
"Nyonya besar, pemuda itu sudah di bebaskan dari tahanan setelah seseorang menjaminnya." kata ajudan ibu Cameron sambil membungkukkan badan.
"Apa! Siapa yang menjaminnya?" tanya ibu Cameron kaget.
"Penjamin pemuda itu bernama Rey, nyonya." jawab ajudan itu dengan hormat.
"Sialan! Berani sekali dia menentangku! Segera hubungi kepala kepolisian!" teriak ibu Cameron marah.
"Baik nyonya."
Ajudan menelpon kepala polisian yang telah melepaskan Vonta tanpa memberitahu nyonya Diaz terlebih dahulu.
"Nyonya, panggilan telpon tidak ada jawaban." kata ajudan itu sambil menundukkan kepalanya.
"Sialan! Dasar brengsek!" seru Nyonya Diaz marah.
"Besok pagi, antar aku ke kantor polisi, aku akan memberi pelajaran agar mereka tidak bertindak tanpa melapor padaku terlebih dahulu!" seru nyonya Diaz sangat marah.
"Baik nyonya." jawab ajudan itu sambil membungkuk hormat.
Nyonya Diaz menuju ke lantai dua untuk ke kamar Cameron setelah sadar bahwa putrinya itu belum makan dari kemarin malam.
"Sayang, dari semalam kamu belum makan nak, buka pintunya, ibu mohon." kata Nyonya Diaz sambil mengetuk pintu kamar Cameron.
"Sayang, buka pintunya. Ibu mohon, nak, jika kamu tidak makan, kamu akan sakit nanti, nak." kata Nyonya Diaz berdiri di depan pintu kamar Cameron.
"Sayang, apa kamu masih marah pada ibu? Nak, ibu ada kabar baik untukmu." kata Nyonya Diaz membujuk.
Beberapa kali Nyonya Diaz mengetuk kamar Cameron dan mencoba berbicara dengannya, tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar.
"Apakah dia sakit?" gumam Nyonya Diaz khawatir.
Nyonya Diaz ke lantai satu dan memanggil ajudannya dengan panik.
"Nyonya, ada apa?" tanya ajudan itu panik.
"Tolong, bukakan pintu kamar Cameron, aku takut jika dia sakit, dari kemarin malam hingga sekarang dia tidak makan karena marah padaku." kata Nyonya Diaz dengan penuh rasa khawatir kepada Cameron.
"Baik nyonya." kata ajudan itu dengan cepat ke arah lantai dua di ikuti oleh Nyonya Diaz dari belakang yang semakin merasa khawatir kepada putrinya.
Ajudan itu mendobrak pintu kamar Cameron dengan keras, tapi pintu kamar itu tidak bisa terbuka dengan mudah.
Ajudan itu mencoba mendobrak pintu kamar itu lagi hingga akhirnyapintu kamar Cameron roboh.
"Sayang!" seru Nyonya Diaz masuk ke dalam kamar Cameron.
Tapi saat Nyonya Diaz masuk ke kamar Cameron, dia tersentak kaget saat melihat kamar itu sangat berantakan, dia juga melihat tali yang terbuat dari sprei dan tirai yang bergelantungan dari jendela.
"Sialan! Dia kabur dari rumah!" seru Nyonya Diaz dengan marah.
Nyonya Diaz merasa semakin marah dengan apa yang terjadi hari ini.
***
Sementara itu, di sisi lain, Baron dan ketiga wanitanya kembali ke rumahnya setelah selesai acara pelelangan.
[Bos! Mereka masuk ke sebuah mansion paling besar di kawasan Seashore!]
"Apa! Menurut informasi yang aku miliki, bukankah itu masion milik orang bernama Rey itu?" seru Baron sambil mengerutkan kening.
"Oke, selidiki terus!" kata Baron santai.
__ADS_1
[Baik bos!]
Affa mengakhiri panggilan teleponnya dengan Baron.
"Bajingan, Demonforge ya?! Aku tahu nama itu! Tapi apakah kau orang yang sama, Rey?" gumam Baron sambil menyeringai penuh arti.
Sejak One dan Two keluar dari pelelangan itu, Affa mulai mengikuti mereka diam diam, hingga mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang di buntuti oleh Affa.
Affa bersembunyi di depan sebuah rumah kosong tidak jauh dari mansion Rey.
***
Pagi harinya,
Kelima wanita Rey sudah bangun dan bercanda di tempat tidur.
"Ada apa ini? Berisik sekali kalian." kata Rey saat mendengar para wanitanya yang tertawa dengan gembira.
