Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Masa Tenang


__ADS_3

Siang harinya, Rey yang kurang kerjaan mengajak tiga gadisnya makan siang di sebuah rumah makan baru di depan pintu masuk kampus mereka.


'Lumayan juga.' gumam seorang gadis bernama Fallon Henley yang memperhatikan Rey saat dia masuk ke dalam rumah makan itu bersama ketiga gadisnya.


Fallon adalah mahasiswi baru di kampus itu yang baru saja pindah dari luar negeri setelah ayahnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di kota XTown ini.


Fallon berambut pendek dengan tinggi badan 171 cm dan terlihat tegas layaknya seseorang yang lahir di keluarga militer.


Ayahnya bernama Freddie Henley, dia seorang letnan kolonel bintang dua dan ibunya bernama Linda Henley, dia juga merupakan anggota militer dan berpangkat satu tingkat di bawah suaminya, jadi bisa di katakan bahwa Fallon merupakan anggota keluarga militer yang cukup disiplin. Dengan penampilannya yang formal dan rambut pendek, membuat dirinya seperti seorang prajurit yang sedang latihan. Tapi kecantikan alami yang di milikinya sangat menonjol dari kebanyakan gadis yang berada di kampus ini, bahkan gadis sekelas Fafa pun berada satu tingkat di bawahnya jika di nilai dari kecantikannya.


Rey mampu mendengar apa yang di katakan Fallon meskipun dia mengucapkan di dalam hati.


Rey langsung menoleh ke arah Fallon yang sedang duduk di bangku pojok kiri depan jendela dengan tatapan santai.


"Ada apa sayang?" tanya Fafa.


"Tidak ada apa apa." jawab Rey santai.


"Sayang, di sini saja." seru Yuri sambil duduk di bangku yang berada di sebelah meja Fallon dengan santai.


'Dia sudah punya pacar rupanya.' gumam Fallon dalam hati sambil melihat Yuri yang duduk tak jauh darinya.


Rey mengangguk, Fafa dan Sabrina menggandeng tangan Rey saat berjalan dengan santai menuju ke arah bangku yang sudah di tempati Yuri.


'Apa! Jadi bukan cuma satu gadis saja!" gumam Fallon dalam hati saat melihat pemandangan itu.


'Sialan! Apa semua gadis di kota ini sangat frontal seperti itu.' gumam Fallon dalam hati saat melihat rombongan Rey sangat harmonis tanpa ada pertengkaran.


"Maaf nona, apa kami mengganggumu?" tanya Rey.


"Tidak." jawab Fallon dingin.


"Apa kamu mahasiswi baru di sini?" tanya Yuri.


"Ya, aku baru saja masuk hari ini." jawab Fallon tanpa menatap Yuri dan dengan santai melahap makanannya.


"Begitu ya, siapa namamu? Bolehkah kita berkenalan? Aku juga kuliah di sana." tanya Yuri berjalan ke tempat duduk Fallon.


"Aku Fallon." jawabnya dingin tanpa menghiraukan Yuri yang berdiri di sampingnya.


"Nama yang bagus. Oh iya, aku Yuri." serunya sambil memberikan tangannya untuk berkenalan.


Tapi Fallon tidak menghiraukan tangan Yuri yang menggantung menunggu berjabat tangan.


Yuri mengerutkan kening saat melihat sikap Fallon yang sedikit tidak bersahabat.


Yuri menarik tangannya kembali.


"Yuri, kembali kesini. Jangan bicara dengan orang asing!" kata Rey, dia tidak suka tipikal orang yang tidak bisa di ajak sopan. Apalagi merendahkan wanitanya.


"Ya, lagipula sepertinya dia tidak mau berteman denganmu, untuk apa bersusah payah untuk berkenalan dengannya." kata Fafa ketus sambil menatap Fallon yang sedang makan dengan cuek tanpa menghiraukan orang yang berada di sampingnya.


