
Mereka makan malam dengan tenang dan gembira. Tiba tiba ponsel Hitomi berdering. Hitomi melihat layar ponsel dan segera mengangkat panggilan itu.
[Selamat malam nona Hitomi, maaf jika saya mengganggu anda, karena malam malam menelpon anda.]
[Ah, tidak apa apa, ada apa Lita?]
Rey mendengar nama Lita langsung melirik ke arah Hitomi.
"Ada apa Lita menelpon Hitomi?" tanya Rey dalam hati sambil mengerutkan kening.
[Nona Hitomi, saya hanya ingin memberitahu anda bahwa direktur utama, tuan William Walcott telah pergi, dia kembali ke negaranya dan sepertinya keadaan sangat mendesak, dia pergi terburu buru dan menitipkan pesannya kepada saya untuk memberitahu anda.] kata Lita sopan.
[Apa!? Kenapa dia tidak menelponku sendiri!?] tanya Hitomi sedikit marah di nada bicaranya.
[Maaf nona Hitomi, sore itu tuan Walcott melempar ponselnya setelah menerima telpon entah dari siapa, dan sepertinya dia sangat panik, mungkin itu sebabnya dia pergi tanpa memberitahu anda dulu.] jawab Lita sedikit gugup.
[Baiklah, kalau begitu mari kita bicarakan langsung, aku akan ke sana besok.] jawab Hitomi.
[Baiklah nona Hitomi.] kata Lita hormat.
Hitomi menutup panggilan telponnya dan menoleh ke arah Rey sambil mengerutkan kening.
"Ada apa?" tanya Rey santai.
"Lita menelponku dan mengatakan kalau Walcott telah meninggalkan perusahaan kita tanpa alasan yang jelas." jawab Hitomi menggelengkan kepala.
"Apa?! Kenapa Walcott tidak memberitahuku?" seru Rey mengerutkan keningnya.
Rey mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Walcott, belum sempat Rey menekan tombol ponselnya, Hitomi menghentikan Rey dengan memegang lengannya.
"Percuma saja jika kamu menelpon Walcott, Lita bilang kalau kemarin sore Walcott menghancurkan ponselnya setelah menerima panggilan masuk." kata Hitomi menatap Rey.
"Ada apa dengannya? Sebaiknya besok temani aku untuk mengunjungi perusahaannya." kata Rey kepada Hitomi dengan tenang.
"Baiklah, aku juga berencana kesana." jawab Hitomi menganggukkan kepala.
"Hm? Ada apa?" tanya Vonta menoleh ke arah Rey.
"Ah, tidak ada apa apa, ayo lanjutkan dan mari kita bersulang untukmu!" seru Rey mengangkat gelas anggurnya ke arah Vonta.
"Baiklah, ayo bersulang!" jawab Vonta gembira.
"Eh, Vonta, bagaimana kalian saling mengenal?" tanya Lee menatap Vonta dan pacarnya.
"Maksudmu perkenalan antara aku dan pacarku? Atau siapa?" tanya Vonta.
__ADS_1
"Iya, aku bertanya tentang kalian dan bagaimana kalian bisa bertemu." kata Lee menatap Vonta penuh penasaran.
"Hubungan kami sudah lama, sejak kami duduk di bangku SMP, aku bertemu dengannya saat aku masih kelas 2 SMP, meskipun kami tidak berada di kelas yang sama tapi kami sering bertemu di bus, karena rumahnya searah dengan rumahku." jawab Vonta menceritakan kisah pertemuan dengan pacarnya yang bernama Cameron Diaz.
Waaahh, romantis sekali, jadi kalian berpacaran sejak duduk di bangku SMP." seru Lee sedikit iri saat Vonta menceritakan kisah cintanya.
Rey yang menyimak obrolan mereka, hanya bisa menggelengkan kepalanya ke arah Lee sambil tersenyum.
"Lalu apa ceritamu?" tanya Rey menatap Lee.
"Cerita apaan! Aku bahkan belum pernah punya pacar!" seru Lee cemberut.
"Hahahahahaha."
Vonta dan yang lainnya tertawa melihat tingkah laku Lee.
"Kasihan sekali kamu, Lee." kata Hitomi mengejek Lee.
Lee menjadi lelucon bagi teman temannya di malam ini, mereka tertawa dengan gembira sampai akhirnya makan malam bersama selesai.
"Pelayan!" seru Vonta sambil melambaikan tangan ke arah pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka.
Pelayan berjalan mendekat ke arah Vonta.
