
Ketiga gadis Rey tidak mengetahui bahwa kedua cyborg sudah berada di sana dengan menyamar menjadi pengunjung.
One dan Two diam diam selalu mengikuti nona mereka saat pergi keluar dari mansion jika tidak di temani oleh Rey.
Sesuai perintah Rey, kedua cyborg itu selalu patuh untuk mengikuti instruksinya.
Sebelum ketiga gadis itu pergi ke pusat perbelanjaan, kedua cyborg itu sudah di perintahkan terlebih dahulu oleh Rey untuk menjaga ketiga gadisnya itu.
"Nona, apakah wajahku sejelek itu, hingga kalian mengacuhkan aku." seru Affa sambil berjalan di belakang mereka bertiga.
"Maaf, kami tidak perduli, sebaiknya kamu pergi dan jangan ganggu kami." jawab Yuri dengan tatapan dingin ke arah Affa.
"Hah? Hei, nona, aku bukan bicara padamu, tapi aku berbicara kepada nona yang cantik ini." kata Affa dengan geram sambil menunjuk ke arah Fafa.
Tapi Fafa dengan tidak perduli melihat ke arah Affa dengan tatapan dingin.
"Apa kau tidak mendengar kata kata saudariku. Sebaiknya kau menyingkir dari pandangan kami sebelum sesuatu terjadi padamu." kata Fafa geram.
"Sialan! Aku tidak menyangka kalau hanya wajah kalian saja yang cantik tapi perlakuan kalian sangat buruk dan sikap kalian sangat memuakkan." seru Affa marah.
"Aku tidak perduli apa pun yang kau katakan, sebaiknya menjauh dari kami." tambah Sabrina sambil melipat kedua tangannya di dada.
"A-apa katamu! Baik, aku akan pergi dan aku akan mengingat hari ini." seru Affa sangat kesal.
"Ada apa kawan?" tanya Baron sambil menepuk pundak Affa.
"Hei nona, apa kalian di ganggu olehnya?" tanya Baron sambil menatap Fafa.
Ketiga gadis itu mengerutkan kening saat seorang pria tampan datang di sebelah Affa.
"Jangan ikut campur, aku tidak butuh bantuan darimu, dan aku tahu trik yang kamu gunakan sangat kuno, berpura pura menolong kami dan menjadi pahlawan, lalu mengharap kami akan berterima kasih lalu memberikan kontak kami. Hahahaha. Sangat konyol! Pergi kalian, jangan sampai membuat kami marah!" seru Sabrina dengan tatapan dingin kepada kedua pria itu.
"A-apa maksudmu nona? Aku tidak bermaksud begitu, baiklah aku akan pergi." kata Baron berbalik dan pergi.
Saat Two melihat kejadian itu, dia segera bergegas untuk melindungi ketiga nonanya.
"Tunggu!" seru One sambil menahan langkah Two yang akan menyerang Affa.
"Ada apa?" tanya Two.
"96% mereka tidak akan menyerang, kita awasi terlebih dahulu, jangan sampai gegabah dengan apa yang telah kita lakukan. Ingat, kita harus bertindak cepat dan bersih. Sebaiknya perhatikan dulu. Jangan gegabah." kata One dengan tenang.
Sedangkan Baron, menyukai tipe gadis seperti mereka yang sangat angkuh terhadap laki laki, seakan akan mereka tidak membutuhkan seorang laki laki, maka dari itu Baron sangat berminat untuk menundukkan mereka bertiga.
'Sialan, baru kali ini aku menemukan gadis seangkuh mereka, bahkan kecerdasannya melebihi ekspetasi pikiranku.' gumam Baron dalam hati sambil menggeleng senang.
Tapi di pikiran ketiga gadis itu, berbeda dengan apa yang di pikirkan oleh Baron.
Ketiga gadis itu tidak akan pernah tertarik dengan pria lain selain Rey, maka dari itu sikap ketiga gadis itu sangat kasar dan arogan terhadap laki laki lain yang mengganggu mereka.
"Aku akan mengejarnya nanti, mereka harus menjadi wanitaku." gumam Baron yang kagum akan keberanian ketiga gadis itu.
__ADS_1
***
Sementara itu, Rey dan Lee menuju ke kantor polisi.
Berhubung komandan tidak kunjung menelpon maka Rey memutuskan untuk mendatangi mereka di kantornya.
Sesampainya di sana, kedua polisi penjaga gerbang, menyambutnya dengan hormat.
"Selamat sore tuan Rey." sambut kedua penjaga itu dengan hormat.
"Ya." Rey mengangguk.
"Tuan Rey, anda di sini." kata seorang petugas dengan sopan.
Petugas itu sangat senang saat Rey berkunjung lagi ke kantor polisi, karena sejak Rey berkunjung ke sini kemarin, petugas itu mendapat jatah dari komandannya sebanyak 10 juta sebagai uang tutup mulut.
"Silahkan masuk tuan Rey, dan silahkan tunggu sebentar. Saya akan segera melapor kepada komandan, silahkan duduk dengan nyaman, tuan." kata petugas itu semangat.
Petugas itu segera melapor kepada komandannya.
"Lapor komandan, tuan Rey ingin bertemu dengan anda, beliau sekarang di ruang tunggu." seru petugas itu sambil mengangkat tangan memberi hormat.
