Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Menyerah


__ADS_3

Vonta mulai merekam mereka setelah menemukan tempat yang pas. Sekretaris itu selesai mandi dan berjalan ke arah ranjang yang di tempati Teddy tanpa mengenakan sehelai benangpun.


Teddy terpana dengan tubuh sekretaris itu saat dia berjalan tanpa memakai busana. Meskipun sekretaris itu lebih tua sedikit dari Teddy, tapi mereka terlihat seumuran, sosok yang sangat cantik dan menggairahkan itu berjalan ke arahnya dan memeluk Teddy dengan lembut.


Sementara itu, Vonta yang melihat adegan itu merasa senang dengan rekamannya.


"Matilah kau, kalau aku sebarkan video ini!" kata Vonta dalam hati tertawa kecil.


Dengan senang, Vonta merekam Teddy dan sekretaris ayahnya yang sedang bercinta. Sekretaris itu mendesah saat Teddy mulai memainkan aksi di atas tubuhnya.


"Sialan! Ini pertama kalinya aku melakukan ini!" seru Teddy dalam hati semangat.


Vonta tertawa geli saat menonton permainan Teddy yang terlihat seperti amatiran. Hanya butuh beberapa menit, Teddy terkapar di samping sekretaris itu dengan tubuh lemas.


Vonta ingin tertawa dengan keras tapi dia menahan sekuat tenaga karena takut ketahuan oleh Teddy.


"Ini baru tiga menit! Apa kau serius!" kata Vonta menahan tawanya saat melihat Teddy yang kelelahan setalah bercinta dengan sekretaris ayahnya walau hanya tiga menit.


"Hahahaha, yang benar saja!" kata Vonta dalam hati berusaha menahan tawanya.


***


Di mall,


Rey dan para wanitanya kembali berkeliling di mall itu setelah selesai makan siang,


"Sayang lihat! Bukankah itu tas Gucci yang terbaru!" seru Hitomi melihat ke arah lemari kaca toko Gucci itu.


"Apa kau mau kesana?" tanya Rey lembut.


Saat berkeliling di mall, Rey hanya di temani oleh Hitomi di sampingnya, sementara para wanita yang lain sedang asik kesana kemari melihat lihat barang kesukaan mereka masing masing.


Hitomi mengangguk dan mereka berjalan masuk ke toko tas Gucci itu dengan santai. Hitomi menggandeng tangan Rey dengan senang ke arah toko tas itu.


"Selamat datang tuan dan nona, silahkan." sambut pelayan toko dengan riangnya.


Rey dan Hitomi mengangguk dan masuk untuk melihat lihat.


"Nona, bolehkah aku melihat koleksi terbaru di toko ini?" tanya Rey.


"Tentu, mari silahkan tuan dan nona." jawab pelayan itu mengantar mereka ke depan lemari kaca.


"Tuan, ini koleksi terbaru di toko kami, tas ini bernomor seri 0075440, tas ini terbuat dari bahan kuli kangguru asli dari benua kecil dengan kualitas terbaik." lanjut pelayan itu menjelaskan asal usul tas itu.


Rey mengangguk dengan santai.


"Gimana menurutmu?" tanya Rey menatap Hitomi yang menggandeng tangannya.


"Aku suka modelnya, dan tekstur kulitnya juga lembut." jawab Hitomi sambil memegang tas itu.


"Baiklah, nona aku ambil tas ini, enam!" kata Rey santai.


"Enam, tuan?" tanya pelayan itu tidak percaya.


"Iya, enam." jawab Rey cuek.


"Tuan, harga tas ini, 735 juta, apa anda yakin akan mengambil enam tas?" tanya pelayan itu memastikan.


"Tidak masalah dengan harganya jika istriku menyukainya, kalau istriku mau semua isi toko ini, aku juga akan membelinya." jawab Rey enteng.


"Baiklah tuan, tunggu sebentar." kata pelayan itu sopan.


"Sialan! Sudah tampan, baik dan kaya pula, tanpa menanyakan harga tas ini dan dia langsung membeli enam tas ini." kata pelayan itu dalam hati kagum.


"Kapan aku punya pacar seperti itu." lanjut pelayan itu dalam hati penuh harap.


