
Dengan perlahan Rey membuka satu persatu kancing kemeja putih yang di pakai Xena dengan lembut. Xena melakukan hal yang sama sehingga tidak ada sehelai benang pun menutupi tubuh mereka. Erangan kenikmatan mulai terdengar di telinga Rey. Dia menciumi seluruh badan Xena dengan lembut. Rey melanjutkan ciumannya dari atas hingga ke bawah dengan kedua tangannya yang sedang sibuk mengelus bukit Xena.
Rintihan Xena semakin terdengar keras, dia menikmati setiap kecupan Rey. Xena membalikkan badan sehingga posisi Rey berada di bawah tubuh Xena. Dia mulai memainkan kecupannya dari atas hingga ke bawah. Xena masih saja takjub melihat ekor naga Rey yang begitu kekar dan berotot. Dengan semangat dia memainkan lidahnya.
Perlahan Xena mulai naik ke atas tubuh Rey dan menuntun ekor naga Rey itu untuk masuk dengan perlahan. Xena bergerak lembut sesuai dengan irama tempo yang searah. Rey tergerak dan segera meremas bukit Xena. Yang membuat Xena semakin berisik dengan desahannya. Rey menikmati tarian Xena di atas tubuhnya dengan irama yang teratur naik dan turun.
Xena menaikkan tempo iramanya menjadi sedikit lebih cepat, tarian Xena di atas tubuh Rey semakin bertambah cepat dengan naik turunnya irama yang Xena mainkan. Rey merasakan kehangatan yang mulai mencair di dalam tubuh Xena dan membanjiri ekor naganya. ******* dan erangan nikmat Xena mengikuti akur derasnya air yang Xena keluarkan.
Rey memeluk Xena dengan erat dan mulai membalikkan tubuhnya sehingga tubuh Xena tepat berada di bawah tubuhnya. Rey memimpin tempo iramanya dengan gerakan maju mundu secara teratur hingga membuat rintihan Xena terdengar di sertai semburan kenikmatan untuk kedua kalinya dari Xena. Dia mendesah sambil memeluk pinggang Rey dengan erat.
Wajahnya yang memerah menandakan kepuasan tiada tara bagi Xena. Rey melihat keindahan wajah cantik Xena yang sedang merasakan kenikmatan yang Rey berikan. Rey masih memainkan tempo irama yang sama hingga Rey merasakan jika ledakan di dalam tubuhnya akan menyembur untuk menyirami tubuh Xena. Rey menghentakkan pinggangya secara tiba tiba dan menyemburkan lahar hangat ke dalam tubuh Xena.
"Terima kasih sayang." bisik Xena memeluk erat tubuh Rey.
Mereka terkulai lemas dan berbaring di atas ranjang setelah bercinta. Xena merasa puas dengan apa yang di berikan oleh Rey hari ini.
***
Di mansion, Yuri dan Sabrina masih berada di garasi mansion.
"Hey Yuri bolehkan aku merasakan duduk di dalamnya?" tanya Sabrina penasaran.
"Masuklah." jawab Yuri menekan tombol remote ferrari nya.
"Nyaman sekali interiornya!"
"Kalau begitu pakai sabuk pengamanmu!" jawab Yuri menyalakan mobilnya.
"Eh? Memangnya mau kemana!"
"Sudah duduk saja! Ayo berkeliling!"
Yuri melajukan mobilnya keluar gerbang mansion. Yuri senang melihat wajah Sabrina yang semaikin iru kepadanya. Setelah beberapa blok dari mansion, Yuri berbelok ke arah kanan dan masuk ke jalan tol. Yuri segera menginjak pedal gasnya dengan cepat, sehingga suara mobilnya itu meraung merdu dan melaju dengan cepat.
"AAAAHH!! Yuri! Apa kau sudah gila!" teriak Sabrina sambil memegang sabuk pengamannya dengan erat.
"Hahaha, tenang saja ini tidak masalah. Anggap saja jika kau sedang naik pesawat tempur." jawab Yuri tertawa.
Yuri dengan cepat melewati banyak kendaraan di jalan tol yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Ferrari biru miliknya melesat dengan kecepatan 340 km/jam, sehingga membuat reaksi Sabrina semakin lucu. Yuri tertawa ketika melihat Sabrina yang ketakutan di sisi kursi penumpang sambil memegang erat sabuk pengaman.
"Sudah Yuri! Aku bisa mati karena jantungku melompat keluar!" teriak Sabrina.
Beberapa menit kemudian Yuri memperlambat laju mobilnya dan keluar dari jalan tol.
"Yuri, apa kau sering seperti ini hah! Atau karena ingin membunuhku!" tanya Sabrina dengan ekspresi wajah panik.
"Eh? Aku memang senang melakukan ini, bahkan tadi itu belum seberapa." kata Yuri dengan riang.
"Dasar gadis gila! Oke oke, antar aku pulang ke apartemen oke?"
__ADS_1
"Tentu saja!"
"JANGAN LEWAT TOL!"
"Hahahaha! Iya iya."
