Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Rencana Yuri


__ADS_3

"Sekaya apa pria ini?" tanya ibu Fafa sambil berbisik di telinga Fafa.


"Ah? Kenapa ibu menanyakan itu?" jawab Fafa mengerutkan keningnya.


"Tidak apa apa, ibu hanya bertanya saja, dia terlihat baik. Demonforge ya? Keluarga dari mana itu Fa?"


"Ceritanya panjang bu, nanti saja aku cerita tentang dia." Jawab Fafa sambil menyiapkan tempat duduk untuk ibunya.


"Silahkan nyonya! Maaf jika makanan yang ada di sini kurang baik untuk anda." kata Rey lembut.


"Ah, tidak tidak, ini bahkan lebih dari kata baik nak, dan tolong jangan panggil aku nyonya, bukankah kamu calonnya Fafa?" kata ibu Fafa sambil tersenyum.


"Dengarkan kata ibuku tuh sayang!" sela Fafa santai.


"Ah baiklah bu. Hehehe." kata Rey sambil tertawa.


BRAK!!


Tiba tiba pintu ruangan itu di buka dengan paksa dan beberapa orang masuk dengan cepat. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut, bahkan pelayan hampir menjatuhkan botol minuman yang akan di sajikan di meja.


"Lanny! Jadi selama ini kau memiliki banyak uang! Jadi selama ini kau menggelapkan uang perusahaan kami!" teriak paman Fafa penuh curiga.


"Ha? Apa yang kamu bilang barusan?" jawab ibu Fafa mengerutkan kening.


"Jangan berlagak bodoh di depanku! Jika kau tidak punya uang gimana caranya kau membayar semua yang ada di ruangan ini!"


Salah satu pelayan dengan segera menghubungi Harry dan tak menunggu lama dia bergegas ke lantai 7 untuk membereskan masalah yang terjadi.


"Mm, Kamu siapa ya?" tanya Rey santai.


"Hey brengsek! Aku Gordon Amore! Direktur utama perusahaan Amore! Jangan ikut campur dengan masalah kami!"


"O gitu? Dia ibuku, jadi masalahnya ya masalahku juga." jawab Rey tetap santai.


"Hahahaha! Dasar brengsek! Jangan salahkan aku jika aku akan menghancurkanmu karena ikut campur masalah keluargaku!"


"Bukannya ibuku bukan keluarga kalian?" tanya Yuri ikutan panas.


"Diam kau anak kecil!! Dan kau Lanny! Aku tidak menyangka kau menggelapkan uang perusahaan kami!" seru Nenek Fafa tiba tiba masuk ikut campur dan berjalan ke arah ibu Fafa.


"Apa maksudnya? Jangankan uang perusahaan, deviden dan gaji bulananku saja aku tidak pernah di beri olehmu. Bukankah kau sadar itu ibu mertua?" seru ibu Fafa menekankan.


"A-Apa! Jadi selama ini kita tidak mendapat apapun bu?" tanya Fafa terkejut


"Sialan kalian! Keluar kalian semua!" lanjut Fafa penuh amarah ke arah keluarga Amore.


Harry tiba tepat saat percekcokan ini memanas dan langsung membungkuk hormat di hadapan Rey.


"Maaf tuan Rey, saya terlambat."


"Tuan Harry, apa anda tidak salah orang?" tanya nenek Fafa sedikit terkejut.


"Apa kalian bosan hidup?! Apa kalian tidak tahu siapa beliau hah!" tanya Harry dengan marah.

__ADS_1


"Hahaha, tuan Harry jangan tertipu oleh mereka, mereka ini menggelapkan uang perusahaan kami." kata paman Fafa santai sambil menunjuk ibu Fafa.


"Kau bilang apa?! Penjaga! Keluarkan sampah sampah ini dari hotel!" teriak Harry dengan keras.


Serentak para sekuriti yang di bawa Harry tadi masuk dan menarik paman dan nenek Fafa dari dalam ruangan VVIP.


"HAH! Apa yang anda lakukan tuan Harry! Bukan kami yang seharusnya anda usir tapi mereka!" teriak paman Fafa masih melawan.


BUAGH!


Harry menendang perut paman Fafa dengan keras sampai terlempar keluar dari ruang VVIP itu.


"Lemparkan mereka keluar dan suruh bayar tagihan mereka!" seru Harry tegas.


"A-apa! tuan Harry, apa salah kami?" tanya nenek Fafa mulai panik.


"Apa salah kalian? Pikir sendiri! Cepat lempar mereka keluar dan masukkan nama keluarga Amore di daftar hitam hotel kita!" teriak Harry.


Rey dan yang lainnya hanya menyaksikan kejadian itu dengan tenang.


"Bu, ayo makan, jangan hiraukan mereka." kata Rey santai sambil memberikan potongan daging sapi ke piring ibu Fafa dengan lembut.


"Ah, terima kasih nak." jawab ibu Fafa lembut.


