
"Memangnya ada apa?" tanya Vincent melirik Rice.
"Aku baru saja melihat Rey."
"Benarkah?" bisik Vincent kepada Rice.
Vincent menyipitkan matanya. Matanya berubah menjadi dingin. Matanya berkedip kedip jahat. Mereka meninggalkan ruang pribadi dengan percaya diri dengan rencana mereka.
Di kamar kecil, Rey mendengar seseorang berbicara dengan arogan ketika dia mencuci tangannya.
"Wah wah! Rey? Benar benar tidak di sangka!"
Rey mengerutkan kening, Dia berbalik dan melihat Rice,
"Emang kenapa?" kata Rey dingin.
"Aku tidak tahu orang sepertimu adalah anggota Kings Club!" kata Rice masam.
Rey mengerutkan keningnya.
"Orang gila!" kata Rey dingin dan melangkah untuk pergi.
Rey merasa jijik, Rice sangat marah.
"Apa kau bilang hah!" seru Rice sambil berjalan menuju Rey.
One merasakan bahaya dari belakang bosnya, tiba tiba muncul siap untuk menerjang Rice tapi Rey menghentikannya. Rey menoleh ke arah Rice.
"Kenapa kau ini? Saranku, pergilah secepatnya!" kata Rey dingin.
"Kau!" teriak Rice mengamuk.
Vincent perlahan berjalan ke arah mereka.
"Apa yang terjadi di sini? Ada laporan keluhan datang padaku, apa apaan ini?"
"Ah Tuan Carter, orang ini mencari masalah disini." kata Rice menunjuk ke arah Rey.
"Berani beraninya kau di sini! Kau akan di keluarkan! Mana kartu anggotamu dan bayar denda 31 juta!" seru Vincent dingin.
Rey menyipitkan matanya, dia tahu bahwa kedua pria ini menjebaknya. Kejadian ini terlalu cepat. Ada laporan gangguan tepat ketika dia bertemu Rice dan membuat Vincent muncul. Bukan kebetulan, ini terlalu lucu.
"Aku tidak punya kartu anggota." cibir Rey sambil menggeleng.
"Apa? Apa? Bagaimana kau bisa masuk kesini!" seru Rice meninggikan suaranya.
"Kau bukan anggota dan mencari masalah? Sebaiknya kau segera bayar denda! Ini klub privat! Kau tidak di sambut disini!" kata Vincent.
"O ya? Masa?" jawab Rey sambil mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
[Hey! Ini Rey Demonforge!]
[Rey? Demonforge? eh? BOS!!]
__ADS_1
Di kantor manajer, Abner tampak gugup setelah mengangkat telpon dari Rey. Dia sudah tahu nama itu adalah nama orang tertinggi di Kings Global Holdings. Abner sangat kaget. Dia tahu suatu saat orang ini akan muncul secara diam diam dan melakukan inspeksi. Karena memang selama ini Rey tidak pernah menghubungi mereka sama sekali. Apalagi Abner tidak tahu seperti apa temperamen bos barunya ini.
[Aku beri kau waktu tiga menit untuk datang ke toilet pria di lantai tiga!] kata Rey dingin dan langsung menutup telponya.
Abner gemetar ketakutan. Dia merasa ada yang tidak beres sedang terjadi. Suara bosnya itu terdengar sangat kesal. Abner tidak berani membuang waktu sedetik pun dan bergegas ke tempat yang di sebutkan oleh Rey.
Di depan toilet pria, Rey melirik dan menatap Rice dan Vincent dengan dingin.
"Silahkan keluar! Kau bukan anggota di sini! Atau perlu aku memanggil pihak keamanan!" teriak Vincent keras.
"Siapa kau memerintahku!" tanya Rey sambil menyipitkan matanya.
"Vincent Carter! Wakil manajer King Club cabang XTown!"
"Hehehe, bisa bisanya mereka menjadikanmu wakil manajer, perilaku moral dasar saja kau tidak paham." kata Rey santai.
"Beraninya kau mengajari aku!" seru Vincent marah.
"Oh oh ampun wakil manajer, emangnya aku siapa..." kata Rey pura pura ketakutan dengan nada suara penuh hinaan.
"Tuan Carter, tidak perlu basa basi. Seret saja dia keluar!" teriak Rice.
"Bajingan kau Rice! Apa kau tidak paham dari awal ketemu aku! Periksakan kesehatan mentalmu itu tolol!" seru Rice kesal dengan kelakuan Rice yang tidak pernah belajar dari pengalaman.
"Kau sudah bosan hidup hah!" teriak Rice penuh amarah.
Vincent segera memanggil dua penjaga keamanan untuk datang.
"Seret dia keluar!" teriak Vincent menunjuk ke arah Rey.
"Vincent apa yang kau lakukan!"
Vincent kaget. Dia melihat Abner berdiri dengan nafas memburu.
"Tuan Sussano? Kenapa anda di sini? Seseorang mencari masalah disini. Jadi aku panggil keamanan untuk mengusirnya." kata Vincent hormat.
"Mencari masalah? Mengusirnya?"
