
Keesokan hari, Rey bangun pagi pagi sekali, badannya terasa segar dan tidur dengan cukup karena tidak ada pergulatan panas.
DING!
[Selamat tuan anda mendapatkan hadiah dari system. Modified Conquest Knight XV.]
Mulut Rey langsung ternganga, dia benar benar terkejut kali ini. Dia tahu benar tentang mobil ini. Ini adalah mobil off road militer, dan ini sudah di modifikasi. Harganya sekitar 35 milyar. Dan mobil ini adalah karya seni buatan tangan, jumlahnya saja kurang dari 100 di dunia. Membuat mobil ini membutuhkan waktu 4 ribu jam. Selain itu, ini mobil lapis baja dan anti peluru.
Rey menelan ludah dengan kegembiraan di matanya. Luar biasa. Rey menarik nafas dalam dalam. Dia tampak sangat bersemangat. Rey berlari kencang ke garasi. Di sana dia melihat monster baja itu terparkir di antara deretan mobil mewahnya. Mobil suv baja berwarna hitam doff, penampilannya sangat berbobot, kejam dan mengerikan.
Mobil itu terlihat sangat besar di antara mobil lainnya. Bayangkan saja, panjangnya 6 meter, lebar 2,5 meter dan tingginya juga 2,5 meter. Hampir semua body nya merupakan garis tegas menggantikan lekuk indah mobil biasa. Dengan lembut Rey menyentuh mobil itu. Rey masuk kedalam mobil mengamati bagian dalamnya.
Interiornya benar telah di modifikasi, mobil itu memiliki trim interior yang lebih mewah. Fasilitas di dalamnya lebih mewah dari sebuah mobil limosine. Hitomi dan Yuri yang tadi mendengar seseorang berlari di lorong tentu ikut bangun. Mereka menyusul Rey ke garasi. Mereka terkejut.
"Sa-sayang ini apaan?" tanya Hitomi kaget.
"Sa-sayang apa kau mau perang?" tanya Yuri polos.
"Hahaha... bagaimana? keren kan? Kemarin aku membelinya. Katanya tadi pagi baru di antar kemari...." jawab Rey bohong. Hitomi dan Yuri hanya geleng geleng kepala. Menurut mereka mobil Rey sudah banyak, malah beli mobil lapis baja. Tapi mereka juga tidak berani protes. Bagi mereka selama Rey baik baik saja dan bahagia itu lebih dari cukup.
"Hitomi hari ini aku berangkat ke JTown... Kabari hangar untuk mengatur semua... Dan sewakan pesawat kargo, aku mau bawa mobil ini."
"APAAAA!" seru Hitomi dan Yuri.
Akhirnya setelah terjadi perdebatan manja, Hitomi mengurus semua yang dibutuhkan oleh Rey di bandara, tak lupa dia juga memanggil Xena dan Fafa. Mereka di beri kabar mendadak itu juga kaget. Tapi mereka hanya pasrah saja. Mereka hanya berpesan kepada Rey untuk tidak jelalatan. Rey hanya tertawa mendengar itu. Rey juga meminta Leon untuk menginap di mansion selama Rey pergi untuk berjaga jaga. Rey memberikan tanggung jawab keselamatan para wanitanya kepada Leon.
Setelah memasukkan barang barang yang di beli kemarin ke mobil. Rey pun berpamitan kepada para wanita nya. Rey kemudian menelepon Paul untuk bersiap. Rey akan menjemput Paul. Paul yang di kabari mendadak juga kaget dan segera berkemas, kemudian mengirimkan lokasi rumahnya ke Rey. Akhirnya Rey meninggalkan mansion di iringi lambaian tangan para wanitanya.
Paul yang sudah siap menunggu di pinggir jalan bersama istrinya, Claudia. Mereka menatap setiap mobil yang lewat. Setahu paul mobil Rey adalah Rolls-Royce. Paul tidak tahu saja apa yang di kendarai Rey hari ini. Melihat mereka berdiri, Rey membunyikan klakson. Mereka menoleh dan melihat Rey melambaikan tangan dengan santai dari sebuah mobil lapis baja.
"Apa apaan ini Rey!" seru Paul terkejut.
"Hahaha...Masuklah!"
Mereka berdua lagi lagi terkejut melihat interior mobil itu. Semua serba mewah. Mereka terpana tanpa bisa berkata kata. Rey pun melajukan mobilnya ke bandara. Rey menuju bandara dengan kecepatan tinggi. Mereka kini berada di jalan ke arah bandara. Seakan mengerti tujuan Rey, Paul pun bingung.
