
Tea beranjak pergi begitu saja meninggalkan Jay yang masih terduduk menatap Agil disana, dengan raut wajah yang penuh emosi Tea berjalan tanpa menatap kanan kirinya. Jay menyadari itu lalu ia berlari menyusul, ia menghalang jalan Tea.
"Cukup!" teriak Tea, emosi karena tiba-tiba Jay menghalangi langkahnya.
"Te?" gumam Jay.
Bahkan disekitaran mereka masih ada banyak warga, namun Tea tidak peduli sama sekali.
"Lihat? tujuan dia kemari seperti ini? benar aku kan? lebih mending aku tidak paham dengan rencana becat ini!" pekik Tea.
Jay memeggangi kedua lengan Tea.
"Te, aku juga kaget Agil melakukan hal yang diluar rencana kita... tap.." ucapan Jay dipotong oleh teriakan Tea.
"Apa! apa karena kau mencintainya!!!?!?!?" teriak Tea, membuat warga yang berada disekitar menoleh.
Jay tersentak kaget dengan jawaban Tea, lalu tea meninggalkan Jay sendirian disana.
Agil turun dari panggung tersebut, dia dikerumuni oleh warga disana.
"Jadi benar? kau akan memberi kristal emas itu kepada orang yang telah menemukan prajurit itu"
"Apakah itu kristal emas nyata?"
"Sungguh? kau akan memberikan itu kepada orang yang telah menemukannya?"
"Bagaimana caranya, kau bisa memberitahu kami..."
Namun Agil menepis, ia pamit pergi dan berlari agar ia tidak dikerumuni warga sekitar, Agil berhenti saat ia melihat Jay duduk sendiri disebuah tempat duduk dijalanan.
"Jay!" pekik Agil.
Jay berdiri, ia menatap Agil yang sudah ada didepan matanya.
"Sungguh itu yang kau mau?" gumam Jay.
Agil memutar bola matanya, ia sudah menduga Jay dan Tea pasti akan kecewa dengannya.
"Tapi ini adalah rencana yang bagus!"
"Bagus bagaimana? kau ingin aku dan Tea tidak mempercayaimu? atau?" sahut Jay.
"Jay...." rintih Agil.
"Kau tidak paham?"
Jay spontan menggeleng dengan cepat, "Tidak! aku tidak paham!" pekik Jay.
"Ya mungkin aku tidak menceritakan kepada kalian! tapi ini adalah rencana awal, dimana kita bisa mencari tahu tentang kejahatan kerajaan yang sebenarnya darinya!"
"Tapi! tapi kau tidak memberitahu kami!" pekik Jay, lalu ia beranjak pergi meninggal Agil.
__ADS_1
Agil terdiam, nafasnya terengah-engah, matanya tidak perpaling dari Jay yang berlari meninggalkanya.
Apa? apa yang harus aku lakukan memangnya? aku tidak salah kan? apa yang mereka pikirkan tentang rencana ini? yang ingin aku lakukan hanyalah menemukan dua sahabatku, dan pergi dari sini.
Agil kembali kedalam penginapan, namun saat ia mencari keberadaan Jay dan Tea, ia tidak menemukan mereka, sedikit lega saat Agil menyadari jika barang-barang bawaan mereka masih ada dipenginapan, berarti mereka pergi tak jauh dari tempat ini.
Agil berlari, namun remaja yang menjaga penginapa menghalanginya.
"Kenapa?" tanya Agil.
Remaja itu hanya menggeleng, mengisyaratkan agar Agil tidak mencari keberadaan Jay dan Tea. Agil memutar bola matanya.
"Sungguh aku tidak ingin menyakiti mereka, katakan padaku dimana mereka?" ucap Agil seraya memeggang kedua pundak remaja itu.
Remaja itu awalnya ragu, tapi kemudian karena bujukan Agil, ia mengatakan dimana keberadaan Jay dan Tea.
Agil berlari, melewati hutan yang gelap, penuh dengan hujan salju, batang kayu dan daun yang menampar wajahnya, karena ia terus menerobos masuk kedalam hutan, ia sama sekali tidak perduli, hingga ia menemukan dua pasang wanita yang saling berpelukan didepannya.
Disebuah gundukan tanah, yang dihiasi rumput hijau bersih, mereka bisa menyaksikan pemandangan yang luar biasa, yaitu kita Majestic, walaupun salju menyerang tempat itu, tapi mereka masih bisa melihat indah kota tersebut.
Agil tidak berani mendekat, ia hanya duduk ditanah seraya mendengarkan bisikan kedua wanita itu.
"Kau tahu? aku sangat menyukai Agil..." rintih Jay.
Agil terbelalak, saat mendengarkannya. Tea yang senantiasa terdiam mendengarkan curahan hati Jay, kepala Jay ia taruh dipundak lebar Tea, seraya menangis.