Abner terkejut bukan main. Apakah ini penyebab bosnya marah? Abner menoleh perlahan melihat seseorang di belakang Vincent. Dia ketakutan setengah mati saat melihat Rey menatapnya dengan tajam. Dia tahu wajah itu! Wajah yang sama dengan foto yang di kirim jajaran direksi waktu itu. Tulang kakinya terasa seperti meleleh sampai dia hampir terjatuh.
"Tuan Rey? Apa yang terjadi?" teriak Abner ketakutan.
Semua orang terdiam. Ruangan itu menjadi sunyi. Rice dan Vincent tercengang. Mereka tidak bisa mempercayai mata mereka.
"Apa kau tidak memperhatikan kebersihan di sini? Banyak lalat di sini! Menjijikan!" kata Rey santai.
Mata Abner melebar mendengar kata kata itu. Tatapannya penuh ketakutan. Dia menatap tajam kedua orang yang berdiri terpaku. Vincent dan Rice gemetar dan reflek menutup mulut mereka. Mereka panik. Sensasi firasat buruk semakin kuat di pikiran Vincent. Vincent ketakutan. Dia tahu betul sifat atasannya. Kebanyakan milyarder menunjukkan rasa hormat kepada Abner.
Abner tidak pernah secanggung itu ketika dia menghadapi orang terkaya di dunia sekalipun. Tapi mengapa Abner bisa selemah itu di depan pria ini. Kekhawatiran Vincent tentang hal yang tidak di ketahui menjadi lebih buruk. Vincent menoleh ke arah Rice yang sedang tertunduk ketakutan.
"Katakan sebenarnya! Siapa pria ini!" bisik Vincent kepada Rice.
Vincent terlihat tegang.
__ADS_1
"Aku... Aku tidak tahu..." bisik Rice tergagap ketakutan.
Ketegangan terdengar jelas di suaranya.
"Brengsek kau Rice!" bisik Vincent.
Sekarang Vincent bahkan yakin Rey bukan orang biasa. Abner memaksakan senyum kepada Rey walau wajahnya pucat pasi.
"Tuan Rey, kenapa tidak memberitahu kalau anda akan berkunjung. Aku bisa menyambutmu dengan baik."
Rey tidak perduli dengan omongan Abner.
"Simpan omong kosongmu untuk dirimu sendiri! Kumpulkan data semua anggota di XTown dan bawa padaku."
"Ba.. Baik tuan."
Rey melangkah pergi dari sana untuk kembali ke ruangan Javier dan Jason. Tapi kemudian dia berhenti dan menoleh.
"Oiya hampir lupa. Tentang orang dengan nama Rice itu. Buanglah sampah pada tempatnya! Dan untuk wakilmu itu terserah kau, yang pasti jangan sampai aku melihatnya lagi."
Rey pergi dengan santai. Rice membeku mendengar kata kata itu.
"Hah! Dia pikir dia siapa! Aku itu---"
Belum sempat Rice menyelesaikan kata katanya, Abner menatapnya dengan tajam.
"Kalian berdua! Seret dia keluar!" seru Abner sambil menunjuk Rice.
"Baik bos!"
kedua penjaga keamanan yang tadi akan menyeret Rey bergegas menarik tangan Rice. Jelas mereka lebih menurut dengan perintah Abner.
"Beraninya kau! Ayahku adalah ketua Johnson Technology! Keluargaku VIP Perak disini!" teriak Rice.
"VIP Perak? Johnson Technology? Bahkan ayahmu akan berlutut kemari setelah dia tahu apa yang kau lakukan bajingan! Kau tahu siapa yang kau lawan hah! Orang itu adalah pemilik Kings Global Holdings!"
Pikiran Rice berdengung. Dia benar benar tidak percaya.
"Tuan Carter! Tolong aku! Bukankah kau bilang akan membantuku!"
Wajah VIncent pucat pasi. Dia terpaku. Dia menampar wajah Rice dengan keras.
"DIAM KAU!" teriak Vincent marah.
Vincent berbalik dan berlutut di depan Abner.
"Tuan Sussano, maafkan saya, saya bersalah, saya sangat menyesal. Jangan pecat saya tuan."
Abner mendesis dan menggelengkan kepalanya. Dia menunduk menatap Vincent.
"Bukan aku yang memutuskan, kau yang memintanya sendiri. Aku tidak bisa membantumu. Kau berurusan dengan orang yang salah. Urus surat pengunduran dirimu, setidaknya kau bisa dapat pesangon." kata Abner menghela nafas panjang.
Abner pergi dari sana tanpa ragu. Vincent linglung. Dia terhuyung huyung dan mundur beberapa langkah dengan kepahitan dan penyesalan tersirat di seluruh wajahnya. Lalu dia melihat Rice yang masih berdiri di sana. Vincent tiba tiba murka. Dia berjalan cepat menghampiri Rice.
__ADS_1
"Bajingan kau! Ini semua karena kau! Aku menyinggung tuan Rey karena omong kosongmu!"
Keduanya mulai berkelahi dan bergulat satu sama lain. Pertarungan menjadi tidak terkendali. Dua penjaga itu kewalahan dan tidak dapat menghentikan mereka. Penjaga meminta bantuan tambahan personel yang akhirnya bisa memisahkan perkelahian dua orang itu.