"Rey, bukannya kita ke JTown naik mobil? Kenapa ke arah bandara? Kami belum beli tiket pesawat karena mendadak seperti ini..."
"Kalian gak perlu tiket.... Udah nikmati aja di belakang..." Rey tersenyum kepada mereka.
__ADS_1
Rey menambah kecepatan mobilnya. Pasangan yang di belakang benar benar bingung. Sampai di area bandara, Rey bukannya berhenti tapi terus melajukan kendaraannya.
"Rey! Pintu masuknya udah lewat tuh!"
Rey hanya diam, dia berputar ke arah sebuah bandara yang lebih kecil di bagian belakang bandara utama. Rey berhenti di sebuah pos penjagaan. Beberapa penjaga mendekati mobil Rey. Mereka meminta kartu identitas Rey. Setelah beberapa pengecekan Rey dipersilahkan masuk, namanya telah terdaftar sebagai orang penting di bandara karena memiliki akses pesawat pribadi dan petinggi sebuah maskapai penerbangan.
Para penjaga tadi juga sudah mengarahkan dan menunjukkan posisi pesawat Rey. Jadi Rey dengan mudah menemukannya. Paul dan istrinya hanya ternganga melihat semua hal yang terjadi dari tadi. Di kejauhan terlihat awak pesawat Rey telah menunggu di luar pesawat. Ada tiga pramugari dan dua pilot di sana. Mobil Rey mendekat. Rey keluar dari mobil bersama Paul dan Claudia yang masih bengong.
"Tuan Rey, pesawat anda sudah siap!"
"Baiklah... Ayo berangkat, dan tolong bantu aku masukkan mobil ini ke pesawat kargo. Aku akan membawanya."
"Tidak masalah tuan."
Paul dan Claudia masih terheran heran disamping Rey. Hal ini terlalu mengejutkan bagi mereka. Mereka tahu Rey kaya, tapi tidak mengira bahwa Rey sampai punya pesawat pribadi. Para pramugari mempersilahkan Rey dan tamunya untuk masuk ke dalam. Paul dan Claudia tercengang melihat di dalam kabin. Dekorasinya sangat mewah. Dindingnya di lapisi kayu, Meja mejanya dari marmer, lantainya memakai karpet yang lembut. Kursi kursinya di buat khusus dan berkelas.
Ada ruang konferensi kecil di dalamnya dengan proyektor paling modern dan beberapa tempat tidur yang bisa di lipat menjadi sofa yang nyaman. Sangat mengesankan. Rey benar benar kaya. Mata Paul dan Claudia melebar, mereka seperti dua orang primitif yang melihat kemajuan teknologi. Paul melihat setiap sudut dengan penasaran. Rey dengan santai berjalan di kabin dan duduk di atas sofa.
Rey hanya tersenyum melihat pasangan itu melongo. Lalu dia memanggil mereka untuk duduk di sofa yang berhadapan dengan Rey. Pasangan itu pun menurut. Pesawat itu akan lepas landas 10 menit lagi. Dan perjalanan ke JTown akan memakan waktu sekitar 1 jam saja. Rey menyalakan televisi besar dan bersantai menikmati sofa modern yang bisa memijat itu.
Akhirnya pesawat lepas landas dengan mulus. Pramugari menyiapkan apa yang di butuhkan Rey. Saat ini Rey hanya meminta di siapkan wine saja. Sambil menikmati perjalanan Rey mengobrol dengan Paul sedangkan Claudia tertidur di bahu Paul. Waktu berjalan dengan cepat. Setelah turun dari pesawat, Rey melihat monster bajanya telah di siapkan di dekat landasan.
Rey tiba dan memarkirkan mobilnya tepat di pintu masuk markas pusat, Melihat mobil lapis baja berhenti di depan markas, jelas membuat para pengawal yang berjaga menjadi heboh dan bersiaga. Mereka mengambil pistol masing masing dan menodongkan senjata ke arah mobil itu. Rey melihat itu hanya tersenyum. Rey sangat senang melihat kesigapan mantan anak buahnya. Rey keluar dari mobil dan mengangkat tangannya.
"Apa kalian pikir bisa membunuhku? Hahahaha!" Rey tertawa puas.
Para pengawal yang sebagian besar orang baru tidak ada yang menjawab. Matt Barley, salah satu kaisar yang kebetulan ada di sana, tersenyum senang.
"Rey Demonforge! Selamat datang kembali!"
Para pengawal yang sudah di bekali informasi tentang Rey, langsung menurunkan senjata, berdiri tegak dan membungkukkan badan mereka.
"Maafkan kami bos besar!" kata mereka semua serempak.
"Kalian tak perlu minta maaf, kerja kalian bagus! Hahahaha!"
