Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Gurafi


__ADS_3

Sementara itu, Rey dan para wanitanya sedang makan malam bersama dengan santai.


"Sayang, kenapa laukmu sedikit?" tanya Hitomi sambil memberikan sepotong daging sapi di piring Rey.


"Terima kasih, Hitomi. O iya, bagaimana dengan perusahaan baru kita?" kata Rey.


"Cukup lumayan, tapi aku dan Lita harus lebih teliti meninjau perusahaan itu dan kami berdua merasa jika perusahaan itu ada sedikit masalah." kata Hitomi.


"Begitu ya, lalu apa kau sudah menemukannya?" tanya Rey.


"Ya, aku baru menemukan beberapa kesalahan dalam dokumen, tapi itu masih belum seberapa, sedangkan masalah kita ada di dalam pemasaran." jawab Hitomi.


"Pemasaran?"


"Ya, pemasaran perusahaan itu tersendat di karenakan pemasok bahan baku telah menghentikan kirimannya, entah apa masalahnya, maka dari itu aku dan Lita akan mencari tahu dengan perusahaan tersebut." Jawab Hitomi sambil memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.


"Apa nama perusahaannya?" tanya Rey sambil mengerutkan kening.


"Perusahaan Gurafi dari luar kota XTown." jawab Hitomi.


"Apa kau sudah mencari tahu tentang perusahaan itu?" tanya Rey.


"Belum sayang, setelah ini aku akan segera mencarinya di internet." jawab Lita.


"Hmm, baiklah, aku akan membantu kalian untuk mencari tahu tentang perusahaan itu." kata Rey sambil mengunyah makanannya.


"Kak, jika kalian membutuhkan bantuan, kami akan segera membantumu." kata Fafa.


"Tidak perlu, kalian fokus saja dengan pelajaran kalian di kampus." kata Hitomi.


"Tapi kak, apa kalian tidak terlalu lelah dengan semua beban yang cukup berat ini?" tanya Yuri.


"Tidak masalah, justru dengan beban yang cukup besar ini, aku semakin bersemangat dengan semua tantangan yang di hadapi." jawab Hitomi.


"Kalian jangan khawatir, Hitomi tidak sendirian, masih ada aku dan Xena yang membanyunya." kata Lita.


"Ya, sebaiknya kalian fokus saja dengan kuliah kalian." kata Rey.


"Baiklah." jawab Yuri.


***


"Bos, apa aku harus tinggal di sini semalaman?" tanya Lee di telpon ketika sedang mengintai rumah Baron.


[Memangnya kenapa kalau semalaman?]


"Bos, disini banyak nyamuk, lagipula aku lupa kalau aku belum makan." kata Lee.


[Baiklah, aku akan mengirim Leon untuk menemanimu di sana dan membawakanmu beberapa makanan.]


"Nah, gitu dong bos. Hehehe." kata Lee.


***


Rey menggelengkan kepalanya dan segera menelpon Leon agar menyusul Lee.


Leon pun segera berangkat dengan membawa bungkusan makanan untuk Lee dengan semangat.


"Lee, di mana kau sekarang?" tanya Leon.


[Oi bro, sebentar biar aku kirim lokasinya.]


Lee mengirim titik lokasinya kepada Leon.


Dengan cepat Leon menghampiri lokasi yang di berikan oleh Lee di dalam pesannya.


"Leon! Di sini!" seru Lee berbisik sambil melambaikan tangannya ke arah Leon.


"Hah? Kenapa bersembunyi?" tanya Leon.


"Ssstt! Jangan keras keras, aku sedang dalam misi." jawab Lee.


"Hah? Misi?" tanya Leon.


"Ya, misi! Aku diperintahkan oleh bos untuk memata matai rumah itu." jawab Lee sambil menunjuk rumah Baron.


"Baiklah, aku mengerti." jawab Leon sambil mengikuti Lee untuk bersembunyi di balik pohon besar.


"Leon, apa kau membawakan aku makanan?" tanya Lee.

__ADS_1


"Ah iya aku lupa, tunggu sebentar aku akan mengambilnya." kata Leon menepuk kening lalu berlari untuk kembali ke mobilnya.


