
Di tempat lain, Allen kembali ke pegunungan yang jauh dari kota di mana gurunya berada.
Setalah sampai di kaki gunung itu, Allen berlari menuju puncak gunung melalui ribuan tangga yang sangat terjal.
"Guru!" teriak Allen berlari memegang tangan kanannya.
"Guru, tolong aku!" lanjut Allen berseru dan berlutut di depan gurunya.
"Hmm? Apa yang telah kau lakukan, maka itu lah yang kau dapatkan." kata pria tua yang berjenggot putih itu sambil menatap Allen dengan marah.
"Tolonglah guru, aku tidak melakukan kesalahan, aku hanya menjalankan tugas." kata Allen membungkukkan badan,
"Tugas?!"
"Tugas apa yang kau kerjakan! Ingat! Kau tidak akan menang jika melawan orang baik! Itulah kelemahanmu!" seru pria tua itu mengelus jenggotnya.
"Guru, mana aku tahu kalau orang itu baik atau buruk, aku hanya melaksanakan tugasku, hanya itu. Aku mohon guru, tolong sembuhkan lukaku ini." kata Allen memohon dengan sedikit kebohongan.
"Katakan padaku, siapa yang mengalahkanmu?" tanya pria tua itu menatap Allen.
"Guru, aku bahkan tidak tahu namanya, dan seperti yang aku bilang, itu hanyalah tugas dari perusahaan." kata Allen berbohong.
Meskipun Allen berbohong tapi gurunya pura pura percaya dan berniat untuk menyembuhkannya.
"Hmm, baiklah, tapi aku mempunyai satu syarat, jika kau berjanji padaku akan memenuhi syarat itu, maka aku akan menyembuhkanmu." kata pria tua itu mengelus jenggotnya dengan santai.
"Katakan apa syaratnya, guru. Aku pasti akan melaksanakannya." kata Allen senang.
'Sialan! Sudah bau tanah masih keras kepala! Jika bukan untuk tanganku, maka aku sangat malas untuk bertemu orang ini!' gumam Allen dalam hatinya.
Saat Allen mengatakannya dalam hati, pria tua itu mengetahuinya dengan jelas.
"Hmm, baik, syaratnya sangat mudah, dan itu adalah, jangan pernah bertarung dengan orang baik, jika kau mengingkarinya maka tidak hanya tanganmu yang patah, nyawamu juga akan hilang." kata pria tua itu dengan sungguh sungguh.
"Hanya itu saja, guru?" tanya Allen senang.
"Ya." jawab pria tua itu mengangguk.
"Baik guru, aku berjanji tidak akan bertarung dengan orang baik." kata Allen senang.
'Hahahaha, sangat mudah sekali ternyata hanya itu syaratnya.' gumam Allen dalam hati gembira.
"Baik, ulurkan tanganmu." kata pria tua itu.
Allen dengan senang hati mengulurkan tangan ke arah gurunya tapi tangan itu tidak bisa di gerakkan sama sekali, maka Allen membantu tangan kanannya dengan tangan kiri untuk mengulurkan ke arah gurunya.
Pria tua itu memegang tangan kanan Allen dan mengalirkan suatu energi ke dalam tangan kanan Allen dengan santai.
"Guru, kenapa tangan kananku rasanya sangat panas?" tanya Allen menahan rasa sakitnya yang seakan terbakar oleh api.
"Ini adalah efek sampingnya, tahan sebentar kalau kau ingin sembuh." kata pria tua itu santai.
Pria tua itu sengaja menambahkan rasa sakit kepada Allen karena merasa marah dengan kebohongan Allen. Allen semakin merasakan sakit yang sangat hebat, semakin lama semakin bertambah rasa sakitnya, sampai membuat Allen tidak sadarkan diri.
***
Di mansion Rey,
Rey menuju ke kamar Hitomi untuk melihat keadaannya.
__ADS_1
"Hitomi, apa kau baik baik saja?" tanya Rey masuk ke dalam kamar Hitomi.
"Sayang, kamu sudah kembali, apa kamu terluka?" tanya Hitomi cemas sambil mendekat untuk memeluk Rey.
"Aku tidak apa apa, seperti yang kau lihat, aku sangat sehat." jawab Rey mengelus rambut Hitomi.
"Sayang, aku sangat mengkhawatirkan kamu." seru Hitomi memeluk Rey erat.
"Terima kasih, Hitomi. Aku lah yang harusnya khawatir saat kau jatuh pingsan." kata Rey lembut.
"Apa kau sudah makan?" lanjut Rey bertanya.
"Belum." jawab Hitomi menggeleng.
"Kalau begitu, temani aku makan." kata Rey menarik tangan Hitomi lembut.
Hitomi mengikuti Rey dengan wajah gembira. Rey tiba di ruang santai keluarga sambil menggandeng tangan Hitomi.
"Apa kalian sudah makan malam?" tanya Rey menatap para wanitanya.
