
Setelah berjalan jalan di plaza bersama Lita, Rey tertidur di ruang santai mansionnya hingga sore dan terbangun ketika bibi memberitahukan bahwa Rey kedatangan tamu. Rey menyuruh bibi untuk mempersilahkan tamunya masuk walau Rey masih setengah tidur. Ternyata itu adalah Fafa dan Yuri yang mampir ke sana setelah pulang dari kampus.
"REEEEYYY!!!"
"Apaan sih! Berisik!" kata Rey masih memejamkan matanya.
"Gimana kalo kita ke karaoke?" ajak Yuri yang langsung di dukung oleh Fafa.
"Emangnya kalian bisa nyanyi?" kata Rey dengan nada mengejek.
"Hei! Gini gini aku ini ratu karaoke!" seru Yuri mengerucutkan bibirnya.
"Ah yang bener????" sahut Fafa malah ikutan meledeknya.
"Iyalah! Kalau nanti suaraku jelek, aku akan traktir kalian makan!" kata Yuri kesal dan menyilangkan tangannya.
"Yaudah, se bahagia kalian aja." jawab Rey cuek.
"Kalo gitu sekarang aja!" kata Fafa yang sekarang jadi semangat.
"Aku ajak ajak dua orang lagi lah ya! Bertiga doang gak asik." jawab Rey.
"Hah? Apa? Apa kau kurang puas melihat kami berdua?" kata Fafa bercanda. Disertai dengan tatapan curiga Yuri.
"Mau ngajak siapa? Apa mereka berdua itu pacarmu?" tanya Fafa.
"Apaan sih! Emangnya pacarku sebanyak itu! Ngapain ngatur ngatur aku mau ajak siapa! Emangnya kalian pacarku?!" tanya Rey menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Kalo iya emang kenapa!" sahut Yuri dengan wajah masam. Disertai Fafa yang mengangguk anggukan kepalanya berulang kali.
"Apa apaan sih kalian! Sejak kapan aku nembak kalian! Ngawur aja nih orang!" kata Rey tidak habis pikir dengan kelakuan kedua wanita ajaib itu. Rey sedikit terkejut. Dia berpikir apakah semua wanita di metropolitan benar benar frontal seperti itu. Rey tidak menyangka mereka begitu santai dan terang terangan.
"Kalau aku gak suka ama kau, ngapain aku deketin kau, lagian kau mengajak kami makan malam!" teriak Fafa di dukung oleh Yuri di sampingnya.
"Lah? Gitu doang? Udah gila apa kalian? Apalagi kalian berdua....ah udah lah.." Rey tidak bisa berkata kata dan hanya mampu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sapa bilang kami gila? Kami berdua udah sepakat kemarin kok!" Kata Fafa sebal, Yuri juga mendukung ucapan itu.
"Aish...Hey kita itu baru kenal...."
"Trus kenapa kalau baru kenal..." kata Fafa kesal. Sebenarnya mereka sangat cantik. Menurut Rey, Fafa nilainya 8 dan Yuri 9. Rey menatap mereka dengan heran. Dia kalah debat. Rey hanya pasrah dengan kondisi itu.
"Ah... Terserah kalian aja deh,,, aku pusing..."
"Nah gitu dong!"
Rey hanya tersenyum tipis masih kebingungan. Akhirnya setelah sedikit perdebatan itu, Karena masih agak lelah Rey meminta tolong bibi untuk memanggil sopir yang sempat di rekrut oleh Hitomi. Dia sedang malas mengendarai mobil sendiri. Sedangkan Fafa dan Yuri tidak membawa mobil mereka karena ternyata mobil mewah yang sering di bawa mereka ke club adalah mobil milik keluarga mereka.
Mereka menunggu sejenak karena kata bibi, sopir itu sedang pulang ke rumah. Mereka bertiga memutuskan menunggu di pavilliun depan mansion. Tak lama seorang pemuda tegap datang dengan tergesa gesa mengendarai sepeda tua. Pemuda itu bernama Leon.
"Maaf tuan, saya kira tidak ada pekerjaan lagi tadi jadi saya mengantar makan untuk ibu saya."
"Hahaha kenapa wajahmu seperti itu, minum dulu sana lalu antar kami ke karaoke.,," kata Rey sambil memberikan kunci phantom nya. Tak lama kemudian mereka pun berangkat. Diperjalanan mereka mengobrol santai dan bercanda. Rey mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Hitomi dan Xena. Akhirnya mereka sampai di tempat karaoke.
Tempat itu cukup lengkap, selain ada bar, diskotik, ada juga restoran yang cukup mewah. Rey memesan sebuah ruangan kelas satu yang cukup luas dengan kapasitas 25 orang. Leon juga ikutan diseret dpaksa ikut oleh Rey. Mereka mulai bernyanyi dengan gembira. Hitomi dan Xena baru saja tiba kemudian menyapa Rey dengan sopan.
Rey mengenalkan mereka semua agar akrab dan tidak canggung.
"Oh jadi nona Hitomi ini sekertarisnya Rey..." tanya Yuri.
"Ah iya nona Yuri, panggil saja dengan nama."
