
Ayah Vonta merasa sangat tidak tenang dengan apa yang telah terjadi.
"Ikut aku!" seru ayah Vonta tegas.
"Baik ayah." jawab Vonta patuh.
Mereka bergegas menuju ke rumah keluarga Diaz untuk membereskan masalah ini secara kekeluargaan. Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di kediaman keluarga Diaz.
"Nyonya ada tamu yang datang." kata sekretaris keluarga Diaz.
"Siapa?" tanya ibu Cameron.
"Sepertinya dari keluarga Porter." jawab sekretarisnya membungkuk.
"Baiklah, suruh mereka masuk."
Ibu Cameron tidak tahu bahwa yang datang adalah ayahnya Vonta.
"Selamat siang, nyonya Diaz." kata ayah Vonta sopan.
"Kau!" seru ibu Cameron terkejut saat melihat Vonta dan ayahnya yang datang.
"Mau apa kalian datang ke rumahku!" lanjut ibu Cameron dengan pandangannya yang merendahkan.
"Nyonya, kedatangan saya ke sini untuk meminta maaf atas apa yang telah anak saya lakukan. Saya harap, anda memberi kami kesempatan untuk memperbaikinya." kata ayah Vonta sopan.
"Hah! Minta maaf?"
"Sebaiknya kalian segera pergi dari rumahku sebelum kesabaranku habis!" seru ibu Cameron geram.
"Nyonya tolonglah, saya benar benar bersalah, apapun permintaan anda akan saya berikan, jangan sampai anda membawa masalah ini ke jalur hukum." kata ayah Vonta membungkuk.
"Nyonya, saya minta maaf, saya benar benar mencintai Cameron dan saya akan bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi." kata Vonta berlutut dan memohon kepada ibu Cameron.
"Ibu, aku mohon, ini semua salahku dan kami saling mencintai." seru Cameron tiba tiba datang dan ikut berlutut.
***
Di Larks Industri,
Teddy Larks sudah memulai debut bisnisnya dengan mengambil proyek yang telah di berikan ayahnya. Teddy di bantu oleh sekretaris ayahnya untuk membuat proposal proyeknya dengan semangat.
Teddy sedikit sibuk hari ini karena dia fokus dengan proyeknya yang akan segera di mulai, tapi dia menunggu bantuan dari Rey setelah memberikan dokumen itu kepadanya.
Rey belum memberikan jawabannya karena saat Teddy mengirimkan dokumennya, saat itu Rey sedang sibuk dengan urusannya di Golden Star Hotel.
***
Di MegaCore Tech,
Hitomi dan Lita sedang sibuk dengan pekerjaan di ruangannya.
"Hito, lihat ini!" seru Lita berjalan ke arah Hitomi.
"Ada apa Li?" tanya Hitomi.
__ADS_1
"Ada sebuah perusahaan entertainment yang akan di lelang!" seru Lita memperlihatkan layar laptopnya.
"Hah? Bukankah ini Lionhead Studios!" seru Hitomi saat menatap layar laptop itu.
"Kenapa mereka melelangnya?" tanya Hitomi mengerutkan kening.
"Sepertinya aku tertarik dengan perusahaan entertainment ini, Hito." kata Lita menatap laptopnya.
"Kalau begitu, ayo kita pergi ke pelelangannya." seru Hitomi.
"Oke, aku akann meminta undangannya terlebih dahulu." kata Lita senang.
"Baiklah, jika sudah mendapatkan undangannya, aku akan segera memberitahu Rey." kata Hitomi lembut.
"Oke!" jawab Lita mengangguk.
Lita segera menghubungi perusahaan Lionhead Studios untuk meminta undangan pelelangan yang akan di selenggarakan besok malam.
***
Di mansion Rey,
Rey sedang santai sambil menonton televisi.
"Halo bos!" sapa Lee berjalan menuju ke arah Rey.
"Bos, apakah siang ini ada pekerjaan untukku?" lanjut Lee bertanya dengan semangat.
"Hah? Pekerjaan apa maksudmu?" tanya Rey.
"Hahahaha."