"Kami sudah makan, sayang." jawab Fafa.
"Baiklah, kita tunggu Lita pulang dulu saja." kata Rey kepada Hitomi.
"Tentu saja." jawab Hitomi mengangguk.
Rey mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Dia menghubungi Xena.
[Halo sayang, bagaimana keadaanmu? Aku sangat mengkhawatirkanmu.]
"Aku baik baik saja, bagaimana denganmu dan ibumu?" tanya Rey lembut.
[Aku dan ibu baik baik saja, sayang. Tapi ibu tidak mau kembali ke mansion, dia bilang dia akan sedih jika rumah kami tidak ada yang menempati.]
"Apa kamu sudah makan?" lanjut Rey bertanya dengan santai.
[Sudah sayang, kami baru saja selesai makan malam.]
"Syukurlah, Xena, aku tutup dulu, jaga ibumu dengan baik, salam buat ibumu." kata Rey santai.
[Baik sayang, terima kasih. Akan aku sampaikan ke ibuku.]
Rey mengakhiri panggilan teleponnya.
"Bi, tolong siapkan makan malam untuk kami ya." seru Rey tiba tiba.
"Baik tuan." jawab bibi ikutan berseru karena kaget.
"Hitomi, kita tunggu Lita di depan saja ya, sambil menunggu bibi menyiapkan makanan untuk kita." kata Rey lembut.
"Oiya, aku hampir lupa, ada yang harus aku kenalkan padamu." lanjut Rey menghentikan langkahnya.
"Hah? Siapa sayang?" tanya Hitomi mengerutkan kening.
Rey memanggil kedua anjingnya dengan bersiul. Tiba tiba kedua anjing besar itu berlari ke arah Rey meninggalkan Sabrina dan Fafa yang sedang bersama mereka.
"Anjing siapa ini? Anjing ini sangat lucu." seru Hitomi saat melihat kedua anjing itu berlari ke arahnya.
"Nah, perkenalkan yang besar ini namanya One dan yang lebih kecil ini namanya Two." kata Rey mengelus kedua anjing itu.
__ADS_1
"Halo One dan Two!" seru Hitomi gemas ingin memegang mereka.
Anjing itu menggonggong bersamaan menjawab sapaan Hitomi.
"Sayang, bolehkah aku mengelusnya?" tanya Hitomi gemas.
"Tentu saja, mereka sekarang bagian dari kita." jawab Rey.
Hitomi mengelus kepala kedua anjing itu dengan gemas.
"Lembut sekali bulumu, Two." kata Hitomi mengelus bulu Two yang lembut.
"TWOOO! Kenapa kau tiba tiba lari!" seru Sabrina berlari ke arah Rey dan Hitomi yang sedang mengelus kedua anjing itu.
"Hahaha, aku sengaja memanggilnya tadi." kata Rey menggaruk kepalanya.
"Huh, pantas saja dia tiba tiba lari keluar." kata Sabrina cemberut.
"Hahaha, maaf maaf, tadi aku memanggilnya untuk di kenalkan pada Hitomi." kata Rey tertawa kecil.
"Hmm, Brie, apa Two bersamamu?" tanya Hitomi.
"Ya, aku yang akan merawatnya." kata Sabrina senang.
"Lalu bagaimana dengan One?" tanya Hitomi mengelus kepala One.
"One bersama Fafa." jawab Sabrina sambil bermain dengan Two.
"Ah, begitu ya." kata Hitomi.
"Sayang, aku pulang!" seru Lita saat dia baru tiba dari kantornya.
Rey mengangguk dan memeluk Lita dengan lembut.
"Mana Leon?" tanya Rey melihat sekeliling.
"Dia sedang ke garasi, dia bilang mau mencuci mobilnya." jawab Lita.
"Eh sayang, apa kamu terluka?" lanjut Lita bertanya dengan lembut.
"Tidak, aku tidak apa apa, seperti yang kau lihat saat ini. AKu baik baik saja dan sehat." jawab Rey.
"O iya Lita, kenalkan ini One dan yang itu Two." kata Rey menunjuk kedua anjing besar itu.
"Hah! Lucu sekali!" seru Lita senang.
Lita mengelus kepala kedua anjing itu dengan lembut.
"Hai One, Hai Two." kata Lita senang.
"Lita, apa kau mau mandi dulu atau langsung makan malam?" tanya Rey lembut.
"Aku sangat lapar, karena terlalu khawatir kepadamu jadi aku belum sempat makan." kata Lita menggandeng tangan Rey.
"Baiklah, ayo kita ke ruang makan." kata Rey senang.
"Brie, apa kau mau makan lagi bersama kami?" tanya Rey.
"Aku sudah kenyang sayang, nanti aku tanya yang lain." jawab Sabrina.
__ADS_1
"Baiklah, jika kalian ingin bergabung, susul kami ke ruang makan." kata Rey santai.
Rey berjalan menuju ke ruang makan di temani kedua wanitanya yang cantik.