
Di mansion Rey,
"Baiklah, aku pamit pulang dulu." kata Teddy.
"Hm, tentang proyek yang tadi, mending kau kirim berkasnya dulu, biar aku periksa nanti." kata Rey santai.
"Oke Rey, akan kukirim dokumen itu secepatnya." kata Teddy semangat.
Teddy berbalik dan pergi menuju ke depan mansion Rey untuk menunggu sopirnya menjemput.
***
Di tempat lain,
"Lalu kerjamu apa, Lee?" tanya Hitomi.
"Aku belum tahu." jawab Lee polos.
Hitomi menggelengkan kepalanya.
"Lee, apa kau punya teman yang bisa di percaya?" tanya Vonta.
"Ada banyak." jawab Lee bangga.
"Kalau gitu, tolong rekrut beberapa orang terkuat untukku, dan suruh mereka berkumpul di depan mansion bos, jam delapan malam." kata Vonta.
"Okem aku akan segera hubungi mereka." jawab Lee.
Lee menghubungi beberapa temannya yang bisa di andalkan untuk ikut bergabung nanti malam di depan mansion Rey.
***
Di tempat lain,
Allen bersama anak buahnya semakin gencar mencari informasi tentang Rey, hingga mereka sampai di Golden Star Hotel.
"Bos, menurut informasi, ini salah satu hotel miliknya." kata salah satu anak buah Allen sambil menunjuk ke arah gedung Golden Star Hotel.
"Baiklah, ayo segera masuk." kata Allen memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke dalam hotel.
"Lihat! Ada massa yang mau kesini!" seru salah satu penjaga ngeri saat melihat begitu banyak orang yang datang membawa tongkat kayu ke arah mereka.
"Sialan! Apa yang harus kita lakukan." seru penjaga itu panik.
"Segera hubungi manajer!" teriak penjaga itu kepada temannya agar segera memberitahu manajernya.
"Apa!" seru Harry sang manajer, panik saat dihubungi penjaga.
Harry segera menghubungi Hitomi.
"Halo nona Rey, selamat sore."
[Selamat sore Harry, ada apa menelponku?]
"Nona Rey, ini gawat!"
[Hah? Gawat apanya? Ada apa Harry?]
"Nona Rey, ada keributan di hotel kita, banyak orang yang entah dari mana dengan tiba tiba mereka masuk dan merusak semuanya."
[Apa! Lakukan panggilan kepada polisi segera! Aku akan kesana sebentar lagi!]
Harry segera melakukan panggilan kepada pihak berwajib.
Dibawah, kerumunan massa itu masuk tanpa perlawanan dari penjaga. Semua karyawan yang berada di hotel itu ketakutan saat gerombolan itu masuk dan merusak semua barang yang ada di hadapannya.
***
Di mansion Rey.
Suara sistem muncul tiba tiba di telinga Rey.
[Pergilah ke Golden Star Hotel, dan bereskan kekacauan di sana.]
"Eh? Ada apa di sana?" tanya Rey dalam hati.
***
Di Golden Star Hotel,
"Hei kamu!" teriak salah satu anak buah Allen.
"Ada apa tuan?" jawab pelayan itu dengan ketakutan.
"Katakan padaku di mana manajer kalian!" seru anak buah Allen menjambak rambut pelayan itu.
"Di atas tuan." jawab pelayan itu sambil menangis.
"Di atas mana! Apa kau bodoh, katakan dengan jelas lantai berapa dan di ruangan mana! Dasar bodoh!" seru anak buah Allen sambil menendang pelayan itu dengan keras.
"Aaah."
Pelayan itu terjatuh dan pingsan. Para pelayan yang lainnya hanya bisa menyaksikan temannya di lecehkan seperti itu dengan ketakutan di pojok ruangan lobi.
"Hei! Bawa dia ke sini!" teriak anak buah allen melihat ke arah salah satu pelayan yang berkumpul di pojok ruangan.
"Oke." seru anak buah lainnya berjalan ke arah para pelayan.
Para pelayan yang terpojok di ruangan lobi itu berteriak saat salah satu temannya di tarik tangannya dengan kasar.
"Katakan di mana manajer kalian!" seru anak buah Allen.
"Dia di lantai tujuh, tuan." jawab pelayan itu gemetaran.
"Bagus!" kata anak buah Allen mengangguk.
"Cari dia!"
Mereka menuju ke arah lantai tujuh. Sebagian kelompok menyusuri tiap lantai melalui tangga, sedangkan kelompok lainnya menggunakan lift.
