Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Penyelidikan


__ADS_3

"Apa kalian sudah selesai berbelanja?" tanya Baron kepada para wanitanya.


"Sebentar lagi sayang, aku belum cukup puas." kata salah satu wanita Baron.


"Baiklah, puaskan diri kalian dulu." kata Baron santai.


"Terima kasih sayang." kata wanita itu sambil mencium pipi Baron dengan senang.


Mereka kembali menghabiskan uang yang di berikan oleh Baron.


Tak jauh dari sana, Ponsel Fafa berdering dan dia langsung mengangkatnya.


"Halo kak, ada apa?" tanya Fafa sambil melihat lihat pakaian di toko itu.


[Kalian sedang di mana? Kenapa belum pulang?]


"Kami sedang di mall, apa kamu mau titip sesuatu kak?" tanya Fafa.


[Tidak, sebaiknya kalian cepat pulang, jangan malam malam.]


Hitomi berkata dengan nada khawatir.


"Baiklah baiklah, kami akan segera pulang kalau sudah selesai." jawab Fafa santai.


[Oke.]


Hitomi menutup panggilan itu.


ketiga gadis Rey menyelesaikan pembayaran untuk semua belanjaan mereka dan segera pulang.


"Eh? Mau kemana mereka?" tanya Affa yang melihat ketiga gadis itu berjalan menuju lift.


"Apa mereka mau pulang?" tanya Baron sedikit kecewa.


"Sepertinya begitu." jawab Affa.


"Sayang sekali mereka pulang cepat, aku bahkan belum mendapatkan kontaknya." kata Baron menggeleng.


"Tenang saja, kemungkinan besar mereka tinggal di kota ini kan, jadi suatu saat nanti pasti kita akan bertemu lagi." kata Affa menatap Baron yang terlihat kecewa.


"Benar juga! Aku akan meminta pengawalku untuk menyelidiki mereka." kata Baron senang.


Baron segera menelpon dua orang pengawalnya untuk menyelidiki ketiga gadis itu.


Kedua pengawalnya pun segera mengerti perintah Baron.


Dengan cepat, pengawal yang dari tadi mengawal Baron di kejauhan segera mengikuti ketiga gadis itu.


"Sial! Selera bos benar benar tinggi, lihat itu, ketiga gadis itu mengendarai mobil sport nya masing masing." kata salah satu pengawal itu saat melihat ketiga gadis itu bersiap pergi.


"Ya, sepertinya mereka dari keluarga kaya dan kelihatannya mereka bukan gadis penggali emas." jawab pengawal yang satunya.


"Baiklah ayo jalan." seru salah satu pengawal itu sambil masuk ke dalam mobil van nya.


Mereka mengikuti ketiga gadis itu dari belakang mobil mereka.

__ADS_1


"Bos, sepertinya ketiga gadis ini anak dari keluarga kaya." kata pengawal itu menelpon Baron.


[Hah? Benarkah?]


"Ya, kami sedang mengikuti mereka dan mereka mengendarai mobil sport nya masing masing." jawab pengawal itu sambil melihat ke arah Porsche Carrera 911 milik Sabrina yang berjalan paling belakang di antara kedua mobil sport lainnya.


[Bagus, terus ikuti mereka, aku ingin tahu dari keluarga mana mereka.]


"Baik bos."


Ketiga gadis Rey tidak menyadari bahwa kedua pengawal Baron mengikuti dari belakang.


CIIIIIITTTTT!!!


Tiba tiba mobil yang di kemudikan oleh pengawal Baron mengerem dengan keras saat seseorang menyeberang jalan tanpa melihat kiri dan kanan.


"Sialan!" seru kedua pengawal itu kaget saat seorang tua dan seorang pemuda menyebrang dengan santai hingga membuat mobil yang di kendarai oleh kedua pengawal Baron mengerem mendadak sampai membuat posisi mobil berputar 180 derajat.


One dan Two sengaja menghadang laju mobil para pengawal itu agar mereka kehilangan jejak ketiga gadis tuannya itu, dengan cara menjadi dua orang yang menyeberang jalan dengan tiba tiba.


"Hampir saja kita celaka." seru salah satu pengawal itu kaget.


"Ya, kita masih beruntung, karena jika terlambat mengerem tadi kemungkinan besar akan menjadi masalah baru." kata pengawal yang mengemudikan mobilnya.


