Perpindahan 2 Dunia

Perpindahan 2 Dunia
Tersesat


__ADS_3

Argus yang masih beberapa kali bolak-balik memcari sesuatu dari istana itu, tapi tetap saja ia tidak menemukan apapun dari istana itu, istana yang kosong dan ditinggalkan begitu saja, menurut argus istana ini seperti gereja, tapi entahlah karena baru pertama kali argus melewati jalan ini, karena ketika ia pergi ke kota Lander ia tidak melewati jalan ini.


Karena tidak tahu apa-apa tentang istana itu mereka berempat akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka, mereka masih melewati hutan dan beberapa kali beristirahat, bahkan sampai petang mereka masih berjalan di hutan, seperti tidak keluar-keluar dari hutan itu.


Sebenarnya argus baru pertama kali melewati jalur ini, jalan pintas menuju Lander, karena membawa agil ia merasa bahkan untuk melewati jalan yang argus biasa lewati terlalu berat untuk agil, bahkan waktu itu jay pun yang menurut argus kuat tidak bisa menahan lelahnya berjalan.


"Bagaimana? Masih kuat?" Ucap argus.


"Masih paman, tidak mungkin aku kalah dengan mereka berdua" karena argus menunggu agil yang tertinggal, jay dan tea memimpin perjalanan mereka didepan.


"Sebenarnya ini baru pertama kali aku melewati ini gil"


Mata agil melotot.


"HA? bagaimana kalau kita tersesat"


"Santai aku bisa membaca arah mata angin"


Argus memang terbaik bagi agil, karena menurutnya ia yang paling kuat di antara orang-orang serafina, bahkan leo yang menurutnya besar dan kekar kalah dengan kecerdasan argus, diantara orang-orang serafina agil lebih dekat dengan argus dan leo, walaupun leo adalah seorang yang lebih senang diam, tapi leo yang membantu agil bisa memanah dan menggunakan pedang, ketika argus melatih yang lainnya, oh ya ada satu lagi timandra mungkin? Mungkin bisa dimasukan ke listnya karena seperti Zara larsson.


Ditengan perjalanan jay dan tea mendadak menghentikan langkahnya, ia seperti mendengar suara serigala yang yang menggerutu mendekat.


"Paman seperti ada sesuatu didepan sana"


Argus yang sedari tadi menemani agil dibelakang mendekat, meletakan barang bawaanya dan menyiapkan busur panahnya, ia berjalan ke depan dan melihat sekitar.


Jay dan tea juga menyiapkan panah mereka, mata mereka menyelusuri setiap tempat itu.


"Ada apa? Siapa?" Agil berjalan mendekat ke arah jay dan tea.


"Sutttttt" tea mengendap-endap menyelusuri tempat itu.


Tiba-tiba dari belakang datang seekor serigala hitam berlari kearah agil, serigala itu melonjat keatas dan ingin menangkap agil, dengan sigap agil mengeluarkan pedang dan langsung menusuk bagian perut serigala itu, agil pun kaget.


"Kau the best!!!" Ucap tea.


Tidak berhenti disana seperti pasukan tempur, para serigala itu berdatangan dengan gerombol, dengan cepat mereka mengambil barang-barang mereka dan berlari, jay dan tea masih berusaha memanah satu persatu serigala itu yang terus mengejar.


Argus memimpin perjalanan itu, walaupun ia tidak yakin apakah jalan yang diambilnya benar karena ia terburu-buru mereka terus berlari, hingga jay terjatuh.


"Jay!!!!" Teriak tea, masih dengan posisi memanah.


Argus yang mendengar lalu berlari kearah belakang, karena serigala masih banyak yang mengejar mereka argus mengeluarkan panah, ia mengarahkan ke batang pohon besar yang sudah keropos diatas, memanahnya, batang itu tidak lama terjatuh dan pas di bagian para serigala, serigala itu tertipa batang kayu besar, tidak sampai disitu, ada dua serigala yang masih hidup dan mengaung berlari kearah mereka.


Karena gemas agil mengambil busur panah dari argus memanah dua serigala itu, dan dengan cepat serigala itu tewas terjatuh ke tanah.


Suasana petang akhirnya menyelimuti hutan itu, matahari tenggelam dan suara burung hantu yang menyampar sebagian dinding hutan, pohon-pohon menjulang tinggi terlihat mengerikan ketika malam, angin yang bersiutan membuat batang pohon merintih saling bersuara seperti alunan angklung.


Mereka masih berjalan melewati hutan itu menelusuri setiap jalan setapak yang dibuat langsung oleh argus karena sepertinya jalan hutan ini tidak pernah di lewati siapa pun, argus tetap terlihat tenang karena ia yakin ini jalan yang benar.