"Tolong tagihannya ya." kata Vonta santai.
"Maaf tuan, makan malam ini gratis dan tidak perlu membayarnya." kata pelayan itu dengan hormat dan menoleh ke arah Rey.
"Gratis? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Vonta mengerutkan keningnya.
"Iya tuan, ini gratis." jawab pelayan itu meyakinkan Vonta.
"Sepertinya ada yang salah. Sayang, apa kamu mengenal pemilik restoran ini?" tanya Vonta kepada pacarnya.
"Tidak tuh." jawab Cameron menggelengkan kepalanya.
"Maaf nona, apa mungkin ada kesalahan? atau restoran ini lagi ada promo?" tanya Vonta sedikit bingung.
Pelayan itu bingung dengan peranyaan yang di ajukan oleh Vonta. Pelayan itu mengira bahwa seharusnya Vonta sudah satu alasannya karena sedang duduk dengan Rey. Pelayan itu hanya bisa menatap Rey dan Hitomi dengan wajah kebingungan.
"Sudahlah Vonta, sebenarnya restoran ini milikku, jadi tidak perlu membayar semua makanan ini." kata Rey santai sambil menatap Vonta.
"APA!" seru Vonta dan Lee serempak hampir bersamaan.
"Pantas saja kalau tadi di tempat parkir pelayan itu begitu hormat padamu." kata Lee.
__ADS_1
"Jadi begitu ya, bukankah seharusnya aku yang mentraktir kalian untuk makan malam ini?" kata Vonta.
"Aish, sudahlah, itu sama saja. Bukankah kita ini teman?" jawab Rey menatap Vonta dan Lee.
"Tidak usah di pikirkan, ayo kita pulang." lanjut Rey mengalihkan pembicaraan.
Lee menggelengkan kepala dengan heran, begitu pula Vonta. Walaupun Vonta adalah anak orang kaya, tetap saja dia merasa heran dan takjub kepada Rey.
"Hey, Rey, apa restoran ini milik ayahmu?" tanya Lee.
"Ya, ini pemberian dari ayahku sebelum beliau meninggal." jawab Rey berbohong.
"Ah, jadi ayahmu sudah tidak ada, kalau begitu maafkan aku, aku tidak tahu." kata Lee menyesal karena takut membuat suasana hati Rey bersedih.
"Ah, tidak apa apa, itu sudah lama." jawab Rey santai.
Vonta menyimak pembicaraan Rey dan Lee tapi Vonta tidak mau menanyakan hal lain, karena takut Rey akan sedih ataupun tersinggung.
"Seberapa kaya orang ini? Ah, dunia memang kejam." kata Lee dalam hati.
"O iya, apa kalian mau mampir ke rumahku? Cukup dekat dari sini." tanya Rey menatap kedua temannya.
Lee dan Vonta saling bertukar pandang saat Rey menawarkan untuk berkunjung ke rumahnya.
"Baiklah, sepertinya ide yang bagus." kata Vonta mengangguk.
Lee dengan semangat mengikuti mereka. Mereka berjalan ke arah mobilnya masing masing di tempat parkir. Rey di ikuti oleh pelayan dari belakang mengantarkan bosnya ke tempat parkir.
"Selamat jalan, tuan." kata pelayan itu membungkukkan badan.
"Terima kasih." jawab Rey.
Rombongan itu menjauh dari restoran dan menuju ke mansion Rey. Lee penasaran ingin tahu tentang kehidupan Rey itu seperti apa. Begitu juga Vonta dan pacarnya, mereka mempunyai pemikiran yang sama seperti Lee.
Rey tiba di depan gerbang bersama kedua mobil yang mengikutinya dari belakang. Penjaga dengan sigap membukakan gerbang mansion untuk menyambut kedatangan tuannya.
"Selamat malam tuan Rey." seru kedua penjaga itu membungkuk hormat.
"Sialan! Besar sekali rumahnya!" seru Lee melihat ke arah mansion itu dengan kagum.
"Ternyata dia orang kaya." kata Vonta sambil mennyetir mengikuti mobil Rey ke arah garasi belakang.
"Lihat sayang! Mansion ini sangat besar dan indah." kata Cameron memegang tangan Vonta dengan perasaan kagum menatap mansion itu.
Mereka keluar dari mobil masing masing. Lee keluar dari mobilnya dan menatap mansion itu dengan penuh kekaguman serta takjub hingga bola matanya seakan akan hampir terlepas. Rey mempersilahkan mereka masuk ke dalam mansionnya.
__ADS_1