
Sementara itu, Baron tiba di acara pelelangan itu.
"Selamat datang tuan." kata penasehat Baron sambil membungkukkan badan.
"Ya." Baron mengangguk.
"Bagaimana? Apa mereka sudah tiba?" tanya Baron.
"Belum tuan." jawab penasehat itu.
"Hm? Berapa lama lagi lelang akan di mulai?" tanya Baron.
"Sekitar lima belas menit lagi, tuan." jawab penasehat itu.
"Bos! Maaf aku terlambat." seru Affa berjalan ke arah Baron.
"Bos, apa dia sudah datang? Tunjukkan padaku yang mana orangnya." kata Affa melihat sekeliling.
"Katanya dia belum datang, aku juga belum tahu bagaimana wajahnya. Hanya namanya saja tidak asing bagiku. Yang pasti dia akan datang dengan rombongan 6 wanita dan 3 pria. Dan perlu di ingat saat ini kita tidak saling kenal." jawab Baron.
"Oke bos." kata Affa.
Affa menjauh dari Baron dan berjalan menuju ke kerumunan para tamu bersama kekasihnya.
***
Sementara itu, Rey memberikan tugas kepada One dan Two agar menjadi manusia untuk menghadiri undangan pelelangan itu.
"Kalian pergilah ke acara pelelangan dan dapatkan apapun yang menurut kalian baik untuk di beli, termasuk saham yang bagus." kata Rey.
"Baik tuan, kami akan pergi." kata One.
Rey memberikan dua buah undangan acara pelelangan itu kepada One dan Two.
"Ingat laporkan apa pun yang kalian ketahui kepadaku." kata Rey.
"Tentu bos, jangan khawatir, kami akan melaporkan segala hal yang kami tahu jika kami sudah sampai di sana." kata One.
"Bagus, gunakan Rolls Royce di garasi agar kalian seperti tamu sungguhan." kata Rey menyerahkan kunci mobilnya kepada One.
"Baik tuan, kami pergi sekarang." kata One.
Mereka menuju ke garasi dan mengambil mobil lalu bergegas meninggalkan mansion.
"Sayang." seru Hitomi yang melihat Rey sedang berjalan di depan mansion saat akan masuk.
"Hito, sedang apa kau di sini?" tanya Rey.
"Aku mendengar suara mobil makanya aku keluar." jawab Hitomi berjalan ke arah Rey dan memeluk lengannya mesra.
"Begitu ya. Itu aku baru saja datang." jawab Rey santai.
Mereka berdua segera masuk ke dalam mansion.
"Sayang apa kamu sudah makan?" tanya Hitomi.
"Sudah, tadi aku makan malam di rumah Xena, lalu apa kau sendiri sudah makan?" tanya Rey.
Hitomi menggelengkan kepalanya.
"Kenapa belum makan?" tanya Rey sambil menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Aku menunggumu, aku kira kamu akan pulang lebih awal, makanya aku belum makan." jawab Hitomi.
"Hm? Baiklah, ayo biar aku temani makan." Jawab Rey.
"Benarkah sayang?" seru Hitomi senang.
"Tentu, kapan aku berbohong padamu." jawab Rey sambil mencubit hidung Hitomi.
'Kenapa semua wanitaku sangat baik begini.' gumam Rey dalam hati.
"Panggil yang lain untuk makan malam bersama." kata Rey.
Hitomi mengangguk dengan patuh.
***
'Sialan, kenapa dia belum muncul' gumam Baron dalam hati sambil melihat sekeliling dan tidak melihat rombongan besar satu pun.
"Sayang, aku ambilkan minuman ya." kata salah satu wanitanya saat melihat Baron agak sedikit cemas.
"Ya. Terima kasih." jawab Baron.
"Tuan Hanagi, bagaimana kabar anda?" tanya salah satu tamu undangan yang berjalan masuk.
"Aku baik baik saja, bagaimana denganmu?" jawab Baron santai.
"Seperti yang anda lihat, saya baik baik saja, bahkan dengan umurku yang sudah tidak muda lagi, tapi aku masih mampu membawa gadis cantik di sampingku." seru tamu itu sambil bercanda.
"Hahaha, benar juga." jawab Baron.
"Tuan Hanagi, senang bertemu dengan anda." kata tamu lainnya yang baru saja datang.
"Tuan Hanagi, saya dengar XCS telah berpindah kepemilikan?" kata tamu itu.
"Ya, sepertinya begitu." jawab Baron singkat.
"Tuan, saya harap kita bisa bekerjasama di masa mendatang, perusahaan saya sedang kekurangan investor." kata tamu itu.
"Hahaha, tentu saja." jawab Baron sambil tertawa.