Sementara itu, Harry beberapa kali mencoba menelpon pihak berwajib tapi tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
Harry memutuskan untuk mengunci diri di dalam kantornya dengan panik dan ketakutan. Para gerombolan itu mendobrak semua pintu ruangan yang mereka temui di sepanjang jalan hingga membuat para tamu yang berada di hotel itu berhamburan keluar kamarnya dengan panik.
__ADS_1
Hitomi bersama Vonta dan Lee menuju ke Golden Star Hotel. Sedangkan Lita tetap berada di kantornya untuk mengurus semua pekerjaan di MegaCore Tech.
Vonta menelpon Rey untuk memberitahukan kejadian di Golden Star Hotel.
"Baiklah, aku akan kesana." kata Rey saat mendengar berita dari Vonta.
"Aku kira kekacauan saham, ternyata pengacau yang lain." gumam Rey berlari turun.
Rey menuju garasinya dan masuk ke dalam mobil Mustang Shelby nya yang paling dekat. Rey menginjak pedal gasnya dengan cepat menuju ke Golden Star Hotel.
"Hah? Ada apa dengan bos?" kata penjaga gerbang saat melihat Rey melaju dengan kecepatan tinggi melewati gerbang mansionnya.
Rey menyiapkan sebuah topeng agar tidak ada musuh yang mengenalinya. Sementara itu, Hitomi, Vonta dan Lee masih di perjalanan di antarkan oleh Leon.
Dengan keahlian mengemudi Leon, Rolls-Royce Phantom itu melesat dengan cepat melewati beberapa lampu merah yang sedang menyala.
"Sialan! Ini seperti adegan film action! Kau keren sekali Leon!" seru Lee senang di dalam mobil yang melesat dengan cepat.
Leon tidak menggubris ucapan Lee dan tetap fokus menyetir. Rey tiba lebih dahulu dari rombongan Hitomi. Tapi Rey memarkirkan mobilnya jauh dari Golden Star Hotel agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi kelompok Allen.
Rey turun dari mobil sambil memakai topengnya. Sementara itu Harry dengan panik mengunci pintu ruangan kantornya dengan ketakutan.
BRAK!
Anak buah Allen yang sudah tiba di depan pintu kantor Harry menendang pintu itu dengan keras.
"Sialan! Pintunya di ganjal sesuatu!" teriak salah satu anak buah Allen saat menendang pintu itu dengan keras.
"Dia di sini!" teriak anak buah itu memanggil teman temannya.
Rey mengetahui kalau anak buah Allen sudah tiba di depan pintu kantor Harry. Rey memanjat dinding samping gedung hotel itu dengan cepat hingga akhirnya Rey sampai di balkon kantor Harry tepat waktu.
Sementara anak buah Allen sedang berusaha mendobrak pintu kantor itu dengan kasar secara bergantian. Rey mengetuk pintu balkon dengan santai sambil membuka topengnya,
"Eh? Tuan Rey, anda di sini." seru Harry kaget saat melihat Rey berada di luar balkonnya di lantai tujuh.
"Jangan berisik, buka pintunya." kata Rey menunjuk ke arah engsel pintu balkon.
Harry membukakan pintu balkon dengan perasaan heran bercampur dengan ketakutannya.
"Tuan, bagaimana anda bisa sampai sini?" tanya Harry heran.
Rey tidak menjawabnya tapi Rey segera mengenakan topengnya dan menyuruh Harry menyingkir.
BRAK!
Pintu kantor roboh dan hancur, beberapa orang masuk ke dalam kantor itu dengan cepat. Harry dengan ketakutan berlari ke pojok ruangan dan berjongkok di bawah meja aquarium.
"Oh, jadi ini manajernya?" teriak salah saru anak buah Allen sambil menunjuk ke arah Rey.
Dengan santai Rey berjalan ke arah anak buah Allen yang berdiri di depan pintu yang sudah ambruk itu.
"Hah, rupanya punya nyali juga kau!" seru anak buah Allen mengerutkan kening.
Dengan tatapan cuek, Rey menyerang anak buah Allen dengan cepat sehingga membuat mereka tidak menyadari serangan Rey yang sangat cepat itu.
BUAGH!
Sebuah pukulan yang Rey arahkan kepada anak buah Allen tepat mengenai dadanya dengan keras, sampai orang itu terlempar dan menabrak dinding yang berada di depan kantor itu.
Mereka mundur satu langkah dan mempersiapkan diri untuk menyerang orang yang keluar dari dalam kantor.
Rey melangkahkan kakinya dengan santai keluar dari ruangan itu.
