
Keesokan paginya, suara dengung penyedot debu membuat Rey terbangun. Rey duduk dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Nak bangun! Sudah waktunya sarapan." kata Carmen sambil mengetuk pintu kamar Rey.
"Oke bu..." Rey tersenyum tak berdaya. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Dia menatap dirinya di depan cermin.
DING!
[Selamat tuan anda mendapatkan hadiah dari system. 100% Saham dan kepemilikan INVAX Assets.]
INVAX Assets adalah sebuah perusahaan investasi terkemuka di negara ini. Rey menyentuh dagunya dan merenung. Rey berpikir suatu saat nanti dia harus mengambil sertifikat sahamnya. Saat ini semua sertifikat saham dari sistem otomatis tersimpan di dalam brankas bank. Ada kemungkinan sertifikat itu akan semakin banyak dan akan memenuhi brankas itu.
Karena pagi ini Rey tidak tahu akan melakukan apa, jadi setelah sarapan Rey ikut ibu barunya itu berbelanja. Mereka keluar bersama dengan berjalan kaki. Ada sebuah pasar tak jauh dari rumah Ken. Rey sebenarnya ingin mengantar Carmen menggunakan mobil, tapi tidak jadi. Siapa orang bodoh yang akan ke pasar naik mobil lapis baja?
Mereka sampai di pasar itu, bau khas pasar menusuk hidung, lantainya juga becek. Ya, pasar di pinggiran kota disana memang seperti itu konsidinya. Rey membawakan tas belanjaan dan berjalan mengikuti ibunya. Rey hanya diam saat melihat ibunya terus saja melakukan tawar menawar dengan pedagang saat membeli sesuatu.
Rey sebenarnya ingin langsung saja mengeluarkan segepok uang dan membeli pasar itu sekalian agak tidak kelamaan. Tapi melihat ibunya menikmati menawar belanjaan, Rey hanya mengikuti saja. Mereka berjalan jalan dan membeli banyak barang.
"Lihat ini nak, harganya 50 ribu... tapi ibu beli dengan harga 25 ribu..."
"Apa ibu harus melakukan itu? Biar aku yang membayarnya..."
"Ah kalian anak muda tidak tahu rasanya memenangkan pertarungan harga..."
"Kau yang terhebat bu,,," kata Rey sambil tersenyum.
"Apa kau hari ini ada acara nak?"
"Aku akan pergi dengan temanku, kemungkinan sampai sore..."
"Kalau begitu aku akan masak ayam ini untuk makan malam saja,, biar kau juga bisa ikut makan..." kata Carmen mengangkat sebungkus daging ayam dan menunjukkan ke arah Rey.
"Tidak perlu bu, masak saja setelah ini, jadi ibu dan pak tua bisa menikmatinya. Aku tidak masalah makan sisanya nanti..."
Carmen tersenyum melihat anak angkatnya itu. Bagi Carmen, sosok Rey adalah orang yang sangat sopan dan rendah hati. Ibunya tidak tahu saja bagaimana kelakuan pria ini di depan rekan rekan bisnisnya. Di daftar Rey, sopan untuk orang lain adalah nomor kesekian.
Mereka kembali ke rumah. Rey membantu Carmen menata barang barang yang baru saja di belinya. Rey melihat ke arah jam dinding dan meraih ponselnya. Setelah membalas pesan Paul, Rey berpamitan kepada ibunya dan Pak Tua Ken untuk pergi. Rey melesat dengan mobilnya menuju rumah Paul untuk menjemputnya. Mereka berdua langsung menuju ke rumah mantan guru SMAnya itu.
Guru mereka itu tinggal di sebuah pemukiman pinggiran juga tapi berbeda distrik. Rumah guru mereka ada di salah satu gang yang ada di sana, sampai disana jalanan dekat pemukiman masih ramai, selain itu banyak mobil yang terparkir di bahu jalan. Apalagi mobil yang di kendarai Rey ukurannya tidak normal. Dan akhirnya Rey memilih memarkir mobilnya di sebuah lahan kosong agak jauh dari rumah guru mereka.
Rey dan Paul berjalan kaki menuju ke sana. Rey menyempatkan membeli buah buahan di pinggiran jalan. Ketika mereka hendak memasuki gang, terlihat di mulut gang banyak orang berkumpul. Paul menyadari bahwa orang orang itu adalah teman teman SMA mereka. Paul dan Rey tidak tahu jika teman teman SMA mereka juga akan mengunjungi rumah guru favoritnya itu.
Rey dan Paul berjalan mendekat dengan menenteng beberapa kantung plastik. Teman temannya itu memandang mereka berdua dengan jijik. Seorang yatim piatu dan pecundang kutu buku datang.
__ADS_1
"Kalian jalan kaki? Dulu kalian cukup pintar di sekolah bukan? Apa kalian gak kerja? Apa belum mampu beli mobil? Bulan lalu aja aku habis beli BMW." kata seorang pria bernama Liam mencemooh.