"Aah, tidak ada apa apa, sayang." kata Hitomi sambil memeluk Rey.
"Sayang, bangun! Antar kami ke kampus!" seru Yuri sambil melompat dan duduk di atas perut Rey yang masih tidur.
"Uhuk! Yuri! Badanmu berat sekali!" seru Rey sambil membuka matanya.
"Apa aku segemuk itu?" seru Yuri cemberut.
"Ya, kamu sangat gemuk sekarang." seru Fafa.
"Sudah seperti beruang kutub. Hahahaha!" seru Sabrina sambil tertawa.
"Hahaha." Para wanita yang lain ikut tertawa melihat Yuri cemberut.
Yuri berteriak kaget karena tiba tiba di remas dengan kencang, kemudian malu malu.
"Ayo kita mandi bersama." kata Rey kemudian dengan santai.
"Ayo!" seru Fafa semangat.
"Ayo sayang!" seru Yuri menarik tangan Rey agar segera bangkit dari tidurnya.
Tiba tiba ponsel Rey berdering. Rey mengambil ponselnya dan heran.
Tidak ada nomor yang tertera di sana. Dia mengangkatnya.
[Kau ini tidak pernah lepas dengan para wanitamu, aku jadi susah menghubungimu!]
"Eh? Siapa kau?"
[Brengsek! Aku yang membuatmu kaya, bodoh!]
"Oh! Halo kau kemana saja?"
[Matamu itu! Aku baru saja mengambil alih sebuah perusahaan, uruslah! Itu adalah The Green Group!]
'Hah? Perusahaan apa lagi sekarang?' gumam Rey bingung ketika panggilan itu tiba tiba mati.
Rey bangkit dari tidurnya lalu mengikuti Yuri yang menarik tangannya ke arah kamar mandi.
Para wanitanya yang lain mengikuti Rey ke kamar mandi dan segera membuka pakaian masing masing.
***
__ADS_1
Sementara itu, di pagi hari yang cukup dingin di kota JTown, Teddy dan Xia baru saja bangun tidur.
"Selamat pagi sayang." kata Xia mencium pipi Teddy.
"Selamat pagi juga." jawab Teddu sambil membuka matanya perlahan.
"Sayang, sebaiknya kita bersiap siap karena pagi ini kita akan di jemput untuk melihat para pekerja proyek ini." kata Xia mengingatkan Teddy.
"Baiklah, ayo kita mandi bersama." jawab Teddy.
"Oke." Xia mengangguk.
Mereka menuju ke kamar mandi hotel tempat mereka menginap.
***
Di sisi lain, Affa baru terbangun dari tidurnya di dalam mobil dan segera melihat situasi yang ada di area mansion Rey dengan teliti.
Tiba tiba ponsel Affa berdering.
"Ada apa Jacquel?" kata Affa mengangkat telponnya.
[Selamat pagi sayang.]
"Selamat pagi juga." jawab Affa santai.
[Sayang, kenapa semalam kamu tidak pulang?]
"Aku mendapat misi dari Baron untuk menyelidiki orang yang ada di pelelangan semalam."
[Oh begitu, lalu dimana kamu sekarang? Aku akan membawakanmu sarapan pagi.]
"Sebentar, biar aku kirim lokasinya." jawab Affa.
[Baiklah sayang, tunggu beberapa menit lagi, aku kan ke sana nanti.]
"Oke." jawab Affa dan mengakhiri panggilannya.
Jacqueline segera menyiapkan roti untuk di bawa kepada Affa nanti.
***
Sementara itu, Baron masih berbaring di atas ranjang bersama ketiga wanitanya dengan lelap, tapi sebuah panggilan telpon membangunkan salah satu wanita yang sedang memeluk Baron di sisi kanannya.
[Halo, bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan kesempatan untuk meracuninya?]
"Ah, maaf tuan, sepertinya kami belum mendapatkan waktu yang tepat." jawab wanita itu santai.
Dengan sengaja wanita itu menyalakan loud speaker di ponselnya agar terdengar oleh Baron bahwa penasehatnya menelpon dan memerintahkan untuk meracuni Baron.
[Baiklah, ingat pergunakan setiap kesempatan untuk meracuninya dengan cepat.]
"Baik tuan." jawab wanita itu.
Penasehat itu mengakhiri panggilan telponnya.
"Apa kau merekamnya?" tanya Baron.
"Tentu." wanita itu mengangguk.
"Bagus. Kalau begitu kumpulkan rekaman itu untuk bukti nanti saat aku melaporkannya kepada kepolisian." kata Baron santai.
__ADS_1