Raja Belantara Kota

Raja Belantara Kota
Bingung


__ADS_3

"Ted, kapan proyek ini akan di mulai?" tanya walikota.


"Aku sudah menghubungi pihak kontraktor dan seharusnya hari ini mereka sudah sampai dan mulai mengerjakan proyeknya besok pagi." jawab Teddy santai.


"Biar aku hubungi lagi mereka." kata Xia sambil membuka ponselnya dan segera menelpon kontraktornya.


"Oiya, sepertinya aku melihat rumah besar di ujung area ini yang belum di bongkar." kata Teddy.


"Ya, rumah itu di tinggal pemiliknya dan sebelum dia pergi, dia memberi pesan kepada penanggung jawab di wilayah ini agar rumah itu tidak di jual." jawab walikota itu.


"Hah? Tidak di jual? Kenapa? Apa harganya tidak sesuai?" tanya Teddy heran.


"Entahlah, tapi kalau di lihat dari segi harga hanya rumah itu yang memiliki tawaran yang sangat tinggi, tapi penanggung jawab wilayah mengatakan bahwa rumah itu untuk menghormati mendiang sahabatnya yang membangun rumah itu." kata walikota.


"Begitu ya, lalu apakah anda tahu siapa pemilik rumah itu?" tanya Teddy penasaran.


Teddy merasa jika rumah itu memang terlihat lebih besar dari rumah yang lainnya yang telah di bongkar, tapi rumah itu terlihat tidak terlalu terurus.


"Kalau tidak salah, rumah itu milik Klan Demonforge." jawab walikota itu.


"Hah? Klan? Demonforge?" seru Teddy mengerutkan kening.


"Sayang, bukankah tuan Rey dari kota ini? Apa mungkin itu miliknya?" tanya Xia.


"Entahlah, tapi Rey memang dari kota ini. Tapi ini aneh." kata Teddy.


"Sebaiknya kamu tanyakan terlebih dahulu kepada tuan Rey." kata Xia.


"Iya, biar besok pagi aku menanyakannya, lagi pula beberapa hari ini, aku belum sempat menelponnya untuk memberikan laporanku." kata Teddy menggangguk santai.


"Apakah kamu mengenal Klan Demonforge?" tanya walikota mengerutkan kening.


"Entahlah, dia adalah teman sekaligus rekan bisnisku, tapi setahuku itu nama keluarganya bukan nama sebuah klan. Jadi sepertinya belum bisa di katakan aku mengenal orang yang anda maksud." kata Teddy.


"Benar juga, kemungkinan hanya kebetulan sama, karena ada juga nama keluarga bukan nama klan." kata walikota,


"Ya, biarkan saja dulu untuk masalah rumah itu, dan jika anda memiliki informasi tentang pemilik rumah itu, tolong memberitahukan kepadaku. Aku mungkin akan menyewanya selama tinggal di sini." kata Teddy.


"Tentu, aku akan mencari tahu tentang pemiliknya, karena aku walikota baru, mungkin ada sesuatu yang aku lewatkan. AKu tidak terlalu paham dengan sejarah  tempat tempat di JTown. Banyak yang di tutupi rapat rapat semenjak kejadian itu." jawab walikota itu sedikit kecewa.


"Baiklah, kalau begitu, aku pamit pulang dulu." lanjut walikota itu.


"Baik." Teddy mengangguk.


"Terima kasih banyak atas bantuannya, paman." kata Teddy tersenyum.


"Jangan sungkan, bukankah aku ini teman baik ayahmu." jawab walikota itu.


"Ya, sekali lagi terima kasih dan hati hati di jalan, paman." kata Teddy.


"Tentu, sampai jumpa Ted."


Walikota itu masuk ke dalam mobilnya untuk kembali pulang.


"Sayang, ayo kita juga kembali." kata Xia sambil menggandeng tangan Teddy dengan lembut.

__ADS_1


Teddy mengangguk senang.


Mereka berdua kembali ke kamar hotel sambil mengobrol santai di sepanjang koridor hotel itu.


"Sayang, kenapa aku merasa yakin kalau rumah itu milik tuan Rey." kata Xia sambil menatap Teddy yang berjalan di sampingnya.


"Memangnya seberapa yakin kalau itu rumahnya Rey?" tanya Teddy.


"Entahlah, tapi firasatku mengatakan kalau rumah itu ada hubungannya dengan tuan Rey. Sayang, kenapa kamu tidak menelponnya saja sekarang." kata Xia.


"Tidak enak jika menelponnya malam malam, aku takut dia merasa terganggu." jawab Teddy menggeleng.


"Benar juga, kalau begitu besok pagi saja kamu menelponnya dan membicarakan tentang masalah ini." kata Xia.


"Iya." Teddy mengangguk.


Mereka tiba di kamar mereka dan segera masuk ke tempat itu.


***


Sementara itu, Rey baru saja selesai makan malam bersama Xena dan ibunya.