"Lee, mengenai pekerjaanmu, itu urusan Vonta dan aku tidak ikut campur, kecuali kalau ada sesuatu yang mendesak, baru aku menghubungimu." kata Rey setelah puas tertawa.
"Ah, baiklah bos." kata Lee dan berlalu pergi.
Siang harinya tiga gadis Rey sudah pulang dari kampus, mereka masuk ke ruang santai dan menyapa Rey dengan gembira.
"Sayang, bagaimana kalau nanti kita ke rumah kak Xena?" tanya Fafa.
"Oke." jawab Rey mengangguk.
Tiba tiba Lee masuk ke ruang santai dan berjalan ke arah Rey.
"Bos, sepertinya terjadi sesuatu pada Vonta, sudah aku tunggu dari tadi tapi tidak datang datang." kata Lee.
"Apa tidak ada kabar? coba kamu hubungi dia." kata Rey.
"Aku sudah menelponnya tapi ponselnya tidak aktif." jawab Lee.
"Hah? Tidak aktif?" tanya Rey mengerutkan kening.
"Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu?" lanjut Rey bergumam sedikit khawatir.
Rey mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Vonta tapi seperti yang di katakan Lee, ponselnya memang tidak aktif.
__ADS_1
"Lee, bisakah kau mencarinya?" tanya Rey.
"Baik, aku akan segera mencarinya." jawab Lee santai.
"Oke, jika menemukan sesuatu yang tidak beres, segera beritahu aku." kata Rey khawatir.
"Tentu bos." jawab Lee santai.
Saat Rey akan meletakkan ponselnya, dia melihat ada notifikasi pesan yang belum sempat terbaca.
'Teddy? Astaga! Aku lupa melihat dokumen yang di kirimkannya.' kata Rey dalam hati sambil membuka ponselnya.
Rey membaca dokumen yang telah di kirimkan oleh Teddy kepadanya. Dia merasa puas setelah membaca dokumen yang di berikan Teddy. Rey segera menelpon Teddy.
[Halo, Rey!]
"Aku sudah membaca dokumen yang telah kau kirimkan padaku dan aku menyukainya, Ted." kata Rey santai.
[Syukurlah kalau kamu menyukainya, lalu bagaimana menurutmu?]
"Berapa yang harus aku investasikan padamu?" tanya Rey santai.
[Seperti yang aku katakan kemarin, tidak lebih dan tidak kurang, Rey.]
"Baiklah, kirim nomor rekeningnya padaku, aku akan segera mengirim dananya." kata Rey.
[Baik Rey, aku akan mengirimkan nomor rekeningku.]
Rey mengakhiri panggilan telponnya. Teddy segera mengirimkan nomor rekeningnya melalui pesan. Saat Rey menerima pesan yang di kirimkan Teddy, Rey langsung mengirimkan 30 milyar ke rekening itu.
[Terima kasih, Rey.] - Teddy_Larks.
[Jangan sungkan, lalu kapan kau akan memulainya?] - Rey_Dmnf.
[Sepertinya besok, aku akan memerintahkan para pekerja untuk segera memulai.] - Teddy_Larks.
[Baiklah, lalu kapan kau akan pergi ke kota JTown?] - Rey_Dmnf.
[Aku akan secepatnya pergi ke sana setelah menyelesaikan beberapa dokumen perijinannya.] - Teddy_Larks.
[Oke, kabari saja aku jika sudah di mulai.] - Rey_Dmnf.
[Baik, aku pasti mengabarimu secepatnya.] - Teddy_Larks.
Rey mengakhiri percakapannya melalui pesan. Rey melanjutkan mengobrol santai bersama ketiga gadisnya di ruang santai sambil menikmati cemilan dan nonton televisi.
***
Di gunung yang jauh,
Allen yang sudah lelah berteriak untuk meminta tolong kini terdiam di dalam goa yang sangay gelap itu.
"Sialan! Apa guru sengaja membuatku menderita seperti ini!" seru Allen marah.
'Sepertinya dia mulai lelah setelah beberapa jam berteriak di dalam sana.' gumam pria tua itu di luar gua dengan sedikit rasa kasihan.
__ADS_1