
Perut Fafa berbunyi karena dari semalam dia belum makan. Fafa bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, dia mulai berdandan dengan riasan tipis. Fafa keluar dari kamar itu dan berjalan pelan menuju ke ruang makan.
"Sayang!" seru Fafa dengan santai dan memeluk pria yang sedang duduk di kursi meja makan.
"FAFA!!!"
Tiga orang yang sedang duduk di sana kompak meneriakkan namanya. Ya, tanpa mereka tahu, sebenarnya Fafa dari semalam sudah ada di mansion Rey. Dan alasan kenapa tidak ada yang memberitahu Rey, karena pelayan di mansion termasuk bibi jelas saja mengira bahwa tuannya sudah tahu.
"Eh? Ada apa dengan kalian? Tumben heboh banget melihatku?" tanya Fafa mengerutkan kening.
"Apa?! Kau bilang apa! Dari pagi sampai sore kami semua mencarimu kemana mana! Tahu tidak!" teriak Yuri melipatkan kedua tangan dan menatap Fafa dengan masam.
"Tidak ada yang bekerja hari ini hanya untuk mencarimu bodoh!" lanjut Yuri cemberut.
Rey dan Hitomi menggelengkan kepala dan menghela nafas lega.
"Apa kau tahu, kami sampai belum makan siang karena mengkhawatirkanmu." kata Rey datar.
"Benarkah? Maafkan aku, semalam aku bertengkar dengan ibuku dan langsung kemari, bahkan aku tidak membawa apa apa. Mobil, ponsel, semuanya aku tinggal." kata Fafa merasa bersalah.
"Tapi... Terima kasih sayang! Kamu sudah khawatir sama aku." lanjut Fafa mencium pipi Rey.
"Apa? Maaf katamu? Enak saja!" seru Rey.
"Eh?" Fafa terkejut dengan ucapan Rey itu.
"Bantu bibi menyiapkan makanan untuk kami sekarang. Itu hukumanmu!" kata Rey santai.
Tanpa berpikir panjang dan berkata apa pun, dengan cepat Fafa berlari ke dapur untuk membantu bibi. Rey lega mengetahui Fafa baik baik saja. Rey tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Hitomi dan Yuri mulai merasa lega dan tertawa bahagia. Hitomi memberi kabar kepada Xena yang membuat Xena tertawa geli dan bahagia.
Fafa dan bibi selesai menyiapkan makanan untuk semuanya. Fafa membawa makanan itu dan menatanya di atas meja makan. Mereka berempat mulai makan bersama.
"Fa, kenapa kau tidak angkat telpon dariku? Kamu sengaja ya biar kami mencarimu?" kata Yuri dengan wajah masam.
"Kan aku sudah bilang tidak bawa apa apa."
"Yang bener?" tanya Yuri menyipitkan mata dan di jawab anggukan kepala oleh Fafa.
"Lalu kenapa tidak bawa mobil?" tanya Hitomi.
"Kalau aku bawa mobil, jelas aku langsung ketahuan ibuku lah kak."
"Hm, kenapa tidak bilang tentang perusahaan keluargamu padaku?" tanya Rey sedikit kesal.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku tidak mau jadi beban untukmu, dan aku juga tidak tahu kalau ibuku mengundang si brengsek itu ke rumah."
"Katakan jujur, berapa uang yang di butuhkan perusahaan keluargamu?" tanya Rey.
"Mmm, itu, itu,,, sangat banyak."
"Banyak itu berapa? Aku tanya nilainya bukan banyak atau sedikit!"
"Sayang, maaf, aku tidak mau menjadi beban untukmu."
"Oke, pergi dari sini dan menjauh!" seru Rey marah.
Fafa terkejut mendengar ucapan Rey.
"Sa-sayang jangan seperti ini,,baiklah aku akan mengatakannya." kata Fafa ketakutan.
"Berapa?"
"jumlahnya... jumlahnya 7,8 triliun." kata Fafa pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Oke! Hitomi segera kirim 10 triliun ke rekening Fafa."
Hitomi menuruti kata kata Rey dan segera mengirim uang itu ke rekening Fafa. Melihat uang di rekeningnya, Fafa lansung menangis dan memeluk Rey dengan erat.
"Baik sayang, terima kasih." kata ketiga wanita di depannya hampir bersamaan.
Setelah itu Rey meminta Fafa untuk pulang ke rumah untuk memberi tahu keluarganya bahwa suntikan dana untuk perusahaan mereka sudah di dapatkan. Rey juga meminta Hitomi untuk menemani Fafa. Ketika Hitomi dan Fafa beranjak akan pergi, Rey memanggil mereka lagi untuk berkumpul di ruang santai sebentar.
"Sebelum kalian pergi aku harus meluruskan satu hal di sini. Yuri, Fafa, mulai hari ini Hitomi akan menjadi yang utama di sini. Aku tetap memperlakukan kalian semua secara adil. Hitomi yang paling dewasa di sini, dia bisa sebagai ibu dan kakak di sini. Jadi, ketika aku tidak ada, Hitomi yang menjadi kepala keluarga di sini. Jangan membantahnya ataupun merasa iri karena yang kalian dapatkan sama. Yang berbeda adalah, Hitomi memiliki wewenang untuk mengatur kalian. Apa kalian paham."
