Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Beratnya Hidup Rey


__ADS_3

BRAK!


Segera mobil ferrari merah itu menabrakkan moncongnya ke lamborghini reventon dengan keras.


"A.. Apa! Sialan!" seru Teddy berjalan menuju mobilnya dan melihat samping mobilnya rusak parah karena benturan yang di lakukan oleh Hitomi.


Semua orang yang berada di sana berkumpul untuk menyaksikan kejadian itu.


"Lihat! Bukankah itu Teddy Larks?"


"Ah iya benar! Itu Teddy Larks! Lalu siapa wanita itu? Berani sekali dia!"


Hampir semua orang di kerumunan itu mengenal Teddy Larks. Banyak orang yang menyaksikan kejadian itu menatap Hitomi dengan iba. Mereka tahu nyawa wanita itu terancam apabila berurusan dengan keluarga Larks.


Rey dengan santai melemparkan segepok uang ke arah Teddy dengan tatapan menghina.


"Bawa mobilmu dan pergi sebelum aku berubah pikiran." kata Rey santai.


Teddy semakin marah dengan perlakuan Rey. Teddy mengeluarkan ponselnya dan memanggil beberapa pengawalnya.


"Ahahaha, lihat dia sedang memanggil bantuan!" seru Rey dengan santai sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana.


Hitomi dan yang lainnya segera mendekat ke arah Rey dan menggandeng tangan Rey dengan santai.


"Panggil bantuan sebanyak mungkin kawan!" seru Rey lagi sambil bersandar di mobil Yuri.


Tak lama kemudian beberapa mobil hitam datang dan berhenti di depan tempat kejadian, para pengawal Teddy segera keluar dari mobil dan berkumpul. Kurang lebih ada sepuluh orang berbadan besar dengan setelan jas hitam keluar dari mobil mobil itu.


"Habisi orang itu!" teriak Teddy menunjuk ke arah Rey.


Para pengawal itu segera bergerak bersama menuju Rey. Rey dengan santai menyuruh kepada tiga wanitanya untuk menyingkir. Salah satu pengawal Teddy mengepalkan tinjunya dengan keras dan melesat begitu cepat ke arah Rey. Rey menghindar dengan sedikit gerakan ke samping dengan santai.


"A.. Apa! Bagaimana bisa!" seru pengawal itu kaget.


Pengawal itu mencoba lagi, lagi dan lagi. Namun semua tinjunya tidak dapat mengenai tubuh Rey sedikit pun. Rey pun membalasnya dengan satu pukulan saja.


BUGH!


Pengawal itu terbang beberapa meter dari Rey dan menabrak mobil Teddy dengan keras, sehingga dia terkapar pingsan.


"A.. Apa apaan! Serang terus!" seru Teddy panik.


Para pengawal secara serentak menyerang Rey dengan tinjunya masing masing. Rey dengan santai masih menghindari pukulan yang mereka berikan kepadanya. Tatapan Rey menjadi dingin, dengan cepat Rey membalas mereka dengan pukulan dan tendangannya. Lima orang mulai terkapar di aspal tempat parkir itu. Hitomi dan yang lainnya terkejut melihat kemampuan Rey bertarung. Mereka merasa sangat mengaguminya.


"Uhuy... Sisa empat!" kata Rey santai sambil memasukkan tangannya ke saku lagi.


"Apa apaan ini! Dia monster!"


Kerumunan bergemuruh menyaksikan kejadian ini. Mereka benar benar seperti sedang menonton film action. Tapi mereka juga merasa kasihan pada Rey karena berpikir bahwa walau Rey kuat, dia tidak bisa menghadapi keluarga Larks. Keempat pengawal Teddy segera mundur menyadari jika Rey memiliki keahlian bertarung.


"Tuan Larks, sebaiknya mundur dulu untuk saat ini!" bisik ketua pengawal itu tegas.


Teddy dengan hati hati menganggukan kepalanya setuju. Dia tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan untuk melawan Rey sekarang, dia akan memikirkan cara lain untuk membalas dendam. Teddy dan para pengawalnya segera pergi dari sana sebelum petugas keamanan datang ke tempat kejadian.


"Lah kok pergi?" tanya Rey dalam hatinya. Karena sudah lama tidak berkelahi, Rey tadi merasa sangat senang, sekarang dia kecewa. Dia berbalik dan mendekati para wanitanya.


"Sayang kau semakin membuatku kagum!" seru Hitomi sambil menghembuskan nafas lega.


"Ada kejutan apa lagi suatu hari?" tanya Fafa bercanda.


"Sepertinya si teddy tadi gak tau kalau aku yang sudah merebut perusahaan mereka." kata Rey menatap Hitomi.


"Dia tadi bilang kau tidak tahu siapa dia kan? Sepertinya Dia yang tidak tahu siapa kau, sayang." kata Fafa.


"Bisa jadi sih,,, hehehe... Ayo pulang, masalah mobil biar Leon yang urus nanti." kata Rey santai.


Mereka berjalan dan memasuki mobil untuk kembali ke mansion. Kedua mobil itu berjalan ber iringan dengan santai.


