Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Setiap Orang


__ADS_3

"Nak, apa hubunganmu dengan tuan Rey?" tanya ayah Vonta.


"Ayah, dia adalah teman sekaligus bosku, jika di tempat latihan dia adalah temanku dan di tempat kerja, dia adalah bosku, jadi aku bekerja padanya." jawab Vonta.


"Jadi begitu, katakan pada tuan Rey bahwa aku mengundangnya untuk makan malam besok, aku harus berterima kasih padanya." kata ayah Vonta.


"Lalu bagaimana dengan nona muda Diaz?" tanya ayah Vonta.


"Dia pergi dari rumah setelah aku di tahan di kantor polisi." kata Vonta.


"Nona muda Diaz, aku tidak mau kalau ibumu mengetahui ini semua dan kami tidak mau ada perselisihan lagi di antara keluarga kita." kata ayah Vonta.


"Maka dari itu, aku menyarankan nona untuk tidak menemui anakku lagi." kata ayah Vonta sambil melihat ke arah jendela rumahnya.


"Tuan Porter, apa maksud anda?" tanya Cameron sambil mengerutkan keningnya.


"Ayah, kenapa ayah bilang seperti itu." kata Vonta.


"Nak, keluarga Diaz sangat di sanjung oleh semua orang, sedangkan keluarga kita tidak ada apa apanya setelah keluarga kita bangkrut, aku harap kau mengerti, aku tidak mau jika kau mendapatkan masalah lagi." kata ayah Vonta.


"Tuan, saya sudah pergi dari rumah, maka dari itu tekad saya sudah bulat untuk selalu bersama Vonta dan saya tidak mau berpisah dengannya." kata Cameron.


"Iya ayah, aku mohon jangan khawatirkan kami, kami akan baik baik saja selama ada tuan Rey yang mendukung kami." tambah Vonta.


"Aku tidak bisa melarang kalian berdua, hanya saja aku takut jika sewaktu waktu orang tuamu menyerang Vonta dengan cara lain, aku tahu sifat keluarga Diaz, sebelum keinganan mereka tercapai, jalan apapun akan mereka tempuh agar keinginannya terpenuhi." kata ayah Vonta.


"Terima kasih ayah, tapi aku sudah siap dengan konsekuensi seperti itu, lagipula aku bekerja untuk tuan Rey, tahukah ayah bahwa gajiku lebih dari cukup untuk membeli sebuah rumah dan mobil?" kata Vonta.


"Nak, jangan keras kepala seperti itu, aku tahu bahwa tuan Rey sangat baik, tapi tuan Rey juga manusia, dia juga pasti banyak pekerjaan yang penting lainnya, maka dari itu, tuan Rey pasti tidak akan selalu ada untuk membantu kalian." kata ayah Vonta sambil menggelengkan kepala.


"Ya ayah, aku mengerti, tapi aku akan membuktikan diri kepada keluarga Diaz bahwa aku mampu untuk membuat Cameron hidup dengan layak." kata Vonta.


"Baiklah, kalau begitu terserah padamu, aku tidak bisa mencegahmu lagi." kata ayah Vonta sambil menggelengkan kepalanya.


"Nona muda Diaz, aku harap jangan kecewakan anakku, aku tahu sifatnya sangat keras kepala, tapi anakku masih sangat muda untuk sebuah beban yang cukup besar ini. Berjanjilah padaku untuk tidak membuatnya kecewa." kata ayah Vonta sadar akan status keluarga mereka.


"Saya mengerti tuan." jawab Cameron sambil menganggukkan kepala.


"Kalau begitu, jangan panggil aku tuan, panggil aku ayah seperti layaknya seorang menantu." kata ayah Vonta tersenyum lembut.


"Terima kasih, ayah." kata Cameron.


"Baiklah ayah, aku kesini hanya untuk memberitahu bahwa aku sudah bebas dan agar ayah tidak mengkhawatirkan aku lagi, jika ayah membutuhkan aku, telpon saja secepatnya." kata Vonta.


***


Sementara itu, Baron bersama ketiga wanitanya kembali ke rumahnya.


[Bos! Dia sudah kembali!] @Lee_Tampan.


[Bagus, selidiki terus dan jangan beranjak dari rumah itu.] @ Rey_Dmnf.


[Bos! Sepertinya dia cukup tampan, bahkan dia memiliki tiga gadis bersamanya, agak mirip sepertimu bos!] @ Lee_Tampan.


[Sialan! Jangan samakan aku dengannya! Jelas tampan aku! Ingat laporkan padaku jika ada sesuatu yang mencurigakan.] @ Rey_Dmnf.


***


"Tuan, makan malamnya sudah siap." kata bibi.


"Baik bi, terima kasih." jawab Rey.

__ADS_1


'Kenapa Hitomi belum turun?' gumam Rey.


Rey menelpon Hitomi karena malas berjalan.


"Hito, apa kau sudah selesai mandi? Kenapa belum turun?" tanya Rey.


[Sudah sayang, aku baru saja mau turun.]


"Lalu, apa Lita juga sudah selesai?" tanya Rey.


[Sepertinya sudah.]