"Kalo gitu aku panggil Kak Hitomi aja..."
"Iya kami kan lebih muda jadi kalian kami panggil kakak saja.." tambah Fafa.
Oh iya kak, kami berdua itu pacarnya Rey lho..." kata Yuri santai.
"Lah!" Rey hanya bisa geleng geleng kepala, heran tanpa bisa menyanggah. Mendengar itu membuat Hitomi dan Xena saling pandang lalu melihat ke arah Rey. Sedangkan Rey pura pura tidak mendengar apa apa, Rey pura pura mengobrol dengan Leon dengan serius sambil meminum anggur di tangannya.
"Sialan mereka ini! Apa harus kayak gitu coba!" Umpat Rey dalam hati.
__ADS_1
"Oh iya Xena, coba kau yang nyanyi!" Seru Rey mencoba mengalihkan topik.
Xena mengangguk menurut. Ketika xena bernyanyi, suaranya terdengar sangat bagus, Rey menatap Xena dengan takjub, Melihat wajah cantik dan pintar ini sebenarnya Rey sangat tertarik. Xena menarik ketiga wanita yang sedang duduk untuk bernyanyi bersama. Rey sangat terkesan melihat empat orang wanita cantik menyanyi dengan gembira di depannya.
Mereka pun bersenang senang di sana sampai kelelahan dan terlalu banyak minum anggur. Mereka semua sudah berbicara tidak jelas kecuali Leon, karena Leon masih harus menyupir dan bertanggung jawab atas kelakuan semua orang ini. Akhirnya Leon di bantu seorang pelayan membawa bosnya dan para wanita itu pulang ke mansion.
Setibanya di mansion mereka di bawa ke kamar lantai satu yang paling besar dengan tempat tidur luas. Leon sengaja tidak memisahkan Rey dengan para wanita itu karena mereka masih saja bercanda dan meracau tidak jelas, bibi yang melihat itu hanya geleng geleng dan membantu Leon. Setelah mereka semua di bawa masuk kamar, Leon berpamitan kepada bibi untuk pulang.
Sementara di kamar itu, Rey dan keempat wanita itu tergeletak di ranjang yang sama. Rey tanpa sadar memeluk tubuh Xena, namun Fafa membalikkan tubuh Rey agar bisa memeluknya. Entah bagaimana ceritanya, keempat gadis itu setuju untuk menjadi pacar Rey. Rey yang masih mabuk, hanya mengangguk saja tanpa tahu apa yang di bicarakan para wanita itu.
Karena mereka masih dalam pengaruh alkohol akhirnya mereka tidur dengan Rey secara bersamaan.
***
Pagi hari ketika Rey terbangun karena kepalanya terasa sakit. Rey terduduk dan tersentak kaget melihat di sekelilingnya ada empat gadis tidur tak beraturan arah.
"Sialan! Apa yang aku lakukan semalam!" Rey mengutuk dirinya sendiri. Sambil berjalan ke kamar mandi.
Keempat wanita itu akhirnya terbangur mendengar suara Rey. Mereka bangung dengan canggung. Ini adalah pengalaman pertama para wanita itu. Semua mata wanita itu tertuju pada Rey, mereka baru sadar ketika membuka selimut yang di pakainya dan ternyata mereka semua tidak memakai pakaian sehelai benang pun. Sekilas ada beberapa bercak darah di sprei dan selimut. Mereka berempat saling pandang satu sama lain.
"Apa kita melakukannya bareng bareng?" tanya Yuri membuka obrolan.
"Kayaknya sih gitu." jawab Xena dengan wajah memerah malu.
"Kak Hitomi, Kak Xena, apa kita bakal seperti ini?" tanya Fafa.
"Ya mau gimana lagi, toh semalam kita memutuskan sendiri tanpa paksaan." jawab Hitomi canggung.
"Gini aja, mulai hari ini kita berempat harus janji terus bersama dan saling support, kita harus selalu membantu tuan Rey apapun yang terjadi. Setuju?" tanya Hitomi lagi.
"Setuju, tapi semoga cukup kita aja ya,,setahuku yang tertarik dengan Rey itu banyak. Walau dia gak sadar sih, feeling wanita itu selalu benar!" tambah Yuri.
Mereka pun setuju dan berniat untuk selalu ada di sisi Rey. Mereka berempat serentak menuju kamar mandi untuk mengganggu Rey. Pintu kamar mandi di buka tiba tiba dan Rey tersentak kaget dengan apa yang para wanita itu lakukan. Mereka akhirnya mandi bersama sambil bercanda.
"AAAHHH!! Apa ini yang dinamakan surga dunia??" kata Rey dalam hati. Rey yang selama ini tidak pernah berani menyentuh wanita, akhirnya kalah telak. Sedikit menyesal tapi dia bahagia dengan apa yang terjadi semalam. Setelah mandi mereka pun bergegas mengenakan pakaian masing masing lalu berjalan ke ruang makan untuk sarapan dan melanjutkan kegiatan mereka masing masing. Tinggal Rey sendiri di mansion dan dia kini sedang bermain game ponsel di ruang santai.
__ADS_1