"Baik sayang, aku tidak keberatan, aku sangat setuju tentang ini, gimana denganmu Yuri?" kata Fafa.
"Aku juga, selama kakak tidak melarang kami untuk dekat denganmu sayang. Hehehe." jawab Yuri polos.
"Tidak ada yang berubah kok, kalian tenang saja. Anggap saja aku menjadi kakak pertama. Begitu kan sayang?" tanya Hitomi.
"Ya, kira kira seperti itu. Dan Fafa, jelaskan pada ibumu tentang hubungan kita semua, cepat atau lambat keluargamu pasti akan tahu. Aku tidak mau nantinya jadi masalah yang lebih besar."
"Oke sayang, kalau begitu aku dan kak Hitomi berangkat sekarang."
Hitomi dan Fafa segera menuju garasi dan pergi menaiki mobil Hitomi. Sedangkan Rey berjalan menuju kamarnya bersama Yuri yang menggelantung manja seperti anak monyet. Rey yang tahu maksud Yuri langsung menggendong Yuri ke dalam kamar mandi di kamar Rey. Yuri merangkul leher Rey dengan lembut.
Di kamar mandi, Rey menurunkan Yuri dan membuka kancing pakaian Yuri dengan santai. Yuri membantu membuka kancingnya dengan cepat kemudian mencium bibir Rey dengan semangat. Yuri dengan semangat melucuti pakaian yang di pakai Rey. Dia dengan agresif menciumi seluruh tubuh Rey hingga Rey terpojok di ujung dinding kamar mandi.
__ADS_1
Yuri dengan semangat menuntun ekor naga Rey untuk masuk ke dalam sarang naga yang cukup sempit dan gelap. Lenguhan Yuri mulai terdengar. Yuri yang sangat agresif seakan akan menguasai situasi dan memimpin tempo iramanya dengan cepat. Rey yang dari tadi mengikuti irama yang di mainkan Yuri mengerti dan mulai mengimbangi kecepatan yang Yuri mainkan.
Rey membalikkan keadaan hingga kini Rey yang memimpin tempo iramanya. Rey mengangkat sebelah kakinya sedikit ke atas dan mulai memainkan tempo yang cepat dengan menaik turunkan pinggangnya secara teratur hingga Yuri merasakan kenikmatan yang tiada tara. Erangan Yuri semakin terdengar di telinga Rey yang membuat Rey semakin mempercepat temponya.
Rey memindahkan posisi Yuri membelakangi dirinya menghadap ke wastafel. Rey mempercepat pompanya membuat ******* Yuri semakin menggila. Yuri merasakan kenikmatan dan kepuasan yang di peroleh dari Rey, Yuri merasakan akan ada yang meledak di dalam sarangnya. Rey tahu apa yang di rasakan Yuri dan langsung mempercepat pompanya lagi.
Yuri yang merasakan pompa itu akan segera sampai ke puncaknya, Yuri tersentak merasakan ledakan yang dasyat. Melihat wanitanya sudah lemas, Rey mencabut ekor naganya. Rey tidak mempermasalahkan dirinya belum mencapai puncak karena Rey memang tidak tega melihat wanitanya lemas tak berdaya setiap kali dia menggarap ladang mereka.
***
Hitomi dan Fafa tiba di rumah Fafa.
"Fafa! Akhirnya kamu pulang juga!" seru ibu Fafa senang dan langsung memeluk Fafa.
"Bu, ada sesuatu yang harus kita bicarakan."
"Baiklah nak, maafkan ibu, ibu sangat menyesal, apa kamu mau memaafkan ibu?" tanya ibu Fafa menggengam tangan Fafa.
"Sudah, jangan di bahas lagi bu." kata Fafa sambil mengajak ibunya dan Hitomi masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu mereka mulai membicarakan tentang perusahaan keluarga Fafa.
"Bu, mulai sekarang kita tidak perlu meminta dukungan dari keluarga Larks, pacarku memberi 10 triliun untuk mendanai perusahaan kita." kata Fafa semangat.
"A-apa! 10 triliun?!" jawab ibu Fafa terkejut.
Hitomi menyerahkan ponselnya kepada Fafa agar di tunjukkan kepada ibunya.
"Fafa, apa pacarmu memberikan uang ini tanpa syarat?" tanya ibu Fafa.
Fafa tidak menjawab tapi melemparkan pandangannya ke arah Hitomi meminta pendapat.
"Sebagai syaratnya perusahaan Amore harus di pimpin oleh Fafa, tante." kata Hitomi menjelaskan.
Sebenarnya Rey tidak memberikan syarat apapun kepada Fafa, tapi Hitomi merasa jika Fafa yang memegang kendali perusahaan Amore akan lebih baik nantinya.
"Bagaimana bu?" tanya Fafa sambil menggenggam tangan ibunya.
"Kalau ibu sih tidak keberatan, tapi gimana nanti nenekmu dan yang lain?"
"Kalau begitu, ibu sebaiknya mengadakan rapat dan umukan kepada semuanya. Jika nenek dan yang lain tidak setuju dengan keputusan kita nanti, lebuh baik kita keluar dari perusahaan Amore dan membangun bisnis kita sendiri."
"Baiklah sayang, ibu pikir juga begitu, jika mereka tidak mau, lebih baik kita berdiri sendiri."
__ADS_1
Ibu Fafa segera menghubungi semua kerabatnya untuk mengadakan rapat dadakan.