"Yuri, maaf ya, mobilmu jadi rusak deh." kata Hitomi menatap Yuri.


"Maaf buat apa coba? Tadi itu kakak sangat keren tau!" jawab Yuri senang.


Mereka akhirnya tiba di mansion. Rey menepuk perutnya mengisyaratkan kalau kejadian tadi membuatnya lapar. Yuri dan yang lain tertawa melihatnya. Mereka segera ke ruang makan. Bibi sudah menyiapkan makan siang di atas meja. Merekan makan dengan lahap dan semangat. Sesekali Hitomi menyuapi Rey, hal itu membuat yang lain terdiam sejenak.


Mereka akhirnya berebut untuk menyuapi Rey hingga mulutnya penuh dengan makanan yang mereka berikan. Mereka bertiga tertawa melihat wajah Rey yang belepotan dan mulut menggembung itu. Rey hanya bisa pasrah dan geleng geleng kepala.


Mereka selesai dengan makan siang dan menuju ke belakang mansion untuk bersantai. Rey membuka ponselnya dan menelpon Leon.


[Hey Leon kau dimana?]

__ADS_1


[Halo tuan, saya sedang membeli pesanan bahan makanan yang di berikan bibi. Ada apa tuan?]


[Hahahaha! Oke oke setelah itu temui aku oke? Ada yang harus kau lakukan.] seru Rey tertawa geli membayangkan Leon berbelanja ke pasar.


[Siap tuan!]


Rey menutup ponselnya dan pergi ke garasi untuk melihat mobil Yuri yang rusak. Beberapa saat kemudian Leon datang dan menghampiri Rey.


"Waah! Apa yang terjadi tuan? Kenapa rusak parah begini?" tanya Leon kaget.


"Ceritanya panjang sih, kau bisa membawanya ke bengkel kan?"


"Jangan khawatir tuan, serahkan padaku." seru Leon menepuk dadanya.


"Hahaha, kau ini.."


Rey menyerahkan kunci mobil Yuri kepada Leon untuk segera di perbaiki.


***


Di rumahnya, Xena membuka laptop dan menatap garis naik turun di bursa saham. Xena menerima laporan dari Oico Group untuk minggu ini dan sepertinya berjalan kurang baik.


Di mansion, Rey sedang berjalan ke arah para wanitanya yang sedang berkumpul.


"Sayang, aku pulang dulu, katanya ibuku mencariku." kata Fafa sambil memeluk Rey.


Rey mencium kening Fafa. Fafa berpamitan pada semuanya dan bergegas pergi meninggalkan mansion.


"Sayang lihat ini!" seru Hitomi sambil menunjuk layar laptopnya.


Rey berjalan mendekati Hitomi dan ikut menatap layar laptop itu. Mereka sedang memperhatikan garis yang sedang naik turun.


"Apakah itu grafik Oico?" tanya Rey.


"Iya, sejak pagi Oico turun terus sampai di titik terendah sekarang."


Rey menatap grafik itu, tapi entah kenapa yang dia lihat berbeda dengan Hitomi. Turun apanya? Itu naik! Oico Group mengalami kenaikan besar di layar yang sedang dia tatap sekarang.


"Apa yang salah? Itukan naik dengan pesat! Kenapa Hitomi bilang turun?" kata Rey dalam hati sambil menggaruk kepalanya.


Namun sudut mata Rey melihat ke tanggal yang tertera di layar ternyata satu hari lebih cepat. Itu tanggal besok! Rey teringat dia pernah mendapat penglihatan masa depan dari sistemnya. Dia masih tidak percaya dan menggaruk kepalanya karena bingung.


Hitomi menggulir satu persatu halaman di layar melihat lihat saham yang lain.


"Stop!" seru Rey sambil melihat saham minyak bumi.


"Ada apa sayang?" tanya Hitomi heran.


"Menurutmu saham ini gimana?"


"Sedang turun, lihat! dari 2 juta ke 1,4 juta." kata Hitomi menunjuk ke arah bawah layar.


"Beli." kata Rey santai.


"Hah? Untuk apa beli saham ini? Ini turun loh sayang!"


"Tunggu beberapa jam, itu akan naik."


"Ah....Mana mungkin!"


"Sudahlah, belikan aku 10 juta lembar."


"APA!! Kita akan rugi banyak lho sayang!" kata Hitomi cemberut.


"Jangan khawatir, sudah cepat beli saja!"


"Hmmmmm...." kata Hitomi ragu.


Hitomi akhirnya membeli 10 juta lembar saham minyak bumi dengan harga 4 milyar.


"Sudah aku beli nih." kata Hitomi masih ragu.


"Oke tunggu satu jam lalu jual lagi."


Hitomi terus menatap laptopnya dan grafik itu mengalami penurunan secara perlahan. Hitomi merasa menyesal dengan pembelian itu.


"Sayang, gimana nih, makin turun terus..." kata Hitomi sedih.


"Tenang tenang... tunggu beberapa menit lagi."

__ADS_1


15 menit kemudian Hitomi terkejut dan melebarkan matanya tak percaya ketika melihat grafik saham itu melonjak naik dari angka 525 ke angka 1250 dan masih terus naik lagi.