Pelayan itu mengemas tas yang di beli Rey dengan sangat hati hati.


***


Golden Star Hotel,


Vonta berdiri dan menghirup nafas dalam dalam.


BRAAK! PRAANG!


"Aaaaaah!"


Teddy kaget ketika Vonta menendang pintu kaca balkon sampai roboh dan pecah perkeping keping. Sekretarisnya reflek menarik selimut menutupi tubuh polosnya.


"Ka-kau!" seru Teddy terkejut saat melihat Vonta berdiri di depan pintu balkon.


"Halo!" kata Vonta berjalan masuk ke dalam kamar Teddy.


"Sialan! Kenapa kau ada di sini!" seru Teddy sedikit berteriak.


"Aku hanya mengingatkanmu saja, jangan sampai kau membuat temanku marah, apalagi kalau kau membocorkan informasi Rey kepada publik." kata Vonta santai sambil berjalan ke arah ranjang.


"Jangan ikut campur, Vonta! Ini urusanku dengan Rey!" jawab Teddy geram.


"Jika kau ikut campur, kau akan menyesal suatu hari nanti!" ancam Teddy.


"Siapa kamu!" teriak sekretaris itu.


"Hahaha, aku malaikat pencabut pintu!" jawab Vonta sambil tertawa.


"Hey, Ted, pakailah bajumu dulu dan baru kita bicara, aku akan menunggumu di lobi." kata Vonta tenang dan keluar dari kamar Teddy.


"Tuan muda, ada apa ini?" tanya sekretaris itu ketakutan.


"Jangan khawatir, aku akan membereskannya!" jawab Teddy.


Teddy segera menelpon seluruh anak buahnya untuk datang ke Golden Star Hotel. Teddy memakai pakaiannya dan menuju ke lobi untuk menemui Vonta.


Sementara itu, Vonta sudah menghubungi Rey dan mengatakan masalah ini kepadanya. Rey membalas pesan Vonta dan meminta tolong kepada Lee dan teman temannya untuk menyusul Vonta ke Golden Star Hotel.


Teddy berjalan menuju Vonta yang sedang duduk di lobi dengan santai.


"Hey Vonta! Apa maksud semua ini! Kenapa kau membantu Rey dan bukan membantuku!" seru Teddy geram saat melihat Vonta berpihak pada Rey.

__ADS_1


"Duduklah, aku akan bicara padamu baik baik, dan tentang aku membantu Rey, karena dia temanku." jawab Vonta santai.


"Oke! Apa yang akan kamu katakan padaku? Sebaiknya cepat, aku tidak punya banyak waktu untuk duduk dan mengobrol denganmu!" kata Teddy dingin.


Teddy duduk dan menatap Vonta dengan perasaan geram.


"Lihat ponselmu." kata Vonta sambil mengirimkan video kepada Teddy.


"Ap-apa apaan ini! Apa kau mau memerasku!" seru Teddy marah saat melihat video yang di kirim Vonta kepadanya.


"Hey! Von, berpa yang kau mau, cepat katakan! Aku akan membayarnya tiga kali lipat! Asal kau jadi pengawalku!" seru Teddy mengeratkan giginya keras.


"Aku tidak menginginkan uangmu, aku hanya ingin mengingatkanmu, jika sampai informasi tentang Rey menyebar, maka aku akan menyebarkan video ini di internet." kata Vonta santai.


"Apa kau mengancamku hanya dengan video ini?" seru Teddy cuek.


"Aku tidak takut dengan video itu, karena kemungkinan sebentar lagi hidupmu akan segera berakhir." lanjut Teddy santai.


Vonta menggelengkan kepala dengan heran.


"Hei Ted, apa kau mengancamku? Kau tidak akan bisa membunuhku." kata Vonta menyilangkan kakinya santai.


"Hahaha, baiklah kalau begitu, jangan salahkan aku jika kau tidak mau menjadi bawahanku!"


Suara derap kaki puluhan orang memasuki kawasan hotel.


"Hei! Ini bukan tempat umum! Penjaga! Penjaga!" teriak seorang pelayan hotel dengan keras.


