
Siang harinya Fafa menghubungi Rey menanyakan dimana Rey berada. Setelah tahu posisi Rey, Fafa dan kedua wanita Rey yang lain menyusul ke sasana tempat Rey berada. Ketika sampai di sasana, Fafa, Yuri dan Sabrina menghampiri Rey yang sudah menunggu mereka di parkiran. Mereka berempat mengobrol santai di bangku dekat tempat parkir sasana, sambil menikmati minuman ringan yang di bawakan para wanitanya.
"Maaf nona Rey, bolehkah saya bergabung?" tanya Lee membawa sebuah kursi mendekat ke arah Rey.
"Tentu saja." jawab Yuri bergeser sedikit memberi Lee ruang untuk meletakkan kursinya.
Lee menaruh kursi yang di bawanya dan bergabung dengan Rey.
"Mmm, tuan Rey, bolehkah aku kapan kapan main ke rumah anda?" tanya Lee polos.
Rey menoleh ke arah Lee dan menatap wajah yang sedang nyengir lebar itu.
[Dia murni ingin berteman denganmu, tidak ada niat apapun, lihatlah wajah polosnya itu.] kata Zero di dalam otak Rey.
"Boleh saja, kenapa tidak?" jawab Rey santai.
"Baiklah kalau begitu, jika anda memenangkan pertandingan hari ini, maka aku akan membawa makanan ke rumah anda." seru Lee semangat.
"Yang bener?" tanya Fafa menatap Lee.
"Tentu saja nona Rey, aku tidak pernah menarik kata kata ku." seru Lee.
"Baiklah, kalau begitu, aku pasti akan memenangkan pertandingan ini dengan mudah." kata Rey santai.
Lee bertambah semangat mendengar apa yang di katakan oleh Rey.
"Bagus sekali, baiklah, sepertinya latihan akan di mulai, nanti setelah latihanm bolehkah aku bergabung denganmu untuk makan siang?" tanya Lee penuh harap.
"Tentu saja, dan kau ini, kenapa harus formal seperti itu Lee." jawab Rey menggelengkan kepalanya.
***
Di tempat lain, terlihat George sedang menggunakan ponsel untuk mengirim pesan kepada seseorang.
[Hei, kawan, tuan Teddy memberi tugas untukmu.] =George.
[Tugas? Tugas apa? Kenapa tuan Teddy tidak menyuruhku langsung?] =Edward.
[Ya kau tahu sendiri, mungkin bos kita sedang sibuk jadi menyuruhku memberitahumu.] =George.
[Lalu tugas apa yang dia berikan padaku?] =Edward.
[Tuan teddy ingin kau bertanding dengan orang yang bernama Rey dari sasana MMA, jika kau menang maka tuan Teddy akan memberimu hadiah sebesar 20 juta.] =George.
[Baiklah, itu sangat mudah bagiku, katakan saja pada tuan Teddy, kalau tugas itu aku terima.] =Edward.
Edward segera mencari informasi mengenai Rey setelah mengakhiri percakapannya dengan George di ponselnya.
"Hey, apa kalian mengenal orang yang bernama Rey?" tanya Edward kepada temannya.
__ADS_1
"Hah? Apa kamu tidak tahu? Dia itu orang yang cukup terkenal setelah menghajar geng George dan anak buahnya di bar SSCC." kata teman Edward.
"Benar, aku juga menyaksikannya waktu itu, selain tampan dia juga lumayan pandai bertarung." kata seorang gadis cantik dengan semangat.
"Benarkah?" seru Edward mengerutkan keningnya.
"Tidak salah lagi, bahkan setelah kejadian hari itu, kau tahu Lucky dari tae kwon do, memberikan dukungannya secara langsung kepada Rey." kata teman Edward.
"Hmm, begitu rupanya, sepertinya dia cukup lumayan, tapi kalian lihat sendiri Lucky kalah kemarin. Itu artinya Rey belum cukup untuk di jadikan penguasa di sini." seru Edward sambil mengepalkan tinjunya dengan erat.
"Apa kau tahu, aku salah satu yang menjadi penggemarnya, sayang sekali dia sudah memiliki wanita cantik di sisinya dan bukan hanya satu, tapi tiga gadis cantik sekaligus!" seru seorang wanita teman Edward.
"Tentu saja akan banyak gadis yang berada di sisinya, selain tampan dan pandai berkelahi sepertinya dia juga pewaris keluarga kaya." kata teman Edward.
"Hahahaha! Kasihan sekali kamu." seru Edward tertawa ketika mendengar apa yang temannya bicarakan tentang Rey.
"Baiklah! Kalau begitu aku akan menghancurkan wajahmu itu!" lanjut Edward sambil mengepalkan tinjunya dengan erat.
***
Di sasana MMA, sesi latihan kedua sudah selesai, para anggota memutuskan untuk pergi ke XTown Sport Center untuk menemui coach mereka sekalian istirahat dan menunggu pertandingan di mulai di sana. Lagi pula sasana MMA tidak begitu jauh dari arena olahraga itu.
