Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Ternyata Lemah


__ADS_3

Di rumah Fafa, dia sudah sampai ke rumahnya dan segera masuk.


"Fafa, kau sudah pulang." seru ibunya senang dan berjalan ke arah Fafa.


"Iya bu, kapan ayah akan pulang?" tanya Fafa menatap ibunya.


"Ayahmu mungkin sedang di pesawat sekarang dan akan sampai nanti malam, sekarang bantu ibu untuk menyiapkan makan malam." jawab ibunya sambil merangkul bahu Fafa dan berjalan ke ruang keluarga.


"Begitu ya." kata Fafa mengikuti ibunya.


"Aku merindukan ayah, sudah lama ayah tidak pulang." lanjut Fafa menatap ibunya.


"Bukankah ayahmu selalu video call denganmu?" tanya ibunya.


"Iya sih bu, tapi video call dan bertemu langsung dengan ayah rasanya berbeda. Apa ibu tidak merindukan ayah?" tanya Fafa mengerutkan keningnya.


"Hah? Tentu saja ibu merindukan ayahmu." seru ibunya dan mencubit pipi Fafa lembut.


***


Di mall, Hitomi, Xena dan ibu Xena berkeliling lagi dan mencari barang kesukaan mereka masing masing setelah selesai makan siang.


"Hito, lihat itu!" seru Xena menunjuk ke arah boneka panda yang cukup besar.


"Besar sekali." kata ibu Xena melihat ke arah boneka panda itu.


"Ayo kita masuk." seru Hitomi semangat.


Mereka bertiga masuk ke toko boneka yang cukup besar itu. Di dalam toko itu banyak jenis boneka yang lucu. Dari ukuran gantungan kunci hingga ukuran setinggi orang dewasa berjejeran di lemari kaca.


Xena membeli tujuh boneka sekaligus, bahkan ukuran boneka yang di beli Xena, ukurannya yang paling besar semuanya. Hitomi kaget saay Xena membayar tujuh boneka besar itu.


"Xena, bagaimana cara kita membawanya?" tanya Hitomi kaget dan menatap Xena.


"Nona, toko kami memiliki kurir untuk mengantar pesanan yang di beli, jadi nona tidak perlu khawatir tentang itu." kata pelayan toko dengan sopan.


"Syukurlah kalau begitu." kata Hitomi mengelus dadanya dan merasa lega.


"Lalu mau di simpan di mana boneka sebanyak ini, Xena?" lanjut Hitomi bertanya kepada Xena.


"Tentu saja di kamarku, dan yang satu ini untuk di kamarnya Rey." jawab Xena menunjuk ke salah satu bonekanya.


"Haish kau ini, baiklah kalau begitu." kata Hitomi menggelengkan kepalanya.


Mereka melanjutkan jalan jalan di mall itu dan lagi lagi Xena melihat barang kesukaannya. Dan itu adalah sebuah pakaian.


"Ah! Akhirnya aku menemukannya juga!" seru Xena berjalan masuk ke toko pakaian itu.


Hitomi dan ibu Xena hanya geleng geleng kepala dan mengikuti Xena dari belakang.


***

__ADS_1


Di XTown Sports Center, Teddy Larks dan rombongannya masuk ke gedung olah raga itu dengan penuh semangat. Sementara Rey dan Lee masuk ke dalam arena petarung tanpa di temani pelatih mereka.


Teddy sedang asik memperhatikan hiruk pikuk di gedung arena olah raga itu dengan semangat.


"Hey, George! Kapan acaranya di mulai?" tanya Teddy menatap George di sampingnya.


"Sebentar lagi bos, mungkin panitia sedang menunggu para pesertanya lengkap dulu." jawab George santai.


Para peserta yang sudah tiba berjalan ke arah panitia untuk melakukan data ulang terlebih dahulu. Mereka sudah tidak sabar untuk segera memulai acaranya, tapi panitia belum juga memulainya karena sebagian peserta belum hadir.


Karena banyak desakan dari berbagai pihak, akhirnya panitia mengumumkan kepada seluruh peserta bahwa jika dalam waktu lima menit peserta yang tidak data ulang akan dinyatakan gugur. Para peserta yang tadi santai dan baru datang langsung berlarian untuk melakukan data ulang.


Ketua panitia naik ke panggung dan mengambil mic untuk mengumumkan sesuatu.


"Baiklah, selamat sore semuanya. Karena semua peserta sudah hadir, maka sebelum pertandingan di mulai aku akan memberitahukan bahwa peraturan pertandingan ini telah berubah sesuai dengan keputusan para panitia dan para juri. Para pelatih setiap sasana bela diri juga sudah setuju dengan perubahan aturan yang di tetapkan." kata ketua pelaksana di atas panggung.


"Peraturan yang pertama yaitu, juara satu tahun lalu akan naik ke atas ring untuk menantang peserta yang terdaftar tahun ini, dan jika sang juara kalah maka lawan yang mengalahkannya bebas menantang peserta yang lainnya begitu seterusnya hingga tidak ada lawan yang akan naik ke atas ring lagi." lanjut ketua pelaksana.


"Baiklah! Kita mulai dari sekarang dan selamat berjuang!" lanjut ketua pelaksana lagi.


Ketua panitia itu turun dari panggung setelah menjelaskan peraturan baru. Panitia memanggil Edward sebagai juara satu tahun lalu.