"Sayang, mau makan apa?" tanya Sabrina.


"Apa saja boleh, yang penting kalian suka." jawab Rey santai.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memesankan beberapa menu." kata Sabrina menuju ke kasir restoran itu dengan santai.


Yuri kembali dan duduk di samping Rey dengan sedikit kesal.


"Hm? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Rey saat melihat wajah Yuri yang cemberut.


"Sudah, jangan di pikirkan, bukankah kau sudah memiliki banyak teman." kata Rey mengelus rambut Yuri.


'Sialan! Dasar buaya darat!' gumam Fallon dalam hati saat melihat kejadian itu.


"Hm? Kalau aku buaya darat lalu kenapa? Masalah buatmu?" kata Rey pelan sambil menatap Fallon tajam.

__ADS_1


"Brrruuufff! Apa!!" seru Fallon kaget dan menyemburkan minuman dari mulutnya.


"A-apa maksudmu?" tanya Fallon gugup saat melihat tatapan Rey.


'Sial! Apa yang terjadi!' gumam Fallon dalam hati kaget bercampur heran.


"Sayang, biarkan saja dia." kata Yuri menarik tangan Rey.


Yuri mengira kalau Rey akan memarahi Fallon karena dirinya, tapi nyatanya Rey sengaja agar membuat Fallon panik dengan apa yang telah Rey lakukan itu.


'Sial! Ini tidak mungkin! Apa dia bisa membaca pikiranku!' gumam Fallon dalam hati sambil menatap Rey penuh ketakutan.


Fallon merasa ada yang tidak beres dengan dirinya sendiri.


Sementara Rey dengan santai mengelus rambut Yuri lagi.


"Sayang, sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan mu." kata Sabrina yang baru kembali setelah memesan beberapa makanan di restoran ini.


"Hah? Memangnya kenapa?" tanya Rey mengerutkan kening.


"Coba tebak menu apa itu?" tanya Sabrina senang.


"Mana aku tahu. Apakah itu lobster bakar?" tanya Rey.


"Benar sekali! Sayang, kamu pintar sekali." kata Sabrina sambil memeluk Rey dari belakang.


"Benarkah?" tanya Rey memegang tangan Sabrina.


"Tentu, lihat saja nanti, aku sudah memesankan seekor lobster yang sangat besar." seru Sabrina senang.


"Wah, benarkah? Terima kasih banyak." kata Rey mencium pipi Sabrina.


Sabrina merasa senang saat melihat Rey yang bahagia dengan kejutan yang dia berikan.


"Waaah, benar juga, lihat itu!" seru Yuri kaget saat melihat pelayan restoran itu membawakan seekor lobster yang sangat besar.


Bukan hanya Fafa saja yang merasa terpana saat melihat lobster itu, bahkan pengunjung yang berada di restoran itu merasa terpana saat hidangan lobster besar itu melewati meja mereka.


Bahkan Fallon yang sudah terbiasa dengan makanan seafood saat di luar negeri hampir saja memuntahkan minumannya lagi saat melihat lobster besar itu di antar oleh pelayan ke meja Rey.


'Sial! Baru kali ini aku melihat lobster sebesar itu.' gumam Fallon dalam hati.


"Apa kau mau?" kata Rey tiba tiba menatap Fallon.


"Tidak tertarik!" jawab Fallon dingin.


"Hahaha, ya sudah, ayo kita makan." kata Rey dan segera menyantap lobster itu bersama ketiga gadisnya.


Saat Rey dan ketiga gadisnya sedang asik menyantap lobster besar, hal itu membuat semua orang yang melihatnya mengeluarkan air liur.


"Pelayan, berapa harga lobster itu?" tanya salah satu pengunjung.


"Sebenarnya kami tidak menjualnya, tapi setelah nona itu membayar kami 100 ribu dollar, maka kami memberikannya." jawab pelayan itu.


"Apa! 100 ribu dollar!" seru salah satu pelanggan kaget.