Tapi tidak ada pihak keamanan yang datang setelah pelayan itu berteriak dengan keras. Sebelum sekelompok orang itu menyerbu ke dalam lobi hotel, mereka telah merobohkan para penjaga dengan kejam, sampai membuat delapan penjaga itu tergeletak di depan dengan kondisi sedikit parah.


Beberapa saat kemudian, banyak orang berlarian menerobos ke dalam lobi hotel dengan paksa dan berdiri tepat di belakang Teddy.


"Ini akan menjadi hari terakhirmu." kata Teddy santai.


"Serang dia!" lanjut Teddy berteriak keras.


Mereka menyerang Vonta yang sedang duduk di sofa lobi hotel itu dengan cepat. Vonta mengerutkan keningnya dan berlari keluar hotel.


"Kejar dia dan rampas ponselnya!" teriak Teddy marah.


Semua anak buah Teddy mengejar Vonta ke luar hotel dan mengepungnya di tempat parkir depan hotel.


"Oke lah! Ayo maju!" seru Vonta santai.


Vonta sengaja berlari keluar hotel agar tidak merusak properti hotel saat mereka bertarung. Lebih dari seratus orang mengepungnya di halaman parkir hotel, tapi Vonta merasa santai dengan pemandangan seperti ini.


Serentak semua anak buah Teddy menyerang Vonta dengan ganas, dengan membawa tongkat kayu, semua anak buah Teddy menuju ke arah Vonta.


Vonta melawan semua anak buah Teddy tanpa bantuan dari siapapun. Dengan gerakan yang cukup lincah, Vonta memukul satu persatu anak buah Teddy dengan semangat.


Beberapa orang terlempar dari kerumunan itu dengan keras. Seluruh anak buag Teddy menyerang Vonta tanpa jeda secara bersamaan, Vonta mulai merasa kewalahan.


Untungnya Vonta, memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang lebih daripada manusia biasa. Dengan gerakan cepatnya, beberapa orang lagi terlempar dari kerumunan itu dengan keras.


"Sialan!" seru Teddy saat melihat beberapa anak buahnya tergeletak di lantai.


Teddy segera memanggil George dengan ponselnya. George mengumpulkan anak buahnya untuk segera bergabung ke Golden Star Hotel.


Mereka segera menelpon pihak kepolisian kota XTown untuk datang ke Golden Star Hotel. Tapi Teddy sudah melakukan pencegahan dengan memberikan uang suap kepada para polisi korup itu sebesar 200 juta.


Maka dari itu, Teddy merasa santai tanpa ada gangguan dari pihak kepolisian. Tapi beberapa saat kemudian, Lee dan teman temannya datang ke lapangan parkir hotel itu.


Vonta berlari ke arah Lee dengan kejaran para anak buah Teddy.


"Hai Von, maaf aku terlambat." seru Lee santai.


"Baiklah gaes! Ayo serang balik!" teriak Lee kepada teman temannya.


Mereka menyerang anak buah Teddy yang sedang mengejar Vonta. Bentrokan tidak dapat di hindari. Kedua kelompok itu bertarung dengan sengit. Sudah terlihat seperti tawuran antar kampung rebutan lahan parkir.


Tapi karena anak buah Teddy terlalu banyak, Lee dan teman temannya mulai merasakan lelah setelah 40 menit bertarung dan ber smack down royal rumble.


Vonta kembali bertarung dengan anak buah Teddy. Vonta dan Lee mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengalahkan puluhan anak buah Teddy.


Di bantu dengan beberapa temannya, Lee dan Vonta menyerang anak buah Teddy hingga akhirnya menyisakan beberapa orang saja.


"Hahahaha!" tawa Lee keras walau babak belur. saat anak buah Teddy hanya tersisa empat orang.


Vonta segera bergerak menuju ke arah belakang saat melihat anak buah Teddy berdatangan kembali.


"Sialan! Kenapa tidak habis habis!" teriak Vonta berlari untuk melawan anak buah Teddy yang di pimpin oleh George.


Sementara itu, Rey dalam perjalanan menuju Golden Star Hotel dan meninggalkan para wanitanya di mall setelah berbicara dengan Hitomi dan membuat alasan yang tepat.