Matt langsung memeluk Rey karena lama tak bertemu. Kalo bisa dibilang, sejak kejadian itu Matt adalah fans garis keras Rey. Pernah ada kejadian dimana Matt menghajar seseorang yang sedang bertengkar dengan temannya di pinggir jalan, kebetulan orang yang bertengkar itu bernama Rey, mendengar lawan debatnya menyumpahi nama Rey. Orang yang tidak tahu apa apa itu malah di hajar oleh Matt sampai sekarat. Dan orang bernama Rey itu hanya melongo melihat Matt menghajar temannya itu.
Rey dan Matt mengobrol di ruangan Matt. Banyak kejadian yang di ceritakan oleh Matt dan bisa mereka selesaikan dengan baik. Rey mengangguk senang. Matt juga bercerita kalau si Tua Ken Wang telah pensiun dan memilih kembali ke istrinya yang tinggal di pinggir kota dan hidup sederhana. Matt juga bercerita kalau Hugo Santos akan menyusul untuk pensiun juga dan mungkin akan menemui Rey di XTown suatu saat nanti.
__ADS_1
Setelah itu Rey berpamitan kepada Matt untuk pergi mengunjungi Ken. Rey menyusuri jalan menuju pinggiran kota mengikuti arahan alamat yang di beri oleh Matt. Akhirnya Rey menemukan alamatnya, terlihat rumah kecil namun bersih di sana. Rey memarkir mobilnya di depan rumah itu. Ketika akan mengetuk pintu, Rey di kejutkan oleh seorang wanita paruh baya yang sepertinya baru pulang berbelanja.
"Cari siapa nak?"
"Ah maaf nyonya apa benar ini rumah Ken Wang?"
"Benar nak, tunggu sebentar saya panggilkan di dalam..."
Setelah beberapa saat Ken keluar, Ken kaget melihat Rey berdiri di halaman rumahnya.
"Halo pak tua..."
"Bos! Kapan anda datang? Mari masuk..."
"Panggil namaku saja... Kau bukan anak buahku.... Kau lebih pantas jadi kakekku....hahaha"
Mereka pun masuk, mereka ngobrol hingga malam. Ken dan istrinya memaksa Rey untuk tinggal di rumahnya selama di JTown. Karena mereka tidak memiliki anak, istrinya sangat gembira saat Ken mengenalkan pada Rey. Istri Ken merasa seperti di kunjungi oleh seorang anak. Rey yang merasa hangat dan nyaman, tidak menolak ajakan mereka. Bahkan hadiah hadiah yang seharusnya Rey bagikan malah di turunkan di rumah Ken semua.
"Nyonya Carmen, bolehkah aku setiap kembali ke JTown aku tinggal disini?"
Ken dan istrinya berpandangan. Rey melanjutkan bicaranya.
"Aku tidak punya keluarga di sini, aku dari panti asuhan, dan sekarang pun panti itu sudah tidak ada... Walau aku tak tahu lahir di mana tapi aku tumbuh di sini... Aku hanya ingin punya tempat untuk pulang,,,"
"Tentu saja nak,, Tentu saja... Aku sangat senang ada kau di sini..."
"Kalau begitu bolehkah aku memanggilmu ibu, nyonya?"
"Tentu nak,, aku juga memimpikan punya seorang anak... aku senang kau mau menganggapku ibumu..."
"Tapi...." Rey berhenti bicara dan memandang Carmen dan Ken bergantian.
"Tapi aku tidak akan memanggilmu ayah, pak tua! Hahahahahaha"
"Hahahahahahahaha...." Ken ikut tertawa terbahak bahak.
Carmen tersenyum melihat hal itu. Carmen kemudian pergi meninggalkan mereka berdua untuk menyiapkan kamar yang akan digunakan oleh Rey. Malam semakin larut dan mereka sudah berada di kamar masing masing. Rey tiduran di kasur kecil yang di siapkan Carmen. Rey tidak keberatan dengan itu. Malah Rey merasa nyaman. Dia bahagia bisa memiliki keluarga untuk tujuan pulang.
Ponsel Rey berdering, Paul yang meneleponnya. Paul memberi kabar kepada Rey, kalau besok dia akan ke rumah gurunya ketika SMA. Karena Rey juga mengenal baik guru itu, Rey memutuskan untuk pergi bersama Paul. Rey juga memberitahu akan menjemputnya, tentu saja Paul tidak menolak. Setelah Paul menutup telponnya, Rey tidak lupa berbalas pesan kepada para wanita yang merindukan dirinya. Rey berkutat dengan ponselnya hingga dia tak sadar tertidur.
__ADS_1