
Edward segera melancarkan serangannya dengan ganas dan cepat, Danis menahan serangan itu dengan sangat hati hati.
Edward sedikit merasakan emosi dan tidak bisa menahan nafsunya hingga membuat serangan yang dia lakukan agak berantakan.
Danis memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan serangan balik. Dengan kaki kirinya yang sangat kuat, Danis menyerang Edward dengan sangat cepat hingga serangannya berhasil mengenai Edward.
BUAGH!
Edward terpental kembali beberapa meter dan memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
"A-apa! Tidak, tidak mungkin Edward kalah!" seru teman satu tim Edward terkejut saat Edward memuntahkan darah dari mulutnya.
Serangan Danis tadi tepat mengenai dada Edward dengan keras yang menyebabkan Edward muntah darah. Wasit menghentikan pertarungan itu dan memutuskan bahwa Danis yang menjadi pemenangnya. Danis tersenyum saat melihat musuhnya terkapar berdarah dan tak berdaya.
"Hahaha, untung saja wasit menghentikan pertandingan ini, jika tidak, aku akan menyerangmu lagi agar kau tidak bisa bangun sekalian." kata Danis sambil tertawa.
Gedung olah raga itu bergemuruh dengan suara kekaguman kepada Danis yang berhasil mengalahkan juara tahun lalu.
"Sialan! Aku kira dia yang terkuat, ternyata dia hanya pecundang yang haus akan uang!" seru Teddy menatap dari jauh Edward yang sedang di obati oleh rekan rekannya.
"Hey! George! Itukah yang kau bilang orang terkuat di sini!" lanjut Teddy kesal menatap George.
"Ah, bos, jangan khawatir, aku akan mencari penggantinya. Bos tenang saja, biar aku yang urus semuanya." jawab George gelagapan dan gugup.
"Sialan! Jika seperti ini bisa bisa, bos tidak percaya padaku lagi!" lanjut George dalam hati.
George memikirkan cara untuk mencari pengganti Edward yang telah kalah di pertandingan ini.
***
Di mansion, Hitomi, Xena dan ibu Xena telah kembali ke mansion dan membawa banyak barang yang telah mereka beli dari mall.
Xena membuka kantong plastik yang dia bawa dari mall. Ibu Xena melihat semua barang yang di beli oleh anaknya hanya bisa menggelengkan kepala saja dan tidak berkomentar sedikit pun.
Hitomi hanya membeli beberapa barang dan itu bukan untuknya saja. Sebagian yang dia beli adalah untuk Rey. Mereka mulai membereskan barang barang yang di belinya itu.
"Xena, kapan bonekamu akan sampai?" tanya Hitomi.
"Entahlah, mungkin sebentar lagi, sebaiknya aku pergi ke kamar dulu, aku gerah dan ingin mandi." jawab Xena berjalan ke arah kamarnya.
"Hm, aku juga harus mandi." kata Hitomi.
Hitomi dan Xena meninggalkan ibu Xena yang tersenyum menatap tingkah laku dua wanita itu. Dia hanya mampu menghela nafas.
***
Di XTown Sport Center, Danis yang telah menjadi pemenang di pertandingan tadi segera memilih lawan tandingnya. Dia melihat ke sisi ring tempat berkumpulnya para petarung yang telah terdaftar.
Danis menunjuk Vontavius Porter, yang biasa di panggil Vonta. Dia adalah rekan satu sasana dengan Rey. Danis memilih Vonta untuk menjadi lawan tandingnya kali ini.
"Baiklah! Aku menantangmu!" seru Danis menunjuk Vonta yang berada tepat di samping Lee.
__ADS_1
"Hey, Vonta, apa kau akan naik?" tanya Lee menatap Vonta.
"Tentu saja, sepertinya dia ingin membalas kekalahannya dulu." jawab Vonta tenang.
Saat Rey menoleh ke arah Vonta, Rey merasakan aura yang tidak biasa, dengan wajah cuek dan aura energinya terlihat berwarna biru di mata Rey.
"Sepertinya dia bukan orang biasa, apakah dia juga menerima kekuatan sepertiku?" kata Rey dalam hati sambil mengerutkan kening.
[Tidak, dia hanya mahir memusatkan energi saja. Atau dia hanya chipers saja, yang pasti aku tidak merasakan keberadaan sistem lain di dirinya.]
"Chipers? Apa itu?" tanya Rey dalam hati.
[Ah nanti kau juga akan tahu, kita tunggu saja nanti penciptaku menceritakan semuanya.]
"Pencipta? Kapan?"
[Aku tidak tahu, terserah dia! Perjalananmu masih panjang! Apa kau mau di tamatkan sekarang? Hah!]
Rey hanya diam mendapat jawaban ketus seperti itu. Dia hanya mampu menghela nafas dan berjalan ke arah Vonta.
"Hey Vonta, kalahkan dia dengan cepat." kata Rey menepuk pundak Vonta.
Vonta menoleh ke arah Rey, senyumnya merekah lebar seketika. Vonta merasakan energi yang sangat besar melebihi dirinya saat Rey menyentuh pundaknya.
