
Ketika Rey sedang bersantai di sofa sambil memanikan ponselnya. Kepala pelayan telah menyiapkan makan siang dengan berbagai menu yang di sajikan diatas meja makan. Rey memanggil kepala pelayan itu sebagai bibi.
"Tuan Rey, makan siang sudah siap.." ucap Bibi itu dengan hormat.
Rey melangkah ke arah ruang makan.
"Wah! banyak sekali bi! Ini terlalu banyak aku tak sanggup menghabiskan sendiri. Mari makan bersama saja bi." kata Rey agak terkejut saat melihat banyak makanan di atas meja.
"Maaf tuan, saya tidak seharusnya makan bersama anda. Silahkan tuan nikmati makan siangnya."
Kepala pelayan takut membuat tuannya merasa tidak nyaman makanya dia menolak tawaran Rey dengan halus.
"Baiklah kalau begitu.. Terima kasih banyak bi.." Rey pun melahap makanannya dengan gembira. Wajah brewoknya berseri seri. Ya, tampilan Rey tidak pernah berubah, jika di ibaratkan profilnya benar benar mirip dengan aktor ternama Jason Momoa. Rambut gondrong dengan brewok tebal, badan tinggi besar penuh tato seekor naga hitam.
Rey bersandar di kursi sambil memegang perutnya dan merasa puas dengan semua masakan yang disiapkan Bibi. Tiba tiba ponselnya berbunyi. Nama Hitomi terpampang disana. Dia menjawab telepon itu.
[Ya?]
[Selamat siang tuan Rey, apa aku mengganggu?]
[Aku lagi bersantai kok, ada apa ya?]
[Kalau begitu, bisakah kita bertemu, ada sesuatu yang ingin saya bahas dengan anda..]
[Oke, dimana?]
[Saya sedang di Leaf Resto, bisakah kita bertemu disini?]
[Oke, aku kesana.]
__ADS_1
Rey pikir Hitomi akan membahas tentang surat surat mansionnya jadi Rey mengiyakan saja. Setelah telepon ditutup, Rey bergegas menuju garasi untuk mengambil mobilnya dan segera meluncur ke Leaf Resto. Ford yang ditunggangi Rey melesat di jalan raya dengan suara menggema membuat perhatian semua orang tertuju padanya dan membuat beberapa pengemudi lain iri.
Sesampainya di Leaf Resto, mobil itu menjadi perhatian bagi para pengunjung restoran tersebut ketika berhenti di depan restoran. Bagaimana tidak, mobil dengan harga sekitar tiga miliar, dengan warna hitam ditambah garis merah, perpaduan warna untuk tipe limited edition. Rey bergegas keluar dari mobilnya, berjalan dengan satu tangan di saku celananya dengan cuek untuk menuju Hitomi yang sudah menunggunya.
"Tuan Rey silahkan duduk." Kata Hitomi dengan hormat. Rey mengangguk lalu dia duduk tepat di depan Hitomi.
"Terima kasih tuan Rey sudah menyempatkan waktu anda untuk saya." Kata Hitomi dengan senang. Hitomi merasa senang karena Rey bersedia untuk bertemu dengannya meskipun ini untuk bisnis tapi Hitomi merasa bahagia karena bisa bertemu lagi dengan Rey.
"Tuan Rey sebenaranya saya mengajak anda bertemu di sini karena ada yang mau saya diskusikan dengan anda secara langsung." Kata Hitomi.
"Oke, lalu apa yang mau kau tanyakan padaku?" tanya Rey sambil menganggukan kepalanya.
"Jadi begini tuan, ada salah satu klien yang meminta saya untuk menawarkan restoran ini untuk dijual, Apa anda tertarik tuan?" tanya Hitomi.
"O gitu... Minta harga berapa klienmu itu?" tanya Rey.
"Pemiliknya mengatakan akan membuka harga sebasar 120 miliar tuan." kata Hitomi dengan hati hati san sedikit rasa ragu di hatinya. Hitomi ragu apakah Rey mau dengan harga sebanyak itu, tapi karena Hitomi tahu bahwa Rey membeli mansion dengan mudah maka tak ada salahnya menawarkan restoran ini padanya.
"Eh? Apa tuan ingin aku yang menjalankan bisnis ini?" tanya Hitomi sedikit kaget.
"Ya, tidak hanya restoran ini aja sih, tapi aku mau kau jadi sekertaris pribadiku sekaligus orang kedua di bisnisku. Kalo setuju, bagaimana kalau gajimu 20 miliar per tahun?' kata Rey dengan santai.
