Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Ratu Kuliner


__ADS_3

Di mall,


Akhirnya Xena menemukan pakaian yang cocok untuknya dan segera pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.


Sedangkan yang lainnya masih mencari cari pakaian, walau mereka sudah menemukan beberapa pakaian tapi mereka merasa belum puas.


"Hitomi, aku sudah lapar." kata Rey.


"Sebentar sayang, aku akan memanggil yang lain dulu." jawab Hitomi berjalan ke arah Fafa, Yuri dan Sabrina.


Sementara itu, Lita dan Xena, mereka sedang mengantri di kasir untuk membayar belanjaan mereka.


"Baiklah." kata Rey kembali duduk di sofa yang ada di ujung toko.


Hitomi bergegas untuk memanggil para wanita yang lain untuk menyelesaikan belanjanya.


***


Di tempat lain,


Teddy dan sekretaris ayahnya telah selesai makan sian dan pergi menuju ke Golden Star Hotel.


Vonta mengikutinya dari belakang dengan semangat.


Setibanya di Golden Star Hotel, Teddy memesan kamar VIP.


"Selamat datang tuan dan nona." sambut resepsionis sopan.


"Ya." jawab Teddy mengangguk.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya resepsionis.


"Nona, bisakah aku mengambil kamar VIP." tanya Teddy kepada resepsionis.


"Tentu, kebetulan kamar VIP sedang ada yang kosong." jawab resepsionis sopan.


"Baiklah, kalau begitu berikan kamar itu padaku." kata Teddy.


"Baik, tuan." jawab resepsionis memberikan kunci kamar itu.


Pelayan mengantar Teddy ke kamar VIP di lantai tujuh.


Saat Teddy berjalan menuju lift, Vonta segera memesan kamar yang berada tepat di sebelah kamar Teddy.


"Selamat datang tuan, apa anda akan menginap di sini?" tanya resepsionis sopan.


"Ya." jawab Vonta mengangguk.


"Tolong berikan aku kamar yang berada di sebelah VIP yang di pesan oleh orang sebelum aku." kata Vonta.


"Ah, maaf tuan, kebetulan kamar yang berada di sebelah VIP itu tidak termasuk untuk di sewakan, itu kamar khusus untuk pemilik hotel ini." jawab resepsionis itu membungkuk hormat.


"Apa!" seru Vonta kaget.

__ADS_1


"Tidak bisakah aku tinggal beberapa jam saja di kamar itu, nona?" tanya Vonta penuh harap.


"Maaf tuan, tidak bisa." jawab resepsionis hormat.


"Ah! Bagaimana ini!" gumam Vonta menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya aku menelpon Rey, siapa tahu dia kenal dengan pemilik hotel ini." gumam Vonta mengeluarkan ponsel dan menghubungi Rey.


"Hei, Rey, apa kamu mengenal pemilik Golden Star Hotel?" tanya Vonta santai.


[Hah? Golden Star? Memangnya ada apa di sana?]


"Aku mengikuti Teddy dan dia menginap di kamar VIP bersama sekretaris ayahnya, tapi saat aku mau memesan kamar di sebelahnya, resepsionis tidak memperbolehkan karena katanya kamar itu khusus untuk pemilik hotel ini, makanya aku bertanya padamu, mungkin saja kamu mengenal pemilik hotel ini dan aku bisa memanfaatkan kamar di sebelahnya untuk merekam sesuatu." kata Vonta santai.


[Oh begitu, baiklah tunggu sebentar.]


Rey menutup telponnya dengan sepihak. Membuat Vonta bingung.


"Tunggu? Apa maksudnya dia menyuruhku menunggu." gumam Vonta mengerutkan keningnya.


Rey menelpon resepsionis itu dan mulai memberitahu tentang rencana Vonta.


Resepsionis itu terkejut saat mendengar kalau Vonta adalah teman Rey, dengan segera resepsionis itu menghampiri Vonta.


"Ah, maaf tuan, apa anda yang bernama Vontavius?" tanya resepsionis sopan.


"Ya, itu aku. Ada apa nona?" tanya Vonta heran saat melihat resepsionis itu berlari ke arahnya dengan cepat.


"Ini kunci kamar sebelah VIP, dan maafkan saya, saya tidak tahu jika anda adalah temannya tuan Rey." kata resepsionis menyerahkan kunci kamar khusus.


"Eh, nona bolehkah aku bertanya." lanjut Vonta bertanya dengan penasaran.


"Tentu tuan, silahkan tanyakan saja kepada saya."


"Apa kamu temannya Rey juga?"