"Sayang, apa kamu mau kopi?" tanya Xena.


"Boleh, sepertinya cocok di saat dingin seperti ini." jawab Rey.


"Bu, apa ibu mau minum sesuatu?" tanya Xena.


"Tidak usah, lagipula aku sudah merasa mengantuk dan tidak ingin mengganggu kalian berdua." jawab ibu Xena.


"Tidak apa apa nak, aku hanya lelah dan sedikit mengantuk, jadi aku akan pergi untuk beristirahat." kata ibu Xena.


"Begitu ya, kalau begitu biar aku antar ibu ke kamar." kata Rey sambil berdiri dan membantu ibu Xena untuk berdiri.


"Terima kasih nak. Apa kamu akan menginap?" tanya ibu Xena.


"Tidak bu, besok pagi aku harus bekerja." jawab Rey.


Rey memapah ibu Xena untuk menuju ke arah kamarnya,


***


Sementara itu, ketiga gadis Rey sudah sampai di mansion dan segera memarkirkan mobilnya di garasi seperti biasanya.


Sedangkan kedua pengawal Baron telah kehilangan jejak ketiga gadis itu setelah di ganggu dengan sengaja oleh One dan Two.


"Sayang, kami pulang." seru Fafa sambil berjalan menuju ke arah ruang santai.


"Lah? Pada kemana semua orang?" tanya Yuri melihat sekeliling.


"Sepi sekali, apa mereka sudah pada tidur?" tanya Sabrina heran.


"Ya, sepertinya begitu." jawab Fafa sambil duduk di sofa depan tv.


"Sudahlah, mungkin kak Hitomi dan kak Lita kelelahan setelah seharian bekerja, makanya mereka langsung tidur." kata Sabrina.

__ADS_1


"Tapi kemana Rey dan kak Xena?" tanya Yuri mengerutkan kening.


"Entahlah." jawab Fafa sambil melihat barang belanjaannya.


"Fa, coba aku lihat, kamu tadi membeli apa saja?" tanya Yuri berjalan ke arah Fafa.


"Aku hanya membeli dua pasang pakaian ini." jawab Fafa sambil mengeluarkan bajunya dan melemparnya ke sofa.


"Bagaimana denganmu?" tanya Yuri kepada Sabrina.


"Hah? AKu hanya satu pasang saja, di tambah dalamanku." jawab Sabrina sambil duduk di sofa samping Yuri.


"Lalu kamu sendiri? Apa yang kamu beli?" tanya Fafa kepada Yuri.


"Aku hanya membeli dalaman yang tadi saja, aku tidak sempat melihat lihat pakaian karena kamu menyuruh kita untuk segera pulang." seru Yuri cemberut.


"Hahaha, sayang sekali." seru Fafa sambil tertawa.


"Waaah, sepertinya ada yang baru belanja nih." kata Hitomi yang baru saja datang ke ruang santai.


"Hah? Kak Hitomi, aku kira kakak sudah tidur." kata Fafa.


"Iya, aku kira juga begitu. Kemana kak Lita?" tanya Yuri melihat sekeliling.


"Aku tidak bisa tidur." kata Hitomi sambil duduk di sofa.


"Lita sepertinya di kamarnya." jawab Hitomi santai.


"Lalu kak Xena kemana?" tanya Sabrina penasaran.


"Xena pulang ke rumahnya dan di antar oleh Rey tadi sore." jawab Hitomi.


"Begitu ya." kata Sabrina santai sambil membuka barang belanjaannya.


"Hei mana oleh olehnya?" tanya Hitomi.


"Ah, maaf kak, kami tidak sempat membeli apa apa, bukankah kakak menyuruh kami agar segera pulang." jawab Fafa.


"Begitu ya, aku kira kalian membawakanku oleh oleh setelah cukup lama belanja." jawab Hitomi.


***


"Sayang ini kopinya." kata Xena setalah kembali dari dapur dan membawakan kopi untuk Rey.


"Terima kasih, Xena." kata Rey menerima kopi itu.


"Sayang, bukankah malam ini kamu ada undangan yang harus kamu hadiri?" tanya Xena saat mengingat bahwa malam ini ada undangan pelelangan.


"Ya, seharusnya begitu, tapi setelah berdiskusi dengan Hitomi, aku memutuskan untuk tidak hadir, karena aku merasa undangan itu hanya jebakan saja untukku." kata Rey meminum kopinya.


"Jadi begitu, aku mengerti." jawab Xena mengangguk.


"Sayang, aku lihat di bursa saham ada perusahaan yang cukup potensial, tapi akhir ahkhir ini saham mereka menurun secara signifikan." kata Xena sambil memeluk Rey.


"Hm? Perusahaan apa?" tanya Rey penasaran.

__ADS_1


"Sepertinya perusahaan entertainment." jawab Xena dengan lembut.


__ADS_2