
Tidak lama kemudian, bibi berjalan menemui Rey yang sedang berada di ruang santai.
"Tuan muda, ada seseorang yang ingin bertemu anda, dia menunggu di ruang tamu." kata Bibi hormat.
"Ha? Tamu?" tanya Rey mengerutkan keningnya.
"Apa itu Sabrina?" tanya Yuri sambil berdiri dari duduknya.
Rey dan Hitomi menyusul Yuri yang sudah berlari ke ruang tamu.
"Jadi kau berani datang kemari Sabrina?" seru Yuri berjalan mendekati Sabrina.
"Ah? Yuri aku bisa menjelaskannya, maaf sebelumnya karena aku melakukan hal seperti ini, tapi aku tidak bisa menyimpan sendiri isi hatiku. Yuri, aku benar benar menyukai Rey, tapi aku tahu kalau Rey adalah kekasihmu dan kamu adalah sahabatku." kata Sabrina menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku Yuri, aku memberikan surat kepada Rey hanya untuk mengungkapkan perasaanku saja, agar aku tidak lagi mengharapkannya karena dia milik sahabtaku sendiri." tambah Sabrina dengan menyesal.
Yuri hanya berdiri dan tidak menjawab apapun kepada Sabrina, wajahnya merah, bukan menahan marah tapi menahan sebisa mungkin untuk tidak tertawa. Rey dan Hitomi muncul di ruang tamu.
"Halo Sabrina, kenapa berdiri saja? Duduklah dulu." kata Rey santai.
"Ah, Rey maafkan aku tentang semua ini." kata Sabrina masih menundukkan kepalanya.
"Aish, sudahlah, lupakan saja, jangan di bahas lagi, Mmm, gimana menurutmu Hitomi?" kata Rey.
"Hemm, menurutku, dia perlu di beri pelajaran." jawab Hitomi melirik Yuri yang kembang kempis menahan tawa.
"Terserah kamu saja." jawab Rey santai.
"Hai Sabrina, kenalkan aku Hitomi."
"Aku Sabrina kak."
Yuri duduk di samping Hitomi dengan tenang sekarang, sementara Rey duduk di sofa single paling ujung dengan santai sambil memainkan game di ponselnya.
"Sabrina, aku yang membaca suratmu tadi." kata Hitomi
"Ah, jadi begitu ya kak, maaf." jawab Sabrina kaget lalu menundukkan kepalanya lagi.
__ADS_1
"Oke! Aku ingin jawaban jujur darimu sekarang." kata Hitomi tegas dan menatap Sabrina dengan tajam.
Sabrina merasa takut melihat wajah Hitomi, dia menyangka kalau Hitomi adalah kakak Rey yang galak dan cerewet.
"Benar kamu menyukai Rey?" tanya Hitomi serius.
Sabrina mengangguk sambil menunduk.
"Kamu mencintainya?"
Sabrina masih mengangguk pelan.
"Kamu menyayanginya?"
Sabrina melirik Rey yang sedang asik dengan ponselnya, kemudian menghela nafas karena tidak di perdulikan sama sekali. Tapi Sabrina tetap mengangguk ke arah Hitomi.
"Seberapa besar kau mencintainya?" tanya Hitomi.
Kali ini Sabrina menggelengkan kepalanya, sebenarnya dia memang tidak tahu seberapa besar kekagumannya kepada Rey, yang pasti menurut Sabrina, hal itu tak bisa di ungkapkan dengan kata kata.
"Bukan seperti itu kak, aku tidak tahu seberapa besar, yang pasati aku akan melakukan apa saja untuknya." jawab Sabrina dengan wajah gugup.
"Apa benar kau akan melakukan apapun untuknya?" tambah Yuri yang kini ikut bicara.
"I-iya Yuri, maaf."
"Oke! Kalau gitu, buka semua pakaianmu di depan kami." kata Yuri santai.
"Apa? Apa harus seperti itu?" tanya Sabrina kaget.
"Satu lagi yang harus kamu tahu, Aku dan Yuri adalah wanitanya, apa kau bisa menerima kenyataan itu?" tanya Hitomi.
"Apa! Jadi? Kakak ini kekasaih Rey juga?"
"Ya, dan masih ada dua lagi."
