saja tanpa pamit kepada mereka berdua.
"Sebaiknya kita harus segera bergabung dengan tim-tim mu..." ucap Arvand.
Namun tiba-tiba para monster kelelawar yang terbang diudara sudah mulai mendarat kearah perumahan warga membuat mereka berdua semakin sulit melakukan perjalanan.
"Bawa mereka berdua masuk kedalam rumah..." sahut Tea.
"Masuk kedalam rumah?" tanya Arvand.
"Lihat? mereka sudah mulai mendarat keperumahan warga, sebaiknya kita bersemunyi didalam terlebih dahulu, kau lupa? aku membawa busur panah dipunggung ku?" ucap Tea seraya memperlihatkan busur panahnya.
Iblis Auvamor tidak menyerang dengan kekuatan mengerikannya, dimana sihir dan wujud menyerangkan tidak ia keluarkan, ia justru menyerang Leon dan Mahagaskar dengan busur panah, namun kali ini busur panah miliknya ia tembak dengan api dipuncuknya, bahkan tembakan itu bisa menghancurkan benteng pertahanan yang dibuat Leon.
Leon tidak putus asa, ia lalu menyerang, tanah yang keluar berjalan menuju Auvamor tersebut, dengan cepat seperti lumpur lapindo yang berjalan. Namun lagi-lagi ia berhasil menghindar, ia justru menaiki gundukan tanah yang mencoba menyerangnya.
Mahagaskar memejamkan matanya, kali ini ia akan mengelurkan elemen api, ia awalnya tidak yakin, karena beberapa minggu ini kekuatan apinya tidak ia latih atau asa terlalu dalam. Namun Mahagaskar kembali yakin karena disituasi yang sangat mengerikan ini.
Mahagaskar berjalan seraya memejamkan matanya, lalu ia mengeluarkan kekuatan apinua dari kedua tangannya, hingga menyembur tepat ditubuh Auvamor yang berdiri dengan sombongnya.
Saat api itu mati, sudah tidak terlihat adanya tanda kehidupan dari Auvamor, ia tiba-tiba menghilang. Leon mencoba mendekat melihat apakah masih ada keberadaanya. Hingga terjadi sesuatu, Auvamor bangkit dari dalam tanah dan langsung mencekik leher Leon. Mahagasakar tersentak mencoba menyerang.
"Jika kau menyerang, sungguh akan kubunuh dia!!!!" sahut Auvamor.
Mahagaskar lalu meletakan kedua tangannya, yang sempat ia angkat.
"Dengar, sudahi ini..." sahut Mahagaskar.
__ADS_1
Auvamor semakin mempererat cekikannya, hingga wajah Leon yang sudah sangat merah karena kesakitan.
"Apa yang kau mau!!!" pekik Mahagasakar.
Auvamor justru menyengir, lalu ia menatap Mahagaskar.
"Aku tidak hanya ingin mendapatkan perhatian, tapi aku harus melihat pemimpin kota ini mati ditanganku...."
"Lepaskan dia dahulu...." sahut Mahagaskar.
Auvamor menatap Leon yang sudah menahan sakit, ia semakin mempererat cekikannya, hingga tak lama ia melepaskannya, tubuh Leon terjatuh, dan ia masih terlihat lemas dan mencoba mengatur nafasnya.
"Jadi musuhmu bukan kita bukan?"
Auvamor menatap Mahagaskar, "Musuhku kalian semua, jangan berharap kalian mengambil hatiku, berkerja sama dengan kalian sama saja aku tidak menepati jannjiku dan ketua sukuku...."
"Kenapa! kenapa kalian menghancurkan tempatku? kenapa kalian mengambil kekayaan yang ada ditempatku?" sambung Auvamor.
Mahagaskar menundukan kepalanya, ia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kan? kau tidak bisa menjawab, selama aku hidup aku mengumpulkan kekuatan dan merubah menjadi seorang iblis jadi-jadian, maka aku tidak ingin menyia-yiakan perjuanganku..."
"Tapi tak bisakah kau tidak menghancurkan semua yang ada dikota ini? para kawanan kelelawar ini semuanya masih berterbangan mencari mangsa dan menghancurkan satu-persatu rumah warga, bahkan raksasa itu, dia mengamuk gak jelas seraya melempar bebatuan kearah kota..."
"Mereka tidak bisa menyerang kerajaan, jadi mereka mencoba memecahkan portal pertahanan itu..."
"Aku tak butuh penjelasannmu, sekarang hentikan ini, dan silahkan kau bunuh sang raja!!!" teriak Mahagaskar.
Auvamor tertawa terbahak-bahak, "Sudah aku katakan! tidak semudah itu!"
Tiba-tiba Leon bangkit dan menusuk perut Auvamor dengan pisau yang ia simpan didalam saku. Auvamor tersentak ia melihat pisau itu yang sedikit menyisakan darah, ia tersenyum. Leon hanya menatap dengan tatapan yang penuh amarah, Mahagaskar terkejut.
Auvamor tanpa aba-aba, lalu ia menendang tubuh Leon hingga terlempar dan menabrak perumahan warga.
"Ingat? saat masa itu? aku mencoba lari dengan darah yang berceceran ditanah, membuat kawananmu mudah sekali menangkapku, aku melihatmu...dengan tatapan iba seraya menangis bukan?" ucap Auvamor.
"Kenapa? kenapa kau masih ada dipihak dia? bukankah seharunya kau membrontak untuk menghentikan itu? sampai detik ini aku tidak tahu dimana letak kesalahanku, sampai mereka membasmi tempatku..."
"Lihat? bahkan aku bisa berbicara dengamu sedekat ini, bahkan aku bisa berbicara denganmu secara baik-baik, tak bisakah kau mengurungkan niatmu untuk ini?"
__ADS_1
"Kau mencoba mengalihkan pembicaraan atau kau memujiku?" ucap Auvamor.
Vin yang berdiri tak jauh seraya bersembunyi dibalik ruruntuhan rumah, tak sengaja mendengarkan ucapan mereka, Vin menundukan kepalanya. Seraya ia tak kuasa menahan tangis.