"Ap-Apa? 20 miliar per tahun? Apa aku mimpi?" tanya Hitomi dalam hati sambil mencubit tangannya sendiri. Sakit. Ini bukan mimpi.
"Apakah tidak masalah kalau saya menjadi wakil anda?" tanya Hitomi dengan nada tak percaya.
"Emang kenapa? Kau takut aku akan melakukan hal konyol padamu?" Jawab Rey cuek.
"Bukan begitu tuan, hanya saja ini seperti mimpi mendengar anda memberi saya posisi penting ini." kata Hitomi malu malu.
__ADS_1
"Jadi kau mau gak?" tanya Rey.
"Terima kasih sudah percaya kepada saya tuan, saya akan bekerja sebaik mungkin apapun yang terjadi. Tapi mohon ijinkan saya untuk keluar dari pekerjaan saya dulu." kata Hitomi dengan semangat.
"Gak masalah sih." kata Rey dengan santai sambil meminum kopi yang di pesankan oleh Hitomi.
Walau Hitomi merasa sedih karena harus keluar dari kantor dimana dia sudah bekerja selama empat tahun disana, tapiHitomi tidak bisa menolak tawaran Rey karena sebenarnya Hitomi ingin bisa dekat dengan Rey. Hitomi tertarik dengan Rey saat pertama bertemu, bukan karena Rey membeli Mansion dari agennya. Walau waktu itu Rey tidak jadi membeli mansion pun Hitomi sudah tertarik padanya.
"Kau bisa mulai kerja hari ini, nanti kau urus kantor lama mu. Tugas pertamamu, urus pembelian restoran ini segera, pakai kartu ini untuk mengurus semua keperluannya. Satu kartu ini rata rata isinya satu triliun. Jika kurang langsung telpon aku." kata Rey santai sambil menyerahkan tiga buah kartu hitam kepada Hitomi.
"APAA!!! SATU TRILIUN!!" Hitomi tersentak kaget ketika tau berapa isi masing masing kartu hitam itu. Ternyata pria itu benar benar kaya, dia memberikan tiga buah kartu berisi uang banyak dengan santai. Hitomi hanya mampu menggeleng gelengkan kepalanya keheranan.
"Kalo gitu aku pulang dulu, kalau udah selesai langsung susul aku." kata Rey.
"Baik tuan Rey." Hitomi menundukan kepalanya hormat.
Rey beranjak masuk ke mobilnya dan menginjak pedal gas dengan santai, suara mobil pun menderu keras meluncur menjauh dari Leaf Resto. Hitomi segera menemui pemilik Leaf Resto dan mengurus semua berkas atas nama Rey. Setelah selesai dengan semua urusannya, Hitomi segera bergegas dengan taksi menuju ke mansion Rey.
Setibanya di mansion, Hitomi segera menemui petugas keamanan yang sedang berjaga. Petugas itu dengan ramah mengantarkan Hitomi menemui kepala pelayan untuk bertemu dengan Rey. Bibi membukakan pintu dan memimpin jalan menuju ruang santai di lantai dua tempat Rey sedang bersantai.
"Tuan Rey, nona Hitomi sudah di sini." ucap bibi dengan hormat sebelum berbalik untuk menyiapkan minuman.
"Hey Hitomi, gimana? Sudah beres?" tanya Rey santai seperti biasa.
"Sudah tuan. Ini berkas berkasnya termasuk berkas mansion ini." kata Hitomi seraya menyerahkan setumpuk dokumen kepada Rey.
"Good! Sekarang ikut aku!"
"Sekarang?" seru Hitomi kaget. Pikiran Hitomi mulai kemana mana.
__ADS_1
"Hahahahaha! Apa yang kau pikirkan itu! Aneh aneh aja kau ini." Rey terbahak bahak karena tau apa yang dipikirkan Hitomi dari gerak geriknya. Hitomi menunduk dengan wajah memerah menahan malu setengah mati. Mereka menuju garasi untuk mengambil mobil. Sepanjang jalan Hitomi masih menunduk karena rasa malunya belum hilang.
"Kau kenapa? Apa kau sakit?" kata Rey dengan nada sedikit mengejek. Rey memecah kecanggungan yang dirasakan Hitomi. Mereka akhirnya bisa mengobrol santai hingga tiba di sebuah dealer mobil. Rey berniat membelikan Hitomi sebuah mobil agar mempermudah pekerjaannya karena Rey tahu bahwa nanti wakilnya itu akan dibuat super sibuk dengan kelakuan berbisnis Rey yang bar bar.