Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Tugas


__ADS_3

"Hei Von, kenapa kau membiarkan mereka pergi? Seharusnya biarkan aku menghajarnya terlebih dahulu sampai aku puas." seru Lee sedikit kesal.


"Jangan gegabah, apa yang aku perintahkan, maka itu yang harus kau lakukan, aku membiarkannya pergi karena satu alasan." jawab Vonta santai.


Sementara itu Rey turun ke lantai satu dengan santai setelah mandi.


"Bos!" sapa Lee saat melihat Rey yang baru turun dari lantai atas.


"Bagaimana? Apa kalian sudah membereskannya?" tanya Rey santai sambil berjalan ke arah mereka.


"Sudah bos." jawab Lee santai.


"Hah? Apa yang kalian kerjakan?" bisik Cameron kepada Vonta.


"Bukannya aku sudah memberitahumu tadi." jawab Vonta.


"Sayang, kapan kamu memberitahuku?" tanya Cameron yang sedikit agak kebingungan.


"Bukankah aku tadi bilang padamu tentang para pengintai." bisik Vonta santai.


"Oh, jadi tentang itu." jawab Cameron bodoh.


Rey duduk di sofa depan Vonta dan Lee.


"Cam, bisakan aku berbicara dengan mereka secara pribadi dulu?" tanya Rey.


"Tentu tuan Rey, silahkan, kalau begitu aku kembali ke kamarku dulu." jawab Cameron.


Rey memang tidak ingin jika Cameron terlalu banyak tahu tentang pekerjaan Vonta maka dari itu Rey segera berterus terang kepada Cameron agar memberinya ruang pribadi bersama Vonta dan Lee.


Cameron pun mengerti dengan apa yang di maksud Rey, dengan tenang Cameron berdiri dari duduknya dan kembali ke kamar.


"Bos, setelah kami menangkap mereka, kami segera menanyai mereka agar mereka membuka mulut tentang siapa yang menyuruhnya untuk mengintai." kata Vonta saat melihat Cameron sudah pergi.


"Benar bos, bahkan aku sempat bertarung dengannya meskipun hanya sebentar." tambah Lee cepat.


"Lalu apa yang kalian dapatkan?" tanya Rey santai.


"Bos, mereka mengatakan bahwa keluarga Diaz yang mengirimnya." kata Vonta.


"Apa kau yakin dengan jawaban mereka?" tanya Rey santai.


"Sepertinya aku cukup yakin bos, kemungkinan mereka datang ke sini bukan untuk mengintaimu, tapi tujuan mereka datang ke sini hanya untuk Cameron." jawab Vonta.


"Hm." Rey mengangguk.


"Lalu, bagaimana menurutmu, Lee?" tanya Rey.


"Pendapatku berbeda dengan Vonta, menurutku mereka sengaja memberikan informasi yang salah." jawab Lee.


"Hm? Coba jelaskan." kata Rey.


"Saat aku melihat tatapan matanya, dia sepertinya berbohong, dan kemungkinan ada dua faktor yang membuat mereka berbohong." jawab Lee santai.


"Faktor apa itu?" tanya Rey penasaran.

__ADS_1


"Faktor pertama yang membuat mereka berbohong adalah, mereka tidak mau jika rencana bosnya terbongkar dan menyebabkan mereka akan kehilangan nyawanya nanti dan yang kedua adalah, sepertinya sebelum mereka pergi mengintai ke mansion ini, mereka telah mengetahui tentang masalah Vonta dan Cameron, maka dari itu mereka bisa berbohong dengan cara mengalihkan perhatian kita kepada keluarga Diaz." jawab Lee santai.


"Masuk akal juga." kata Rey mengangguk.


"Tunggu, jika mereka berbohong, lalu darimana mereka tahu tentang masalahku bersama keluarga Diaz?" tanya Vonta.


"Bos, ini ponsel yang telah kami ambil dari mereka." kata Lee menyerahkan ponsel Affa kepada Rey.


Rey mengambil ponsel yang di berikan oleh Lee.


"Sebaiknya kita cek dulu kontak di ponselnya, siapa tahu masih tersisa beberapa chat terakhir bersama bosnya, jika masih ada maka kita bisa tahu kalau dia memberikan informasi palsu kepada kita." kata Lee santai.


"Benar, aku akan memeriksanya setelah Hitomi pulang nanti." jawab Rey sambil melihat ponsel Affa yang terkunci.


"Bos, jika memang benar mereka di kirim oleh keluarga Diaz, menurutmu apa yang harus aku lakukan?" tanya Vonta.


"Mengenai keluarga Diaz, sebaiknya kau tidak usah khawatir lagi, aku akan berbicara dengan mereka dan memberinya pemahaman yang baik dan sebaiknya kau memberitahu ayahmu jika kau sudah bebas dari penjara agar ayahmu tidak merasa khawatir lagi padamu." kata Rey santai.


"Baiklah bos, terima kasih banyak." kata Vonta senang mendengar apa yang di katakan Rey.