Rey tiba di depan Golden Star Hotel dan berjalan santai sambil bersiul siul ke arah kerumunan orang yang sedang bertarung.


"Rey datang!" teriak salah satu teman Lee sambil melihat ke arah Rey.


"Syukurlah! Rey ada di sini!" jawab salah satu teman Lee yang lain dengan senang.


Semua teman teman satu sasana tahu bahwa Rey sangat terampil dalam bertarung, maka dari itu semua teman Lee sangat bersemangat.


"Halo." sapa Rey tenang.


Rey segera berlari ke arah Goerge yang sedang memimpin anak buahnya untuk bertarung.


"Sialan! I-itu Rey!" seru George dengan wajah kagetnya yang sangat panik saat melihat Rey sedang berlari ke arahnya.


Rey melompat dan mengepalkan tinjunya ke arah George dengan sangat cepat.


BUAAGHH!!


"Aaaarrgggh!"


George terlempar dengan keras ke depan Teddy dan langsung pingsan. Anak buah George menghentikan serangannya ketika melihat George terbang dan pingsan hanya dengan satu pukulan dari Rey.


Mereka mundur dan berlari ke arah George. Lee dan Vonta serta teman temannya terkejut dengan apa yang mereka lihat, baru pertama kalinya Rey menunjukkan dominasinya. Sebelumnya Rey tidak pernah menunjukkan kekuatannya secara berlebih seperti ini. Rahang mereka menganga tanpa mengucapkan sepatah kata pun dari mulutnya.


Rey dengan santai berjalan ke arah Teddy.

__ADS_1


"Sialan! Bagaimana ini! Kenapa dia datang!" kata Teddy ketakutan.


Di depan pintu hotel, para karyawan yang melihat bosnya sangat kuat, mereka merasa lega dan bersyukur. Bahkan mereka semua yang melihat Rey merasa semakin kagum dengan sosok bosnya itu.


Rey dengan cepat berdiri di hadapan Teddy dan dengan santai mencengkeram leher Teddy sampai tubuhnya terangkat ke atas dengan kaki mengambang.


Rey mengepalkan tinjunya ke arah Teddy dengan memberikan sedikit tenaga.


BUGH!


Tinju itu mengenai perut Teddy dengan keras, serasa seperti lambung Teddy pindah ke paru paru. Teddy tidak mampu berkata kata karena nafasnya mulai habis dan wajahnya membiru. Rey melepaskan cekikannya dan seketika Teddy ambruk ke tanah sambil memegangi leher dan perutnya.


Semua anak buah Teddy berlarian ke berbagai arah meninggalkan bos mereka.


"Mereka melarikan diri. Sungguh tidak setia." kata Vonta menunjuk ke arah anak buah Teddy yang sedang berlarian dengan panik.


"Sepertinya kau tidak takut kepadaku, bahkan kau sengaja mengirimkan anak buahmu untuk menyerang temanku." kata Rey sambil menginjak kaki Teddy dengan sedikit keras.


"Ti-tidak, maaf, sungguh, ini hanya salah paham." jawab Teddy terbata sambil menahan rasa sakitnya.


"Tuan muda!" seru sekretarisnya berlari ke arah Teddy sambil menangis.


Sekretaris ayahnya berjongkok dan memeluk Teddy.


"Tuan Rey, tolong lepaskan tuan muda, ini semua salah saya, saya yang menyuruh anak buah tuan muda untuk menyerang." kata sekretaris sambil menangis tersedu sedu.


"Sebaiknya kalian buang jauh niat kalian untuk berurusan denganku." kata Rey santai sambil melepas injakannya di kaki Teddy.


"Ba-baik tuan Rey, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." jawab sekretaris itu dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Hei nona, aku tidak bicara denganmu, lagipula aku tidak perduli siapa kamu." kata Rey datar.


"Lee! Bawa dia ke dalam!" teriak Rey menunjuk Teddy.


"Oke siap!" seru Lee dengan semangat dan berlari untuk membawa Teddy ke dalam lobi hotel.


"Tuan, tolong lepaskan kami, saya mohon." kata sekretaris itu sambil meraih kaki Rey untuk memohon.