"Siapa kau!" teriak salah satu anak buah Allen menunjuk Rey.
"Tidak perlu bertanya, ayo maju sini." kata Rey santai.
"Sialan! Serang dia!" teriak orang itu sambil mengayunkan tongkat kayu ke arah Rey.
Mereka menyerang Rey dengan ganas secara bersamaan. Saat melihat gerombollan yang sedang bergegas ke arahnya, dengan cepat Rey menghentakkan kakinya kuat kuat dan menuju gerombolan itu untuk menyerang.
Dengan tangan kosong, Rey memukul wajah para gerombolan itu.
BUGH!
BUGH!
BUGH!
"Aaargghh!"
Gerombolan itu merasakan kesakitan saat wajah mereka terkena pukulan yang sangat keras tanpa melihat pergerakan Rey di saat memukul.
"Sialan! Cepat sekali gerakannya!" seru salah satu orang sambil memegang pipinya yang berdarah.
Tapi belum sempat berbalik, gerombolan itu segera mendapatkan pukulan kedua dari Rey dengan sangat keras hingga membuat mereka terlempar dan menabrak dinding yang berada di samping mereka dengan cepat.
Dengan santai Rey berjalan dan menginjak kepala anak buah Allen yang sedang berbaring di samping dinding itu. Sementara gerombolan yang lain hanya bisa merasakan kesakitan di lantai tanpa bisa melakukan apa apa terhadap Rey.
"Dimana bosmu?" tanya Rey menginjakkan kakinya di atas kepala anak buah Allen.
"Aku tidak akan mengatakannya!" seru orang itu menahan rasa sakit di kepalanya.
"Baiklah, jika tidak mau mengatakannya, sebaiknya pergi ke neraka lebih awal." kata Rey santai sambil menekan kakinya dengan keras hingga membuat orang itu mati di tempat dengan mengenaskan.
Pemandangan itu di saksikan oleh seluruh gerombolan yang ada di sana dengan ngeri.
"Sialan! Dia mati!" seru salah satu anak buah Allen yang tergeletak dengan ketakutan,
Mereka semua sangat ketakutan ketika melihat kepala temannya hancur berantakan di atas lantai.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian untuk mengacaukan hotel ini? Atau aku akan mulai mengirim kalian ke neraka satu persatu." tanya Rey santai.
***
Sementara itu Hitomi, Vonta dan Lee tiba di lobi dan di hadang oleh anak buah Allen yang berjaga di depan meja resepsionis.
Tapi Lee menyingkirkan mereka dengan mudah sehingga membuat kedua anak buah Allen terpental beberapa meter dan pingsan.
Allen melihat kejadian itu dari dalam mobil di kejauhan sambil mengerutkan keningnya.
"Siapa dia? Kalau di lihat dari bentuknya sepertinya bukan dia bosnya." gumam Allen.
__ADS_1
Lee menghabisi para gerombolan yang sedang menyekap para karyawan hotel di sudut ruangan lobi. Tapi gerombolan itu terlalu banyak membuat Lee merasakan kelelahan setelah menyingkirkan beberapa orang dari gerombolan itu.
Teriakan para pelayan itu semakin terdengar keras saat melihat Lee yang berusaha menyelamatkan mereka. Vonta segera membantu Lee dan menyingkirkan beberapa orang dari gerombolan itu dengan cepat.
"Hei! Vonta, sebaiknya berikan aku kesempatan untuk membuat kesan yang keren di depan para gadis itu!" teriak Lee sambil terengah engah.
"Hahaha, baiklah kalau begitu, aku tidak akan membantumu." seru Vonta bercanda.
"Sialan! Apa yang kalian bicarakan!" seru Hitomi.
BUAGH!
"Arragh!!!"
Vonta berteriak dengan rasa sakit saat punggungnya terkena serangan yang sangat keras.
"Aaaah!" teriak Hitomi saat melihat seseorang yang menyerang Vonta dengan cepat.
Saat Vonta tertawa dengan santai, tiba tiba Allen menyerangnya dengan keras dan cepat.
"Sialan!! Vonta, apa kau tidak apa apa?" tanya Lee berlari ke arah Vonta yang sedang terbaring di lantai.
"Aarrrggh!"
Tanpa menghiraukan sekitarnya, Allen menyerang Lee dengan cepat dan keras.
Lee terbang beberapa meter hingga menabrak para pelayan yang berkumpul di pojok ruangan. Tubuhnya terasa sakit tapi ada sedikit senang karena terjatuh di pelukan para pelayan wanita yang ketakutan itu. Goblog emang.
