Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Marah


__ADS_3

Pagi harinya, Lita dan Hitomi cekikikan dan bercanda berdua.


"Ada apa kalian ini, pagi pagi sudah ribut." kata Rey membuka mata dengan perlahan.


"Sayang, kamu sudah bangun." kata kedua wanita itu lembut.


"Hem." jawab Rey datar.


"Sayang, ayo kita mandi bersama." seru Hitomi menarik tangan Rey yang masih berbaring dengan malas.


"Ayo sayang bangun!" seru Lita membantu Hitomi untuk menarik tangan Rey.


"Haish, oke oke." jawab Rey beranjak dari tidurnya dengan malas.


Mereka masuk ke kamar mandi dengan riang. Fafa, Yuri dan Sabrina menuju ke kamar Rey bermaksud untuk membangunkannya.


"Sayang, apa kau sudah bangun?" seru Fafa membuka pintu kamar Rey.


"Hah? Kemana dia?" seru Yuri saat melihat Rey tidak ada di atas ranjangnya.


"Apa dia lagi mandi?" tanya Sabrina.


Mereka saling bertukar pandang satu sama lain dengan pikiran yang sama. Sabrina menoleh perlahan ke arah pintu kamar mandi Rey.


Ketiga gadis itu serentak berlari menuju kamar mandi itu dengan cepat. Mereka bertiga memiliki pemikiran yang sama, jika Rey sedang mandi maka mereka akan ikut mandi bersama.


Saat ketiga gadis itu membuka pintu kamar mandi Rey, mereka bertiga kaget saat melihat Hitomi dan Lita sedang membantu Rey mandi.


"Kalian di sini?" tanya Yuri mengerutkan keningnya.


"Eh? Kalian bertiga belum mandi kan?" tanya Rey.


"Sayang, kenapa kamu jahat sekali, kenapa kamu tidak mengajakku mandi bersama!" seru Yuri cemberut.


Sedangkan Fafa dan Sabrina tidak menghiraukan apa yang mereka lihat di depannya, dengan santai mereka membuka pakaian dan bergabung bersama Hitomi dan Lita.


"Fafa! Kau!" seru Yuri marah saat melihat Fafa dan Sabrina sudah tidak memakai pakaian dan bergabung bersama mereka.


"Kenapa kalian mendahuluiku!" seru Yuri dengan kerutan di wajahnya menunjukkan kekesalannya.


"Kau ini terlalu banyak omong." kata Rey menarik tangan Yuri dan menggendongnya ke arah bathub.


"Sayang, tu-tunggu aku masih pakai baju!" seru Yuri saat berada di dalam gendongan Rey.


Yuri kaget dengan apa yang di lakukan Rey saat menyeburkan dirinya ke dalam bathub dengan pakaian tidur yang lengkap.


"Hahahaha," keempat wanita itu tertawa saat melihat tingkah laku Yuri yang lucu.


Mereka berendam di bathub Rey yang besar, bahkan sesekali mereka sering melakukan kejahilan satu sama lain, jika di lihat pemandangan ini seperti anak kecil yang sedang bermain air di bathub besar itu.


Rey menggeleng dengan perasaan senang.


[Apa rencanamu hari ini?]

__ADS_1


'Panggil three, four, five, six nanti kemari.' jawab Rey dalam hati.


[Oke lah.]


'Karena Fafa dan Sabrina sudah punya hewan peliharaan, maka aku akan memberikan yang lainnya hewan peliharaan juga agar mereka tidak curiga dengan para cyborg itu.' gumam Rey dalam hati.


[Boleh juga. Sudah dulu. Bye.]


'Memangnya kau mau kemana? Kita kan satu.'


[Oiya lupa, sepertinya aku semakin bodoh saja bersamamu.]


'Brengsek!'


"Hey sudah sudah, ayo kita sarapan." seru Rey bangkit dari bathubnya.


Kelima wanita itu mengikuti Rey untuk segera berganti pakaiannya masing masing.


"Sayang, aku pinjam kemejamu." kata Yuri membuka lemari Rey.


"Hah? Untuk apa Yu?" tanya Rey penasaran.


"Pakaianku basah tadi, jika aku tidak memakai pakaian keluar dari kamar ini, aku kan malu!" jawab Yuri cemberut.


"Hahaha, oke oke."


Yuri memakai kemeja putih milik Rey yang terlihat kebesaran ketika di pakainya.


Kemeja Rey yang di pakai Yuri itu menutupi tubuh Yuri sampai bagian paha, yang membuat Yuri terlihat sangat cantik.


"Terima kasih sayang." jawab Yuri memeluk Rey dari belakang.


Yuri mengikuti para wanita lainnya keluar dari kamar Rey dan menuju ke kamar masing masing untuk berdandan.


Hitomi tidak mengikuti mereka karena dia sedang membantu Rey untuk menyiapkan pakaian dan yang lainnya.