"A-apa! Astaga! Aku lupa menelponnya." seru komandan itu sambil menepuk keningnya.
Komandan segera menuju ke ruang tunggu dengan panik tanpa menghiraukan petugas yang berdiri di depannya untuk melapor.
"Eh? Apa yang terjadi?" gumam petugas itu heran saat melihat komandan itu dengan cepat berlari keluar dari kantornya dengan panik.
"Tidak apa apa, duduklah." jawab Rey santai.
"Terima kasih." kata komandan itu sopan.
"Bagaimana?" tanya Rey sambil menyilangkan kedua kakinya dengan santai.
"Begini tuan, seharusnya saya tadi menelpon anda untuk memberitahukan perubahan rencana, atasan saya kedatangan seorang duta besar dari luar negeri secara mendadak, jadi dia memberikan kuasanya kepada saya untuk mewakili perundingan kita." kata komandan itu sopan.
"Begitu ya, baiklah, kita mulai saja sekarang." kata Rey santai.
"Baik tuan Rey, atasan saya mengajukan beberapa syarat setelah kami berdiskusi tadi malam, karena sekarang saya mewakilinya, maka saya yang akan membicarakannya langsung dengan anda." kata komandan itu.
"Hmm, oke, katakan padaku apa syaratnya." kata Rey santai.
"Tuan Rey, atasanku meminta tiga hal, Pertama, mengembalikan 1 milyar yang di berikan oleh keluarga Diaz. Kedua, uang sumbangan 1 milyar kepada kantor kepolisian dan ketiga, jika nanti terjadi sesuatu yang mengancam kantor polisi, maka anda harus membantu kami, maksudnya, jika keluarga Diaz berbalik mengancam kantor polisi ini. Seperti yang anda tahu, mereka di bawah perlindungan pemerintah pusat." kata komandan itu dengan hormat.
"Oke." kata Rey santai.
Rey menelpon Hitomi untuk mengirim sejumlah uang kepada kantor kepolisian kota XTown.
[Halo, sayang, ada apa?]
"Apa kau sedang sibuk, Hito?" tanya Rey lembut.
__ADS_1
[Tidak sayang, aku baru saja selesai dengan pekerjaanku dan bersiap untuk pulang, memangnya ada apa sayang?]
"Tidak ada apa apa, aku hanya mau minta tolong agar kau mengirim sejumlah uang kepada pihak kepolisian." jawab Rey santai.
[Tentu, berapa uang yang di perlukan?]
"Hanya 2 milyar." jawab Rey santai.
[Baik, tunggu sebentar, sayang.]
Hitomi menutup telponnya dan langsung bekerja.
"Terima kasih banyak tuan Rey, ini benar benar merepotkan anda." kata komandan itu dengan hormat.
"Jangan sungkan." jawab Rey santai.
Beberapa menit kemudian sebuah notifikasi di ponsel komandan itu berbunyi.
"Eh? Kenapa di kirimkan kepada saya? Dan ini banyak sekali." kata komandan itu dengan terkejut saat melihat notifikasi di ponselnya dan uang di rekeningnya bertambah sangat banyak.
"Kau yang akan mengurus semuanya, aku percayakan kepadamu." kata Rey tersenyum, Rey tahu semuanya akan lebih mudah jika menyerahkan semuanya kepada para polisi kehausan itu, entah akan kemana uang itu, yang penting urusan pribadinya selesai. Mengenai persyaratan, orang bodoh juga tidak akan percaya dengan syarat itu.
"Baiklah, sekarang, bisakah anda membawa temanku ke sini?" tanya Rey santai sambil menatap komandan yang sedang fokus menatap ponselnya itu.
"Mmm, komandan." kata petugas sambil menepuk pundak komandannya yang masih menatap layar ponselnya.
"Eh? Apa? Ada apa? Aaah, tentu saja, tentu saja." seru komandan itu saat kembali tersadar dengan apa yang di katakan Rey.
Komandan itu memerintahkan kepada petugas untuk membawa Vonta ke ruang tunggu.
"Tuan Rey, jika suatu saat nanti, anda membutuhkan bantuan kami, tolong jangan sungkan memberitahu saya, semoga hubungan ini semakin membaik." kata komandan itu dengan senang setelah berpikir sebentar.
"Bos!" seru Vonta saat tiba di ruang tunggu.
Rey mengangguk.
"Baiklah, sudah tidak ada masalah lagi, maka aku pamit untuk kembali." kata Rey sambil berdiri dan menatap komandan itu.
"Baik tuan Rey, mari silahkan, saya akan mengantar kalian sampai ke depan." jawab komandan itu sopan.
"Hei Von, bagaimana rasanya tidur satu malam di hotel bintang lima?" tanya Lee sambil bercanda.
"Hotel? Hotel kepalamu itu!" jawab Vonta dengan senang sambil merangkul bahu Lee,
Akhirnya Vonta keluar dari rumah tahanan dengan bahagia.
"Bos, terima kasih banyak, maaf merepotkanmu." kata Vonta menundukkan kepalanya di depan Rey.
"Kita bicarakan ini di rumah." jawab Rey santai.
"Selamat jalan tuan Rey, hati hati di jalan." kata komandan itu saat mobil Rey akan melaju dan segera menjauh pergi dari kantor polisi.
__ADS_1