"Tuan Rey adalah pemilik hotel ini, jadi lebih tepatnya tuan Rey adalah bos saya."


"Begitu ya, baiklah, terima kasih nona."


"Sama sama tuan, jika anda membutuhkan sesuatu, silahkan hubungi saya."


"Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu."


Vonta menuju ke lantai tujuh untuk menuju ke kamar sebelah VIP yang di tempati oleh Teddy.


"Waaah! I-ini!"


Saat Vonta memasuki kamar Rey, Vonta tercengang saat melihat ruangan kamar itu sangat luas dan indah, bahkan semua peralatan yang ada di ruangan kamar itu sangat canggih. Ini melebihi kapasitas sebagai kamar hotel yang sangat mewah.


Vonta sadar dari rasa keterkejutannya dan kembali dengan misinya untuk merekam video Teddy yang berada di kamar sebelah. Layaknya mata mata profesional, Vonta berjalan ke arah balkon untuk melompat ke balkon kamar sewa Teddy.


***

__ADS_1


Di lain tempat,


Rey dan para wanitanya menuju ke lantai dua untuk makan siang bersama.


Di lantai dua terdapat restoran yang bergaya dan memiliki menu yang khas dari benua biru.


Mereka memesan beberapa hidangan yang menjadi andalan di restoran itu.


"Sayang, bagaimana kalau setelah makan siang, kita berkeliling lagi." kata Yuri semangat.


"Tentu, kemana saja kalian pergi, aku akan mengantarkan kalian." jawab Rey mengelus rambut Yuri.


"Terima kasih sayang." kata Yuri mencium pipi Rey dengan lembut.


"Tidak perlu berterima kasih, jika kalian bahagia maka aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini." kata Rey santai.


Beberapa saat kemudian, para pelayan berdatangan dan membawa hidangan untuk di sajikan di atas meja.


"Waaah, banyak sekali." seru Lita senang.


Di antara para wanita yang lain, Lita yang paling tahu tentang makanan yang cukup terkenal dan mewah, karena bagaimanapun dia pernah hampir mengelilingi dunia dan mencoba setiap makanan yang ada.


Lita juga sempat membuat channel youtube dengan tema wisata kuliner.


Mereka makan siang dengan nyaman, bahkan sesekali Lita menerangkan tentang hidangan yang terdapat di meja dengan lancar.


"Wah, kak Lita sepertinya kamu sangat tahu tentang makanan." kata Fafa kagum.


"Tentu saja aku tahu, bahkan aku mempunyai channel youtube sendiri dan semua isinya tentang makanan." jawab Lita senang.


"Wah, sepertinya aku harus menontonnya nanti." kata Yuri kagum kepada Lita.


"Sayang, coba ini, ini akan terasa hambar di mulut saat pertama kali di kunyah, tapi semakin di kunyah semakin enak rasanya." kata Lita memberikan satu hidangan yang menjadi ciri khas dar benua biru.


"Masa sih?" tanya Rey menggigit makanan yang di berikan oleh Lita.


"Aah, i-ini.."


Saat Rey mulai mengunyah makanan itu secara terus menerus, Rey merasakan kenikmatan dari sebuah irisan daging yang terdapat di dalam balutan mozarella dan segera meleleh di dalam mulutnya.


Semua orang penasaran dengan menu tersebut dan mulai mengambilnya dengan cepat.


"Aah, ini sungguh enak sekali." seru Sabrina dengan wajah merona seakan akan menyerap semua rasa yang ada di dalam makanan itu.


Secara terus menerus, Lita memberikan pengetahuannya dalam hal kuliner kepada semua orang, bahkan saat makanan yang di rekomendasikan oleh Lita yang berada di meja itu, segera habis dengan cepat oleh semua orang.


***


Di Golden Star Hotel,


Vonta akhirnya menemukan sudut di balkon kamar yang di sewa Teddy, di balik hiasan tanaman yang lumayan rimbun, dia bisa melihat ke dalam kamar itu dengan jelas. Mungkin kalau dia sudah tidak menjadi atlet bela diri lagi, dia bisa nyambi jadi maling yang hebat. Kurang hebat bagaimana, dia melompat antar balkon tanpa suara di ketinggian tujuh lantai.


"Tuan muda, sebaiknya saya mandi terlebih dahulu, agar saya merasa segar." kata sekretaris itu lembut.

__ADS_1


"Baiklah." kata Teddy mengangguk dengan semangat.


Saat sekretaris itu mandi, Teddy dengan semangat membuka pakaiannya dengan cepat dan berbaring di ranjang empuk itu untuk menunggu sekretaris itu sampai selesai dengan mandinya.


__ADS_2