"Nona, sebaiknya kau pergi dan jangan ikut campur." kata Rey dingin.


"Tunggu! Aku yang salah, aku salah, aku tidak akan melakukannya lagi, aku bersumpah, tolong lepaskan kami, aku akan membayar ganti rugi berapapun yang kamu mau, tapi aku mohon dengan sangat, tolong lepaskan kami." kata Teddy saat Lee akan menyeretnya ke dalam lobi.


"Aku tidak butuh uangmu! Jika informasi tentangku menyebar, aku sendiri yang akan mendatangimu tanpa pengampunan sedikitpun! Kau pikir aku takut mengotori tanganku dengan darah keluargamu, hah!" kata Rey mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat.


"Ba-baik! Aku bersumpah! Aku tidak akan menganggu lagi, aku mohon, maafkan aku." kata Teddy panik dan ketakutan.


"Pergi." kata Rey singkat menatap Teddy yang berlutut di bawah kakinya.


"Terima kasih tuan." jawab sekretaris itu penuh penyesalan dengan perbuatan mereka dan membungkuk dengan hormat.


"Tuan muda, ayo kita pergi." lanjut sekretaris itu sambil memapah Teddy untuk berjalan.


"Terima kasih." kata Teddy membungkuk hormat ke arah Rey.


Rey berbalik dan berjalan ke arah Vonta dan teman temannya tanpa menghiraukan ucapan terima kasih dari Teddy.


"Kenapa kau melepasnya?" tanya Lee.


"Tidak apa apa." jawab Rey.


Rey bisa melihat ketulusan Teddy meminta maaf, karena bagaimanapun Rey bisa membaca isi hati orang. Teddy tidak akan membuat masalah lagi sekarang.


"Rey, kau terlambat." kata Vonta cemberut.


"Hahaha, maaf aku sedang di mall mengantarkan para wanita itu tadi." kata Rey santai.


Vonta menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Eh, Lee terima kasih banyak atas bantuannya, aku mengundang kalian semua untuk makan malam di rumahku." kata Rey tenang.


"Ah, tidak perlu sungkan." seru salah satu teman Lee.


"Hey, aku kagum denganmu, selain tampan, ternyata kekuatanmu seperti Vonta."


"Waaah, sepertinya kita akan makan enak malam ini!"


Teman teman Lee mulai berkomentar macam macam. Lee pergi bersama teman temannya untuk kembali ke rumah mereka masing masing.


Sementara itu, Rey dan Vonta kembali ke lobi hotel untuk berbicara. Vonta menunjukkan video yang dia rekam kepada Rey. Rey merasa puas dengan kinerja Vonta yang sangat efisien.


"Hei Vonta, bagaimana kalau kau, aku angkat sebagai ketua keamanan untuk semua perusahaanku?" tanya Rey.


"Hah? Apa itu tidak berlebihan?" tanya Vonta balik.


"Tentu saja tidak, aku percayakan kepadamu tentang keamanan di seluruh perusahaanku, dan aku akan memberimu 20 milyar per tahun. Bagaimana menurutmu?"


"A-apa kau serius itu?!" seru Vonta dengan rasa tidak percaya.


"Tentu! Buat apa aku berbohong?" kata Rey santai.


"Apa kurang? Baiklah, 25 milyar. Apa kau setuju?" tanya Rey santai.


"Apa! 25 milyar!" seru Vonta kaget.


"Kalau begitu 30 milyar. Setuju atau tidak?" tanya Rey lagi.


"Setuju!" seru Vonta semangat.


"Bagus, mulai besok aku akan memperkenalkanmu pada seluruh perusahaanku." jawab Rey santai.


"Hei bos, apa 30 milyar tidak kebanyakan?" tanya Vonta.


"Hah? Kalau gitu aku turunkan lagi." jawab Rey.


"Eh? Jangan jangan, itu sudah cukup." seru Vonta panik saat gajinya akan di turunkan.


"Hahaha, baiklah sampai jumpa di mansionku nanti malam." kata Rey menggelengkan kepalanya.


"Siap bos!" seru Vonta gembira.

__ADS_1


Rey bergegas kembali kepada para wanitanya di mall.


__ADS_2