Rey menghampiri ketiga wanitanya yang sudah menunggu dirinya selesai latihan di pintu masuk sasana. Mereka berempat berjalan santai ke sebuah taman kuliner di kawasan sport center untuk makan siang. Tentu saja Lee mengikuti mereka.
Sementara itu, Teddy Larks yang ternyata sudah berada di sport center dari tadi, dengan sengaja memborong semua makanan di taman kuliner itu dan mentraktir semua anak buahnya termasuk Edward. Ketika Rey akan masuk ke taman kuliner, Rey di tahan oleh anak buah Teddy.
"Hey, tempat ini sudah di pesan oleh bos kami, sebaiknya kalian cari tempat lain kalau mau makan." kata orang itu.
"Kau tidak perlu tahu, jadi aku harap kalian pergi dan cari tempat lain." jawab orang itu cuek.
"Oh, baiklah kalau begitu." kata Rey tenang dan segera berbalik dan pergi.
"Baiklah, kalau begitu biar aku ajak kalian ke tempat yang biasa aku kunjungi." kata Lee sambil berjalan menuju gerbang depan sport center.
"Ayo!" seru Yuri semangat.
Mereka menuju keluar dari kawasan sport center.
"Hey, Lee pantas saja kau jarang terlihat ketika istirahat latihan, apa kau pergi ke tempat yang kau maksud?" tanya Rey santai.
"Aku terlalu malas jika makan di tempat ramai, kita tidak bisa menikmati makanan di tempat yang sumpek." jawab Lee.
"Masuk akal." jawab Fafa.
"Nah ini dia tempatnya." seru Lee menunjuk ke arah kedai yang sederhana di pinggir jalan.
"Sepertinya nyaman." kata Rey menatap kedai itu.
Lee segera mengajak Rey dan para wanitanya masuk ke dalam kedai itu.
__ADS_1
"Silahkan tuan tuan dan nona nona." sapa pelayan itu dengan hormat.
"Pelayan, tolong siapkan makanan terbaik untuk kami." kata Lee.
"Baik tuan." jawab pelayan itu sopan.
Pelayan itu berbalik dan pergi untuk menyiapkan makanannya.
"Hey, Brie, ada apa denganmu hari ini?" tanya Yuri melihat ke arah Sabrina.
"Hah? Tidak apa apa, sepertinya hari ini aku datang bulan, jadi perutku sedikit terasa sakit." jawab Sabrina lembut.
"Pantas saja dari tadi kamu diam saja." kata Yuri.
"Sebaiknya kamu minum vitamin." kata Fafa.
"Vitamin?" tanya Sabrina mengerutkan kening.
"Iya, vitamin, seperti pereda nyeri tapi lebih efisien, nanti aku belikan untukmu." kata Fafa.
"Hm, terima kasih Fa," jawab Sabrina mengangguk.
Rey hanya mengobrol dengan Lee tanpa memperhatikan pembicaraan para wanitanya, meskipun Rey tahu apa yang mereka bicarakan.
Beberapa saat kemudian pelayan itu kembali dengan beberapa hidangan yang di pesan Lee.
"Maaf, tuan dan nona, membuat anda terlalu lama menunggu makanan dari kami." kata pelayan itu sopan.
"Ah, tidak apa apa, lagian makanan ini di buat langsung, jadi sudah seharusnya kami menunggu hidangannya siap." jawab Rey santai.
"Benar tuan, kalau begitu, selamat menikmati hidangan yang kami sajikan, saya harap tuan dan nona menyukai hidangan kami." kata pelayan itu hormat sebelum berbalik dan pergi.
Rey mengambilkan makanan untuk para wanitanya dengan tenang.
"Terima kasih sayang." jawab ketiga wanita itu hampir bersamaan.
Para wanita itu berterima kasih setelah Rey mengambilkan makanan untuk mereka, hingga membuat perhatian para pengunjung yang berada di kedai itu tertuju pada Rey.
"Hah? Apakah ketiga wanita itu pacarnya?" kata salah satu pengunjung dalam hati.
"Tiga wanita cantik dan satu pangeran tampan, itu sangat cocok!" kata pengunjung lainnya.
Rey menyantap hidangan di kedai itu dengan santai, sesekali para wanitanya menyuapi Rey secara bergantian. Mereka menjadi pusat perhatian di sana.
"Hey hey, kalian ini membuatku semakin iri saja." kata Lee menggelengkan kepalanya.
"Bisakah kalian berhenti melakukan itu di depanku." lanjut Lee.
"Hahaha, maaf Lee, bukannya kami tidak menghargaimu, tapi seperti inilah kami." kata Fafa tertawa.
__ADS_1
"Iya, sebaiknya kamu harus mencari pasangan juga Lee, agar saat makan bersama kami tidak akan merasa canggung." kata Yuri menjulurkan lidahnya ke arah Lee.
"Hahaha, baiklah aku akan coba nanti." kata Lee menggelengkan kepalanya.