Sabrina kaget saat mendengar ada empat wanita yang berada di sisi Rey. Hal ini tidak terpikirkan sama sekali olehnya. Tapi Sabrina merasa jika dia menyerah sekarang makan dia akan kehilangan Rey selama lamanya.
__ADS_1
"Gimana? Itu syarat dari kami, kau terima atau tidak." tanya Hitomi.
Tanpa mengucapkan apa pun, Sabrina berdiri perlahan dan mulai membuka satu per satu pakaian yang dia kenakan sampai tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya. Sabrina menoleh ke arah Rey tapi tetap saja Rey sibuk dengan ponselnya tanpa menoleh. Hitomi memanggil Rey dengan lembut, Rey melirik sebentar dan mendengus kesal karena kegiatannya terganggu. Rey berdiri dan menghampiri Sabrina dengan santai.
"Apa kau sudah memikirkannya baik baik?" tanya Rey menatap Sabrina dengan tajam.
Sabrina mengangguk pelan. Rey menoleh ke arah Hitomi dan Yuri. Mereka berdua mengangguk dengan senyuman. Rey menghela nafas berat. Rey melangkah melewati Sabrina, berjalan menuju ke kamar untuk tamu yang berada di di sebelah ruang tamu.
Hitomi dan Yuri berdiri dan menggiring Sabrina untuk mengikuti Rey. Mereka ikut masuk ke dalam kamar itu. Setelah mereka masuk, tanpa aba aba, Rey mencium bibir sabrina dengan lembut, Sabrina tidak melakukan penolakan dan membalas ciuman itu. Rey menggendong Sabrina ke atas ranjang di tonton oleh Hitomi dan Yuri.
Perlahan Rey merobek segel sarang naga milik Sabrina. Sambil menahan sakit, Sabrina mendesah dengan lembut mencoba menikmati apa yang dilakukan Rey padanya.
Hitomi dan Yuri merasakan ada sesuatu yang berdenyut di sarang mereka, mereka tidak bisa menahannya segera membuka pakaian dan bergegas bergabung dengan Sabrina. Mereka bertiga bergantian untuk melayani Raja mereka, mereka semua merasakan kenikmatan itu yang akhirnya membuat mereka bertiga terkulai lemas di ranjang yang cukup luas itu.
Rey hanya menggelengkan kepala dengan senyum di wajahnya.
"Selamat datang di keluarga kami, Sabrina." kata Yuri dengan suaranya yang masih lemas.
Sabrina merasa bahagia dengan semua ini, dia baru pertama kali melakukan hubungan badan. Sabrina tidak merasa menyesal sama sekali bahkan dirinya merasa nyaman karena segel miliknya sudah di robek oleh seorang pria yang menjadi pilihan hatinya.
Rey menggunakan pakaiannya dan keluar dari kamar menuju ruang santai. Dia ingin bersantai sejenak sebelum tidur. Rey berjalan menuju mini bar dan mengambil sebotol wine. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Hitomi menyusul Rey ke ruang santai. Mereka mengobrol dengan santai.
"Hitomi, berikan mobilmu untuk Sabrina, dan kau pakai yang ini." kata Rey menyerahkan sebuah kunci dengan lambang lamborghini.
Hitomi tahu hanya ada satu lamborghini di sini, lamborghini veneno.
"Veneno? Bukannya ini koleksi pribadimu sayang?" tanya Hitomi ragu.
"tidak masalah Hitomi, toh aku juga tidak mungkin memakai semuanya."
"Ah terima kasih sayang," kata Hitomi sambil mengecup pipi Rey.
"Apa kau akan melanjutkan lagi di kamarku?" kata Rey sambil menaik turunkan alisnya.
Hitomi menatap Rey dengan tersipu malu, tanpa ragu Rey menggendong Hitomi menuju ke kamar pribadinya di lantai tiga. Mereka berdua melanjutkan pertandingan itu lagi, hingga akhirnya Hitomi sudah tidak mampu untuk melawan Rey lagi. Hitomi telah mencapai puncak berkali kali hingga tulang di tubuhnya terasa menghilang.
Dan seperti biasa, Rey yang perkasa belum mencapai puncaknya. Tapi dia tidak memaksakan diri untuk terus menghajar Hitomi. Dengan penuh perhatian, dia menyelimuti tubuh Hitomi dan mengecup kening Hitomi. Rey merebahkan tubuhnya di sebelah Hitomi dan tak lama dirinya ikut terlelap.
__ADS_1