"Terima kasih, Hitomi." kata Rey mencium kening Hitomi.


"Sudah tugasku." jawab Hitomi mengangguk dan tersenyum lembut.


***


Di sebuah gunung yang jauh,


Allen terbangun setelah semalaman tidak sadarkan diri.


"Hah? Dimana ini?" seru Allen saat membuka matanya dan melihat sekelilingnya yang sangat gelap.


Setelah Allen pingsan, pria tua itu membawanya ke dalam gua dan menutup gua itu dengan sebuah batu besar sampai mulut gua itu tertutup rapat tanpa ada celah sedikitpun.


"Guru!" teriak Allen saat terbangun di dalam goa itu.


Tapi tidak ada jawaban dari gurunya. Allen merasakan ketakutan dengan apa yang dia rasakan saat melihat sekeliling, matanya seperti buta, gelap, sangat gelap.

__ADS_1


"Kenapa gelap sekali, ini di mana!" teriak Allen panik.


Beberapa kali Allen mengusap kedua matanya dengan telapak tangan tapi penglihatannya masih saja gelap. Dengan sangat panik, Allen berteriak tanpa henti untuk meminta tolong pada siapapun yang mendengar teriakannya, tapi sayang, Allen tidak tahu kalau gua itu tertutup sangat rapt hingga tidak akan ada yang mendengar suara sedikitpun dari dalam goa itu.


Pria tua itu sengaja memperlakukan Allen dengan cara seperti itu agar dia menyadari kesalahan dan dosa dosanya dan cepat bertobat.


Sementara itu,


Rey dan para wanitanya selesai sarapan pagi. Hitomi dan Lita pergi ke kantor di antar oleh Leon. Karena Rey tidak ada kerjaan, dia memutuskan mengantar tiga gadisnya ke kampus sekali kali.


***


Di tempat lain,


"Cameron!! Apa yang telah kau lakukan!!" teriak ibu Cameron saat melihat putrinya sedang tidur dengan seorang pria di kamar.


"I-ibu!" seru Cameron bangkit dari tidurnya karena kaget.


Vonta bergegas menuju kamar mandi dengan cepat. Ibu Cameron pulang ke rumahnya di pagi hari tanpa di ketahui oleh Cameron dan Vonta yang sedang tidur bersama, akhirnya mereka berdua ketahuan oleh ibu Cameron.


Ibu Cameron sangat marah dengan apa yang di lakukan oleh anak gadisnya.


PLAK!


"Apa kau sudah gila! Berani sekali kau membawa laki laki masuk ke rumah ini dan bahkan kalian tidur bersama!" teriak ibu Cameron marah setelah menampar keras putrinya itu.


Vonta berlari ke arah Cameron dan memeluknya.


"Nyonya, ini salahku, tolong jangan marahi Cameron." kata Vonta memeluk Cameron lembut.


"Apa kau bilang! Kau pikir kau siapa!" teriak ibu Cameron marah dengan mata melotot.


"Apa yang kalian lakukan! Kalian tidur bersama, hah! Apa kalian ini sudah gila!" teriak ibu Cameron sangat marah.


Cameron menangis di pelukan Vonta setelah di tampar oleh ibunya. Ibu Cameron sangat marah saat ini setelah melihat kejadian seperti itu. Bahkan sebelumnya, ibu Cameron tidak pernah setuju dengan hubungan anaknya bersama Vonta karena keluarga Vonta adalah keluarga biasa dan hanya dari kalangan pekerja kantoran tingkat bawah.


Ibu Cameron menarik tangan Vonta dengan keras agar mereka berdua melepaskan pelukannya. Ibu Cameron dengan penuh emosi mengusir Vonta dan melaporkannya ke polisi.


Ibu Cameron marah dengan kelakuan putrinya yang tidak pernah menurut kepadanya, maka dari itu ibu Cameron melaporkan Vonta dengan tuduhan pemerkosaan terhadap putrinya.


Vonta yang sudah meninggalkan rumah Cameron segera mengatakan yang sejujurnya kepada orang tuanya dengan perasaan bersalah.


"Apa! Apa kau sudah gila! Kau membuat keluarga kita dalam masalah besar! Tahukan kau siapa keluarga Diaz!" seru ayah Vonta marah.


"Keluarga Diaz adalah keluarga terpandang, mereka menguasai seluruh kota XTown ini, mereka adalah keluarga pejabat pemerintahan Jamkha!" teriak ayah Vonta marah.


"Maafkan aku ayah, aku tidak tahu jika keluarganya begitu besar, aku hanya mencintainya tanpa memandang dari mana keluarganya dan aku tulus menyayanginya."


"Cinta katamu!"


"Apa kau tahu tradisi keluarga Diaz!"


"Mereka tidak akan mungkin menerima keluarga kita!" seru ayah Vonta menggeleng.

__ADS_1


__ADS_2