Sejujurnya tea dan jay merasa sangat kelelahan ingin sekali istirahat sebentar namun mereka urung niatnya, karena bisa saja para serigala itu masih tersisa dan masih mengikuti mereka, obor kayu yang mereka pegang membuat hutan itu sedikit terang sebagian, namun itu pun hanya cahaya redup dari obor yang berjalan.


Argus menghentikan langkahnya, agil yang dibelakang langsung duduk terjatuh meletakan barang bawaanya, argus lalu mengisyaratkan agil untuk tetap berdiri walaupun lelah, jay dan tea yang ditengah dengan sigap mengeluarkan busur panah mereka.


"Tidak" argus mengisyaratkan agar busur panah itu di masukan kembali, karena ini bukanlah melawan musuh tapi mencari jalan keluar.


"Ada apa paman?" Tanya tea.


Argus masih mencari jalan itu dengan obor sebagai bantuannya.


Agil, jay, dan tea bingung menatap tingkah aneh argus.


"Sepertinya kita tersesat!" Ucap argus.


"Apa!" Teriak agil spontan.


"Coba lihat ini adalah jalan dimana kita akan menuju istana yang tadi" argus menunjukan bebatuan yang berserakan di bawah pohon.


"Ah tidak! Tidak!" Agil menimpali.


"Bisa aja itu kan batu yang sama persis sama yang tadi kita lewati paman" lanjut agil masih tidak percaya.


"Coba lihat!" Tea berjalan menunjukan rerumputan yang sempat argus potong ketika melewati hutan ini.


"Aku ingat jalan ini, dan ini jalan yang pernah kita lewati tadi, ini kalau kita akan menuju istana itu" ucap tea.


"Bagaimana ini?" Ucap panik jay.


Mereka berempat merasa sangat panik, entah kenapa bisa mereka kembali ke jalan yang tadi?


"Tetap tenang, kita istirahat sebentar disini"

__ADS_1


"Tidak, aku takut pamann" ucap jay.


"Tenang jay, ada aku" agil menimpali.


Agil menelusuri sepanjang jalan yang mereka lewati, tidak jauh hanya di sebagian daerah itu, dan memang benar rasanya agil pernah melewati daerah hutan bagian ini.


Argus terdiam mencoba menetralisir jalanan hutan ini, ia mencoba mencari solusi yang tepat.


"Paman aku percaya padamu lhoh, katanya bisa membaca arah mata angin, sekarang mana buktinya" agil sudah mulai terbawa emosi.


Argus hanya terdiam berpikir, pikirannya saat ini adalah fokus mencari jalan keluar, bulan bergerak di langit bahkan lebih sering daripada matahari, tetapi ada trik yang mengingatkan argus, untuk menemukan arah kira-kira utara.


Argus berdiri menatap tajam bulan diatasnya, cahaya bulan hanya memantulkan sinar matahari, sehingga bagian bulan yang cerah menghadap matahari dan sisi gelap membelakanginya.


"Kenapa paman?" Tea mendekat dan mengikuti gerakan argus yang menatap bulan.


"Kebetulan bulanya sabit" ucap argus.


"Ah cara itu?" Agil menambahkan, membuat tea kesal karena nada suara itu seperti mengejek argus.


Tea mendekat dan menarik baju agil.


"Sudah ya, sudah lama aku pendam aku biarkan omongan tidak sopan mu itu, aku biarkan saja, tapi untuk situasi yang seperti tidak akan aku biarkan!" Teriak tea.


"Bagus akhirnya kau menyadari itu, di saat seperti ini kau mengandalkan cahaya bulan itu?"


Jay lalu berdiri dan menghentikan pertengkaran sengit itu, argus lalu mendekat, melepaskan gengaman erat tea dari baju agil.


"Begini caranya ya mencari jalan keluar, gelut dulu?" Argus tersenyum kecut lalu ia beranjak dan fokus kembali ke bulan,


"Ketika bulan berbentuk sabit, coba lihat dua ujungnya dan tarik garis yang menghubungkan mereka, perpanjang garis ini sampai ke batas cakrawala, titik di mana ia menyentuh tanah memberi kamu perkiraan ke utara" argus menjelaskan seraya memperagakan.


"Nah dalam kondisi yang penuh stres dan penuh pertengkaran yang sepele seperti ini, teknik ini tidak terlalu tepat untuk digunakan ingat!!" Teriak argus.


Lalu argus mengambil dua batang kayu dengan panjang berbeda, ia mencari bintang paling terang, lalu ia jajarkan tongkat dengan tubuhnya, yang argus dapat cahaya bersinar dalam garis lurus dari bagian atas tongkat yang lebih panjang ke bagian atas yang lebih pendek, tepat ke mata argus.