***
Di rumah Xena, sepertinya tenaga Rey dan Xena sudah mulai pulih.
"Sayang, apa kau mau mandi?" tanya Xena masih memeluk Rey.
"Mm, bagus juga."
"Kalau begitu ayo kita mandi bersama saja." kata Xena manja.
Merekapun segera pergi ke kamar mandi.
***
Di sebuah rumah besar, Fafa dan Ibunya sedang menunggu kedatangan tamu yang diundang oleh ibunya. Fafa penasaran menunggu dan ingin tahu siapa yang di undang oleh ibunya dengan gelisah.
"Bu, aku masih penasaran, sebenarnya keluarga mana yang ibu undang untuk makan malam bersama?" tanya Fafa penasaran.
"Sebentar lagi juga kamu akan tahu." jawab ibunya sambil tersenyum.
Sementara itu, Teddy Larks sedang duduk di dalam Rolls-Royce nya dengan santai sambil melihat sosial media di ponselnya. Teddy terus melihat foto profil Fafa di ponselnya dengan perasaan takjub kepada Fafa.
"Tuan, Kita sudah sampai di kediaman keluarga Amore." kata sopir Teddy hormat.
"Oke." jawab Teddy singkat sambil menganggukkan kepala.
Sopir itu turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Teddy. Di sana Ibu Fafa menyambut kedatangan Teddy dengan semangat.
"Ah, dia sudah datang." seru Ibu Fafa semangat dan menuju ke depan pintu rumahnya.
"Selamat datang tuan muda Larks!" kata ibu Fafa hormat.
"Eh?! APA!"
Fafa tersentak dengan kaget ketika melihat pria itu keluar dari mobil.
"Teddy Larks!" seru Fafa kaget.
"Bu! Jadi dia yang ibu undang untuk makan malam bersama kita!" lanjut Fafa lagi kepada ibunya.
"Ah? Jadi kalian sudah saling mengenal?" tanya ibu Fafa semangat.
"syukurlah jika kalian sudah saling mengenal, ini akan menjadi pertemuan yang baik! Baiklah, silahkan masuk tuan muda Larks." lanjut ibu Fafa sambil mempersilahkan masuk kepada Teddy dan menyambutnya dengan hormat.
__ADS_1
Fafa mengerutkan kening dengan ekspresi tidak senang.
"Bu! Kenapa ibu mengundang bajingan ini ke rumah!" teriak Fafa kesal.
"Hentikan omong kosongmu! Apa kau tidak menghargai ibumu! Bersikap sopanlah kepada tuan muda Larks!" balas ibu Fafa.
"Tapi ibu! Dia bajingan yang menggangguku!" teriak Fafa menunjuk arah Teddy.
PLAK!
"Hentikan bualanmu itu Fafa!" teriak ibu Fafa setelah menampar anaknya.
Fafa menangis dan berlari meuju kamarnya.
"Dasar anak bodoh!" kata ibu Fafa sambil menggelengkan kepalanya.
"Ah, maafakan saya tuan muda, maafkan atas sikap anak saya barusan, tolong jangan di ambil hati." lanjut ibu Fafa sedikit memohon.
"Tidak apa apa nyonya, yang di katakan Fafa memang benar, aku selalu mengganggunya karena aku sangat menyukai dia." kata Teddy jujur.
"Eh? Jadi tuan muda dan Fafa memang sudah kenal?"
"Bisa dibilang begitu."
"Baguslah kalau begitu, jadi kalian bisa semakin akrab dengan cepat nantinya. Ah iya, silahkan tuan muda, maaf jika makanan yang kami sajikan tidak sama seperti di kediaman anda."
"Tidak masalah nyonya, seharusnya aku yang ber terima kasih karena sudah merepotkan nyonya untuk makan malam."
***
Di rumah Xena, setelah mereka selesai mandi, mereka berdua keluar dari kamar dan pergi ke ruang santai.
"Nona Xena, makan malam sudah siap." kata asisten rumah tangga Xena.
"Baiklah." jawab Xena.
Xena berjalan menuju ke kamar ibunya untuk membantu ibunya keluar. Xena mendorong kursi roda ibunya ke ruang makan.
"Loh, Xena, apa Rey tidak jadi datang?" tanya ibu Xena.
"Dia ada di ruang santai ibu, tunggu sebentar, aku akan memanggilnya."
Xena pergi meninggalkan ibunya di ruang makan untuk memanggil Rey. Xena memberi tahu Rey bahwa ibunya sudah menunggu di ruang makan kemudian mereka berdua menuju ke sana.
"Halo ibu, bagimana kabarnya?" tanya Rey perhatian.
"Baik nak, mari kita makan malam." jawab ibu Xena lembut.
"Baiklah bu."
__ADS_1
Rey duduk di samping ibu Xena sambil menyiapkan beberapa makanan untuk wanita paruh baya itu.
"Makan yang banyak bu, biar kesehatan ibu semakin cepat pulih." kata Rey sambil menyerahkan beberapa makanan ke arah ibu Xena.