Paman dan nenek Fafa telah di usir dari Golden Star Hotel dan mereka harus membayar tagihan VIP sebesar 15,9 juta, semua anggota keluarga Amore yang berada di sana mengikuti kepala keluarga mereka keluar dengan kondisi yang sangat memalukan.


Sedangkan Rey dan yang lainnya melanjutkan makan malam dengan gembira tanpa beban. Ya, dari dulu keluarga Fafa adalah keluarga yang di kucilkan oleh keluarga Amore. Neneknya tidak pernah memberikan hak milik keluarga Fafa, maka dari itu ayah Fafa harus bekerja di luar perusahaan keluarga. Tapi sayangnya Fafa baru mengetahuinya sekarang.


"Bukannya tidak mau nak, tapi kami tidak memiliki cukup modal untuk memulai bisnis kami."


"Gunakan saja uang yang kemarin bu, kalau masih kurang biar Hitomi yang mengurusnya nanti, anggap saja ini kerjasama antara aku dan Fafa."


"Ah, bagaimana caranya aku harus membalas kebaikanmu nak."


"Tidak usah sungkan bu, bukankah Fafa itu calonnya saya." kata Rey bercanda membalikkan omongan ibu Fafa yang tadi.


"aih, kau ini." kata ibu Fafa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Sayang, terima kasih banyak." kata Fafa berbisik di telinga Rey.


Makan malam bersama pun selesai dengan tenang, Fafa dan ibunya berpamitan untuk pulang, mereka semua berjalan menuju ke tempat parkir di antar oleh Harry, manager hotel itu. Mereka masuk ke mobil masing masing dan perlahan menjauh dari hotel. Fafa dan Xena berpisah dari rombongan untuk kembali ke rumah masing masing. Sedangkan Rey dan yang lain menuju mansionnya.


***


Di sisi lain, Teddy Larks yang telah mengetahui bahwa ibu Fafa tidak menjabat lagi sebagai direktur utama di perusahaan Amore Group, berniat untuk menawarkan jabatan yang sama di perusahaannya.


"Hahaha, ini kesempatanku untuk mendekati Fafa!" kata Teddy langsung tertawa bahagia.


Teddy merasa memiliki kesempatan besar setelah di beri informasi oleh mata mata yang memang di tugaskan untuk mengawasi keluarga Amore.


***


Rey dan kedua wanitanya tiba di mansion, mereka bertiga sedang berjalan ke ruang santai bersama. Tahu kalau tuannya sudah pulang, bibi segera menghadap untuk memberikan sesuatu.

__ADS_1


"Tuan, ada surat untuk anda." kata bibi sambil menyerahkan amplop berwarna merah muda kepada Rey.


"Surat apa ini? Aneh aneh saja, Hitomi, tolong bacakan!" seru Rey malas dan memberikan surat itu kepada Hitomi.


Hitomi merobel amplop itu dan membacakan dengan keras.


"Untukmu Rey Demonforge! Pertama kali aku melihat matamu---,,,"


"STOOOP! APA APAAN ITU!" seru Rey kencang karena terkejut dan merebut surat itu dari Hitomi.


Hitomi tertawa terbahak bahak melihat lelakinya itu panik, Yuri yang sedang duduk pun tidak bisa menahan tawanya. Rey mendengus kesal sambil mencari tahu siapa pengirimnya.


"Sayang siapa yang mengirimnya? Lucu sekali orang itu." tanya Hitomi yang tadi belum selesai membaca.


"Sabrina," jawab Rey singkat dengan wajah masam.


"Sayang, sebaiknya balas dong suratnya, jangan sampai membuat penasaran anak orang." kata Yuri sambil cengengesan.


"Idih gak mau! Lagian aku tidak pernah menulis surat seperti ini! Memangnya sekarang jaman apa!" jawab Rey ketus.


"Kalau begitu, telpon saja dia." kata Hitomi.


"Oke oke! Aku akan menelponnya, aku loudspeaker sekalian, oke!" kata Rey.


Rey segera menelpon nomor Sabrina, dan tanpa menunggu lama telepon itu diangkat.


[Rey! Kamu sudah terima suratku?]


[Ya.]


[Lalu apa jawabanmu?]


[Tidak tahu,, aku---,,,]


Belum juga Rey menjawab, Yuri sudah merebut ponsel Rey berniat untuk menjahili Sabrina.


[Hei Sabrina!]


[Yuri?]


[Sebaiknya kau kemari dan menjelaskan semua padaku!]


[Maaf Yuri... Aku...]


[Hentikan omong kosongmu dan segera kesini!]


Yuri langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak dan tertawa terbahak bahak.


"Yuri, Sabrina itu kan sahabatmu, kenapa kau kejam sekali?" tanya Hitomi.


"Biar saja, kita lihat apa yang bisa dia lakukan nanti kak."


Rey mendengar obrolan Yuri dan Hitomi itu menatap mereka dengan penuh tanda tanya. Karena dia sendiri tidak tahu apa yang di rencanakan Yuri sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2