Edward naik ke atas ring dengan tenang. Di atas ring, Edward mencari cari Rey untuk menantangnya tapi Edward tidak menemukan Rey di area itu.


"Sialan, dimana orang itu." kata Edward dalam hati. Padahal Rey dan Lee sedang duduk santai, hanya saja mereka tertutupi banyak peserta yang berdiri di sekitar ring.


Karena waktu terbatas, dan Edward tidak menunjuk siapapun, Seseorang dari sasana Tae Kwon Do yang bernama Danis naik ke atas ring dan menantang Edward. Edward yang harus mempertahankan harga diri menerima tantangannya. Mereka memulai pertarungan dengan cepat.


Edward menyerang Danis dengan cepat. Tapi Danis menahan serangan itu dan melakukan serangan balik kepada Edward.


"Hmm, baiklah, aku harus menang kali ini." kata Danis mengepalkan tinjunya dan menyerang Edward dengan cepat.


Pukulan Danis yang kuat ter arah ke wajah Edward dengan cepat. tapi bagi Edward pukulan itu terlalu lambat sehingga Edward dengan mudah menghindar dari pukulan itu.


Danis melakukan serangan lagi dengan tendangan kaki kirinya dengan cepat. Tendangan kaki kiri Danis adalah kekuatan utama yang menjadi andalannya.


Danis mengangkat kaki kirinya ke arah Edward dengan sangat cepat. Edward tidak bisa melihat gerakan kaki kiri Danis yang sangat cepat itu sehingga serangan Danis mengenai dada Edward dengan keras.


BUAGH!


"Aargh!"


Serangan itu membuat Edward terpental beberapa meter.


"Sialan! Cepat sekali kakinya," gumam Edward semangat.


Edward bangkit dengan cepat dan mulai serius untuk membalas serangan dari Danis. Edward mengepalkan tinjunya ke arah lawannya, Danis tidak mengelak sedikitpun, dia malah berniat untuk melawan serangan itu dengan tinjunya juga.


Danis mengepalkan tinjunya dengan kuat sehingga kedua pukulan itu berbenturan dengan keras.


KRRRRKK!!

__ADS_1


Arrgh!


Suara benturan kedua tinju itu terdengar dengan retakan salah satu dari petarung itu. Mereka berdua mundur satu langkah ke belakang.


Para penonton yang sedang menyaksikan pertarungan itu merasa ngilu dengan suara benturan kedua tinju itu.


"Ah, ini benar benar pertarungan yang sengit, kira kira siapa yang akan menang?" seru salah satu penonton penuh kekaguman.


"Menurutku Edward lah yang akan menjadi pemenangnya." jawab penonton lain.'


"Belum tentu! Mungkin Danis yang akan menjadi pemenang."


Para penonton yang sedang menyaksikan pertandingan itu saling berdebat tentang siapa yang akan menjadi pemenangnya.


"Sialan! Ini tidak mungkin! Pukulanku di lawan langsung dengan pukulannya." kata Edward mengerutkan keningnya.


"Bagaimana rasanya hah? Bagaimana dengan pukulanku?" seru Danis memprovokasi.


Danis sengaja membuat Edward marah, agar Edward terpancing dengan nafsunya. Danis kembali menyerang dengan cepat.


Kepalan tinju Danis melesat dengan cepat ke arah Edward, dan Edward melakukan hal yang sama sehingga benturan kedua pukulan itu terdengar lagi.


KRRKKK!!


Aaargh!!


Mereka kembali mundur satu langkah, tapi dengan ganas, Danis menyerang lagi dengan tendangan kaki kiri yang sangat kuat. Edward menangkis serangan itu dengan tangannya. Tapi serangan kaki kiri Danis terlalu kuat sehingga lagi lagi Edward terpental hingga dua meter ke belakang.


BUAGH!!


Arrgh!!


Edward mulai merasakan kesakitan ketika serangan itu mengenai tangannya. Edward bangkit dan kembali bertarung.


Danis dengan ganas kembali menyerang Edward tanpa jeda sedikit pun hingga akhirnya Edward pun kembali terpental dengan keras.


BUAGH!!


Pertandingan hari ini tanpa batasan waktu untuk istirahat, jadi kedua petarung itu ingin menyelesaikan pertarungan ini dengan cepat.


"Hey, George, ada apa dengan Edward?" tanya Teddy kecewa ketika melihat Edward beberapa kali terlempar dan jatuh.


"Entahlah bos, tapi sepertinya lawannya kali ini cukup kuat." jawab George.


"Jika sampai Edward kalah maka kau harus bertanggung jawab untuk mencari penggantinya." kata Teddy ketus.


"Baik bos, jangan khawatir, jika dia kalah maka kita tinggal menendangnya saja keluar dan ganti dengan pemenang pertarungan ini." jawab George mencoba tenang.


"Sialan! Kenapa Edward begitu lemah di sini!" gumam George kecewa dalam hati.


Sementara itu, Edward yang sudah menyadari jika lawannya kuat, dia merasa menyesal karena sebelumnya dia terlalu meremehkan lawannya.

__ADS_1


"Baiklah! Kalau begitu aku harus menang kali ini, apapun yang terjadi." gumam Edward kembali berdiri dan bersiap untuk menyerang Danis dengan serangan terkuatnya.


__ADS_2