"Waduh, ke arah mana ketiga gadis itu pergi." seru salah satu pengawal sambil melihat sekeliling jalan raya.


***


Sementara itu Rey dan Xena sudah sampai di rumahnya.


Rey keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pintu rumah Xena dengan santai.


"Tidak bisa, aku sibuk besok." jawab Rey.


"Hmm, baiklah." kata Xena sedikit kecewa.


"Jangan seperti itu, aku akan mengunjungimu kalau ada waktu luang." kata Rey sambil mengelus rambut Xena,


"Iya sayang." Xena mengangguk.


"Ibuu, aku pulang." seru Xena berjalan ke kamar ibunya.


"Sayang, ibu di sini." jawab ibu Xena yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.


Xena menuju ke arah suara itu dengan santai sambil menggandeng tangan Rey.


"Halo ibu, bagaimana kabarmu?" tanya Rey ketika sampai di ruang keluarga.


"Baik nak, bagaimana denganmu?" tanya ibu Xena.


"Aku baik baik saja dan aku merindukanmu bu." jawab Rey menggenggam tangan ibu Xena.


"Benarkah? Bukankah yang selalu kamu rindukan itu adalah dia." kata ibu Xena menunjuk putrinya sambil bercanda.


"Ah mana mungkin bu, dia yang merindukanku. Aku sih tidak." jawab Rey.

__ADS_1


"Dih, sayang! Kamu jahat!" seru Xena memukul pundak Rey pelan.


"Hahaha, sudah sudah, apa kalian sudah makan malam?" tanya ibu Xena.


"Kebetulan belum dan aku sangat kelaparan." kata Rey bercanda.


"Benarkah? Ayo kita makan bersama." jawab ibu Xena semangat.


"Terima kasih bu." kata Rey


"Jangan sungkan seperti itu, ibu senang jika kamu di sini." jawab ibu Xena senang.


"Sayang, buatkan minum untuk Rey." kata ibunya kepada Xena.


"Baik bu." jawab Xena patuh.


Xena menuju ke dapur dan membuatkan minum untuk Rey.


"Oiya bu, bagaimana dengan kakimu?" tanya Rey sambil duduk di samping ibu Xena.


"Ibu sudah bisa berjalan meskipun harus di bantu dengan tongkat ini." jawab ibu Xena.


"Syukurlah bu, aku senang mendengarnya. Jika ibu bisa berjalan seperti sedia kala, maka aku akan membuat pesta di rumah ini khusus untuk ibu." kata Rey senang saat mendengar bahwa ibu Xena sudah hampir pulih sepenuhnya.


"Benarkah?" tanya ibu Xena senang.


"Tentu, pegang janjiku." kata Rey menepuk tangan ibu Xena dengan lembut.


"Terima kasih nak, aku sangat gembira." kata ibu Xena.


"Oiya, ayo kita makan malam." lanjut ibu Xena mengingatkan


"Baik bu." jawab Xena santai.


"Bu, aku akan menggendongmu ke ruang makan." kata Rey.


"Tidak usah nak, aku bisa berjalan sendiri, bukankah aku sudah bilang kalau kakiku sudah bisa berjalan lagi." jawab ibu Xena.


"Ah, benar juga." kata Rey.


Mereka menuju ke ruang makan bersama dengan senang.


***


Di mansion Rey,


Vonta dan Cameron sedang berbaring di atas ranjang dengan santai, mereka berdua membicarakan tentang semua yang terjadi di kehidupan mereka saat ini. Bahkan Cameron sudah mengatakah kepada Vonta kalau dia kabur dari rumahnya.


"Lalu apa rencanamu sayang?" tanya Cameron sambil menatap Vonta yang sedang berbaring di sampingnya.


"Entahlah, jika bukan karena Rey kemungkinan besar aku masih di penjara itu sampai sekarang, jadi sudah seharusnya aku mengikuti rencana Rey apa pun yang dia perintahkan." jawab Vonta lembut.


"Hmm, aku harus berterima kasih kepada tuan Rey karena dia sudah membantu di saat kit sedang dalam kesulitan." kata Cameron.


"Ya, sebaiknya kita berdua harus berterima kasih padanya." jawab Vonta.

__ADS_1


"Baiklah, kalau Rey pulang nanti aku akan berterima kasih padanya dan meminta saran darinya untuk rencana kita kedepannya."


"Ya, aku setuju." jawab Cameron lembut.


__ADS_2