Lee menggelengkan kepala saat melihat Leon yang berlari.


***


Sementara itu, Vonta dan ayahnya sedang mengobrol santai di ruang tamu.


Sementara Cameron sedang menyiapkan makan malam untuk mereka di bantu oleh seorang pelayan.


"Nak, tadi kau bilang bahwa gajimu cukup tinggi, memangnya berapa gajimu?" tanya ayah Vonta.


"Entahlah, menurut ayah itu tinggi atau rendah tapi menurutku itu terlalu tinggi untuk gaji seorang kepala keamanan, danĀ  bosku memberiku 34,8 milyar pertahun, jadi itu sekitar 2,9 milyar perbulan." jawab Vonta.


"A-Apa! 34,8 milyar per tahun!" seru ayah Vonta.


"Apa kau tahu kalau perusahaan keluarga kita tidak bangkrut, 34,8 milyar itu hampir sama dengan total aset keseluruhan keluarga kita." lanjut ayah Vonta.


"Apa!" seru Vonta.


"Nak, apa tuan Rey sudah gila, memberi gaji tinggi dengan mudahnya seperti itu." kata ayah Vonta.


"Hanya sebagai seorang kepala keamanan, dia memberikan gaji layaknya seorang pejabat pemerintahan." kata ayah Vonta sambil menggelengkan kepala.


"Entahlah, tapi aku percaya padanya, karena dia adalah teman terbaikku di sasana dan tidak pernah sekalipun merendahkan aku." jawab Vonta.


"Nak, jika memang benar tuan Rey memberikan gaji yang sangat tinggi kepadamu, maka keluarga kita akan meningkat pesat, bahkan keluarga kita akan berada di atas keluarga Diaz, pantas saja tuan Rey tidak takut dengan keluarga Diaz, ternyata dia lebih kuat dari dugaanku." kata ayah Vonta.


"Sebaiknya aku bertemu dengannya dan meminta dukungannya." kata ayah Vonta.


"Ayah, makan malamnya sudah siap." kata Cameron yang baru datang ke ruang tamu.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita rayakan!" kata ayah Vonta.


"Hah? Rayakan? Sayang, ada apa dengan ayah?" tanya Cameron.


"Entahlah." jawab Vonta.


"Ish, sayang!" seru Cameron sambil mengerutkan kening.


Mereka menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama.


Di sisi lain, Cameron merasa aneh saat melihat tingkah ayah Vonta yang terlihat sangat gembira.


Cameron mengerutkan kening dan bertanya lagi kepada Vonta.


"Sayang, sebenarnya ada apa dengan ayah?" tanya Cameron.


"Rahasia." jawab Vonta sambil tersenyum.


"Ish, sayang! Awas ya." kata Cameron sambil cemberut.


Tiba tiba ponsel Vonta berdering. Terlihat nama Rey di layar ponselnya.


"Bos, ada yang bisa aku lakukan?" tanya Vonta.


[Hei, Von, apa kau sedang sibuk sekarang?]


"Tidak, tidak sama sekali, bos." jawab Vonta.


[Hah? Memangnya kau sudah selesai dengan ayahmu?]


"Sudah bos, jangan khawatir." jawab Vonta.


[Baiklah, aku akan memintamu untuk mencari tahu tentang perusahaan Gurafi, perusahaan mereka tiba tiba menghentikan pasokan bahan bakunya untuk perusahaan kita.]


"Perusahaan Gurafi? Baik bos, aku akan segera mencari tahu." jawab Vonta.


[Baiklah, jika kau sudah menemukannya, segera beritahukan kepadaku.]


"Baik bos, serahkan saja padaku." jawab Vonta.


Mereka mengakhiri panggilan telpon itu.


"Apakah yang menelponmu itu tuan Rey." tanya ayah Vonta.


"Ya." Vonta mengangguk.


"Apa aku tidak salah dengar jika kalian membicarakan perusahaan Gurafi?" tanya ayah Vonta.

__ADS_1


"Hm? Apa ayah tahu tentang perusahaan itu?" tanya Vonta.