"Kau tahu aku menyukainya kan? aku tidak bisa mengatakannya, ketika aku menyukainya rasanya aku sangat percaya kepadanya, tapi kenapa? sekarang..."
"Aku tidak ingin menyakiti hatinya, aku berusaha untuk sempurna didepannya, aku ingin, dia tahu lewat gerak-gerikku kalau aku mencintainya, tapi sepertinya aku tidak bisa lagi...."
Karena mendengar ucapan Jay yang seperti itu, Agil hanya terdiam, sekujur tubuhnya kaku, bahkan saat ia duduk ditanah ia tidak bisa sama sekali menggerakan tubuhnya, ekor matanya mulai mengeluarkan air mata dengan perlahan.
"Kau bisa terus menyukainya.." gumam Tea.
Jay lalu mendongak menatap Tea, Seperti tatapan kebingungan.
"Hati tidak bisa dipaksakan, kan?" sahut Tea tersenyum, wajahnya masih menatap kearah depan.
"Aku ingin merasakan lagi menjadi anak kecil, jadi wajar aku sakit hati dengan Agil karena ini..." lanjut Tea.
"Tidak! itu wajar kita kecewa dengannya!"
Agil menatap tajam kedua wanita didepannya, ia tidak bisa berkutik.
"Aku tahu kok, ini semua salah Agil, tapi karena hal ini apakah kau akan memaksakan diri, untuk tidak menyukainya padahal kau masih menyukainya?"
Karena mendengar hal itu, Jay menangis. Ingin sekali rasanya Agil mendekat dan menjelaskan semuanya, namun hatinya selalu mengatakan untuk tidak melakukan hal ini, tentu mereka pasti masih kecewa dengannya.
Tanpa disadari Agil yang masih melamun, Tea dan Jay sudah beranjak mereka kaget saat membalikan badannya, melihat Agil yang tersungkur ditanah, tepat dibelakang mereka.
Agil tersentak ia lalu berdiri, dengan gugup ia mengatakan, bahwa ia baru saja datang.
__ADS_1
Tea menghelan nafas malasnya, ia mendekat, dan tiba-tiba ia menampar dengan keras pipi Agil, membuat pipi Agil memerah dan memanas, Jay hanya terkejut seraya menutup mulutnya.
Agil masih memeggangi pipinya, dengan tangannya.
"Mau lagi?" gumam Tea.
Agil menatap Tea.
"Kenapa? kenapa kau melakukan itu?" tanya Tea.
Agil menundukan kepalanya, rasanya ia tidak bisa mengeluarkan satu katapun saat ini, ketika melihat Jay dan Tea yang menatap tajam kearahnya.
"Oke, baiklah....bukankah ini rencana yang bagus?"
Tea langsung menyahut, "Bagus bagaimana!"
"Kita bisa mencari tahu lewat prajurit itu..."
Tea menghelan nafasnya, "Tapi kenapa kau diam-diam seperti ini, kenapa kau tidak memberitahu kami? kau teman kerja kami bukan?" ucap Tea.
Memang benar, ucapan Tea memang sangat benar, Agil mengakui ini adalah kesalahanya, dimana dia diam untuk rencana ini.
"Karena aku pikir, kalian tidak akan setuju..."
Tea meremas rambut kepalanya, emosi.
"Dengar, kutu babi!"
Umpatan itu membuat Agil terkejut sekaligus mengigi bibir karena ngeri, entah ia ingin menahan tawa tapi situasinya tidak mendukung, ia menatap Jay, dimana ia masih sibuk menutup mulutnya, entah karena masih kaget atau menahan tawa.
"Semua rencana itu dibicarakan dengan lawannya! antara mereka akan setuju atau tidak yang terpenting, ada omongnya!" teriak Tea.
Tiba-tiba Agil bersujud dikaki Tea, tanpa bersuara, ia hanya memejamkan matanya.
"Apaan!!!!" teriak Tea seraya menendang kepala Agil hingga tersungkur ketanah.
"Berdiri!!!"
Agil berdiri, ia melirik kearah Jay.
"Lirikanmu!!!!!" teriak Tea.
Bahkan Tea sadar dengan lirikan mata Agil yang menatap kearah Jay.
"Aku minta maaf! aku benar-benar minta maaf! ini terakhir aku melakukan ini! lalu selanjutnya kita masih melakukan rencana yang sudsh dirancang!" ucap Agil.
"Semudah itu? semudah itu kita menerimanya or memaafkanmu?!?" pekik Tea.
Agil memejamkan matanya seraya menghembuskan nafasnya.
"Lalu bagaimana?" tanya Agil.
__ADS_1
"Tanya kepada dirimu sendiri!" teriak Tea seraya beranjak pergi menggandeng Jay, meninggalkan Agil.