Semua orang ikut kaget saat mendengar apa yang di katakan pelayan itu.


"Gila! Sekaya apa mereka itu, bahkan hanya untuk seekor lobster saja mereka rela membayar sangat mahal." seru pengunjung lain.


"Apa kau tidak tahu siapa dia? Dia memiliki banyak perusahaan besar di kota ini, 100 ribu dollar hanya setetes air di ember besar, itu bukan apa apa baginya." bisik seseorang.


"Sial! Pantas saja dia terlihat santai, tapi darimana kau tahu kalau itu dia?"


"Tentu saja aku tahu, ayahku selalu membicarakan dirinya setiap pulang kantor, ayahku bekerja di perusahaan milik orang itu."


"Pantas saja kau tahu, memangnya ayahmu bekerja di mana?"

__ADS_1


"Ayahku bekerja sebagai staf di XCS."


"Apa! jadi dia pemilik XCS?!"


'Sialan, pantas saja dia terlihat tampan dan santai.' gumam Fallon saat mencuri dengar dari para pengunjung yang membicarakan Rey.


'Sayang sekali aku terlambat.' gumam Fallon lagi sambil menggelengkan kepala sedikit kecewa.


***


Di JTown,


Setelah Teddy dan Xia berkeliling di proyeknya, mereka menuju ke rumah makan terdekat untuk makan siang.


"Sayang, sepertinya pekerjaan di sebelah utara sedikit terganggu oleh rumah besar itu." kata Xia.


"Ya, aku tahu, sebaiknya aku menelpon Rey sekarang." kata Teddy sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Rey.


Tapi Teddy tidak mendapat jawaban dari ponsel Rey.


Teddy mencobanya lagi, tapi beberapa kali Teddy menelpon tetap saja tidak ada jawaban dari Rey.


"Kenapa tidak di angkat?" kata Teddy mengerutkan kening.


"Sayang, mungkin tuan Rey sedang di kantornya atau mungkin saja dia sedang sibuk jadi tidak bisa mengangkat telponnya." kata Xia.


"Benar juga, ini jam kerja, aku lupa." kata Teddy menggaruk kepalanya.


"Baiklah, biar nanti sore aku akan menelponnya lagi." kata Teddy.


"Benar." Xia mengangguk setuju.


Mereka pun tiba di sebuah restoran yang cukup sederhana.


"Sayang, kamu mau pesan makanan apa?" tanya Xia sambil membuka menu yang berada di atas meja.


"Apa saja." jawab Teddy santai.


"Baiklah, kita pesan yang ini saja." kata Xia menunjuk salah satu hidangan.


Xia memanggil pelayan restoran itu.


"Selamat siang tuan dan nona, sudah siap dengan pesanannya?" tanya pelayan itu sopan.


"Aku pesan dua nasi putih dengan taburan bawang putih goreng di atasnya dan dua ikan salmon bakar." kata Xia.


"Baik nona, akan segera kami siapkan." kata pelayan itu.


"Baiklah." Xia mengangguk.


Pelayan itu kembali dan menyiapkan makanan yang di pesan Xia.


***


Di kedai kecil depan sasana MMA.


Lee dan Vonta sedang makan seperti biasa di sana.


"Von, apa ada pekerjaan untukku hari ini?" tanya Lee.


"Untuk sekarang belum ada, aku menunggu perintah bos terlebih dahulu." jawab Vonta santai.


"Baiklah kalau begitu." kata Lee santai.


"Bersiap siap saja dulu, jangan terlalu santai, meskipun kita tidak melakukan pekerjaan hari ini, tapi tetap saja bos membayar kita." kata Vonta kepada Lee yang sedang asik dengan makanannya.


"Tenang saja, kapanpun kau panggil, maka aku sedah siap." jawab Lee santai.

__ADS_1


"Bagus. Aku suka gayamu." kata Vonta.


__ADS_2