"Tentu saja aku tahu, perusahaan Gurafi merupakan anak perusahaan Pirates Group yang pusatnya di kota tetangga." jawab ayah Vonta.


"Syukurlah kalau ayah tahu, katakan padaku, di mana kantor pusat perusahaan itu?" tanya Vonta.


"Tentu saja aku tahu, kantor pusatnya berada di kota Marquis." jawab ayah Vonta.


"Jadi kantor pusat mereka di sana ya." gumam Vonta sambil mengerutkan kening.


"Ya, apa kau butuh bantuanku untuk pergi kesana?" tanya ayah Vonta.


"Tentu saja, aku sangat senang jika ayah bisa membantuku." jawab Vonta.


"Kalau begitu kapan rencanamu untuk pergi ke Marquis?" tanya ayah Vonta.


"Mungkin besok sore, setelah aku pulang dari latihan." jawab Vonta.


"Baiklah, kalau begitu, biar aku yang mengantarmu ke sana." kata ayah Vonta.


"Tapi aku harus membicarakannya terlebih dahulu dengan tuan Rey." kata Vonta.


"Biar besok aku berbicara terlebih dahulu agar bos menyiapkan segal hal yang di perlukan selama kita ke sana." kata Vonta.


"Baiklah nak, beritahu aku jika kau akan berangkat ke sana nanti." kata ayah Vonta.


"Dan jangan lupa, beritahukan kepada tuan Rey bahwa aku membantumu." kata ayah Vonta sambil tersenyum senang.


"Tentu saja." jawab Vonta sambil menggelengkan kepalanya.


Mereka melanjutkan makan malam dengan senang, bahkan ayahnya mabuk berat setelah meminum beberapa botol wine di ruang makan.


Vonta segera membantu ayahnya yang mabuk menuju ke arah kamarnya.


***


Sementara itu, di sisi lain.


Baron dan ketiga wanitanya pergi keluar untuk makan malam bersama di sebuah restoran ternama di pusat kota.


"Bos! Mereka pergi keluar." kata Lee di telpon.


[Segera ikuti mereka.]


"Baik, bos!" kata Lee.


"Leon, di mana mobilmu?" tanya Lee sambil melihat ke arah Leon yang sedang sibuk menepuk nyamuk nyamuk yang menggigitnya.


"Tidak jauh, mobilku di sebelah sana." jawab Leon sambil mengibaskan tangannya dengan kesal melawan nyamuk.


"Ayo, kita harus mengikuti mereka." kata Lee sambil menarik tangan Leon.


"Baiklah, ayo." seru Leon.


"Sialan! Kenapa kau memilih tempat yang banyak nyamuknya sih!" seru Leon sambil berlari mengikuti Lee.


"Sudah, jangan banyak mengeluh, di mana mobilmu, Leon?" tanya Lee.


"Sebelah sana." jawab Leon sambil menunjuk ke arah rerumputan yang cukup tinggi.


"Apa? Leon, kenapa kau sembunyikan mobilnya segala." tanya Lee.


"Hei, bukankah kita sedang mengintai seseorang, jadi sekalian saja aku simpan mobil itu di sana agar tidak ketahuan." jawab Leon.


"Merepotkan sekali." gumam Lee sambil menggelengkan kepalannya.


"Cepat Leon, bawa mobilnya ke sini sebelum kita kehilangan jejak mereka." seru Lee kesal.


"Oke."


Leon segera berlari ke arah rerumputan yang tinggi itu dan mengendarai mobilnya dengan cepat.


Leon segera menginjak pedal gasnya dengan cepat setelah Lee masuk ke dalam mobilnya.


"Sialan! Leon kau kesurupan setan kebon ya?!" seru Lee yang kaget saat Leon mengendarai mobilnya dengan brutal.


"Hahaha! Inilah sopir terbaik di dunia sedang beraksi Lee!" seru Leon sambil menatap Lee yang memegang sabuk pengamannya dengan erat.


"Sialan! Dasar bocah gila! Lihat ke depan!" seru Lee kesal.

__ADS_1


Duo kocak itu segera mencoba menyusul mobil Baron yang sudah berangkat dari tadi.


__ADS_2