Rey diam saja tanpa kata kata. Baginya itu hanya buang buang waktu dan tenaga. Tapi karena Rey hanya diam, mahkluk bernama Liam itu tambah semangat. Liam yakin dia lebih sukses daripada Rey.
"Kau tahu? Gajiku 5 juta sebulan apalagi bosku bilang kalo aku sampai bisa kerja sama dengan Mobs Games, bonusku 15 juta per bulan." Liam berkata dengan bangga dan memandang penuh hina ke arah Rey. Dia mengira dengan pendapatan segitu bisa meremehkan Rey.
Banyak orang memuji kehebatan seorang Liam Cutler. Dia di puji puji saat ini. Rey hanya nyengir mendengar itu, tapi Paul sangat marah.
"Berhenti membual Liam! Kau berlebihan! Rey itu---!" kata kata Paul di sela dengan lambaian tangan Rey.
"Apa sudah selesai? Aku mau kesini ada urusan, bukan untuk bersaing..." kata Rey santai.
"Benar juga,,, Liam kalau tak ada urusan di sini sebaiknya kau pergi." kata seseorang bernama Elyse. Dia juga tidak menyukai perangai Liam.
Liam mendengus, matanya berubah dingin. Kemudian semua orang mulai menuju ke rumah guru itu. Setelah berbasa basi sebentar akhirnya mereka memutuskan untuk pamit. Karena sedang berkumpul, Liam mengajak mereka semua untuk makan di sebuah restoran kelas satu yang tak jauh dari rumah guru itu. Liam berkata untuk mentraktir mereka semua.
"Rey sebaiknya kau makan yang banyak, mumpung ada kesempatan makan enak..." kata Liam sarkas.
"Sebaiknya kau perhatikan dirimu sendiri saja Liam, lihat lingkaran hitam di matamu itu, kau kurang tidur kan? Sepertinya resto ini punya hidangan penambah stamina. Bantulah dirimu agar bisa lebih kuat..." kata Rey sambil tersenyum.
Wajah Liam menjadi suram mendengar kata kata Rey. Banyak orang di samping menahan tawa. Mereka menatap Liam seperti orang lemah yang butuh stamina. Liam hanya diam dan mengajak semua masuk. Tidak jauh dari sana seorang pria memperhatikan Rey. Dia kaget melihat Rey di sini.
"Astaga!!! Bukankah itu tuan Rey?!" seorang pria bernama Kendrick mengarahkan pandangannya pada punggung Rey. Dia segera ke arah resepsionis dan bertanya tujuan rombongan orang tadi. Dia juga meminta daftar pesanan mereka. Dengan santainya Kendrick melunasi tagihan tersebut dengan niat menyenangkan hati Rey.
Ketika mereka sedang makan, pintu ruangan di buka tiba tiba. Kendrick masuk dan tersenyum. Hal itu membuat Rey bertanya tanya di benaknya. Kendrick memegang sebotol Chateau Lafite Rothschild. Liam terkejut, dia tahu dia tidak memesan anggur. Apalagi itu anggur mahal. Harganya sekitar 20 jutaan.
"Apa ini? Kami tidak memesan anggur..." kata Liam, dia sadar dia tidak akan mampu membelinya.
"Eh? Ini hadiah dari kami. Lagi pula semua hidangan ini juga gratis!" kata Kendrick santai. Semua orang terkejut.
"Astaga! Kau hebat Liam..."
"Kau benar benar orang penting Liam!
Semua orang memuji Liam, Tapi Liam tidak tahu apa yang terjadi. Dia menyadari bahwa dirinya tidak sehebat itu. Liam hanya tersenyum.
"Liam? Siapa Liam? Aku membawa anggur dan menyediakan hidangan gratis karena tuan Rey." kata Kendrick santai.
Semua orang terkejut. Mereka semua memandang Kendrick berjalan ke arah Rey. Dia tersenyum lebar melihat Rey.
"Maaf tuan Rey, jika tau anda akan datang, saya akan menyiapkan yang terbaik untuk anda, semoga wine ini bisa memuaskan anda tuan..." kata Kendrick sopan. Rey tidak mengenal Kendrick, tapi dia tetap menghargai pemberiannya.
Ruangan itu tiba tiba hening. Semua orang tercengang. Mereka memandang Rey tanpa berkedip. Mereka tidak tahu harus bersikap seperti apa. Suasana ini benar benar aneh.
__ADS_1
"Hahahah! Apa kau bekerja sama dengan Rey untuk menipu kami." Liam berteriak. Semua orang tersadar dan mendukung Liam.
"Menipu? Aku Kendrick Bacon, anak pemilik restoran ini. Apa untungnya aku menipu kalian. Apa kau tau tidak tahu siapa tuan Rey?" tanya Kendrick santai.