"Baiklah, kalau begitu, cepat turun, aku sudah mulai kelaparan." kata Rey.


[Baik sayang.]


Hitomi menuju ke kamar Lita.


"Lita, apa kamu sudah selesai?" tanya Hitomi sambil membuka pintu kamar Lita.


"Sudah." jawab Lita sambil berjalan kearah Hitomi yang berdiri di pintu kamar.


Mereka berdua menuju ke ruang keluarga dimana Rey dan yang lainnya sudah menunggu mereka.


"Hai, sayang." kata Hitomi sambil berjalan ke arah Rey.


"Oke, karena sudah lengkap, ayo kita makan." kata Rey sambil beranjak dari duduknya.


Mereka semua mengangguk.


Rey memimpin jalan menuju ke ruang makan di ikuti oleh kelima wanitanya dengan santai.


***


"Sayang, ayo kita pulang." kata Xia.


"Sebentar lagi, aku harus mengawasi semua pekerja terlebih dahulu agar kejadian seperti tadi tidak terulang kembali." jawab Teddy.


"Baiklah." kata Xia.


Teddy berkeliling bersama Xia sekali lagi untuk memastikan bahwa para pekerja melakukan perintahnya dengan benar.


Teddy merasa cukup puas dengan semua pekerja yang telah melaksanakan perintahnya dengan baik.


"Sayang, sepertinya para pekerja sudah dalam keadaan yang baik." kata Xia sambil berjalan di samping Teddy.


"Aku rasa begitu." kata Teddy.


"Baiklah, kalau begitu, ayo kita pulang." lanjut Teddy.


Mereka memutuskan untuk segera pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Sementara para pekerja mereka, semua telah melanjutkan pekerjaan lemburnya hari ini, jadi meskipun sudah cukup larut malam, mereka masih bersemangat untuk melakukan pekerjaan mereka.


***


Xena sedang makan malam bersama ibunya dalam suasana hati yang baik setelah Rey menelponnya tadi sore.


"Nak, aku dengar kalau Rey menelponmu tadi." kata ibu Xena saat melihat Xena agak berbeda dari biasanya.


"Iya ibu." Xena mengangguk.

__ADS_1


"Oh, pantas saja wajahmu terlihat senang." kata ibu Xena.


"Ibu bisa saja." jawab Xena.


"Kenapa memangnya, ibu juga ikut bahagia jika kamu bahagia." kata ibu Xena sambil mengambil sayuran di piringnya.


"Sudah sudah, ayo makan." kata Xena untuk mengalihkan pembicaraan.


"Hahaha. Lihat wajahmu mulai merona." kata ibu Xena sambil menggelengkan kepala.


***


"Sayang, sudah lama kita tidak mandi bersama." kata Lauren sambil menggandeng tangan Baron.


"Ya benar, bagaimana menurutmu?" tambah Jackie sambil menatap Baron dengan senang.


"Baiklah, kalau begitu, ayo kita mandi bersama." kata Baron.


Mereka dengan semangat menuju ke kamar mandi Baron yang cukup luas itu dengan gembira.


"Sayang, biar aku bantu membukakan pakaianmu." kata Jackie.


"Baiklah." jawab Baron.


Jackie melepaskan pakaiannya dengan santai lalu membantu Baron untuk membukakan pakaiannya.


Mereka menuju ke bathub Baron yang besar itu.


"Sayang sudah cukup lama kita tidak bersama seperti ini. Seharusnya malam ini kita rayakan bersama." kata Jackie.


"Aku setuju." tambah Lauren.


"Baiklah, setelah selesai mandi. aku akan membawa kalian untuk makan malam bersama." kata Baron sambil mengelus rambut Layla.


"Asiiik!" seru Layla.


"Sayang, biar aku bantu memandikanmu." kata Lauren.


Baron mengangguk tenang.


Lauren berpindah ke arah belakang Baron dengan santai.


"Hei Jackie, aku perhatikan dadamu semakin besar saja." kata Baron.


"Apaan sih sayang!" jawab Jackie sambil melihat ke arah dadanya.


"Hahaha, tapi benar!" kata Layla sambil tertawa.


"Layla! Bukankah punyamu juga sama." balas Jackie sambil menunjuk dada Layla.


"Hah? Dari awal juga dadaku sudah seperti ini Jackie, bukankah sebelumnya kamu selalu bilang padaku kalau kamu ingin memiliki dada sepertiku." jawab Layla.


"Hahaha, iya benar tuh." tambah Lauren sambil memandikan Baron dengan lembut.


"Hei hei, kenapa kalian jadi membicarakan tentang dada, sini biar aku pegang. dari tadi tanganku sudah gatal ingin meremasnya." kata Baron.


"Sayang! Geli!" seru Jackie saat dadanya di remas oleh Baron dengan gemas.


Jackie pun dengan perlahan merasakan remasan tangan Baron dan mulai terengah engah hingga akhirnya masuk dalam dekapan Baron.


Sementara itu, Lauren dan Layla menahan diri untuk menunggu gilirannya. Pertarungan kamar mandi pun terjadi.

__ADS_1


__ADS_2