Agil, jay, dan tea hanya melihat dengan tatapan kebingungan karena disituasi seperti ini hanya argus yang paham, argus menunggu beberapa menit, lalu ia melihat batang kayu itu lagi, menggunakan garis pandang yang sama, jika cahaya bergeser ke atas, maka argus melihat ke Timur, jika berpindah, argus menghadap ke Barat. Pergeseran ke kanan menunjukkan bahwa ini mengarah ke selatan, sedangkan pergeseran kiri ke utara, dan yang argus dapat adalah kiri mereka seharusnya berjalan ke arah utara.


Dengan sigap argus mengemasi barang-barangnya, argus hanya diam, dan mereka bertiga sudah paham, yang harus mereka bertiga lakukan hanya mengikuti langkah argus, tapi argus tiba-tiba terdiam dan mendekat ke arah agil di belakang.


"Ini membaca soal cahaya bintang bukan bulan" argus tertawa diikuti tea lalu mereka beranjak.


Agil masih terdiam diantara ter sekak atau bingung tidak paham dengan perkatan argus.


Sudah berjalan lumayan jauh, akhirnya mereka menemukan jalan keluar didepan mereka sudah tidak ada lagi pohon-pohon yang gelap, pemandangan mereka saat ini tebing-tebing menjulang didepan mereka, jurang yang curam di bawah mereka, cahaya bulan memang tidak terlalu cerah namun setelah keluar dari hutan sesat itu membuat mereka bertiga merasa lega dan lebih merasa cerah setelah keluar dari kegelapan.


Mereka berjalan kekanan karena medan jalan yang lumayan bisa dilewati, mereka menelusuri perbukitan dan mencoba turun dari tebing, medannya lumayan bisa dilalui, karena ada beberapa pohon untuk bantuan, mereka menelusuri bukti itu dengan berjalan jongkok sesekali melosot karena dimedan temurun seperti ini tidak begitu di anjurkan untuk jalan berdiri.


"Karena kita sudah ditengah-tengah jalan, lempar saja barang ini ke bawah, aman-aman" ucap argus, barang-barang mereka akhirnya mereka jatuhkan ke bawah.


Argus mencari jalan temurun yang sekiranya bisa dilewati dengan benar seraya membantu tea dan jay melewatinya, ia melewatkan agil yang sudah siap menerima bantuan dari argus.


"Hey paman!!!! Aku juga butuh bantuan!!!" Ucap agil seraya menahan tubuhnya.


"Karena aku juga susah kan? Lihat sendiri? Ini bukti bukan jalan yang lurus lho gil, ini temurunan walaupun tidak terlalu curam, kau bisa melakukan sendiri tanpa bantuan ku" argus lalu beranjak seraya beberapa kali menjatuhkan beberapa batu yang menggangu.


Agil sebenarnya bisa melakukanya, tetapi, benar ia merasa malas, tidak sampai disitu ketika ia juga kesusahan dengan perjalanan mengerikan ini agil berteriak menanyakan keadaan jay didepan sana yang sedang mencoba melewati temurunan ini.


"Jay!!! Are you okay??!?!?!" Teriak agil.


Tea memutar bola mata, jay bahkan sedikit lincah melosot dari bukit itu, ia sesekali membuat jalan yang sekiaranya aman dilewati.


"Good job" bisik tea dibelakang jay.


"Tidak sia-sia kita latihan disana" tea tersenyum.


"Pegang baju aku te" ucap jay.


"Itu jawab dulu!!" Ucap tea.


"Ah iya gil!!!! Aku baik-baik saja!!!" Teriak jay.


Mereka terus menyelusuri bukit itu dengan berhati-hati karena medan yang terus menurun walaupun tidak begitu curam, beberapa kali argus menyalip dan duduk sebentar menunggu.


Agil yang selalu berada di belakang selalu berhati-hati dan memilih jalan yang baginya aman, tapi tiba-tiba tanpa disadari kaki kiri agil tergelincir menyebabkan tubuhnya jatuh menggelinding kebawah. Argus, jay, dan tea kaget, berusaha menahan tubuh agil namun tubuh agil yang menggelinding terlalu cepat, agil beberapa kali berteriak dan berusaha menyaut beberapa kayu dan rerumputan namun sia-sia.


"BREK!!!" Tubuh agil terjatuh dengan keras di depan bangkai pohon besar, ia berhenti dibawah dan benar dia tak sadarkan diri.


Kebetulan perjalanan mereka sudah semakin dekat diarea dataran, segera mereka berlari dengan hati-hati dan menghampiri agil.


"Gil!!! Agil!!!!" Jay mendekat dengan panik.

__ADS_1


Argus lalu membalikan badan agil yang dari tadi tengkurap, ia mencoba menyadarkan agil menampar bagian pipi dan membuka matanya.


Tea lalu mengambil beberapa tas berjatuhan di bawah, membuka botol air, botol air tersebut adalah air pengobatan yang dibuat oleh argus, tea membuka botol dan mencoba meminumkan kepada agil yang masih dengan posisi tak sadarkan diri.


