
Affa mencari ponselnya tapi dia tidak menemukannya.
"Sialan! Apa ponselku tertinggal di kedai itu!" seru Affa kesal.
"Sayang, sebaiknya kita kembali ke kedai itu sebelum ponselmu di temukan oleh orang lain." kata Jacqueline.
"Baiklah." jawab Affa sambil menyalakan mobilnya.
Affa menginjak pedal gasnya dengan cepat, tapi mobilnya tidak bergerak sama sekali.
"Sialan! Ada apa dengan mobil ini!" kata Affa mengerutkan kening.
"Sayang! Lihat ini!" seru Jacqueline yang sudah keluar mobil dan menunjuk ke arah roda mobil itu.
"Brengsek! Siapa yang melakukannya." kata Affa marah saat tahu ban mobilnya sudah hilang semua.
"Biar aku coba telpon ponselmu." kata Jacqueline panik.
Jacqueline menelpon ponsel Affa, tapi saat mulai tersambung, ternyata suara ponsel Affa terdengar dengan sangat jelas.
"Hah? Suara ponselmu! Coba cari di sekitar sini, sayang." seru Jacqueline sambil melihat sekeliling mencari arah datangnya suara dering itu.
"Apa kalian mencari ini?" tanya Lee berjalan ke arah mereka.
"Brengsek, kembalikan ponselku!" seru Affa marah.
"Ambil saja sendiri." jawab Lee santai.
"Sialan! Kau cari mati!" seru Affa marah.
Affa menuju ke arah Lee dengan cepat melesatkan kepalan tangannya.
Tapi Lee tidak kalah cepat.
Dengan santai Lee menghindar dengan mudah hingga Affa semakin merasa geram dengan tingkah Lee yang mempermainkannya.
"Sialan! Jika kau tidak mengembalikan ponselku, jangan salahkan aku jika kau mati di sini hari ini!" seru Affa marah.
"Hahaha, ayo gunakan seluruh tenagamu untuk mengambilnya." kata Lee tertawa.
"Oke! Jangan menyesal dengan omong kosongmu!" seru Affa menuju ke arah Lee dengan cepat.
"Sayang, hati hati!" seriak Jacqueline.
Affa menyerang Lee dengan emosi dan melayangkan sebuah pukulan cepat ke arah Lee.
"Rasakan ini!" teriak Affa.
"Hah? Lambat sekali gerakanmu." kata Lee santai sambil menghindari serangan Affa.
Affa semakin marah dan menyerang Lee dengan rentetan tinju beruntun.
Tapi tidak satupun tinju yang mengenai Lee setalah beberapa kali mencobanya.
"Hei, berapa umurmu? Kenapa lambat sekali?" tanya Lee sambil mengacungkan ponsel Affa untuk mengejek.
"Brengsek!" seru Affa marah dan menyerang Lee kembali dengan cara yang berbeda.
Dengan marah Affa menyerang Lee tanpa henti, kali ini Affa menyerang Lee dengan sangat serius membuat kecepatan pukulannya lebih cepat dari sebelumnya.
"Rasakan ini dasar bodoh!" teriak Affa sambil menyerang Lee dengan sangat cepat.
__ADS_1
'Sial, lumayan cepat juga dia.' gumam Lee dalam hati.
Lee berusaha menghindari serangan Affa dengan cepat.
Tapi serangan Affa dengan beberapa pukulan yang di lesatkan dengan cepat, akhirnya bisa mengenai Lee tepat di dada dengan keras.
BUAGH!
Lee terpental beberapa meter dan menabrak pohon yang ada di dekatnya.
'Sial!' gumam Lee sambil menggelengkan kepala.
Tapi belum sempat Lee berdiri, Affa kembali menyerang. Karena Lee lengah, dia terkena pukulan keras Affa lagi.
"Hahaha! Lambat sekali! Berapa umurmu?!" seru Affa tertawa.
"Sialan!" seru Lee berdiri.
Tapi Affa tidak memberikan kesempatan pada Lee untuk bangkit, Affa menyerang Lee kembali dengan sangat cepat.
"Kembalikan ponselku!" teriak Affa sambil menyerang.
Tapi sekarang, Lee sudah siap dengan serangan Affa yang sangat cepat itu.
Lee menghindar dengan lompatan cepat hingga serangan Affa tidak mengenainya kali ini.
'Sial, dia menghindar!' gumam Affa dalam hati.
Lee menyerang balik ke arah Affa yang terlihat sedikit lengah.
"Awas sayang!" teriak Jacqueline keras sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Saat ini posisi Affa sedang lengah, dengan begitu, saat Lee melihat kesempatan itu, dia menyerang Affa dengan kaki kirinya sehingga mengenai kepala Affa dengan keras.
BUAGH!
Affa terpental beberapa metar hingga menabrak pohon yang ada di dekatnya.
"Sialan!" teriak Affa marah sambil memegangi kepalanya.
"Sayang, apa kamu baik baik saja?!" seru Jacqueline.
"Hei! Gadis bodoh! Minggir! Kau menghalangi pandanganku!" seru Vonta santai sambil duduk di kap mobil Affa dan menonton Lee bertarung.
