
"Nona, silahkan masuk."
Cameron mengangguk dan mengikuti pelayan itu masuk ke dalam mansion.
"Selamat sore, tuan Rey."
"Selamat sore juga, Cam. Bagaimana kabarmu?"
"Baik tuan, maaf jika aku mengganggu anda." kata Cameron menunduk.
"Tidak apa apa , lagipula aku tidak keberatan. Aku tahu kau pasti lari dari rumah kan?" tanya Rey.
"Kenapa anda bisa tahu." seru Cameron kaget.
"Tentu saja aku tahu, aku sudah memprediksinya sejak bertemu ibumu kemarin sore. Lalu apa rencanamu?" tanya Rey.
"Tuan, sebenarnya aku tidak mempunyai rencana apa apa. tapi---,,,"
"Tapi apa?"
"Tuan, bolehkan aku menumpang tidur di sini, aku tidak tahu harus pergi kemana." kata Cameron menunduk.
"Tentu, kenapa tidak, lagi pula aku tidak merasa keberatan, jadi jangan sungkan." jawab Rey santai.
"Sayang, siapa yang datang?" tanya Xena saat turun ke lantai satu.
"Aah, nona Rey, ini aku." jawab Cameron sambil berdiri dari duduknya dan menyapa Xena.
"Oh, Cameron. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik nona Rey."
"Jangan panggil aku seperti itu, kamu panggil saja dengan panggilan kakak, kalau kamu memanggilku seperti itu, kedengarannya tidak enak." jawab Xena.
"Baiklah, maaf kakak." jawab Cameron canggung.
"Jangan sungkan."
"Nah, karena Xena sudah di sini sebaiknya kau bersamanya dulu, aku harus pergi ke kantor polisi untuk menjemput Vonta." kata Rey santai.
"Benarkah tuan Rey? Vonta akan bebas?" seru Cameron senang.
"Ya, aku harap begitu. Dan Xena, ajak Cameron untuk tinggal di sini, dia kabur dari rumah." kata Rey sambil mengelus rambut Xena dengan lembut.
"Hah? Kenapa kamu lari dari rumah?"
Cameron tidak menjawab pertanyaan Xena tapi dia hanya menundukkan kepalanya saja.
"Sudah, lupakan saja, ayo Cam, ikut denganku, aku akan membawamu ke kamar." kata Xena santai sambil menggenggam tangan Cameron.
Cameron dengan patuh mengikuti Xena untuk menuju ke kamar tidur untuk tamu yang ada di lantai satu.
"Baiklah, aku pergi dulu." kata Rey.
"Iya sayang, hati hati di jalan." jawab Xena lembut.
"Eh? Cam, kenapa kau di sini?" seru Lee yang baru muncul dari dapur.
__ADS_1
Cameron tidak menjawab, dia hanya melihat Lee sambil berjalan bersama Xena.
Lee menggelengkan kepala, sambil melihat ke arah Xena dan Cameron yang bergandengan tangan dengan santai.
"Haish, sama wanita yang aku kenal saja di abaikan, bagaimana dengan yang belum kenal." seru Lee kesal.
"Sudahlah, ayo kita pergi." seru Rey.
"Baiklah bos."
***
Sementara itu, Fafa, Sabrina dan Yuri sudah sampai di mall.
Sesampainya di mall, mereka bertigamenjadi pusat perhatian banyak orang saat keluar dari mobilnya masing masing.
"Lihat! Ada tiga bidadari."
"Sungguh luar biasa!"
Mereka bertiga mengenakan pakaian yang cukup membuat semua perhatian orang yang berada di sana terkagum kagum. Dengan mengenakan pakaian yang sedikit ketat sehingga kecantikan mereka dan pesona keindahan tubuhnya yang sangat menawan terpampang dengan jelas saat mereka berjalan melewati para pengunjung.
"Sialan! Lelaki seperti apa yang beruntung mendapatkan gadis seperti mereka."
"Ya, setidaknya kita memiliki pasangan yang mau menerima kita apa adanya, jika melihat gadis seperti mereka, sepertinya mereka para gold digger."
"Ya, sepertinya begitu."
Para pengunjung membicarakan mereka saat berjalan melewatinya.
"Sialan! Kenapa kau menamparku?"
"Kau pantas mendapatkannya, untung saja aku tidak mencungkil matamu yang jelalatan ketika melihat gadis seksi itu!"