Jay masih kawatir, ia masih mencoba menyadarkan agil dengan meneriakinya, dan tak lama agil akhirnya sadar, ia beberapa kali batuk dan merasa pusing, agil membenarkan posisi duduknya.


"Dimana yang sakit gil?" Tanya argus.


"Lengan paman" rintih agil.


"Sini coba" argus meraih lengan agil dan mencoba memijatnya, tiba-tiba argus meremas lenganagil dan membenarkan posisi tulang yang sempat kegeser karena agil terjatuh tadi.


"ARGKHHHHHH!!!!!!!!!" Teriak agil memenuhi hutan itu, suara menggema karena posisinya di bawah bukit dan beberapa tebing.


"Bagaimana?"


"Luar biasa!!!!! Wowwww sakit paman!!!!!!!!!!" Gerutu agil.


Jay dan tea tersenyum tipis.


"Aku kira bakalan mati" ucap ketus tea.


"Aku pikir begitu, hidup percuma tidak berguna" jawab agil.


Tea terseyum kecut.


Ditengah-tengah kesakitannya, agil tidak lepas dari rayuan kegombalannya kepada jay.


"Jay gak kawatir sama aku?"


"Kawatir kok" ucap jay dengan malu-malu.


Argus dan tea yang sudah mual dengan rayuan agil, membuang muka malas.


"Masih saja, baiklah kita istirahat disini aja dulu"


Disebuah pinggir hutan, jurang yang begitu curam, dan bukit-bukit menjulang tinggi, mereka lalu berhenti dan beristirahat disana, disebuah dataran yang tidak begitu luas, karena benar-benar dekat dibawah bukit, dan pemandangan tebing-tebing yang menjulang tinggi di seberang sana.


"Pernah dengar cerita tentang perang antar suku? Ah tidak ini bukan suku ku dengan yang itu" ucap argus.


"Apa paman?" Tanya tea.


"Sebelum negara ini dibentuk dan sudah banyak suku-suku di negeri ini, ada sebuah suku bernama suku NESA suku itu benar-benar jaya, kekayaan yang luas dan tanah-tanah didaerah itu yang subur"


Tea, jay, dan agil mendengar dengan fokus.


"Suku itu benar-benar sangat damai dan tentram, hingga suatu ketika datanglah pedangang dari suku ZAO, ia datang seorang diri dan mendagangkan dagangan nya dikota suku NESA itu, sudah lama ia berdagang disitu, akhirnya ia ketawan, karena ada sebuah tato dilengannya, itu adalah tato suku ZAO dan di penggal disana, dan tubuhnya di buang di sebuah hutan, suku ZAO menemukan tubuh itu dan langsung tahu itu suku mereka, karena di bagian lengan pria itu terdapat tato, suku ZAO langsung tahu ini perbuatan suku NESA karena hutan ini dekat dengan kota suku NESA, dengan cepat berita ini menyebar dan didengar oleh petinggi di suku ZAO, mereka mengirim orang-orang suku ZAO untuk menyerang kota NESA, dan terjadilah pertumpahan darah, dan kalian tahu?" argus mengambil botol minuman dan meminumnya.


"Apa woy paman malah minum!!!!"


"Ternyata peperangan itu untuk merebut kekuasan bukan karena pria malang itu dibunuh, suku ZAO dikenal kekuatan dan kekejaman mereka, mereka bangga karena ditakuti dan akan menghancurkan siapa pun yang mengancam mereka"


"Apa yang terjadi setelah itu paman" tanya tea


"Yang ku tahu, NESA kalah dan semua kekayaannya direbut oleh ZAO"


"Apakah masih ada suku ZAO di negeri ini?" Tanya agil.


"Tidak mereka benar-benar sudah punah 100 tahun yang lalu"


"Tapi paman, mesti banyak suku-suku disana yang terjadi seperti ini" tea menimpali.


"Hey apa-apaan kau ini, kenapa kau berharap begitu" ucap agil seraya menyenggol kasar lengan tea.


"Biasa aja dong"


"Biasa aja? Jangan berharap seperti itu hey, ucapan adalah doa!!!" Ucap agil.


"Entahlah aku berharap itu tidak akan terjadi disini"


"Banyak di negeri kita yang seperti itu paman hehe, mereka seolah bungkam dan tidak tahu apa-apa padahal mereka yang melakukanya" ucap tea.


"Hahahahhaha kali ini kau benar" ucap agil.


"Pasti, banyak yang seperti itu, haus dengan kekusaan kan"


"Jay, kenapa diam saja?" Agil bertanya.


"Ahhh tidak apa-apa" jay tersenyum.


"Aku suka wanita yang pendiam lhoh" senyum agil merayu.

__ADS_1


Argus dan tea saling menatap dan terlihat mual.


__ADS_2