"Brengsek! Siapa kamu!" seru Jacqueline.
"SIalan! Menyingkir dari mobilku!" teriak Affa marah saat mobilnya di jadikan kursi tontonan oleh Vonta.
"Hah? Menyingkir katamu? Aku sudah susah susah untuk menonton pertunjukan ini, jadi biarkan aku duduk di sini untuk menikmatinya." jawab Vonta santai.
Hei, lawanmu di sini, bukan di sana!" seru Lee menunjuk wajahnya sendiri.
"Brengsek!" seru Affa langsung menyerang Lee.
"Rasakan ini!" seru Affa mengarahkan pukulan cepatnya ke arah Lee.
Lee menghindar dengan santai saat pukulan yang di berikan Affa secara bertubi tubi itu melesat ke arahnya.
"Lambat sekali, ternyata memang kau sudah tua." seru Lee mengejek.
"Sialan! Apa kau bilang!" seru Affa sangat marah dan terus menerus menyerang Lee.
__ADS_1
Tapi kali ini Lee sudah mulai boasan bermain main dan berniat untuk segera menyelesaikan pertarungan itu.
Lee tidak menghindar dari pukulan Affa, tapi Lee dengan sengaja melawan pukulan Affa dengan pukulan juga.
Hingga akhirnya kedua kepalan tinju itu berbenturan dengan keras hingga terdengar suara benturan yang sangat jelas.
Jacqueline berteriak panik saat mendengar benturan itu.
"Aaarggh!!" Affa berteriak kesakitan.
Affa segera mundur dua langkah untuk menghentikan serangannya.
Sementara itu, Lee dengan tenang berdiri tegak di hadapan Affa sambil memasukkan kedua tangan di saku celananya.
Affa melihat tangan kanannya terkilir hingga terlihat tonjolan tulang dengan jelas. Jacqueline berlari menghampiri Affa.
"Katakan, siapa yang menyuruh kalian untuk memata matai bos kami?" tanya Lee santai smabil berjalan ke arah Affa.
"Apa maksudmu?" seru Affa sambil menahan rasa sakit.
"Jangan berlagak bodoh, katakan saja padaku jika tidak ingin lukamu bertambah parah." Kata Lee.
"Kalian salah paham, aku di sini sedang kencan dengan pacarku." jawab Affa berbohong.
"Hahahaha, apa aku terlihat seperti orang bodoh?" seru Vonta yang sedang duduk santai di atas kap.
"Hei dengarm kalian benar benar salah paham, kami memang sedang berkencan di sini." seru Jacqueline berbohong untuk membantu Affa.
"Sialan! Apa kencan kalian butuh waktu semalam penuh di tempat seperti ini!" seru Lee marah.
"Apa kalian menganggap kami tidak tahu dengan apa yang kalian lakukan, hah!" teriak Lee geram.
"Sudah, katakan saja kepada kami, siapa yang menyuruh kalian itu." kata Vonta santai.
"Hei! Sudah ku bilang, jika kami sedang berkencan, buat apa kami membodohi kalian." jawab Affa.
"Baiklah, sepertinya orang ini memang sudah bosan hidup." kata Lee kesal.
"Apa perlu aku patahkan dulu tanganmu agar kau mau buka mulut dan mengatakan kepada kami siapa yang mengirimmu ke sini!" seru Lee sambil berjalan mendekati Affa.
"Hei, tunggu dulu, baiklah, aku akan mengatakannya kepada kalian, tapi tolong lepaskan kami setelah aku mengatakan siapa yang mengirim kami." kata Affa panik.
"Oke, jika kau mengatakannya maka kami akan melepaskan kalian." kata Vonta sambil melompat turun dari atas kap mobil Affa.
"Aku di kirim oleh keluarga Diaz!" seru Affa berbohong.
"Apa? Keluarga Diaz?" tanya Vonta kaget saat mendengar bahwa mereka di kirim oleh keluarga pacarnya.
'Loh? Mereka mempercayai ucapanku?' gumam Affa dalam hati sedikit senang.
"Aku tidak percaya kalau keluarga Diaz yang mengirim kalian ke sini." seru Lee.
"Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa menghubungi mereka." kata Affa.
"Hm?" Vonta mengerutkan kening saat mendengar bahwa keluar pacarnya yang mengirim mereka berdua untuk memata matai mansion ini.
***
PEMBERITAHUAN
Untuk bulan september 2023 ini saya meminta maaf apabila update akan sedikit lambat atau nanti tiba tiba novel ini berhenti untuk beberapa hari. Karena bulan ini saya harus menjadi suami siaga, menanti kelahiran anak kami. Ada kemungkina kelahiran anak kami akan terjadi dalam waktu satu atau dua minggu ke depan, karena perkiraan dokternya pertengahan bulan september 2023. Terima kasih atas perhatian kawan kawan semua. Harap di maklumi dan mohon maaf sebesar besarnya untuk segala sesuatu di bulan september 2023 ini nantinya.
__ADS_1
Author.