Hitomi sekali lagi berteriak kaget saat melihat Lee terlempar sangat jauh.
"Brengsek! Siapa kau!" teriak Hitomi.
"Hahaha, cantik juga." seru Allen dengan cuek sambil berjalan ke arah Hitomi.
"Jangan mendekat!" seru Hitomi ketakutan saat Allen menuju ke arahnya.
"Jangan takut cantik, aku ke sini hanya untuk berdamai denganmu." kata Allen berjalan ke arah Hitomi.
"Apa maumu?" tanya Hitomi dengan ketakutan saat melihat Allen semakin mendekat.
"Hahaha, yang aku mau?" tanya Allen sambil tertawa.
"Nona, aku tahu siapa kamu, dan aku tahu posisimu untuk tuan Rey." lanjut Allen.
"Apa yang kamu inginkan!" seru Hitomi ketakutan.
"Yang aku inginkan hanyalah perdamaian, dan menjalin kerja sama dengan perusahaan MegaCore Tech." kata Allen santai.
"Apa? Apa maksudmu dengan perusahaanku!" seru Hitomi.
"Begini nona, akan aku jelaskan agar kamu mengerti yang aku maksudkan." kata Alex cuek.
"Berikan aku beberapa saham di perusahaan itu, aku tidak memintanya secara gratis, katakan saja berapa harga yang kamu tawarkan padaku. Cukup mudah bukan?" kata Allen.
"Tentang hal ini, aku tidak mempunyai hak! Sebaiknya bicarakan lain waktu." kata Hitomi ketakutan saat melihat tatapan mata Allen yang tertuju ke arah dadanya.
BRAK!
"Sialan! Apa kau main main denganku!" seru Allen menggbrak meja yang ada disampingnya dengan keras.
Hitomi ketakutan saat Allen menggebrak meja dengan penuh emosi.
"Hei nona! Jika kau tidak memberikan saham MegaCore Tech itu padaku, maka aku akan menghancurkan semua perusahaan itu!" seru Allen marah.
"Hahahaha, apa kau yang bernama Allen?" tanya Rey sambil berjalan dari arah lift sambil tertawa.
"Ah? Sayang? Tapi?" gumam Hitomi dalam hati.
"Siapa kau!" seru Allen.
"Siapapun aku, itu tidak penting bagimu." jawab Rey cuek.
"Sialan! Beraninya kau!" seru Allen menatap Rey yang sedang berjalan ke arahnya dengan santai.
"Aku tanya sekali lagi, apa benar kau yang bernama Allen?" tanya Rey santai.
"Memangnya kenapa kalau aku Allen!" seru Allen marah.
"Baiklah." jawab Rey mengangguk puas.
BUAAGH!
BUAGH!
BUAGH!
Rey melesat cepat menyerang Allen tanpa aba aba.
"Sial! Cepat sekali dia!" gumam Allen sambil menahan serangan dari Rey dengan tepat.
Rey kaget karena serangannya sangat mudah di tahan oleh Allen dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Hahaha, kau pikir serangan seperti itu akan mudah mengalahkan aku?" seru Allen sambil tertawa.
Srrtttt!
BRUAGH!
"Ugh!" Rey terkena serangan Allen yang sangat cepat dan tepat mengenai dadanya. Allen menyerang Rey dengan kecepatan telapak tangan yang sangat luar biasa.
"Hahaha, bagaimana dengan itu." seru Allen tertawa saat melihat Rey terjatuh di lantai.
Rey bangkit dan mulai membersihkan pakaiannya yang terkena debu saat terjatuh di lantai tadi.
"Tidak buruk." jawab Rey cuek.
"Sialan! Cepat sekali dia! Kenapa aku tidak bisa melihat gerakannya!" gumam Rey dalam hati.
Hitomi tahu kalau orang itu adalah Rey saat mendengar suaranya dan gerak gerik yang sama persis seperti lelakinya, tapi Hitomi tidak mau memanggilnya karena tahu dengan topeng yang dipakai, Rey tidak mau identitasnya di ketahui Allen.
"Hahaha, baru kali ini aku menemukan lawan yang cukup lumayan, ini membuatku senang." seru Allen tertawa gembira.
Selama ini Allen tidak pernah menemukan lawan yang seperti Rey, saat Allen menahan serangan dari Rey, dia merasakan kekuatan yang Rey miliki sangat berbeda dari lawannya yang lain.
__ADS_1
Dengan begitu, Allen merasa sangat gembira karena akan bertarung dengan orang yang sedikit kuat daripada lawan lawannya yang sebelumnya.