"Tuan Hanagi, saya dengar pemilik XCS itu seorang pria kaya yang baru datang ke kota ini, sepertinya umurnya hanya sedikit di bawah anda, apa itu benar tuan?" tanya tamu itu.
"Entahlah, aku belum pernah bertemu dengannya, apa kau punya informasi tentangnya?" tanya Baron.
"Mana mungkin saya tahu banyak, yang saya tahu dari cerita para penguasa kota ini, dia memiliki 6 wanita dengan perusahaan besar seperti MegaCore Tech dan Capital Bank." kata tamu itu.
"Capital Bank?!" seru Baron kaget.
"Ya, 100% kepemilikan Capital Bank." kata tamu itu.
"Sayang, ini minumannya." kata salah satu wanitanya yang kembali dengan membawa minuman.
"Terima kasih." kata Baron.
Sementara itu, One dan Two telah sampai di gedung pelelangan itu dengan tenang.
Mereka berdua menyamar sebagai CEO dari salah satu perusahaan ternama dari luar kota.
Mereka berjalan berdua layaknya tamu dan bergabung bersama para tamu undangan yang hadir di sana,
Mereka dengan cepat beradaptasi dengan orang orang yang sedang berkerumun di aula besar itu.
__ADS_1
"Tes! tes!"
"Selamat malam tuan dan nyonya semuanya. Suatu kehormatan bagi saya dengan banyaknya undangan yang hadir di acara pelelangan ini, maka dari itu, mari kita mulai membuka acara pelelangan ini." kata MC yang berdiri di atas panggung itu sambil memegang sebuah mic.
Para tamu segera berkumpul di aula besar itu.
"Sialan! Sepertinya dia tidak datang!" kata Baron geram.
"Apa ini yang kau bilang rencana besarmu!" lanjut Baron marah kepada penasehatnya.
"Tuan, maafkan saya, saya tidak tahu jika dia tidak akan menghadiri acara pelelangan yang sangat penting ini." kata penasehat itu membungkuk hormat.
Baron tidak menghiraukan penasehat itu.
Baron pergi ke arah aula yang sudah di penuhi oleh para tamu undangan itu dengan kesal.
"Baiklah, acara lelang malam ini resmi di buka." seru MC itu di atas panggung.
"Pelaksana pelelangan telah mengumpulkan beberapa barang dan saham untuk di lelang malam ini." lanjut MC itu.
"Baiklah, mari kita buka barang pertama yang akan di lelang." kata MC itu sambil membawa kotak hitam yang cukup besar sekitar 100 cm x 50 cm ke atas meja lelang.
"Ini adalah kalung permata yang pernah hilang selama dua abad dan nama kalung ini adalah kalung Legendary Moon Goddess!"
"Waah, bukankah itu harta nasional yang telah lama hilang! Aku harus memilikinya." kata salah satu undangan.
"Kalung ini terbuat dari emas murni 24 karat dengan sentuhan ornamen klasik dari abad ke 19 dengan sebuah permata biru yang besar tepat di tengah kalung dan di kelilingi oleh 105 berlian murni." seru MC itu sambil menjelaskan informasi tentang kalung itu.
"Baiklah kita buka dengan harga satu juta dollar di harga awal dan setiap penawaran minimal kelipatan satu juta dollar. Silahkan tuan dan nyonya, lelang di buka sekarang!" seru MC itu sambil mengetuk palunya yang menandakan tawar menawar di mulai.
"Dua juta dollar!"
"Empat juta dollar!"
"Lima juta dollar!"
"Sepuluh juta dollar!"
Para tamu saling melemparkan tawarannya dengan cepat hingga harga kalung itu berada di kisaran 100 juta dollar dan terus berlanjut.
"120 juta dollar!" seru Two mengangkat tangannya.
"Sialan! Kalung itu milikku! 121 juta dollar!" seru salah satu tamu.
"Hm? 150 juta dollar!" seru One sambil mengangkat tangannya.
"170 juta dollar!" balas salah satu tamu dengan santai.
"Apa yang mereka perebutkan? Bukankah itu hanya sebuah kalung." kata tamu undangan yang tidak terlalu tertarik dengan kalung itu.
"Baik! Apa masih ada yang menawarnya lagi?" tanya MC itu sambil melihat sekeliling.
"Satu!"
"Dua!"
"Tiga!"
"Selamat untuk tuan yang di sana karena telah memenangkan kalung ini dengan harga 170 juta dollar!" seru MC itu semangat.
"Silahkan tuan ke belakang panggung untuk menyelesaikan prosedurnya, karena lelang berikutnya akan segera di mulai." kata MC itu sopan.
__ADS_1