"Hah? Ada apa apa itu ramai ramai." seru Affa yang sedang duduk di sofa bersama Baron.
Affa segera berdiri dan melihat ke lantai satu.
"Baron! Lihat itu!" seru Affa sambil menunjuk ke arah tiga gadis yang sedang menaiki eskalator.
"Ada apa sih?"
Baron berdiri dan melihat ke arah yang di tunjuk oleh Affa.
"Hei Baron, bagaimana menurutmu dengan ketiga gadis itu?" tanya Affa sambil bercanda.
"Bagaimana apanya?"
"Ya bagaimana menurutmu? Berapa nilai mereka?" tanya Affa senang.
Affa dan Baron sudah terbiasa sejak dulu saat melihat gadis cantik yang lewat di depan mata mereka, biasanya mereka akan bertaruh untuk mendapatkan gadis cantik itu hingga salah satu dari mereka berdua mendapatkannya.
"Ah, biasa saja." jawab Baron santai.
"Apa katamu? Baik, bagaimana kalau kita bertaruh seperti dulu." seru Affa senang.
"Tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu lagi, lagi pula ketiga pacarku ada di sini. Apa kau gila?" jawab Baron tertawa geli.
__ADS_1
"Hahaha, apa kau takut?" kata Affa mencemooh.
"Takut katamu! Bukankah kau selalu kalah dariku." kata Baron santai.
"Itu dulu, tapi sekarang akan berbeda." kata Affa sengaja agar Baron menerima tantangannya.
"Baik, mari kita bertaruh." kata Baron santai.
"Deal!"
Affa senang saat Baron menerima tantangannya.
"Siapa yang akan mulai duluan?" tanya Affa sambil menggosok kedua telapak tangannya senang.
"Aku akan memberikan kesempatan pertama untukmu." jawab Baron mencemooh.
"Hahaha, baik! Aku tidak akan sungkan." seru Affa senang.
Sementara itu, ketiga gadis Rey dengan santai berjalan bersama di area mall itu tanpa ada beban di pundak mereka.
Mereka dengan senang melihat lihat pakaian yang di pajang di mall ini.
"Fa, lihat ini." seru Yuri sambil menunjuk ke arah onderdil dalam yang di pajang di lemari kaca.
"Wiiihhh, seksi sekali, hei, Yuri, kalau itu di pakai olehmu pasti akan sangat cocok." seru Fafa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Hahaha, benarkah? Kalau begitu, aku akan membelinya." seru Yuri polos.
"Brie, bagaimana denganmu? Apa kamu juga akan membelinya?" tanya Fafa.
"Akut tidak menyukainya, itu terlalu brutal." jawab Sabrina sambil melihat Yuri yang sedang membuka lemari kaca itu.
"Hahaha, ya, aku sependapat denganmu, bahkan jika aku memakainya aku akan merasa malu sendiri." kata Fafa sambil tertawa.
"Hah? Kenapa harus malu? Memangnya kamu akan memakainya di tempat umum?" seru Yuri sambil menggeleng heran.
"Halo, nona, bolehkah kita berkenalan." kata Affa sambil mengulurkan tangannya ke arah Fafa.
"Hah? Apa katamu?" tanya Fafa mengerutkan kening.
"Kenalan nona, itu yang aku katakan barusan." jawab Affa senang.
"Maaf, kami tidak punya waktu untuk berkenalan." jawab Fafa santai.
"Hei, Fa, lihat sini!" seru Sabrina sambil menarik tangan Fafa ke arah pakaian yang di lihatnya tanpa menghiraukan Affa yang berada di dekat mereka.
"Sialan!" gumam Affa kesal.
"Hahaha." Baron tertawa saat melihat Affa seperti pengemis di depan ketiga gadis itu.
"Nona, tolong minta kontaknya saja kalau nona sedang tidak ada waktu sekarang." kata Affa sambil mengikuti ketiga gadis itu ke arah kasir.
Tapi Fafa tidak menghiraukannya dan melanjutkan obrolan mereka dengan senang.
"Sialan! Apa aku sejelek itu." gumam Affa kesal.
"Hei nona, kenapa kalian sombong sekali, bukankah aku hanya ingin berteman saja." seru Affa kesal sambil berjalan mengikuti ketiga gadis itu.
__ADS_1