Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Cerita Orang Misterius


__ADS_3

Siang hari tiba dan ketiga sekretaris itu menunggu orang misterius ini dengan semangat.


"Penasehat, tolong panggilkan para sekretaris untuk menemaniku keluar."


"Baik, tuan." kata penasehat itu sopan.


Penasehat itu segera memanggil ketiga sekretarisnya untuk menghadap kepada bos.


Tapi penasehat itu memberitahu mereka sekali lagi untuk mencari kesempatanan agar bisa meracuni bosnya.


Ketiga sekretaris itu mengangguk dengan patuh di hadapan penasehat tapi di belakangnya mereka adalah para wanita orang misterius itu, jadi lebih tepatnya ketiga sekretaris itu adalah mata mata bagi orang misterius ini.


Mereka bergegas menuju ke kantor orang misterius ini dengan semangat.


Sedangkan penasehat itu mengikutinya dari belakang dan ikut masuk ke kantornya.


"Tuan, kami sudah di sini, apa tuan membutuhkan sesuatu yang lain?" tanya salah satu sekretaris dengan sopan.


Karena penasehat masih berada di antara mereka, maka para sekretaris itu masih berakting layaknya pekerja pada umumnya.


"Temani aku keluar."


"Baik tuan."


"Penasehat tolong siapkan mobil untuk kami."


"Baik tuan."


Penasehat itu segera menyiapkan mobil untuk bos nya yang akan pergi ke luar, dengan niat jahatnya dia memasang alat pelacak dan alat penyadap di mobil itu, bahkan sopirnya juga di berikan uang tutup mulut olehnya.


Setelah selesai menyiapkannya, penasehat kembali ke kantor bosnya untuk memberi tahu bahwa mobilnya sudah di siapkan.


"Tuan, mobilnya sudah siap." kata penesehat itu sopan.


"Terima kasih."


Mereka menuju ke depan gedung kantor, dimana mobil itu sudah menunggu tepat di depan pintu gedung itu.


"Silahkan, tuan." kata sopir sambil membukakan pintu Rolls-Royce dengan hormat.


Orang misterius itu mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil bersama tiga sekretarisnya.


Di perjalanan, orang misterius itu sepertinya sudah mengetahui bahwa mobil ini sudah di pasang alat penyadap dan pelacak oleh penasehatnya, dengan cerdik dia menulis di buku agar ketiga wanitanya jangan berbicara dulu.


Mereka mengerti dan mulai mengeluarkan buku catatan masing masing untuk mengobrol dengan tulisan mereka.


Sementara itu, penasehat yang sudah kembali ke kantornya, mengeluarkan alat pendengaran untuk memantau percakapan mereka di dalam mobil.


"Eh? Kenapa sepi sekali? Apa penyadapnya rusak?" gumam penasehat itu sambil memukul mukul alat dengar yang berbentuk seperti radio jaman dulu.


Tapi alat itu tetap tidak bisa mendengarkan apa apa kecuali suara deru mesin dari mobil itu.

__ADS_1


Penasehat itu membuka ponselnya dan mencari titik lokasi dengan membuka aplikasi gps.


Tampilan layar mendapatkan lokasi mobil itu dengan tepat.


"Baiklah, kemana kau akan pergi." gumam penasehat itu sambil melihat ke layar ponselnya.


//Sayang kemana kita akan pergi// tulis salah satu wanita di bukunya.


//Ke rumahku//


Mereka berbicara melalui tulisan di dalam kertas masing masing.


Setelah mereka sampai rumah, mereka langsung turun dan menyuruh sopir untuk kembali ke kantor.


"Sialan! Bukankah tadi dia bilang mau keluar, kenapa dia malah pulang!" seru penasehat itu kesal sambil memukul mejanya.


orang misterius itu membawa ketiga wanitanya ke ruang keluarga dan segera di periksa dengan teliti karena takut masih ada penyadap.


Ketiga wanita itu membuka pakaian mereka dengan santai, mereka berdiri tanpa mengenakan sehelai benang di hadapan orang misterius itu.


"Baiklah, aku akan membuang pakaian kalian."


Pakaian itu di lempar ke tempat sampah dan di bakar.


"Sayang, sepertinya kita tidak di sadap." kata salah satu wanita sambil berjalan mendekat tanpa mengenakan pakaian.


"Ya sepertinya begitu, sebaiknya kalian segera memakai bajuku untuk sementara sebelum pakaian kalian datang."


Orang misterius itu membuka ponselnya dan memesan beberapa pakaian untuk ke tiga wanitanya.


Orang misterius itu mengajak para wanitanya untuk jalan jalan ke mall setelah pesananan pakaiannya sampai dan langsung di pakai oleh tiga wanitanya itu.


Ketiga wanita itu mengangguk senang saat mendengar kata mall.


Para wanitanya sengaja tidak memberitahunya tentang bukti itu sebelum mereka puas berbelanja.


Mereka berangkat menuju mall dengan senang, mereka mengobrol dnegn santai karena mobil yang mereka gunakan sudah di ganti dengan mobil pribadinya.


Sebenarnya orang misterius ini juga masih muda dan dia seumuran dengan Rey. Dan orang ini hampir mirip dengan Rey, hanya saja penampilan mereka berbeda, Rey yang selalu tampil urakan sedangkan orang ini rapi.