"Lee, bisakah kau membantuku?" tanya Rey.


"Tentu saja bos, apa yang bisa aku bantu." jawab Lee semangat.


"Pergilah ke alamat rumah ini." kata Rey memberikan sebuah alamat rumah kepada Lee.


"Siap bos, serahkan saja padaku." jawab Lee semangat sambil mengambil kertas yang berisikan sebuah alamat.


"Jika sudah sampai di alamat itu segera hubungi aku dan jangan pernah mendekati halaman rumah itu sebelum ada perintah dariku." kata Rey.


"Baik bos, kalau begitu, aku akan segera pergi." kata Lee semangat.


Lee keluar dari mansion Rey dengan sangat bersemangat.


"Bos, lalu apa tugasku?" tanya Vonta.


"Untuk sekarang sebaiknya kau segera temui ayahmu terlebih dahulu agar ayahmu tidak merasa khawatir lagi kepadamu." jawab Rey.


"Baik bos, terima kasih banyak, jika bukan karenamu yang menolongku, maka entah apa yang terjadi denganku saat ini." kata Vonta hormat.


"Sudah, jangan membahas itu, cepat pergi temui ayahmu, jika bisa, ajaklah Cameron bersamamu." kata Rey berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke ruang keluarga dengan santai.


"Baik bos." kata Vonta senang.


Vonta kembali ke kamarnya dan membawa Cameron untuk menemui ayahnya.


***


Di sisi lain, Baron baru tiba di perusahaannya. Dengan langkah yang terburu buru, dia menuju ke kantornya yang berada di lantai enam.


Saat Baron tiba di depan pintu kantor, para karyawan yang melihat kedatangannya segera membungkukkan badan kepadanya dengan hormat.


Meskipun para karyawan itu membungkukkan badan dengan hormat, Baron tidak menghiraukan mereka karena Baron sangat cemas kepada ketiga wanitanya.


"Hah? Ada apa dengan tuan muda?" kata salah satu karyawannya heran.

__ADS_1


"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi." kata karyawan lain saat melihat sikap Baron yang tidak seperti biasanya.


Baron menekan tombol lift dengan tergesa gesa hingga akhirnya pintu lift terbuka.


Sementara di lantai enam di sebelah ruang kantor Baron, penasehat sedang memarahi ketiga wanita itu karena telah gagal dalam menjalankan tugasnya untuk meracuni Baron.


Bahkan penasehat itu menghukum ketiga wanita itu dengan cara yang sangat tidak senonoh.


Meskipun para wanita Baron sangat marah kepada penasehat itu, mereka menahannya dengan segala cara agar penasehat itu tidak curiga dengan rencana yang di jalankan oleh Baron.


Tapi lain lagi bagi Baron, dia merasa bahwa semua bukti sudah cukup kuat untuk segera mengungkap semua kejahatan yang telah di lakukan oleh penasehat ayahnya itu.


Pintu lift terbuka tepat di depan ruang kantornya.


Baron keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ke kantornya.


Tapi saat Baron akan membuka pintu ruang kantornya, Baron mendengar ada teriakan dari ruang kantor penasehatnya.


"Hah? Jackie?" gumam Baron saat mendengar teriakan salah satu wanitanya di dalam ruang kantor penasehatnya.


Baronberlari ke pintu ruang kantor penasehatnya dan menendang pintu itu dengan keras.


BRAK!


Pintu ruangan itu roboh.


Ketiga wanitanya kaget saat Baron menendang pintu itu hingga roboh.


"Sialan! Siapa itu!" seru penasehat itu kaget saat melihat pintu kantornya roboh.


"Aku." kata Baron melangkah masuk ke dalam ruang kantor penasehat itu.


"Tuan?" kata penasehat itu kaget saat melihat Baron masuk dari balik pintu yang telah roboh itu.


"Bajingan! Jangan memanggilku tuan!" seru Baron marah.


"Tuan, ada apa ini?" tanya penasehat itu gugup.


"Jangan pura pura tidak tahu!" seru Baron sambil memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celananya.


"Maaf aku terlambat. Apa kalian tidak apa apa?" tanya Baron.


"Tidak apa apa, sayang." kata Jackie senang.


"Apa maksud anda tuan?" tanya penasehat itu hormat.


"Lauren, sebaiknya panggil polisi ke sini." kata Baron.


"Baik sayang." jawab Lauren.


"Tunggu! Apa kau memanggilnya sayang?" tanya penasehat itu sambil menunjuk Baron.


"Kalau iya memangnya kenapa?" kata Lauren.


"Sialan! Jadi kalian semua menjebakku!" seru penasehat itu marah.

__ADS_1


"Dasar wanita murahan!" seru penasehat itu mengangkat tangannya untuk menampar Lauren.


Tapi sebelum tangan penasehat itu menyentuh wajah Lauren, dengan cepat Baron menendang penasehat itu keras keras sehingga membuat penasehat itu terpental dan pingsan setelah menabrak dinding yang ada di belakangnya.


__ADS_2