"Wah, sepertinya energimu sangat besar. Aku sangat beruntung bisa menjadi temanmu, Rey." kata Vonta.
Rey tersenyum penuh arti. Dia tidak merasakan aura permusuhan dari Vonta.
Vonta naik ke atas ring dan mulai melakukan pemanasan sambil menunggu waktu bertarung di mulai.
***
Di rumah Fafa, dia dan ibunya sedang sibuk dengan kegiatan untuk menyiapkan makan malam yang sangat besar karena mereka akan kedatangan orang yang paling di hormati dan sekaligus di cintai oleh mereka.
Ayah Fafa bernama Fandango Amore, biasa dipanggil Fan. Dia memiliki saham dalam bidang industri dan konstruksi di luar negeri, maka dari itu sangat jarang untuk ayah Fafa mempunyai waktu bagi keluarga kecilnya itu.
Di mansion, Yuri dan Sabrina sedang asik berenang di halaman belakang mansion tanpa menyadari bahwa Hitomi dan Xena sudah kembali. Mereka bercanda di tepi kolam renang.
"Eh, Brie bagaimana menurutmu kehidupan kita?" tanya Yuri menatap Sabrina yang memakai baju renang berwarna pink.
"Entahlah, sepertinya rasa sayangku kepada Rey semakin bertambah besar, dan seiring dengan waktu, aku mulai bisa menerima kehadiran kalian yang sudah sejak dulu bersama Rey. Tapi---,,," kata Sabrina menjeda ucapannya.
"Tapi apa?" tanya Yuri penasaran.
Sabrina tidak menjawab perkataan Yuri, dia menundukkan kepalanya dengan suasana hati yang berantakan. Sabrina merasa takut kehilangan Rey jika nanti keluarganya tahu bahwa Rey memiliki banyak wanita di sampingnya.
"Tidak ada apa apa." jawab Sabrina menggelengkan kepalanya.
"Hmmm, baiklah jika kamu tidak mau mengatakannya." kata Yuri cemberut.
"sudahlah, aku akan mandi dulu." kata Sabrina berjalan ke dalam mansion di ikuti Yuri mengekor dari belakang.
__ADS_1
***
Di XTown Sports Center, pertandingan berikutnya akan di mulai. Danis yang pernah di kalahkan Vonta dengan senang menyambut Vonta di atas ring.
"Bagaimana kabarmu Vonta?" tanya Danis dengan ekspresi wajah geram menatap Vonta.
"Baik baik saja, lalu bagaimana denganmu? Sepertinya banyak kemajuan yang di capai olehmu." jawab Vonta tenang.
"Haish, lupakan basa basi nya, sebaiknya kita mulai bertarung saja!" seru Danis tersenyum dingin.
"Oke, majulah." kata Vonta tenang.
Danis melompat menyerang Vonta dengan kecepatan yang belum pernah dia gunakan di pertarungan sebelumnya bersama Edward.
Dia menyerang Vonta sangat cepat menggunakan kaki kiri dan pukulan yang menjadi perpaduan gerakan yang sangat mematikan.
"Wah! Cepat sekali orang itu!" seru Teddy melihat Danis dari bangku penonton.
Tapi Vonta yang sudah mempersiapkan diri dari tahun sebelumnya masih sangat tenang. Dia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri dan menahan laju serangan yang sangat cepat dari Danis dengan mudah.
"Apa! Dia menahan serangan Danis dengan mudah! Siapa dia?!" seru Teddy mengerutkan keningnya.
Bos! Lihat orang itu! Bagaimana menurutmu bos? Jika mau, aku akan membawanya menemuimu." seru George semangat sambil menunjuk ke arah ring.
"Apa! Ti-tidak mungkin! Kenapa seranganku bisa di tahan dengan mudah!" gumam Danis dalam hati dengan tidak percaya.
Danis segera mundur beberapa langkah dari hadapan Vonta. Vonta dengan santai melambaikan tangannya ke arah Danis agar dia menyerang lagi.
"Sialan!" teriak Danis menyerang Vonta dengan cepat dan tanpa henti.
WUUSSH!
Vonta dengan mudah mematahkan semua serangan Danis yang telah menggunakan kekuatan terbesarnya di pertarungan ini.
"Sial! Sial! Siaaaall!" teriak Danis di sertai dengan kepalan tinju yang di layangkan ke arah Vonta dengan cepat.
SWUUSH!
Vonta tersenyum tipis menghindari serangan Danis dengan mudah.
"Sepertinya kau sudah putus asa ya?" tanya Vonta memprovokasi Danis.
Danis merasa frustasi dengan kemampuannya sendiri yang tidak dapat menjangkau Vonta.
"Pulanglah." kata Vonta sambil melepaskan pukulan ke arah Danis dengan santai.
Pukulan yang di berikan oleh Vonta terlihat sangat lambat dan lemah, tapi setelah pukulan itu mengenai Danis, pukulan itu membuat Danis terpental hingga keluar dari atas ring dan terjerembab dengan keras.
BUAGH!
BRUAGH!!!
__ADS_1
"Sialan, ternyata dia jauh lebih kuat dari Danis!" kata Edward kagum melihat serangan Vonta terhadap Danis.