Rambut sama sama panjang, Rey yang membiarkan rambut berantakan dan terurai, sedangkan orang ini rambutnya panjang lurus dan di kucir dengan rapi kebelakang.


Sebenarnya dia baik hati, bahkan sebelumnya dia seorang pemuda yang sangat ramah, mempunyai banyak teman dan beberapa pacar seperti Rey saat ini, tapi setelah ayahnya meninggal dan menemukan kejanggalan dalam kematian ayahnya, dia berubah drastis, bahkan dia memutuskan hubungan dengan semua orang dan mengganti nomor ponselnya sampai pindah rumah agar tidak ada teman yang bisa menemukannya.


Sama seperti Rey, dia hidup sebatang kara sejak saat itu. Bedanya, dia sudah bergelimang harta sejak dulu.


Dia juga sangat jarang pergi ke luar bahkan sangat jarang menampakkan wajahnya kepada para klien yang bekerja sama dengan perusahaannya, itulah yang menyebabkan dia mendapat julukan Si Kaya yang Misterius.


Tapi dia terobsesi dengan Rey saat dia berusaha mendapatkan XTown Commercial Street. Dia berkali kali menawarkan harga berlipat untuk memilikinya tapi kalah dengan Rey yang tiba tiba menjadi pemilik baru XCS.


Dia merasa tersaingi oleh Rey dan berniat untuk menjatuhkan Rey dengan cara apa pun. Sebenarnya tujuan hidupnya hanya menyingkirkan pembunuh ayahnya saja, tapi kemunculan Rey di dunia bisnis membuatnya merasa tersaingi.

__ADS_1


Dia tidak merasa takut sama sekali, tidak perduli kalah atau menang. Bahkan dia merasa senang ada orang kuat yang muncul di kehidupannya.


***


Di gunung yang jauh,


Allen sudah mulai kelelahan dengan kepalan tangan yang mulai berdarah karena memaksa pintu gua agar terbuka dengan tinjunya.


"Sialan! Dasar pria tua busuk!" seru Allen geram setelah usahanya untuk membuka pintu gua itu berakhir sia sia.


Setengah hari sudah berlalu sejak Allen tidak berhenti berjuang dan meninju pintu gua itu, tapi perjuangannya tidak membawa hasil yang baik, justru sebaliknya, kini kedua tangannya terluka karena memukuli pintu gua dengan sangat keras.


Allem bersandar pada pintu gua itu dengan perasaan marah.


"Lihat saja nanti, jika aku keluar maka aku akan membunuhmu apa pun caranya, dasar tua bangka." seru Allen geram sambil mengepalkan tinjunya.


***


Di kedai kecil,


Rey dan tiga gadisnya sudah selesai makan siang.


"Lee, nanti sore temani aku menemui Vonta." kata Rey menatap Lee yang masih sibuk dengan makanannya.


"Siap bos." seru Lee mengangguk.


Sementara itu, Hitomi dan Lita sedang memperhatikan para pelamar kerja yang berada di lantai dua termasuk orang yang akan menjadi mata mata di perusahaan ini.


Hitomi dan Lita sengaja menolak banyak pelamar pekerjaan agar bisa menerima mata mata itu dengan lancar.


Jika mata mata itu sudah masuk ke perusahaan ini, maka Hitomi dan Lita dengan mudah bisa mengetahui sosok orang misterius di belakangnya itu.


Untuk sekarang, Hitomi dan Lita sedang merencanakan untuk menjebak mata mata itu secara perlahan sehingga Hitomi dan Lita bisa mengetahui maksud dan tujuan orang misterius itu dengan mudah.


Di sisi lain, Vonta resah menunggu keputusan dari kepolisian untuk membebaskannya.


Sedangkan Cameron, dia tidak berangkat kuliah, dia berbaring di kamar dengan air mata yang terus mengalir saat mengingat Vonta yang berada di dalam sel tahanan.


Semalam Cameron menangis karena penyesalannya setelah membawa Vonta ke dalam masalah ini.


Ibunya sangat kejam tapi setelah bertemu dengan Rey kemarin sore, dia selalu mengingat Rey dan bertanya tanya dalam hatinya karena merasa ragu.


Ibu Cameron menelpon beberapa saudaranya dan menanyakan tentang keluarga Rey, dia takut jika Rey memiliki kekuatan melebihi dari keluarga Diaz, maka dari itu dia merasa ketakutannya meningkat saat mendengar dari salah satu saudaranya bahwa Rey adalah pemilik MegaCore Tech, Capital Bank dan bahkan XTown Commercial Street.


Dengan gusar ibu Cameron berjalan menuju ke kamar Cameron.


"Sayang, apa kamu sudah bangun?" tanya ibu Cameron lembut.


Tapi tidak ada jawaban dari Cameron meskipun dia selalu terjaga dan tidak tidur semalaman karena perlakuan ibunya.


Ibu Cameron mencoba membuka kamar Cameron tapi pintu kamarnya di kunci dari dalam.

__ADS_1


"Sayang, jangan begini, ibu melakukan semua ini demi masa depan kamu." kata ibu Cameron sambil berdiri di depan pintu kamar Cameron.


Perkataan ibunya semakin membuat Cameron membencinya, dia membuat tali dari serangakaian kain sprei dan tirai untuk memanjat keluar dari jendela lantai dua.


__ADS_2