"Sayang lihat!" seru Hitomi semangat.


"Sudah ku bilang jangan khawatir." kata Rey mengelus rambut Hitomi sambil menatap layar laptop.


Di kamar, Yuri habis selesai mandi dan sedang menyiapkan buku untuk kuliahnya besok. Kemudian dia merebahkan diri sambil memainkan ponsel. Dia tadi pergi ke kamar karena berpikir bahwa Hitomi dan Rey sedang bekerja dan Yuri tidak ingin mengganggu.


Satu jam kemudian Hitomi merasa gembira ketika melihat grafik saham yang dia beli, grafiknya terus menerus naik hingga sampai di angka 2205. Rey melihat layar laptop dan melihat saham itu akan segera turun lagi di angka 2310.


"Hitomi, jual semua!"


"A.. Apa? Sayang, apa tidak kita tunggu dulu?"


"Ikuti saja perintahku!"


"Hmmmm" jawab Hitomi sedikit kesal.


Hitomi menjual 10 juta lembar saham tadi. Dengan modal 4 milyar uang itu kembali ke rekeningnya menjadi 105 milyar. Hitomi dengan tak percaya menggelengkan kepalanya. Rey tertawa melihat tingkah Hitomi. 10 menit kemudian saham itu kembali turun ke titik terendahnya.


"Lihat itu Hitomi. Apa yang terjadi kalau kau tidak mendengar kata kata ku tadi?" tanya Rey sambil tersenyum


Hitomi melihat grafik saham itu dengan rasa tidak percaya. Grafiknya turun setelah Rey menjual semuanya. Hitomi dengan kagum melihat Rey dengan tatapan penuh kasih sayang. Hitomi melompat dan memeluk Rey dengan erat. Hitomi mencium bibir Rey dengan penuh semangat.


"Hey hey sudah nanti di lihat bibi..." kata Rey


Hitomi melihat sekeliling dengan malu.


"Sayang, kok kamu bisa tahu grafiknya naik atau turun?"


"Aku juga gak tahu sih, firasatku bilang gitu,,,hehehe..." jawab Rey sekenanya.


Tiba tiba notifikasi ponsel Hitomi berbunyi. Hitomi segera membuka ponselnya dan melihat notifikasi yang memberitahukan bahwa saldo rekening bank nya telah bertambah. Hitomi langsung senang sambil melompat lagi ke pelukan Rey.


"Sayang lihat! Saldonya bertambah banyak!" seru Hitomi gembira.


"Kalau gitu bagikan ke nona yang lain, masing masing 10 milyar." kata Rey santai.


Hitomi segera mentransfer kepada Xena, Yuri dan Fafa. Di rumah, Xena sedang asyik melihat layar laptopnya tiba tiba mendengar notifikasi yang masuk ke ponselnya. Xena segera membuka ponselnya dan melihat notifikasi itu. Dia terkejut.


"Eh? Kenapa Rey mengirim uang banyak sekali?" kata Xena heran di dalam hati.


Ibunya yang dari tadi memperhatikan Xena merasa aneh melihat tingkah laku Xena yang tiba tiba berubah.


"Ada apa nak?" tanya ibu Xena.


"Ini bu, Rey mengirimi aku uang." jawab Xena memperlihatkan ponselnya.


Ibu Xena kaget melihat jumlah saldo yang diterima oleh Xena.


"A.. Apa? Kenapa banyak sekali nak?"


"Hmmm,,, padahal sebelumnya dia sudah memberiku 50 juta lho bu."


"Apa Rey meminta syarat atau apapun darimu?"


"Tidak pernah bu, bahkan mobil yang aku bawa itu di belikan Rey."


Ibu Xena merasa takjub dengan apa yang di lakukan oleh Rey kepada anaknya. Dengan penuh rasa penasaran, ibu Xena ingin menyelidiki status Rey ketika nanti dia sudah sembuh. Xena membuka ponsel dan menghubungi Rey.


[Halo sayang.]


[Hey ada apa nona Rey?] tanya Rey santai.


[Kenapa kau mengirimi aku uang banyak sekali? Uang yang kemarin saja belum habis lho.]


[Ya gak apa apa kan? Itu bisa buat kebutuhan ibumu juga. Kalo habis langsung ngomong aku oke?]


[Eh? Baiklah. Terima kasih banyak sayang. Aku merindukanmu!]


Xena mengakhiri panggilan telponnya.


"Nak, sebenarnya keluarga Rey itu seperti apa?" tanya ibu Xena.


"Ibu, Rey anak yatim piatu, dia tinggal di panti asuhan dan hidup sendirian sejak kecil."


"Lalu bagaimana dia bisa punya uang banyak?"


"Keluarga Rey mewariskan beberapa perusahaan kepadanya. Dulu bisnis keluarganya di pegang oleh orang kepercayaannya, karena sekarang Rey sudah cukup umur makanya Rey ambil alih semuanya."

__ADS_1


"Oh jadi gitu,, ternyata hidup Rey sangat berat dulu." kata ibu Xena merasa iba kepada Rey.


__ADS_2