Lagi lagi semua orang kaget. Pandangan mereka berubah. Liam kelabakan. Dia tidak tahu apa yang sedang di hadapinya. Dalam keheningan ini pintu terbuka lagi dan terlihat Bella masuk ke dalam ruangan. Semua orang menyapa Bella, dia hanya mengangguk dan berjalan ke arah Rey.
"Tuan Rey, maaf terlambat, Javier Noah meminta saya menyampaikan salam pada anda. Sebenarnya dia ingin menyusul kesini tapi ternyata ada bisnis yang tidak bisa ditunda..." kata Bella sedikit membungkukan badan.
"Aish Bella kenapa kau sopan sekali, biasa saja. Bilang ke Javier nanti aku kesana kalau sudah kembali..."
Ruangan itu menjadi sunyi. Siapa yang tidak kenal Javier Noah. Dan Bella barusan bilang kalo Javier Noah ingin menyusul Rey? Apa apaan ini? Siapa Rey ini sebenarnya? Semua orang menelan ludah dan ketakutan. Paul melihat sekeliling dan berdehem pelan dan menyentuh pangkal hidungnya.
"Apa kalian masih tidak paham situasi, kalau saja Rey tidak menyelaku aku sudah cerita dari tadi. Liam, tadi kau bilang akan bekerja sama dengan Mobs Games? Itu tergantung pada Rey mau atau tidak, mau bagaimana lagi, dia pemiliknya!"
Hening menguasai ruangan itu. Semua suara tertahan. Rey adalah pemilik Mobs Games. Liam tidak percaya kenyataan ini. Dia tadi bahkan pamer. Rey diam bukan karena miskin. Kekayaanya tidak ada yang bisa menandingi. Sekarang Liam terlihat seperti orang konyol di mata orang orang. Ketika ingin membantah lagi.
"Eh? Bukankah orang di video twitter itu Rey?" tanya seorang wanita setelah menatap postur Rey secara detail.
"Ah iya benar! Dan cuplikan selebgram di sebuah plaza juga,,, sepertinya itu Rey dan Lita, adik kelas kita,,,"
Mereka semua langsung mengingat unggahan unggahan viral beberapa waktu yang lalu. Mereka pun heboh. Rey hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Tidak perlu pembuktian darinya dan semesta sudah mendukung.
"Astaga Rey benar benar petinggi!"
"Kau luar biasa Rey!"
"Maafkan kami, kau terlalu rendah hati."
Rey tersenyum dengan tenang. Mereka tidak tahu saja. Apabila hinaan tadi di teruskan beberapa menit saja mungkin orang ini akan meledak dan menghancurkan mereka seketika.
"Santai saja teman teman, kalau kalian mau, ganti saja semua menu dengan yang terbaik... nikmati saja waktu kalian.
Semua orang bertepuk tangan dengan kebaikan hati Rey. Wajah Liam pucat seperti mayat. Dia merasa ingin megubur dirinya sendiri. Hilang sudah harapan memdapat bonus dari kerjasama dengan Mobs Games. Selama acara dia hanya diam tidak berdaya disaat semua orang bersenang senang hingga sore hari. Setelah lelah mereka kemudia berpisah.
Rey dan Paul tertawa di dalam mobil membayangkan wajah Liam tadi. Dalam perjalanan lalu lintas lancar. Tapi beberapa menit kemudian terjadi kemacetan. Dia melihat dua mobil saling bertabrakan. Kedua pengemudi itu sedang adu mulut, mereka tidak perduli mobil mereka menghalangi jalan. Kejadian itu tepat di kedua mata Rey.
Mobil mobil mulai menumpuk di jalanan. Bahkan ada ambulan yang akan melintas menjadi terhenti. Pengemudi di depan ambulan mulai memberi jalan untuk ambulan itu. Tapi ambulan itu berhenti tepat di belakang Rey. Ukuran mobil Rey yang raksasa membuatnya susah untuk menepi, apabila bisa pun tidak akan muat.
Rey kesal dan mengutuk dua wanita yang sedang bertengkar itu. Mobil mereka menghalangi jalan dan mereka tidak perduli. Rey menyuruh Paul untuk mengencangkan sabuk pengaman. Rey melepas rem dan menginjak gas dengan cepat. Dengan raungan keras, mobil lapis baja itu melaju seperti banteng yang ganas. Terdengar suara dentuman keras ketika mobil Rey menabrak kedua mobil yang di tengah jalan itu.
Dua mobil itu di terbangkan keluar dari jalan. Mobil Rey tidak rusak sedikitpun dan melenggang santai. Semua orang terdiam. Pengemudi ambulan hanya melongo tapi berpura pura tidak melihat apa apa. Dia melaju lagi dan membunyikan klakson ketika menyalip mobil Rey sebagai ucapan terima kasih. Yang mereka tahu orang di dalam mobil lapis baja itu, orang yang tidak berpikir panjang.
Setelah mengantar Paul, Rey kembali ke rumah Ken.
__ADS_1